A Dominant

A Dominant
Ares Marah Besar



Hana terlonjak kaget dan saat Hana hendak bangkit untuk menghampiri Ares, Wulan menahan pundaknya Hana sambil berucap, "Anda di sini aja Nyonya daripada kena bogem mentah nyasar"


Semua orang yang ada di gedung bioskop sore itu langsung berkerumun mengelilingi Area.


Ares berhasil menghindar dan mendaratkan bogem mentah lagi di wajah laki-laki itu saat laki-laki itu mencoba membalas serangannya Ares.


Laki-laki itu membungkukkan badannya sambil mengusap darah di sudut bibirnya dengan tanya, "Kenapa kau tiba-tiba memukulku?"


"Kau telah berani membalas lambaian tangannya" Ares mengarahkan jari telunjuknya ke Hana.


Laki-laki itu masih membungkukkan badannya dan mengangkat sedikit wajahnya untuk melihat arah jari telunjuknya Ares dan berucap, "Kenapa emangnya kalau aku membalas lambaian tangan wanita cantik itu? Dia kan melambaikan tangannya ke aku"


Ares langsung menendang laki-laki itu hingga laki-laki itu limbung dan jatuh menyamping ke lantai sambil berteriak, "Lambaian tangannya untukku! Hanya untukku, dasar brengsek!"


Handoko langsung berlari menghampiri Ares dan bertanya, "Ada apa Tuan?"


"Pergi kau Han! Ini urusanku dengannya"


Laki-laki asing itu langsung bangkit dan menegakkan kembali badannya. Dia kembali meluncurkan bogem mentahnya ke Ares, namun Ares si pemegang sabuk tertinggi taekwondo dan menguasai teknik bela diri Systema, berhasil menghindari bogem mentah itu dengan sempurna.


Ares lalu melepas jasnya dan melemparkannya asal lalu menggulung kemejanya sambil berucap, "Kau telah berani memiliki niat tidak baik pada Istriku maka kau harus membayarnya dengan sangat mahal"


"Is.....istri? Sial! cewek imut dan cantik itu Istrimu?"


"Majulah!" Ares menghunus sorot tajam ke laki-laki asing yang berdiri tegap di depannya.


Laki-laki asing itu kembali meluncurkan tinjunya dan Area berhasil menghindar sekaligus menyarangkan tendangan yang cukup keras di perut laki-laki itu.


Laki-laki itu terjengkang ke belakang dan jatuh di atas lantai dengan melengkungkan tubuhnya seperti seekor udang.


"Kau juga memiliki niat tidak baik pada Istriku. Maju kau!" Ares menatap laki-laki yang satunya lagi dan laki-laki tersebut langsung kabur.


"Han! Suruh anak buah kamu untuk membawa laki-laki brengsek itu hilang dari hadapanku! Dan cari laki-laki yang kabur tadi! Beri dia pelajaran karena ia juga sudah berani memiliki niat yang tidak baik pada Hana!"


Handoko langsung memerintahkan anak buahnya untu membawa pergi laki-laki yang telah berani mengusik Ares Laco dan memerintahkan anak buahnya yang lain lagi untuk mencari laki-laki yang berani kabur dari Ares Laco.


Kerumunan pun bubar saat.mereka tahu bahwa yang melakukan keributan adalah Ares Laco, pemilik Graha Laco. Mereka semua tidak memiliki keberanian untuk berurusan dengan pemilik Graha Laco.


Ares lalu maju ke kasir, "Aku mau beli popcorn jumbo untuk Istriku" Ares menampakkan wajah bangga saat ia mengucapkan kata istriku


Orang yang bertugas menjadi kasir di sore hari itu, sedikit gemetar berhadapan dengan seorang Ares Laco karena, ia takut melakukan kesalahan kecil dan membuat Ares Laco kembali mengamuk. Dia mengerjakan pesanannya Ares dengan sedikit gemetar, lalu ia menyerahkan popcorn jumbo ke Ares sambil berucap dengan nada bergetar, "I....ini Tuan"


"Berapa?" tanya Ares.


"Ah! Anda pesan satu aja kan, Tuan?"


"Kau mau mati, ya?!" Ares menggeram kesal dan Handoko langsung mengambil alih saat ia melihat orang di balik meja kasir itu menundukkan wajah dengan ketakutan, Han langsung berucap, "Maksud Tuan Ares, berapa harga popcorn-nya?"


Handoko langsung. membayar popcorn yang telah dibawa Ares pergi.


