A Dominant

A Dominant
Bertemu Mama Mertua



Ares menelepon mama angkatnya di dalam perjalanan menuju ke kondominium mewahnya. "Ma, aku akan kenalkan Mama sama Istriku. Aku harap Mama akan menyukainya seperti aku yang sepertinya sudah mulai menyukainya"


"Wah! Benarkah?! Mama senang sekali Ares. Mama akan masak masakan kesukaan kamu dan apa masakan kesukaan Istri kamu?" tanya Elizabeth Laco, mama angkatnya Ares


"Hubungan kami masih belum sedekat itu, Ma. Aku belum tahu kesukaan dia dan dia juga belum tahu apa kesukaanku. Tapi, yang pasti, aku mulai menyukainya dan ingin mengenal dia lebih dekat lagi"


"Baiklah! Mama akan siapkan makanan spesial untuk menyambut kalian berdua" Ada keceriaan terdengar di nada suaranya Ares Laco.


Klik. Ares memencet layar yang tertanam di dashboard mobil sportnya untuk mengakhiri percakapannya dengan sang mama.


Ares pulang ke kondominiumnya dan tersentak kaget saat pintu lift terbuka dan ia melihat Hana berdiri tegak di depan pintu lift dengan senyum merekah.


"Kenapa kamu berdiri di situ?" Ares bertanya sembari melangkah keluar dari dalam lift.


Hana melangkah maju dan mengambil tas kerjanya Ares, "Biar saya yang bawakan tas Tuan ke ruang kerja. Saya juga sudah siapkan teh hangat dan kopi hangat di meja makan karena, saya tidak tahu apa kesukaannya Tuan. Saya permisi" Hana lalu berputar badan untuk berjalan menuju ke ruang kerjanya Ares sambil menenteng tas kerjanya Ares.


Ares mematung menatap punggungnya Hana lalu ia menoleh ke Handoko yang tengah tercengang menatap punggung nyonya besarnya. Handoko menoleh ke samping dan bersitatap dengan tuan besarnya.


"Ke...kenapa dia melakukan itu?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan" sahut Handoko dengan wajah kebingungan.


Ares kemudian melangkah pelan menuju ke meja makan. Dia melihat ada dua cangkir di sana. Ares duduk dan menatap kedua cangkir di depannya


Hana kembali ke suaminya. Ares mengarahkan pandangannya ke Hana lalu berkata, "Duduklah!"


Hana duduk di depannya Ares dengan senyum manisnya.


"Kenapa kau lakukan semua ini?"


"Karena, kata Nenek, seorang Istri harus menyambut suaminya waktu suaminya pulang dari kerja. Membawakan tas kerjanya dan membuatkan minum. Sebelum suami bangun, Istri harus bangun terlebih dahulu untuk memasak dan waktu suami akan berangkat untuk bekerja, Istri harus membawakan tas kerja suaminya dan mengantar suaminya sampai di depan rumah.


Deg! Ares menatap Hana dengan debaran jantung yang mulai terasa sangat kencang dan tidak terkendali. Ares lalu mengarahkan pandangannya ke cangkir-cangkir yang ada di depannya dan memilih cangkir yang berisi teh untuk ia sesap. Lalu ia meletakkan cangkir itu sambil berkata, "Aku suka kopi. Hitam, less sugar dan kental. Yang kamu buat ini, terlalu manis buatku"


"Ah! Baik Tuan. Saya akan buatkan kopi hitam kental less sugar besok"


Ares lalu bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya dengan wajah dan sikap dingin.


Arah pandang Hana mengikuti arah perginya Ares lalu ia menghela napas panjang, "Kok ada ya, manusia sedingin es kayak dia"


Hana lalu menoleh ke kedua asisten rumah tangannya Ares yang terkekeh geli. Hana ikutan terkekeh geli dan berucap, "Kopi panas pun, tidak bisa melelehkan es di wajah Tuan Ares Laco"


Kedua asisten rumah tangganya Ares menganggukkan kepala mereka ke Hana dan mereka bertiga kembali terkekeh geli.


Ares menutup pintu kamarnya dengan cepat lalu laki-laki tampan itu bersandar di daun pintu sambil memegang dadanya. Ares terengah-engah karena debaran jantungnya dan ia bergumam, "Kenapa dadaku berdegup sangat kencang? Aku belum pernah merasakan degup jantung yang seperti ini sebelumnya. Dan kenapa wajahku terasa panas?" Ares menyentuh pipinya, "Apa yang terjadi kepadaku? Apa aku sakit? Atau aku sudah gila?"


Ares lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur kepalanya dengan air dingin


"Tuan, ini saya. Handoko" Handoko mengetuk pintu kamar pribadinya Ares dan Ares menyahut, "Masuk!".


Handoko membuka pintu dan melangkah masuk lalu menutup kembali pintu kamar mewah itu.


"Ada apa?" tanya Ares sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk berukuran sedang berwarna putih seputih salju.


