
Tanpa Hana sadari, ia membalas ciumannya Ares dan ia merasakan kalau stres yang ada pada dirinya sedikit berkurang walaupun darahnya mengalir lebih cepat dan jantungnya berdebar lebih kencang. Ciuman itu adalah ciuman pertama bagi Hana dan terasa begitu dahsyat dan lebih memabukkan daripada bir yang semalam berhasil lolos masuk ke dalam tubuhnya. Gadis yang masih berumur delapan belas tahun itu telah merasakan banyak hal yang seharusnya belum pantas untuk ia rasakan.
Ting! adalah bunyi sebagai tanda kalau pintu lift terbuka, masuk ke kedua lubang telinganya Ares. Ares melepaskan ciumannya, mengurai kungkungannya dan menahan pintu lift dengan tangan kirinya.
Hana masih menutup kedua kelopak matanya dan bernapas dengan tidak beraturan diiringi oleh debaran jantung yang sangat cepat.
Ares menatap wajah memerahnya Hana dan entah kenapa ia menjadi semakin tertarik pada segala apa yang ada di gadis yang masih berdiri tak berdaya di depannya. Ia merasakan ketertarikannya pada gadis yang bernama Hana Prakas itu, melebihi ketertarikannya dulu pada belasan wanita yang pernah menjadi submissivenya. Ares merasakan sensasi yang luar biasa berbeda pada diri Hana Prakas.
Dengan tangan kiri yang masih menahan pintu lift, Tangan kanan Ares terangkat untuk menangkup pipinya Hana yang masih tampak memerah sambil berucap, "Aku sangat menginginkanmu"
Suara berat dan dalam miliknya Ares, membuat Hana membuka kedua kelopak matanya dengan cepat. Lalu ia mendorong tubuhnya Ares ke belakang dan segera berlari keluar dari dalam lift, berbelok ke arah kiri karena ia tahu, arah kanan adalah jalan buntu dan terus mengencangkan laju larinya menuju ke sebuah cahaya yang tampak menyilaukan berada tidak jauh di depan matanya
Namun, di saat cahaya di depannya sudah tidak tampak menyilaukan lagi, Hana mengernyit dan memperlambat laju larinya tatkala kedua bola matanya menangkap sepuluh sosok pria berbadan tegap, berpakaian rapi, dengan alat komunikasi terpasang di telinga kiri, berlari ke arahnya.
Hana langsung mengerem laju larinya dengan wajah frustasi saat ia dihadang oleh sepuluh sosok pria berbadan tinggi dan tegap.
Ares berjalan pelan menyusul Hana dengan kedua tangan berada di dalam kedua kantong celana kainnya. Suara berat dan dalamnya Ares kembali mengeluarkan kata, "Mereka pengawalku. Kau pilih ikut aku atau mereka?"
Hana tersentak kaget mendengar suaranya Ares dan secara spontan ia memutar badannya. Saat ia bersitatap dengan Ares, ia langsung mengeluarkan kata, "Ijinkan saya pergi! saya bisa pulang ke rumah saya sendiri" Hana melirik ke belakang dan melihat sosok Handoko telah berdiri tegap di belakang tuan besarnya
"Kau bawa uang?"
Hana lalu menunduk dan mengumpat kesal, dia belum mendapatkan tas selempang kainnya padahal dompetnya ada di dalam tas itu.
Ares tersenyum tipis, "Ikut aku! Masuk ke mobilku! Aku akan mengantarmu ke nenek kamu dan aku akan kembalikan tas selempang jelekmu itu"
Hana masih berdiri mematung di depan sosok laki-laki tampan yang telah mencekik dia sebelumnya dan beberapa menit yang lalu telah menciumnya. Hana merasa takut berada di dekat laki-laki yang memiliki nama Ares Laco itu.
"Nenek kamu di rumah sakit sekarang ini. Dokter yang aku utus untuk ke rumah Nenek kamu untuk merawat dan menjaga Nenek kamu menggantikan kamu selama kamu berada di sini, mengatakan kalau kondisi Nenek kamu memburuk dan saat ini........"
"Di mobil mana aku harus masuk?" Tanya Hana dengan nada penuh ketidaksabaran dan posisi badan siap berlari masuk ke dalam mobil.
