
Di saat Ares bersimpuh di atas ranjang, di atas tubuhnya Hana sembari membuka satu per satu kancing kemejanya, Hana bertanya, "Kenapa Mas masih pakai kemeja itu. Kemeja itu tadi kan, aku pakai pas aku belum mandi dan pasti bau, kan?"
Ares mencium kemeja yang sudah ia lepas dan Ares berucap, "Aku suka wangi kamu yang menempel di kemeja ini" Lalu Ares melempar asal kemejanya.
"Tapi, apa nggak kusut, Mas?" Hana bertanya di sela lenguhannya karena Ares kembali menyerang lehernya dengan gigitan-gigitan kecil.
"Nggak kusut. Cuma kamu pakai sebentar untuk memasak, kan tadi" sahut Ares di atas lehernya Hana.
Hana mulai berani untuk berinisiatif memeluk Ares dengan sangat erat dan Ares menyukainya di saat Hana menancapkan kuku-kuku jarinya di punggungnya Ares.
Dengan tangan yang merajai di setiap jengkal tubuh istrinya, Ares terus memainkan lidahnya di dalam mulutnya Hana, mendesak dan mengajak lidahnya berdansa.
Ares lalu mengambil alat pengaman dari laci yang ada di ranjangnya, lalu menyatukan raganya ke Hana.
Beberapa jam kemudian, Ares tidur miring sambil memandangi wajahnya Hana yang kembali tertidur lelap.
"Biasanya, aku hanya melakukan penyatuan raga dengan submissiveku setiap Sabtu malam dan Minggu pagi aja. Tapi, denganmu, aku ingin dan sudah melakukannya setiap hari. Sihir apa yang kau punya hingga membuatku menjadi gila seperti ini, Hana? Aku bahkan belum pernah membawa submissiveku ke kamar ini. Kamu yang pertama kalinya aku bawa ke sini dan gilanya, aku melakukan penyatuan raga untuk pertama kalinya di sini dan itu denganmu" Ares mengusap pipinya Hana, mengecup bibirnya Hana, lalu berbisik di sana, "Aku sangat menyukaimu"
Ares kemudian bangun, bangkit berdiri, memakai kembali semua setelan bajunya yang berserakan di atas lantai dan kembali melangkah ke meja kerjanya.
Handoko mulai merasa kesemutan kakinya karena, baru pertama kalinya bagi dia, berdiri begitu lama.
Wulan menoleh ke Handoko untuk yang kesekian kalinya dan akhirnya ia tergelitik untuk bertanya, "Anda mau berdiri di situ berapa lama lagi, Pak Han? Sudah dua jam lebih lho Anda berdiri di situ. Lama-lama akan muncul akar dari kaki Anda, hihihihi" Wulan terkikik geli.
Handoko mendelik ke Wulan dan memilih mengabaikan pertanyannya Wulan. Dia memang tidak begitu menyukai wanita yang super ceriwis seperti Wulan.
"Kenapa Anda berdiri di depan pintu? Anda kan belum pernah berdiri di depan pintu ruang kerjanya Bos kayak gitu? Dan saya belum Anda ijinkan saya masuk menemui Pak Bos untuk memberikan laporan keuangan Memangnya di dalam ada apa sih?" Wulan mulai memasang kembali wajah penasarannya.
"Urus aja kerjaan kamu dan abaikan aku! Jangan banyak tanya juga!" Sahut Handoko dengan wajah kesal.
Ceklek! Ares keluar dari dalam ruang kerjanya dan langsung menabrak punggung bidangnya Handoko.
Handoko terkejut begitu pula dengan Ares dan Ares langsung menyemburkan protes sambil menutup pintu ruang kerjanya dengan sangat pelan, "Han! kenapa kamu berdiri di depan pintu? Hidungku sakit nih kena punggung kamu. Lagian, badan kamu tuh tinggi dan besar,menghalangi orang yang mau lewat tahu, nggak?! Dasar aneh!"
Handoko memutar badan untuk berhadapan dengan bos besarnya lalu mundur dua langkah untuk memberikan ruang bagi Ares dan berkata, "Maafkan saya, Tuan Saya capek duduk terus, Tuan. Jadi, saya putuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sepanjang lorong ini" Handoko meringis ke Ares.
"Bohong!" pekik Wulan secara spontan.
Handoko dengan sigap mengambil pulpen dari saku jasnya dan ia langsung lemparkan pulpen itu ke Wulan dengan mata melotot mengarah tajam ke Wulan.
Ares menoleh ke Wulan lalu kembali menatap Handoko dengan penuh tanda tanya, "Ada apa ini? Cie, cie, kalian berpacaran, ya?"