"Buku tabungan, ATM, dan kartu kredit black card, dikembalikan semuanya oleh Nyonya, Tuan. Mirna, yang memberikannya ke saya tadi" Handoko meletakkan semua yang dia pegang di atas meja.


"Kenapa dikembalikan semuanya?" tanya Ares.


"Kata Mirna, Nyonya sudah cukup banyak berhutang budi pada Anda. Anda sudah membiayai biaya rumah sakit Neneknya Nyonya, Anda sudah menguliahkan Nyonya, membelikan Nyonya rumah, dan Tuan sudah mengurus Nyonya di rumah ini jadi, Nyonya tidak menginginkan apa-apa lagi. Dan satu lagi, Tuan. Tapi, Tuan jangan marah!"


"Nyonya akan mencicil semua hutang -hutangnya ke Anda. Nyonya bahkan memberikan ini ke Mirna" Handoko mengeluarkan celengan berbentuk ayam jago yang cukup besar yang ia sembunyikan di balik punggungnya sejak ia melangkah masuk ke dalam kamar mewahnya Ares yang bergaya klasik.


Ares mengerutkan keningnya, "Apa itu? Hiasan apa itu?"


"Ini celengan, Tuan"


"Celengan? Apa itu celengan?"


Ares yang memiliki masa kecil suram dan tidak bertumbuh layaknya anak kecil pada umumnya, tidak pernah tahu mengenai celengan.


"Ini semacam buku tabungan tapi, tidak disimpan di Bank. Tapi, disimpan di rumah. Bentuknya macam-macam Tuan, ada yang berbentuk Semar,.ayam jago kayak gini, dan......."


"Lalu apa maksudnya dia kasih ayam jago itu ke aku?"


"Kata Nyonya ke Mirna, ini untuk mencicil hutang-hutangnya Nyonya ke Tuan dan Nyonya kaan belajar giat agar cepat lulus lalu bekerja dan bisa menghasilkan lebih banyak uang untuk membayar semua hutang-hutangnya ke Tuan" Handoko berucap sembari meletakkan celengan yang terbuat dari tanah liat dan berbentuk ayam jago itu, di atas meja.


"Kenapa dia tidak memberikannya langsung ke aku? Kenapa harus lewat Mirna?"


"Karena, Nyonya takut Anda marah dan menghukumnya lagi, Tuan"


Ares berkacak pinggang lalu mengusap wajah tampannya dan menghela napas panjang. "Oke! Kita urus soal ini nanti saja. Sekarang bersiaplah di bawah! Kita akan ke rumah Mamaku dan aku akan mengajak Hana"


"Baik, Tuan" Handoko segera berbalik badan untuk melaksanakan perintah tuan besarnya.


Ares memasukkan kedua tangannya ke dalam celana kain berwana krem lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya setelah ia melirik sekilas celengan berbentuk ayam jago yang tampak aneh baginya.


Ares menemui Hana yang masih duduk di meja makan dan bercengkerama dengan kedua asisten rumah tangganya Ares.


"Ikut aku!" Ares berucap sambil melangkah menuju ke lift.


Hana segera bangkit dan mengikuti langkah suaminya. Mereka masuk ke dalam lift dan Hana bertanya, "Kita akan ke mana, Tuan?"


"Kau akan tahu nanti. Dan mulai detik ini, jangan panggil Tuan!"


"Lalu? Saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?"


"Terserah kamu. Asal jangan Tuan"


Ting! Pintu lift terbuka di saat Hana masih memikirkan nama panggilan yang tepat untuk Ares.


Ares menggenggam tangannya Hana dan menarik Hana keluar dari dalam lift sambil berkata, "Hobi melamun Kok dipelihara"


Hana masih memikirkan panggilan yang tepat untuk Ares saat mereka duduk di dalam mobil. Hingga tanpa ia sadari, mobilnya Ares telah memasuki pelataran luas kediaman Dokter Laco.


"Ini rumah siapa?" tanya Hana sambil melangkah turun dari dalam mobil.


"Rumah Papaku" Ares berucap sembari menggenggam tangan Hana dan ia mengajak Hana untuk melangkah menuju ke pintu masuk.


Papa, Mama dan adik angkatnya Ares menyambut Hana dengan hangat dan penuh dengan kasih sayang yang tulus. Namun, tidak demikian dengan Nyonya Macarena dan putri tunggalnya.


Ares terkejut melihat Macarena ada di sana dan mamanya Ares segera berucap "Mama yang mengundang sahabat Mama dan putrinya. Karena, Mama juga ingin mengenalkan menantu mama yang manis ini ke sahabat Mama.


Ares lalu melewati Macarena dan putri tunggalnya Macarena begitu saja dan dengan terus menggenggam tangannya Hana, ia melangkah masuk menuju ke ruang makan.


Macarena tersenyum kecut melihat sikap acuh tak acuhnya Ares Laco dan sejak detik itu juga, dia bersumpah, menjadikan Hana Prakas menjadi musuhnya.