"Itu. Yang berwarna abu-abu" Ares jari telunjuk Ares menunjuk ke mobil yang berada tepat di sebelah kirinya Hana. "Masuklah! Tidak terkunci pintunya"
Hana berlari masuk dan Ares tersenyum lebar melangkah masuk ke jok kemudi. Ares menoleh ke Hana dan membungkuk ke Hana. Hana langsung berteriak, "Apa yang akan Anda lakukan?!"
Ares tersenyum tipis lalu memasangkan sabuk pengamannya Hana tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Ares lalu menegakkan kembali badannya dan memakai sabuk pengamannya sendiri.
Begitu Ares melajukan mobilnya dengan pelan, ke sepuluh pria berpakaian necis dan tidak ketinggalan Handoko, bergegas masuk ke dalam dua mobil Van berwarna hitam lalu kedua mobil Van itu langsung mengikuti arah mobil sport berwarna abu-abu yang Ares kemudikan.
"Apa Nenek baik-baik saja?" Hana menoleh ke Ares.
"Aku tidak tahu" Ares menjawab singkat dengan wajah kaku.
Ares melirik Hana dan bertanya, "Kau ngapain?"
Hana diam saja. Dia tidak menggubris Ares dan terus berdoa dengan mata terpejam rapat dan tangan saling mengait dengan erat.
Baru kali ini aku dibuat kacau oleh seorang gadis. Gadis yang suka membangkang dan berani mengabaikan aku, tapi kenapa aku tidak merasa kesal diabaikan olehnya? Apa aku sudah gila saat ini? Batin Ares.
Dua jam perjalanan menuju ke rumah sakit dilalui Ares dan Hana dalam kebisuan.
Sesampainya di rumah sakit, Hana bergegas melepas sabuk pengaman, membuka pintu dan turun dari dalam mobilnya Ares untuk segera berlari masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Hana bahkan lupa untuk menutup pintu mobil mewahnya Ares.
Ares menggelengkan kepalanya, melepas sabuk pengamannya lalu melangkah turun untuk menutup pintu mobil yang Hana biarkan terbuka lebar.
Handoko berlari mendekati Ares, "Anda mau masuk ke dalam atau balik ke kantor, Tuan?"
Ares menatap pintu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat lalu tanpa menjawab pertanyaannya Handoko, dia melangkah menuju ke pintu masuk IGD.
Sampai di dalam ruang IGD, Ares mendapati Hana masih celingukkan mencari di mana neneknya Hana berada.
Ares menepuk pundaknya Hana, "Nenek kamu ada di ruang rawat ICU. Ayo ikuti aku! Aku akan antarkan kamu ke sana"
Hana dengan terpaksa mengikuti langkah Ares dan sesampainya di ruang ICU, Hana hanya bisa melihat dari luar kondisi neneknya yang tampak lemah dan di tubuhnya terpasang banyak selang alat medis. Hana hanya bisa melihat dari luar karena belum diijinkan masuk ke dalam.
Ares melirik Hana. Hana tampak sedih, panik dan frustasi, tapi tidak ada air mata yang menetes di pipi gadis itu.
Tegar juga dia. Batin Ares.
Seorang dokter keluar dari dalam ruang ICU dan menemui Hana, "Nenek kamu harus segera dioperasi hari ini juga kalau tidak, nyawanya tidak akan tertolong"
"Biayanya? Sa......saya belum punya biayanya, Dok" Hana mengeluarkan suara dengan nada bergetar karena menahan tangis.
"Kita tanda tangan dulu surat persetujuan operasi. Biayanya bisa diperbincangkan nanti yang penting Nenek kamu selamat dulu" sahut dokter berwajah ramah itu.
Hana menganggukkan kepalanya lalu ia menandatangani surat persetujuan operasi untuk nenek tercintanya.
Setelah dokter dan tim perawat pendamping dokter tersebut meninggalkan Hana, Ares bersuara, "Aku akan bayar semuanya, tapi dengan syarat"
Hana menoleh ke Ares dan menggelengkan kepala dengan cepat, "Saya tidak mau menerima uang Anda. Saya akan cari pekerjaan dan......."
Ares menghela napas panjang, "Kau tinggal saja dulu di apartemenku. Hanya tinggal di apartemenku dan selama kamu belum menandatangani kontrak, aku tidak akan menyentuhmu. Aku akan membayar semua biaya operasi dan rawat inap Nenek kamu jika kau mau tinggal di apartemenku hari ini juga"
Hana menatap Ares dengan ragu............