
Pulang kerja di hari kedua setelah tanaman Mistletoe bersarang di pohon Cemara yang berada di halaman belakang kediaman papanya, Nora melangkah ke halaman belakang. Dia penasaran dengan jumlah buah berry merah yang ada di tanaman tersebut.
"Ada lima. Berarti enam biji sama yang kemarin"
Grab! Wintang memeluk pinggang Nora dari arah belakang dan di saat Nora terlonjak kaget dan membalikkan badan, Wintang langsung menempelkan keningnya di kening Nora dan berkata dengan nada lembut, "Kamu nungguin aku datang, ya?"
Nora langsung mendorong tubuhnya Wintang dan memekik kesal, "Siapa yang nungguin kamu?! Aku ngitungin buah berry-nya dan kamu riba-tiba nongol. Kamu itu Jins botol atau Tuyul, sih? Datang nggak diundang pulang nggak dianter"
Wintang meraih pinggangnya Nora untuk Kembali ia peluk dan tangan kanannya terangkat untuk memetik satu buah berry dan kemudian, ia makan buah berry itu.
Nora terkejut, "Lho, kok kamu yang makan?"
"Cie, cie, cie, nungguin aku suapin lagi, ya?"
Nora merona malu dan langsung menepuk kasar dadanya Wintang dengan kata, "Jangan sok tahu!"
Wintang terkekeh geli lalu memberikan penjelasan kenapa di kesempatan kedua, buah berry yang ia petik, dia yang makan, "Buah yang aku petik untuk kedua kalinya harus aku yang makan. Biar adil dan itu peraturannya biar filosofi yang ada di tanaman Mistletoe menjelma nyata di kehidupan cinta kita berdua. Bersama selamanya dan tidak terpisahkan"
Nora mematung karena, hatinya mulai meleleh melihat tatapan matanya Wintang dan mendengar kata-kata indah yang meluncur dari bibirnya Wintang.
Melihat Nora meleleh, Wintang langsung menarik tengkuknya Nora dan mencium Nora dengan penuh kelembutan. Ciuman kedua dari Wintang itu terkesan hati-hati dan tidak terburu-buru. Setelah dirasa cukup, Wintang melepaskan bibirnya dari bibir Nora untuk mencium keningnya Nora. Kemudian, pria ganteng itu, berkata, "Aku harus pergi. Aku akan datang lagi, besok"
Nora bergeming di tempatnya dan tidak berani membuka mata karena, ia takut tidak rela melihat punggungnya Wintang kembali menjauh darinya.
Dan begitulah seterusnya, Wintang selalu muncul di halaman belakang untuk mengajak Nora berciuman di halaman belakang dan setelah ciumannya dengan Wintang di hari kelima itu, Nora kembali kecewa saat ia nekat menyusul Wintang. Dia melihat Wintang berciuman dengan Jenar Ayu.
Nora berbalik badan untuk masuk kembali. ke dalam rumahnya dan saat ia berlari masuk menuju ke kamarnya, Ares menahan laju larinya dan bertanya, "Bagaimana dengan permintaan Papa beberapa hari yang lalu? Apa kamu bersedia bertunangan dengan Stevan?"
Nora menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke papanya dan kembali melajukan larinya untuk bisa segera sampai di dalam kamarnya.
Wintang mendorong kasar tubuh Jenar Ayu dan mendelik, "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku mengikutimu. Aku kangen sama kamu" Jenar Ayu berkata dengan nada santai karena, di saat itu ia masih istrnya Wintang dan dia merasa berhak atas Wintang.
"Karena kamu selalu menolakku. Aku senang akhirnya aku bisa mendapatkan ciuman pertama kita" Jenar Ayu tersenyum lebar saking senangnya.
"Ciuman pertama apa?! Dasar gila! Dengar Jenar, aku tidak pernah mencintaimu dan berhenti mengangguk!" Wintang berteriak kesal ke Jenar Ayu lalu ia berlari menjauhi Jenar Ayu untuk segera melompat ke motornya dan pergi meninggalkan Jenar Ayu begitu saja.
