A Dominant

A Dominant
Erick dan Macarena Tertangkap



Hana bercerita kalau ada sebuah mobil terus mengikutinya di dalam perjalanan menuju ke luar kota dan mobil itu hampir saja mencelakai Hana. Dan saat Hana memberikan ciri-ciri orang itu, Ares langsung mengepalkan kedua tinjunya dan bertekad untuk mengeksekusi rencananya keesokan harinya karena ia tidak ingin Erick terus berkeliaran di luar sana dan mengancam keselamatannya Hana.


Keesokan harinya, Rencana yang hendak dieksekusi Ares adalah resepsi pernikahannya. Ares mengajak Hana merayakan resepsi pernikahan mereka secara besar-besaran di sebuah hotel berbintang lima. Ares sengaja menggelar acara yang sangat mewah untuk menarik perhatiannya Erick Allesio.


Seorang Ares Laco dengan segala kuasa dan uang yang berlimpah, mampu menyelenggarakan pesta mewah hanya dengan persiapan semalam saja.


Sebelum acara dimulai, Ares mengadakan jumpa pers untuk mengumumkan pernikahannya dengan Hana dan setelah itu, ia menyelenggarakan pemberkatan pernikahan seperti yang selalu Hana impikan.


Setelah kedua acara tersebut selesai, Hana berganti pakaian untuk masuk ke acara resepsi. Ares terus menjaga Hana dan penjagaan di sekitar kamar gantinya Hana sangat ketat.


Ares membantu Hana berganti pakaian dan mulai menciumi lehernya Hana, kupingnya Hana dan ia langsung memutar tubuhnya Hana da berkata, "Apa aku boleh agak kasar hari ini?"


Hana menganggukkan kepalanya walaupun ia belum memahami arti kasar yang Ares maksud.


Ares langsung menyingkap roknya Hana dan meminta penyatuan raga dari arah belakang. Ares hanya melajukan satu ronde penyatuan raganya dengan Hana, di dalam kamar gantinya Hana sebelum perias datang untuk merubah riasan rambutnya Hana menjadi lebih santai dan natural yang sesuai dengan konsep acara resepsi pernikahannya Hana dan Ares.


Hana dan Ares kembali memakai baju mereka dengan senyum bahagia dan Hana menepuk dadanya Ares, "Kamu selalu saja mencari kesempatan di tengah kesempitan, Mas"


Ares mencubit dagunya Hana dan setelah mencium bibirnya Hana, ia berucap, "Itu karena kau sangat cantik hari ini. Dari tadi aku terus menahan gairahku"


Hana kembali menepuk dadanya Ares dan berkata, "Kamu emang jago banget kalau ngeles, Mas"


Ares langsung menarik tubuhnya Hana untuk ia dekap lalu ia menggemakan tawa bahagianya.


Berulangkali Handoko memperingatkan Ares bahwa langkah yang Ares ambil terlalu beresiko, namun Ares sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk segera menangkap papa kandungnya lagi dan kali ini, Ares akan membuat papa kandungnya mati bunuh diri di depannya.


Hana dan Ares berjalan bergandengan tangan saat mereka memasuki ruangan besar tempat resepsi pernikahan mereka digelar dengan sangat megah dan mewah. Ares mendatangi satu per satu tamu undangan dengan terus merangkul pinggang rampingnya Hana.


Umpannya Ares berhasil. Macarena menyuruh Erick Allesio, papa kandungnya Ares untuk datang ke pesta resepsinya Ares dan Hana dengan penyamaran sempurna dan Macarena menempatkan Erick menjadi salah satu pramusaji minuman di resepsi itu.


Beberapa jam berikutnya, Ares telah berhadapan dengan Erick Allesio di ruangan penyimpanan anggur. Ares melangkah mengikuti Erick setelah ia menempatkan Hana di tempat yang aman dengan penjagaan super ketat bahkan lalat dan semut pun tidak akan mampu menembus penjagaan tersebut.


"Apa kabar, Erick?" Ares memberikan senyum sinisnya untuk Erick Allesio.


Erick yang tengah mengambil beberapa botol anggur tersentak kaget, namun ia kemudian tampak tenang saat ia melihat Ares. Erick laku meletakkan dua botol anggur yang ia pegang di atas meja besar yang hampir memenuhi ruangan penyimpanan anggur itu lalu ia berkata, "Apa kabarmu, Nak?"


"Jangan panggil aku Nak dengan mulut kotormu itu!" Ares mendelik ke Erick Allesio. Pria jangkung berumur lima puluh tujuh tahun yang memiliki warna rambut dan warna bola mata dengan dirinya itu tersenyum lebar ke Ares.


"Berani-beraninya kau tersenyum seperti itu di depanku!"


"Apakah kau akan maafkan Papa kalau Papa bilang Papa menyesali semua perbuatan Papa?"


"Cih! Aku tidak pernah memercayai omonganmu, dasar brengsek!" Ares menghunus tatapan tajam untuk Erick.


