
Wintang tersenyum dan menaikan alis sebelah kirinya untuk beberapa saat lamanya, lalu tanya, "Kenapa kamu mengecup bibirku?"
"Kita udah jadian, kan?" Nora menautkan kedua alisnya dengan memiringkan sedikit kepalanya ke kanan dan tersenyum penuh arti ke Wintang.
Wintang tersenyum lebar dan Nora langsung merengut.
"Kenapa merengut?" Giliran Wintang yang menautkan alisnya.
"Kenapa kamu nggak membalas kecupanku?" Nora semakin melancipkan bibirnya.
Cup! Wintang mengecup keningnya Nora, lalu berkata, "Udah"
Nora menepuk bahunya Wintang, "Kenapa beda tempat ngecupnya?"
Wintang tergelak geli mendengar pertanyaan dan ekspresi wajahnya Nora. Kemudian pria berkepala botak dan berkulit sawo matang itu berkata, "Aku nggak bisa kalau hanya mengecup di bibir. Aku pernah merasakan getar-getar indah saat berciuman dan pernah hampir gila di saat aku merasakan kenikmatan yang lebih dari berciuman. Apa kamu sudah siap jika aku......."
Nora langsung menarik tengkuknya Wintang dan memagut bibirnya Wintang. Untuk sejenak Wintang membeliak kaget, mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali, lalu tangannya bergerak ke tengkuknya Nora dan mulai mengimbangi gaya berciuman dari Nora Laco yang terkesan mahir, namun terasa amatir.
Ares lalu memegang kedua bahunya Nora dan mendorong pelan tubuhnya Nora sampai bibir mereka berdua terpisah, lalu bertanya, "Apa ini ciuman pertama kamu?"
Nora tersipu malu dan menganggukkan kepalanya.
Sial! Kenapa harus aku yang jadi pria pertama yang menciumnya? Batin Wintang.
Kemudian Wintang bertanya dengan masih memegang kedua bahunya Nora, "Dan jangan bilang kalau kamu masih........?"
"Iya. Aku masih tersegel dengan baik"
"Tapi, rumor yang ada, kamu sering berganti cowok dan......"
"Memang benar. Aku sering berganti cowok, tapi nggak ada kata sambung dan. Aku hanya berkencan biasa dengan mereka. Makan malam, nonton, jalan-jalan ke taman, selesai" Sahut Nora.
Sial! Kenapa jadi begini? Dia ternyata gadis baik-baik dan masih suci. Hati nuraninya Wintang mulai mengerang frustasi.
"Tidak ada kontak fisik selama kamu berkencan?" tanya Wintang dengan wajah heran.
"Ada. Kecupan di kening. Ciuman di kedua pipi, bergandengan tangan, dan kecupan di bibir" Sahut Nora dengan wajah polos.
Wintang melepaskan kedua bahunya Nora lalu mengelus kepala botaknya dengan terus memandangi wajah cantiknya Nora dan berkata, "Hanya kecupan, ya?"
"Hmm. Apa yang salah dengan itu?" Tanya Nora.
"Nggak ada yang salah. Aku hanya merasa bersalah" Sahut Wintang sambil mengusap bibirnya dengan helaan napas panjang.
"Kenapa kamu merasa bersalah? A....apa ada yang salah dengan ciumanku, tadi?"
"Bukan kamu yang salah. Aku hanya merasa bahwa aku bukanlah pria yang tepat untuk mendapatkan kehormatan itu"
"Kehormatan apa?" tanya Nora dengan wajah penuh dengan tanda tanya.
"Kehormatan menjadi pria pertama yang mencium kamu dalam arti yang lebih dari yang pernah cowok lain dapatkan dari kamu. Aku nggak pantas dapat lebih, aku......."
"Tapi, aku merasa kamu pantas. Untuk itulah aku memilih kamu" Sahur Nora dengan nada dan wajah yang sangat serius.
Wintang menatap Nora. Hatinya bertanya pada nurani dan akal sehatnya, Mana Wintang yang asli? Apakah ucapannya Wintang untuk Nora saat ini, tulus atau hanya rayuan belaka? Wintang menghela napas panjang, melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil karena berdiri di persimpangan hati yang busuk dan nurani yang suci, membuat Wintang butuh menghirup udara segar.
Nora tersentak kaget melihat Wintang tiba-tiba turun dari dalam mobil. Nora lalu menyusul Wintang dan berdiri di depannya Wintang dengan tanya, "Apa kamu menyesali semua ucapan dan..........."
Wintang diam membisu dan hanya menatap Nora dengan wajah sendu dan mata sayu. Untuk beberapa menit lamanya, Wintang meragu untuk menjebak dan merusak Nora Laco,
Melihat genangan air mata di kedua pelupuk matanya Nora, bukan rasa kasihan yang timbul, namun dendam yang ada di hatinya yang timbul dan langsung menguasai dirinya Dengan cepat ia menarik tengkuknya Nora untuk mendekatkan wajahnya Nora ke wajahnya dan berkata, "Kamu yakin ingin menjadikan aku pria pertama yang berciuman denganmu?"