Jenar Ayu kemudian mengusap bibirnya dan bergumam, "Kamu boleh pergi meninggalkan aku, tapi kamu tidak tahu dan tidak sadar kalau wanita idaman kamu juga tengah pergi meninggalkan kamu karena, ciuman kita tadi"
Di hari terakhir ciuman mereka di bawah tanaman Mistletoe, terhalang acara pertunangan bisnis antara Nora Laco dan Stevan Jovetic. Ares memutuskan untuk menjodohkan Nora dengan putra tunggal dari rekan bisnisnya dan Nora hanya bisa pasrah karena, Nora sadar kalau percintaannya dengan Wintang Devoss hanyalah hayalan belaka dan filosofi yang ada di tanaman Mistletoe hanyalah isapan jempol belaka. Kenyataan yang tampak di depan mata Nora Laco, membuat ia berpikir bahwa ia dan Wintang Devoss selamanya tidak akan pernah bisa bersatu.
Wintang telah mengantongi surat pembatalan pernikahannya dengan Jenar Ayu dan dia terkejut saat ia melihat rumah Ares Laco ramai sekali dan lebih terkejut lagi, saat ia mendengar dari salah satu penjaga gerbang rumahnya Ares kalau keramaian yang ada di rumahnya Ares Laco terjadi karena, Nora Laco akan bertunangan dengan putra tunggal dari salah satu pengusaha kaya raya.
Wintang langsung merasakan. kalau kaki dan tubuhnya seakan tak bertulang lagi. Dia duduk bersimpuh di depan gerbang rumahnya Ares Laco karena, lemas. Di saat tinggal selangkah lagi dia bisa memiliki Nora Laco, di saat itu juga ia terpaksa harus gigit jari karena, Nora Laco akan berangkat bertunangan dengan pria lain.
Wintang akhirnya bangkit berdiri dan segera melompat ke motornya untuk mengikuti iring-iringan mobil yang mengantarkan Nora Laco menuju ke hotel Grand Laco.
Wintang yang tidak memiliki undangan, tidak kehilangan akal, dia berhasil menyamar menjadi salah satu pelayan pria yang bertugas melayani para tamu undangan di acara pertunangan Nora Laco dan Stevan Jovetic. Walaupun dia kecewa dan sedih, tapi entah kenapa, instingnya mengatakan kalau dia harus mengikuti Nora Laco.
Wintang melayani para tamu dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari wajah cantik pujaan hatinya.
Saat acara pertunangan telah selesai, Wintang menemukan kejanggalan. Tunangannya Nora Laco dengan cepat meninggalkan Nora Laco setelah menyalami Ares Laco dan Hana.
Wintang lalu melihat Nora berjalan keluar dari dalam aula besar itu. Wintang langsung mengikuti Nora saat Nora berjalan menuju ke toilet dengan pengawalan ketat bodyguardnya Ares Laco. Namun, para bodyguard itu kecolongan. Yang keluar dari dalam kamar mandi bukanlah Nora.Laco dan Wintang berhasil mengejar mobil Van yang membawa pergi Nora Laco.
Mobil Van itu membawa Nora ke sebuah vila yang besar dan mewah dan di sana, seorang pria menunggunya. Pria itu menyambut Nora dengan senyum lebar dan berkata, "Selamat datang tunanganku"
Wintang mendengus kesal, dia kehilangan jejak mobil Van yang membawa pergi Nora Laco karena, motornya tergelincir saat melaju ke arah pegunungan di bawah hujan deras yang tiba-tiba turun petang itu.
Namun, Wintang tidak patah semangat, ia terus menyusuri jalan dan terus celingukkan untuk mencari keberadaan mobil Van itu.
"Kamu kenapa menculik aku? Kita sudah bertunangan, kan, baru aja, tapi kenapa kamu menculik aku? Kamu mau apa?" Nora mendelik ke pria yang baru saja bertunangan dengannya.
"Aku diperintahkan oleh Mama kandungku untuk merusak kamu. Sebenarnya di awal perjumpaan kita, aku sudah jatuh hati sama kamu, sama kesempurnaan wajah dan fisik kamu, tapi sayangnya, aku harus mendekati kamu untuk menjalankan misi dari mama kandungku" Stevan menyeringai di depannya Nora Laco.