A Dominant

A Dominant
Ancaman



Satu jam sebelumnya...........


"Aku sudah tahu semuanya, Ma. Aku menemukan video di vila pribadinya Mama saat aku pergi ke sana secara diam-diam untuk menenangkan diri kemarin malam karena Ares Laco menolakku" Bella menelepon Mamanya di atas rooftop Graha Laco dan berdiri di pinggir rooftop dengan derai air mata.


"Tahu apa? Video apa? Kau di mana sekarang ini?"


"Aku baru saja menemui Ares dan mengatakan semua yang aku ketahui. Mama tidur dengan Ares selama ini, sejak Ares masih remaja. Mama gila, ya? Mama sudah mempermalukan aku di depan Ares. Mama tahu, kan, kalau aku sangat mencintai Ares!" Mellisa berteriak lantang dan kembali terisak.


"Sial!"Macarena langsung menyisir.rambutnya dengan jari jemarinya lalu menjambak rambutnya sambil berkata, "Dengar Mel, semua itu hanya masa lalu dan........"


"Aku benci Mama. Aku juga benci wanita yang bernama Hana. Karena kalian, Ares selalu menolakku!" Mellisa kembali berteriak dengan nada frustasi dan isak tangis yang sangat kencang.


Macarena yang masih berdiri di depan pintu jok kemudi mobilnya, langsung membuka pintu dan dia mendengar suara brak! cukup kencang dan bunyi nguing,nguing, nguing. Macarena tertegun dan langsung berteriak, "Mel! Mel! Apa yang terjadi?!" Macarena langsung melemparkan dompet dan ponselnya ke Jon penumpang, memasang sabuk pengaman dengan tangan gemetar lalu menekan pedal gas dalam-dalam menuju ke Graha Laco karena Mellisa berkata kalau Mellisa baru saja bertemu dengan Ares Laco jadi Macarena berpikiran kalau Mellisa ada di rooftop-nya Graha Laco.


Wulan mengetuk pintu ruang kerjanya Ares sebanyak tiga kali dan langsung masuk tanpa menunggu sahutannya Ares. Ares terkejut dan mengangkat wajahnya dengan tanya, "Ada apa?"


"Ada yang bunuh diri dari atas rooftop ini, Tuan" Hana berucap dengan nada gemetar dan wajah panik.


"What?! Siapa?!" Tanya Ares yang langsung bangkit dari kursinya.


"Saya tidak tahu. Polisi sudah datang dan sedang menuju ke rooftop" Sahut Wulan masih dengan nada gemetar dan wajah panik.


"Aku akan ke rooftop dan telpon Handoko untuk segera lemari!"


"Pak Han sudah ada di rooftop. Pak Han yang memberitahukannya ke saya karena kata Pak Han, ponsel Anda tidak aktif"


Ares mengambil ponselnya dari saku kemejanya dan meraup wajah tampannya, "Aku lupa mengisi daya ponsel ini karena, kemarin keasyikan berduaan dengan Istriku" Ares lalu bergegas keluar dan berlari menuju ke lift pribadinya dan saat lift terbuka, Handoko langsung melompat keluar dari dalam lift dan menahan Ares, "Anda nggak usah naik ke rooftop, Tuan! Karena, polisi udah datang dan tengah menyelidikinya dan saya sudah memberikan laporan. Saya juga sudah mengijinkan polisi memeriksa kamera CCTV yang ada di sana dan udah diketahui dengan pasti kalau itu murni bunuh diri"


"Bunuh diri? Siapa yang bunuh diri dan kenapa?" Ares menatap Handoko dengan wajah heran.


"Yang bunuh diri adalah Nona Mellisa Lordess, Tuan" Sahut Handoko.


"Apa?! Mellisa Lor.....dess?" Ares tertegun untuk beberapa detik lamanya. Lalu ia menatap Handoko, "Dan kenapa kau bisa berada di rooftop?"


"Sepulang dari menjalankan semua tugas yang Anda berikan, saya turun dari mobil dan melihat ada orang di atas rooftop. Ada banyak orang di bawah berteriak histeris, jadi saya mengajak dua orang satpam untuk segera berlari ke rooftop. Saya berusaha untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Tapi, begitu lift sampai di rooftop dan terbuka, saya melihat sudah tidak ada orang di sana"


"Lalu?"


"Lalu saya berlari untuk melihat ke bawah dan dari situ saya melihat Nona Mellisa Lordess telah tergeletak membujur kaku dengan mata terbuka di atas atap salah satu mobil yang parkir di depan Graha Laco. Saya langsung menelepon polisi"


Ares meraup kasar wajah tampannya dan menghela napas panjang.