"Han, aku ingin membeli tempat ini. Urus semuanya Han" Ares memungut jasnya, menyampirkannya di pundak lalu berjalan ke tempat duduknya Hana.


Handoko tampak kebingungan dan sambil berlari kecil menyusul Ares ia bertanya, "Apa maksud Anda ingin membeli gedung bioskop ini, Tuan? Saya rasa tidak akan semudah itu Anda bisa membeli gedung bioskop ini"


Ares menarik pergelangan tangannya Hana lalu memeluk pinggangnya Hana dan berucap, "Hana belum pernah nonton di bioskop, tapi aku nggak suka membawa Hana ke tempat serame ini. Banyak mata laki-laki tidak bertanggung jawa seperti orang tadi akan menatap Hana dan memiliki niat tidak baik pada Hana. Aku jadi kepikiran ingin punya gedung bioskop sendiri, jadi aku dan Hana bisa menonton di bioskop dengan tenang"


"Gimana kalau saya buatkan mini teater di rumah Anda, Tuan? Emm, Home cinema semacam bioskop mini di rumah Anda?"


Ares menoleh ke Hana, "Kau suka idenya Han?"


Hana ingin menggelengkan kepalanya karena sebenarnya jauh di dalam hatinya, ia ingin merasakan menonton bioskop secara normal, tapi melihat kejadian mengerikan yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, ia memilih untuk menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Buatkan home cinema di rumah yang baru aku beli. Jangan di kondominium karena tempatnya terlalu sempit" Sahut Ares.


"Baik, Tuan"


Ares mencium pelipisnya Hana dan berucap di sana, "Maaf ya, kita nggak jadi nonton bioskop di sini karena aku nggak mau ada laki-laki lain yang menatap kamu dan mengagumi kamu lagian tempat ini sangat rame" ucap Ares sambil menyerahkan popcorn jumbo ke Hana.


Hana sebenarnya kecewa, tapi melihat suaminya telah berusaha begitu keras mendapatkan popcorn untuknya, Hana akhirnya tersenyum dan berucap, "Baiklah, Mas. Tapi, kita mau ke mana?"


"iya Tuan, Anda mau ke mana? Saya udah beli tiketnya dan setengah jam lagi filmnya dimulai. Kita harus segera masuk" sahut Handoko.


"Aku akan ajak Istriku ke hotel karena, kondominiumku belum steril dari alat perekam yang dipasang oleh wanita brengsek yang menyerang Hana tadi, kan?"


Handoko menganggukkan kepalanya dan kembali bertanya, "Besok semuanya udah beres Tuan. Lalu tiketnya?"


"Kau nonton aja dengan Wulan. Aku lebih suka berkencan dengan Hana di hotel"Ares lalu menautkan jari jemarinya di jari jemari Hana dan mengajak Hana pergi dari gedung bioskop meninggalkan Handoko dan Wulan yang mematung memandang punggungnya Ares Laco.


Handoko menoleh ke Wulan, "Kita masuk! Filmnya udah mau dimulai. Sayang kalau tidak kita pakai. Aku telah booking gedung dua dengan sangat mahal"


Wulan menoleh ke Handoko dengan senyum lebar, "Oke! Tapi, Anda tidak membelikan saya popcorn?"


"Ruang VVIP yang ada di gedung dua, sudah menyiapkan popcorn dan banyak makanan juga minuman nanti"


"Wah! Mimpi apa saya semalam ya? Bisa seberuntung ini menikmati nonton film di ruang VVIP dengan cowok setampan Pak Han?"


Handoko menoleh ke Wulan sambil terus melangkah lebar menuju gedung dua ke ruang VVIP yang sejatinya ia booking untuk tuan besarnya itu dengan berucap, "Jangan pernah bilang aku tampan lagi! Risih aku mendengar kata tampan seluar dari mulut ceriwis kamu"


Wulan yang mengiringi langkahnya Handoko berucap, "Tapi, Pak Han memang tampan. Apa salahnya kalau saya bilang tampan dan memuji Pak Han, tampan"


Ares memerintahkan anak buahnya untuk beridri mengelilingi mobilnya saat Hana telah masuk ke dalam mobilnya. Lalu Ares bergegas masuk ke dalam mobil dan berucap, "Kecantikanmu yang memancing kekaguman dari lqki-laki lain, telah membangkitkan gairahku Hana. Aku ingin menyatu denganmu saat ini juga" Ares langsung menarik tengkuknya Hana dan mencium bibirnya Hana dengan lembut dan sensual ..........