"Iya" Nora berkata dengan bola mata berkilat.
Wintang menghela napas panjang lalu berkata, "Kalau begitu, aku akan mengajarimu cara berciuman yang benar" Wintang lalu mencium bibirnya Nora dengan lembut.
Wintang mencoba menyelipkan lidah di antara bibirnya Nora dan mencoba merasakan bagaimana Nora merespons. Di saat ia menemukan Nora membuka mulut, maka Wintang dengan sigap memasukkan lidah ke dalamnya dengan lembut dan perlahan. Kemudian Wintang memindahkan lidah secara perlahan, menggerakkannya dengan lembut dan tidak terburu-buru. Intensitasnya pas.
Pria ganteng yang sangat pandai berciuman itu, karena pernah memiliki pengalaman hidup satu atap dengan seorang wanita, mencoba menggerakkan lidahnya dengan teknik memutar dan melingkar.
Wintang bisa merasakan kalau Nora merasa nyaman dan itu membuatnya semakin tertantang untuk mencoba membuat alphabet dengan lidahnya, namun dia tidak masuk terlalu dalam dan Nora semakin nyaman dibuatnya.
Keduanya bisa merasakan debaran jantung mereka masing-masing yang berdetak sangat keras akibat dari ciuman itu. Dan di saat kedua jantung mereka mulai berdebar-debar, napas mereka pun mulai berat, tangan mulai berkeringat dan ciuman yang diajarkan oleh Wintang, membuat tubuh keduanya melepaskan hormon dopamin yang membuat kedua pasangan itu, menjadi lebih bahagia.
Wintang kemudian melepaskan Nora di saat otaknya mengirimkan kata cukup. Dia melihat Nora masih memejamkan kedua matanya dan melemas dan di saat Nora hampir jatuh, Wintang langsung menangkap tubuhnya Nora dan mendekap Nora masuk ke dalam pelukannya.
Wintang memeluk Nora dan mengelus bahunya Nora untuk meredakan gairahnya yang menggebu dan hampir saja lepas kendali.
Nora membuka kedua kelopak matanya dan mengelus dadanya Wintang, "Kamu hebat dalam segala hal dan aku semakin menyukaimu"
Wintang tertawa lirih dan mendekap erat tubuh rampingnya Nora sambil berkata, "Kamu belum cukup mengenalku, Nona Nora Laco. Aku memiliki banyak kekurangan"
"Aku bersedia melengkapi kekurangan yang ada pada dirimu, karena aku sekarang adalah pacar kamu, kan?"
Wintang mencium belahan rambut di atas kepalanya Nora dan memeluk erat tubuhnya Nora Laco, karena ia sesungguhnya merasa frustasi saat ia merasakan hatinya penuh dendam membara, tapi nuraninya merasakan bahwa ia sangat menyukai Nora Laco dan ada rasa tidak tega di sana jika ia harus menyakiti Nora Laco.
Hana mendorong Ares dan berkata, "Jangan peluk aku!"
"Hana, kenapa cemburu? Aku nggak ngapa-ngapain, lho. Aku cuma menyapa dia, karena dia sepupu jauhku"
"Sepupu darimana? Dari Papa atau Mama?" Hana mendelik ke Ares.
Ares langsung berkata, "Nggak tahu"
"Nggak tahu? Kamu nggak tahu dan bisa bersikap ramah banget sama wanita tadi? Dia cantik?"
"Iya" Ares menjawab spontan dan langsung bilang, "Tidak" saat ia melihat Hana mulai menyipitkan mata dan semakin melancipkan bibir.
"Bagus, ya? Kamu bilang dia cantik" Hana mulai menggertakkan gerahamnya.
"Aku bilang tidak, lho" Ares mencoba meraih tangannya Hana dan Hana langsung menepis kasar tangannya Ares
"Kamu bilang iya di awal, Mas!" Hana berteriak kesal.
"Itu karena, aku kaget. Iya itu jawaban spontan dari seseorang kalau dia ka........Lho, hei! Hana! Kamu mau ke mana?!" Ares berteriak sambil berlari menyusul langkah lebarnya Hana.
Hana berucap dengan terus melangkah lebar, "Pulang! Dan nanti malam, kamu tidur di sofa!"
Ares hendak berlari menyusul Hana, tapi tiba-tiba lengannya ditarik oleh seseorang. Ares menoleh dan langsung memekik kaget, "Kamu?!" Lalu ia menarik lengannya dengan wajah kesal.
"Mas, sejak Pakde Christian dan Budhe Elizabeth Laco meninggal, kita nggak pernah bertemu lagi. Nancy apa kabarnya? Aku dan Nancy seumuran, aku merindukan Nancy. Aku rasa kita perlu makan siang bareng besok, untuk bernostalgia dan ......."
"Nggak perlu! Jangan temui aku lagi!" Ares lalu berbalik badan dan berlari kencang menyusul Hana.
Juwita hanya bisa menatap punggungnya Ares yang menjauh dengan wajah kecewa.