"Amit-amit!" pekik Handoko dan Wulan secara kompak.
"Ah! Iya! Pasti kalian berpacaran. Kalian bisa kompak kayak gitu. Aku restui kalian" Ares tersenyum semringah ke Handoko dan ke Wulan dengan santainya.
Di saat Handoko dan Wulan hendak membuka mulut mereka untuk kembali protes secara berjamaah, Ares langsung menepuk pundaknya Handoko dan berucap, "Aku kasih kalian bonus hari ini" Ares mengeluarkan segepok lembaran uang berwarna merah dan menghitungnya di depan Handoko, lalu berucap, "Nih! masing-masing satu juta rupiah untuk berkencan. Berkencanlah, Han! Kau sudah terlalu sering mengerutkan kening kamu. Tzk! Kasihannya kamu, ish, ish, ish! Maafkan aku yang kurang memerhatikan kamu selama ini. Berkencanlah dengan Wulan! dan rilekskan kening kamu untuk beberapa jam saja! Biar nggak cepet tua"" Ares menjejalkan uang satu juta rupiah ke dalam saku kemejanya Handoko.
Lalu Ares menoleh ke Wulan dan meletakkan uang satu juta rupiah di atas meja kerjanya Wulan sambil berucap, "Bahagiakan Handoko! Jangan buat Handoko menangis! Kalau kau buat Handoko menangis, aku akan memecat kamu"
Wulan menatap lembaran uang berwarna merah dengan mata hijaunya. Dasar mata duitan, Wulan langsung meraih uang itu, menggenggamnya dan sambil bangkit ia berucap, "Siap Pak Bos! Saya akan membuat Pak Han menjadi pria paling berbahagia di dunia ini"
Handoko langsung menutup wajah tampannya dengan tangan kanannya dan menghela napas panjang. Mimpi apa aku semalam? Kenapa bisa seperti ini? Aku akan berkencan dengan wanita super ceriwis macam Wulan? Huffttt! Sabar Han, Sabar! Batin Handoko meriang karena kesal.
Ares tersenyum lebar dan menengadahkan telapak tangannya di depan Wulan.
Wulan kebingungan melihat telapak tangannya Ares terbuka di depannya, "Apa tuan? Anda mau minta apa dari saya? Permen?"
"Permen gundulmu! Ambilkan aku uang dua juta rupiah dari kas yang ada di laci kamu! Aku akan suruh Han membelikan baju ganti untuk aku dan Hana"
"Oh! Tapi, kenapa nggak pakai uang cash yang ada pada Anda, Tuan? Kalau pakai uang kas di laci saya, saya akan pusing merevisi kembali laporan keuangan yang sudah selesai saya buat barusan dan......."
"Mau aku pecat? Uang cash yang ada di aku kan udah habis aku bagikan ke kamu dan Handoko" Ares langsung melotot ke Wulan.
Wulan berucap, "Baik, Tuan" Dan langsung membuka laci mejanya, mengambil uang dari sana sebanyak dua juta rupiah lalu meletakkannya di atas telapak tangannya Ares.
Ares menggenggam uang itu dan memutar badannya ke Handoko, "Han! Belikan aku kaos dan celana pendek! Lalu belikan dress untuk Hana! Nggak pakai lama, ya Han?!"
"Baik, Tuan" Handoko langsung berbalik badan untuk melaksanakan perintah tuan besarnya.
Di saat Wulan hendak duduk kembali di kursinya, Ares langsung berkata, "Di mana pengawalnya Hana?"
Wulan kembali bangkit dan berucap, "Ada di ruang kerjanya Pak Han, Tuan"
"Hah?! Apa Handoko berselingkuh dari kamu?"
Wulan mengibaskan tangannya dan di saat Wulan hendak memberikan penjelasan, Ares berjalan meninggalkan Wulan dan sambil melangkah masuk ke ruang kerjanya kembali, Ares bergumam, "Wah! Han memang cerdas. Dengan cepat ia bisa mendapatkan dua wanita sekaligus. Good job, Han! Hahahaha, aku suka, aku suka" Ares menutup kembali pintu ruang kerjanya dengan pelan sambil manggut-manggut dan tersenyum lebar.
Wulan mengernyit dan mengerucutkan bibirnya,"Kapan aku jadian sama Pak Han dan kapan Pak Han berselingkuh dariku? Dasar Bos gila!"
Ares kembali duduk di meja kerjanya dan terus terkekeh geli mengingat kelakuannya Handoko yang tentu saja disesuaikan dengan bayangan yang ada di benaknya dan tentu saja tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.