A Dominant

A Dominant
Wanita Asing



"Mas, sakit" Hana mendesis kesakitan saat Ares tanpa sadar terus mempererat cengkeramannya di bahu Hana.


"Ah! Maafkan aku" Ares langsung melepaskan rangkulannya di bahu Hana.


Dan tanpa merasa berdoa, Leonard langsung melangkah lebar untuk menarik pergelangan tangannya Hana sambil berucap, Kamu kenapa nggak bekerja di tempatku aja? Kenapa justru memilih kerja di sini? Orang itu......."Leon menghentikan kalimatnya untuk mengarahkan jari telunjuknya ke Ares, namun sorot matanya terus menatap sendu ke wajah ayunya Hana, kemudian ia melanjutkan kalimatnya,"Dia sangat berbahaya dan dia bukan orang baik. Jangan dekat-dekat dengannya!"


Handoko kembali meraup wajah tampannya dengan tangan kanannya dan menghela napas panjang. Asisten pribadinya Ares yang sangat setia pada tuannya itu, kemudian bersiap untuk menjadi wasit yang adil di pertandingannya Ares Laco melawan Leonard Buana memperebutkan Hana Prakas.


Hana menoleh ke Ares dengan wajah kebingungan.


Ares melangkah lebar untuk menarik pergelangan tangannya Hana dan kembali merangkul bahunya Hana dengan kata, "Jangan sentuh Hana!"


Leon menatap Hana dan Ares lalu memekik girang, "Ah! Nama kamu Hana ternyata. Nama yang manis seperti orangnya"


Ares meradang, sorot matanya menggelap terbakar cemburu, lalu ia berkata ke Hana, "Masuk ke kamar dan tunggu aku di sana! Jangan keluar sebelum aku panggil, cepat!"


Hana langsung berputar badan dan berlari kecil memutari tembok untuk duduk di tepi ranjang.


Leon menautkan alisnya dan menatap Ares dengan sorot mata penuh amarah, "Kenapa kau suruh Dewi penolongku masuk ke sana? Kenapa kau tidak pernah menghormati wanita?! Dia wanita baik-baik, kenapa kau suruh masuk ke kamar kamu?"


"Cih! Justru kamu yang nggak pernah menghormati wanita. Dasar Playboy tengik!"


"Aku akan menyelamatkan Dewi penolongku dari kekejamanmu" Leon melangkah maju menuju ke balik tembok untuk menarik Hana keluar dari sana dan Handoko langsung memasang badan untuk menghalangi langkah Leonard.


"Minggir kau!" Leon berteriak tajam ke Handoko.


Handoko langsung berucap, "Anda jangan gegabah, Tuan. Nona Hana adalah Istri sahnya Tuan Ares Laco. Jadi, saya mohon, jangan mencarinya lagi!"


Leon melotot tajam ke Handoko lalu berputar badan ke Ares, "A....apa itu benar?"


Ares yang masih mengepalkan kedua tinjunya langsung berkata dengan suara lantang karena, ia masih terbakar emosi dan cemburu, "Itu benar! Hana Istriku. Jangan pernah menemui Hana lagi, jangan pernah mencari Hana lagi dan jangan pernah menyentuhnya lagi! Kau mengerti!?"Ares berteriak lantang di depannya Leon.


Hana bergidik ngeri mendengar suara lantang suaminya yang terdengar seperti petir, menggelegar dan membuat hati berdebar karena, takut


"Tapi, itu tidak adil" Leon meredupkan sorot matanya dan menunduk, "Aku yang lebih dulu bertemu dengannya, tapi kenapa........."


"Di mana kau bertemu dengan Istriku? Apa hubungan kalian akrab?"


Leon mengangkat wajahnya dan kembali menatap Ares."Hana menolongku waktu aku belanja bahan herbal di pasar. Aku kecopetan waktu itu dan Hana menolongku. Tapi, aku nggak sempat menanyakan namanya. Aku hanya tahu ia penjual nasi uduk. Dan keesokan harinya saat aku datang lagi ke pasar untuk membeli nasi uduknya sekalian berterima kasih, dia sudah nggak ada lagi di sana. aku terus datang ke pasar dan sampai hari ini tadi, aku ke pasar dan tidak menemukannya. Aku malah menemukannya di sini"


"Han, suruh Mirna ke sini dan menjaga Hana! Aku akan ajak Leon keluar" Ares langsung menarik lengannya Leon keluar dari dalam ruangannya. Handoko langsung menyusul langkah tuan besarnya saat ia melihat Mirna masuk ke ruang kerjanya Ares Laco.


