
"Tapi, kamu udah........"
"Aku dan Jenar, kan, belum nikah secara hukum. Mama yang memutuskan akan mendaftarkan pernikahanku dengan Jenar setelah masalah dendam keluarga kita dengan keluarga Laco selesai. Lalu sekarang apa masalahnya?"
"Pokoknya kamu tidak boleh menikahi Nora Laco, titik!" Mamanya Wintang berkacak pinggang dan berkata dengan nada bicara cukup tinggi.
Wintang mendelik ke mamanya, lalu berkata, "Aku selalu menuruti Mama selama ini. Aku tidak pernah mencintai Jenar Ayu dan aku mau mengadakan pemberkatan pernikahan demi Mama. Kenapa untuk masalah ini, aku tidak boleh memakai caraku sendiri?"
"Mama cuma ingin kamu meniduri gadis itu, merekamnya, dan meninggalkannya. Mama cuma ingin menorehkan aib di keluarga Laco!" Mamanya Wintang tidak kalah mendelik, lalu melanjutkan ucapannya, "Kalau kamu menikahinya, kamu justru menghormati gadis itu dan......."
"Aku berencana akan meninggalkannya setelah seminggu aku menikahinya, Ma" Sahut Wintang.
"Pokoknya kalau kamu menikahinya, Mama nggak akan pernah setuju, titik!"
Wintang menghunus tatapan tajam yang menusuk kedua bola mata mamanya lalu melangkah lebar menuju ke kamarnya dengan wajah kesal.
Mamanya Wintang menatap punggungnya Wintang tidak kalah kesalnya dan seketika itu pula, ia bertekad mencari segala cara untuk membatalkan pernikahan Wintang dengan Nora Laco secara diam-diam karena, ia tidak rela Wintang menikahi wanita lain selain Jenar Ayu. Dan Mamanya Wintang bertekad akan merusak Nora Laco dengan caranya karena, Wintang ternyata melenceng dari skenario yang dia buat dan itu sangat membuatnya kesal.
Wintang merenung di dala. kamarnya. Mengendapkan segala rasa yang membuatnya kesal sampai ke dasar hati dengan bekerja. Wintang membuat soal latihan quiz untuk para mahasiswanya besok. Dan cara itu berhasil membuat Wintang melupakan semua rasa yang mengikat hatinya kala itu
Keesokan harinya, Wintang pergi dari rumah sedari subuh karena, dia malas bertemu dengan mamanya dan Jenar Ayu.
Setelah berputar-putar menyusuri jalan raya tanpa arah dan tujuan, Wintang menghentikan laju motor sportnya di sebuah warung sederhana yang menjual bubur kacang hijau. Wintang memutuskan untuk sarapan di sana di saat perutnya mulai merintih minta diisi.
"Kamu kok sarapan sendiri? Mana Wintang?" tanya mamanya Wintang ke menantu kesayangannya.
Jenar Ayu menghela napas panjang dan berucap, "Mas Wintang udah pergi sebelum Jenar bangun, Ma"
"Kamu udah tengok kamarnya?" tanya mamanya Wintang sambil mengambil piring.
"Kamarnya terbuka lebar. Sepertinya Mas Wintang pergi dengan suasana hati yang buruk. Memangnya ada apa, Ma?"
"Kamu belum saatnya tahu. Udah kira makan aja" Sahut mamanya Wintang.
Wintang tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang saat ia merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang, "Nora? Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Nora terkekeh geli dan sambil duduk di dekatnya Wintang, dia berkata ke Abang penjual bubur kacang hijau, "Satu mangkok, ya, Bang"
"Siap, Non" Sahut penjual bubur kacang hijau itu.
Wintang memperhatikan Nora dan tanpa sadar ia berucap, "Kamu cantik banget pakai setelan baju olahraga dan natural tanpa makeup kayak gini"
"Terima kasih Pak Dosen" Sahut Nora dengan senyum malu.
Wintang lalu menoleh ke belakang dan kemudian kembali menatap Nora dengan penuh tanda tanya, "Ah, sial benar juga, ini dekat dengan rumah kamu. Kamu joging di taman ini tiap pagi?"