"Dan saya mendapatkan pesan text dari nomer yang tidak dikenal, Tuan. Silakan Anda baca!"


Ares menoleh ke Handoko, "Kalau Mellisa Lordess dinyatakan jatuh dai rooftop karena bunuh diri, kenapa ada pesan text seperti in"


Handoko menatap Ares, "Saya juga heran, Tuan. Dan pesan text ini tidak saya kasih tunjuk ke polisi. Lalu yang berharga maksudnya adalah......."


Ares langsung berlari, "Aku akan ke kliniknya Hana. Kau urus semua kekacauan yang ada sini!" Ares berlari kencang menuju ke parkiran mobilnya sambil menghubungi nomer ponelnya Hana.


"Iya, Mas. Ada apa?"


Ares memasang sabuk pengaman lalu memasang headset nirkabelnya dan bertanya, "Kau di mana?"


"Masih di klinik"


"Apa Mirna ada di dekat kamu?"


"Iya, Mas"


"Jangan keluar dari klinik dan jangan pergi ke mana-mana! Tunggu aku di sana! Aku meluncur ke klinik kamu sekarang juga"


Beberapa jam kemudian, Ares telah sampai di depan klinik dokter hewannya Hana dan langsung melompat turun lalu berlari masuk ke kliniknya Hana. Ares langsung memutari meja kerjanya Hana dan memeluk Hana, Fiuuhhh! Syukurlah kau baik-baik saja"


Hana mengusap lengannya Ares yang tergelung di lehernya dan bertanya, "Ada apa, Mas?"


"Aku akan ceritakan nanti di rumah. Kita bisa pulang sekarang?"


"Masih ada satu pasien lagi. Mas bisa tunggu sebentar?"


Ares mencium keningnya Hana lalu berkata, "Baiklah, aku akan menunggumu" Ares lalu duduk di meja kerjanya Hana di saat Hana bangkit dan berjalan menuju ke meja prakteknya untuk memeriksa sepasang hamster milik seorang wanita paruh baya yang ramah.


Ares tidak melepaskan pandangannya dari Hana.


Macarena menangis dan memeluk tubuh putrinya yang telah terbujur kaku di kamar mayat.


Setelah mengurus semuanya, Macarena kembali ke rumah untuk menyiapkan penyambutan jenazah putrinya. Dan Macarena berhenti sejenak di depan klinik dokter hewan miliknya Hana ketika mobilnya kembali melintasi klinik tersebut.


Macarena lalu membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobilnya. Dia melhat ada mobilnya Ares di depan kliniknya Hana dan Macarena tersenyum kecut pada saat ia melihat Ares memeluk Hana dan mencium Hana dengan mesra.


Setelah puas menatap Hana dengan sorot mata dan hati yang penuh dengan dendam dan benci Macarena masuk kembali ke dalam mobilnya Lalu Macarena tersenyum sinis dan berucap ke dirinya sendiri, "Dasar wanita bodoh! Kamu masih terlalu muda dan naif untuk memahami siapa dan seperti apa Ares Laco itu. Kau akan menemukan sisi gelap a dominant suatu saat nanti dan jangan sampai kau menyesalinya. Kau sudah merubah keputusanku karena sebenarnya, Aku telah menghubungi Erick Allesio, Papa kandungnya Ares, agar ia tidak menyentuhmu karena aku merasa tidak tega melihatmu terluka sebenarnya. Dan aku pikir, dengan berbicara empat mata denganmu, kamu akan pergi dari sisinya Ares lalu meninggalkan Ares untuk selama-lamanya. Tapi, ternyata aku salah. Aku akan membalasmu Hana karena, kau telah berani menamparku, kau telah berani merebut Ares dariku dan kau telah berani mengambil keputusan untuk tidak beranjak dari sisinya Ares. Lalu sekarang, putriku bunuh diri. Itu juga karena kamu, semua masalah yang timbul di kehidupanku itu karena kamu. Maka kau harus mati, Hana Prakas"


Macarena lalu menelepon Erick Allesio, "Rencana berubah. Aku tidak jadi membelikanmu tiket pulang ke negara asal kamu. Kau harus membunuh Hana Prakas, bukan hanya kau lukai, tapi bunuh dia" Klik! Macarena menutup ponselnya tanpa menunggu balasan dari Erick Allesio. Kemudian ia lemparkan ponselnya begitu saja ke jok di sampingnya dan ia meluncurkan mobilnya ke rumah sakit untuk mengidentifikasi putrinya.