"Hahahaha, Papa juga cuma bercanda"


"Sekarang aku memberikan kamu pilihan. Kau pilih bunuh diri dengan meminum racun ini" Ares meletakkan botol kecil berisi racun mematikan di atas meja, lalu ia kembali berucap, "Atau aku akan memberikanmu ke pihak berwajib dan kali ini aku akan menuntutmu dengan hukuman mati. Karena kau telah lancang mengancam keselamatan Istriku"


Hana menoleh ke Mamanya dan Nancy, "Apa?! Mas Ares menemui Papanya? Papa kandungnya?"


"Dan sepertinya Mas Ares akan melakukan hal yang lebih kejam lagi ke Papanya karena Papanya telah berani mengancam keselamatannya Kakak dan telah berani kabur dari penjara"


"Tapi, apakah itu baik untuk Mas Ares? Bukankah lebih baik jika Mas Ares memaafkan Papanya dan hidup damai tanpa dendam?"


Elizabeth Laco mengusap kepalanya Hana dan berkata, "Mama juga sudah bilang begitu ke Ares, tapi Ares tidak menggubris ucapan dan nasehatnya Mama. Karena, papa kandungnya memang sangat kejam"


"Di mana Mas Ares menemui papa kandungnya, Ma?"


"Di tempat penyimpanan anggur" Sahut Nancy


Di mana itu?" Hana menoleh ke Nancy.


Elizabeth Laco mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kau mau apa menanyakan itu?"


"Di sebelah Utara pintu masuk dapur" Sahut Nancy.


Hana langsung bangkit, membuka pintu dan berlari kencang menuju ke tempat penyimpanan anggur. Elizabeth dan Nancy Laco terkejut melihat Hana berlari kencang keluar dari kamarnya. Elizabeth dan Nancy Laco langsung mengejar laju larinya Hana dengan diikuti beberapa pengawal.


Christian Laco yang tengah memberikan seminar di luar kota langsung merasa panik saat Istri tercinta dan anak-anaknya belum mengangkat satu pun panggilan teleponnya. Dan hal itu membuat Christian Laco yang menjadi pembicara utama di seminar itu melakukan sesi tanya jawab dengan tidak tenang.


Macarena tertawa senang di dalam kamarnya karena ia merasa sangat yakin, rencananya bakal berhasil dan kalau toh gagal, dia hanya akan melihat Erick dan Ares saling bunuh. Jika Ares mati, maka Hana pun akan menderita dan barulah ia akan memberikan pelajaran yang sangat kejam untuk Hana, nanti.


Hana sampai di tempat penyimpanan anggur tepat di saat Ares berada di depan moncong senjata dan Hana langsung mendorong tubuhnya Ares sehingga peluru yang tersembur dari pistolnya Erick mengenai Hana.


Semua langsung memekik kaget dan berteriak histeris melihat Hana jatuh di lantai tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.


Ares menatap Jana dengan nanar lalu ia langsung berlari ke Erick, ia menyerang Erick dan berhasil merebut pistol dari tangannya Erick, namun di saat Ares hendak menembak Erick, Elizabeth Laco langsung berteriak di tengah isak tangisnya, "Jangan tembak dia! Hana tidak ingin kamu menjadi seorang pembunuh! Jangan tembak dia!"


Ares menatap moncong pistol yang sudah ia tempelkan di keningnya Erick dengan tangan gemetar lalu ia mengunci kembali pistol itu dan dan bangkit dengan lemas.


Pengawalnya Ares langsung membekuk Erick dan Ares langsung berputar badan dan membopong Hana. Ia larikan Hana ke rumah sakit dengan segera.


Setelah menjalani operasi, Hana mengalami tidur panjang dan Ares meradang penuh amarah karena itu. Ares langsung pergi untuk menemui Erick Alessio di penjara, "Siapa yang membebaskanmu dari penjara dan siapa yang membantu kamu selama ini? Tidak mungkin kau bisa mendapatkan pistol tanpa bantuan dari seseorang"


Erick berkata, "Kalau aku katakan semuanya. Apa imbalannya?"


"Dasar brengsek! Kau telah menembak Istriku dan sekarang Istriku terbaring di rumah sakit lalu sekarang kau masih berani meminta imbalan dariku?" Ares memukul kaca transparan yang memisahkan dia dan Erick.


"Kalau tidak mau ya sudah" Erick berucap dengan wajah santai"


"Baiklah. Aku nggak akan menuntut hukuman mati atas kamu. Aku hanya akan menuntut hukuman seumur hidup atas semua kejahatan keji yang telah kau lakukan. Sekarang katakan, siapa yang membebaskan kamu dan membantu kamu selama ini!"


"Macarena Lordess"


Ares terhenyak di kursi dan ia langsung bangkit setelah meraup wajah tampannya dan kali ini, dia tidak bertindak sendiri untuk meringkus Macarena, karena dia ingin terus berada di sampingnya Hana sampai Hana membuka mata kembali. Ares menyerahkan Macarena ke detektif kenalannya dan dalam hitungan jam, Macarena yang hendak kabur ke Amerika, berhasil ditangkap di bandara internasional.


Ares menyuruh Mama, adik, dan Papa angkatnya untuk pulang karena ia ingin sendirian saja menjaga Hana. Ares terus memegang tangannya Hana dan sesekali mencium tangan itu dengan wajah sedih.