Penjual bubur kacang hijau meletakkan. mangkok pesanannya Nora dengan berucap, "Benar Mas ganteng. Non Nora, selaku joging di sini dan selalu mampir di tenda sederhana milik saya ini"
"Iya" Wintang menjawab spontan dan membuat wajah Nora langsung memerah malu.
Wintang merutuki kebodohannya dengan berkata di dalam hatinya, sial, kenapa juga aku bisa nyangkut di sini? Dasar bodoh Lo, Win!
"Kok terus bengong?" Nora mengangkat wajahnya dari mangkuk bubur yang ada di depannya sambil mengunyah.
"Ah, itu karena, kamu tampak beda lagi ini. Tampan natural, fresh, dan cantik" Sahut Wintang tanpa mengalihkan pandangannya ke Nora Laco.
"Berhenti memujiku terus. Aku bisa terbang lama-lama" Nora terkekeh geli sambil menepuk bahunya Wintang.
Wintang tersenyum penuh arti, lalu berucap, "Aku sudah lepas sayap kamu dan menyimpannya di hatiku karena, kau sudah jadi milikku, aku nggak akan biarkan kamu terbang"
"Wah, parah nih. Malah ngegombal," Nora tersenyum lebar ke Wintang.
Wintang langsung tergelak geli, lalu berkata, "Aku serius nih, beneran nggak ngegombal. Sekali aku nembak cewek dan berhasil, aku nggak akan biarkan dia terbang meninggalkanku"
Nora menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk senyum jahilnya,.lalu berkata, "Emangnya kira ada.hubunhan apa?"
"What?! Seriously? Setelah kita berciuman, kamu masih........"
"Sssstt!" Nora mendesis sembari menutup mulutnya Wintang dengan telapak tangannya.
Wintang mencium telapak tangannya Nora lalu menarik tangan itu dan langsung menggenggamnya dan dengan tersenyum geli ia berbisik, "Masih mau jahil lagi?"
Nora menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum lebar dan berkata, "Oke. Kau sudah simpan sayapku, kan? Aku nggak akan terbang" Giliran Nora Laco yang tergelak geli, lalu Nora berbisik di telinganya Wintang, "Aku akan patuh karena, aku milikmu sekarang"
Wintang tersenyum dengan tatapan penuh cinta ia mengusap sudut bibirnya Nora sambil berkata, "Udah gede makan masih belepotan kayak gini"
Nora menarik tangannya dari genggaman tangan Wintang untuk menepuk bahunya Wintang.
"Biar aku yang bayar. Kamu sudah mentraktirku kemarin" Wintang bergegas berdiri saat ia melihat Nora berdiri sambil merogoh saku yang ada di celana panjang sportnya Nora, lalu berlari kecil ke gerobak bubur untuk membayar bubur yang telah ia nikmati bersama dengan Noda Laco.
Kedua sejoli yang baru resmi berpacaran selama semalam itu, keluar dari warung bubur kacang hijau dengan bergandengan tangan.
Nora menunjuk motor sportnya Wintang dengan tangan kanannya karena, tangan kirinya ada di genggamannya Wintang, sambil berkata, "Aku hapal motor kamu. Sebenarnya aku masih kenyang dan malas makan, tapi melihat motor kamu, aku putuskan untuk masuk ke dalam warung burjo tadi"
Wintang menatap Nora dengan senyum hangatnya, lalu berkata, "Aku harus melepas tangan kamu sekarang, karena aku ada jam ngajar pagi"
Nora tersenyum, "Oke, selamat mengajar dan sampai ketemu nanti makan siang. Aku akan kenalkan kamu ke Papa dan Mamaku"
"Oke, siap" Wintang menganggukkan kepalanya lalu membalas.lambaian tangannya Nora Laco.
Wintang pergi setelah pandangannya kehilangan punggungnya Nora Laco. Pria manis dan ganteng itu, naik ke motor sportnya dengan bergumam, "Nora memang sangat sempurna dan sialnya, aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Itu ternyata sangat sulit, aku sungguh tidak menduganya. Untuk tidak jatuh cinta pada Nora Laco itu sangat sulit"