"Hei! Kenapa main tarik aja sesuka jidat Elo!" Leon menarik lengannya dari cengkeraman tangan Ares dengan muka kesal.


"Dengarkan aku! Demi menjaga hubungan baik kita selama ini di dunia bisnis, aku terus menahan diriku sedari tadi untuk tidak mengajakmu berduel.di sini. Apa kau mau duel? Kalau iya, kita ke rooftop sekarang!"


"Ayok! Siapa takut! Tapi, kalau aku menang, aku minta kau mengijinkan aku menemui Hana dan mengobrol dengannya" Leon menoleh ke Ares.sambil terus berjalan pelan di sampingnya Ares.


"Cih! Nggak jadi aja kalau gitu. No duel-duel!" Ares menoleh ke Leon, lalu ia mengerucutkan bibir dan menyipitkan matanya di depan Leon.


"Kamu takut kalah, ya? Cih! Ares Laco ternyata seorang pengecut selama ini" Leon menghentikan langkahnya dan bersedekap di depan Ares.


"Bukannya aku takut kalah, tapi siapa tahu aku bisa aja kalah dan kau akan menemui Hana, mengobrol dengan Hana? Cih! Big No!"


"Kok, kok, kok, petok!" Leon menirukan gaya ayam jantan berkokok di depannya Ares dan Ares memilih melangkah meninggalkan Leon.


Leon terkejut melihat Ares tidak terpengaruh dengan ledekannya, "Hei! Dasar chicken, pengecut! Tunggu aku!"


"Ledek aja sesuka hati kamu. Aku lebih baik kamu ledekin daripada mempertaruhkan Hana di dalam permainan kita. Dan selamanya, aku tidak akan memberimu kesempatan dan tidak akan ijinkan kamu untuk menemui Hana" Ares mendorong tubuhnya Leon dan melanjutkan langkahnya.


Leon berlari menyusul Ares dengan wajah kesal dan mengumpat, "Sial! Gagal deh usahaku untuk bisa menemui Dewi penolongku lagi"


Handoko yang mengekor.langkqhnya Ares dan Leon, terus menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyolnya Ares dan Leon.


"Kau masih berhubungan dengan Nyonya Macarena?" Leon menoleh ke Ares sembari memasang sabuk pengamannya. Leon memilih masuk ke dalam mobilnya Ares karena, rasa kecewa di saat ia harus menerima kenyataan bahwa Dewi penolongnya telah dinikahi oleh Ares Laco, membuatnya malas untuk mengemudi sendiri.


Handoko dan anak buahnya masuk ke mobil lainnya dan langsung mengikuti arah perginya mobil yang dikemudikan oleh Ares.


"Aku sudah berhenti menemuinya"Sahut Ares sembari melajukan mobilnya.


"Kau tidak bohong,kan? Karena, kalau aku menemukanmu berbohong dan menemukan bahwa kau masih menemui Nyonya Macarena, maka aku tidak akan menahan diriku lagi. Aku akan membawa Hana pergi dari sisimu"


Ares langsung meminggirkan mobilnya dan menoleh tajam ke Leon, "Aku meninggalkan Macarena bukan karena ancamanmu. Aku meninggalkan Macarena sejak aku mulai menyukai Hana dan merasakan bahwa Hana wanita yang sangat penting bagiku"


"Sial! Aku rasa aku harus mengalah sebelum berjuang, aku lihat kesungguhan di mata kamu. Dan baru kali ini aku melihat seorang Ares Laco sangat menghargai dan sangat peduli pada wanitanya"


Ares kembali melajukan mobilnya sambil berucap, "Aku akan menjaga Hana dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku nggak akan pernah memberikan kesempatan pada pria manapun untuk mendekati Istriku"


Leon tersenyum tipis lalu memandang ke arah depan dengan helaan napas kecewa. Lalu ia berucap lirih tanpa menoleh ke Ares, "Tapi, kau harus tetap berhati-hati. Aku akan terus mengawasimu. Jika kau membuat Hana menangis dan terluka sedikit aja, aku akan bertindak"


"Cih! Itu nggak akan terjadi" Sahut Ares dengan nada penuh dengan keseriusan.


Hana duduk di sofa dan menyuruh Mirna duduk di sampingnya, "Duduklah Mbak! Kita pulang aja gimana, ya?"


"Tapi, kata Pak Han, kita harus menunggu Tuan Ares di sini!" Sahut Mirna.


Dan tiba-tiba pintu ruang kerjanya Ares terbuka. Hana dan Mirna langsung menatap pintu masuk karena, terkejut. Mirna langsung bangkit memasang badan untuk melindungi Hana saat ia melihat seorang wanita asing melangkah pelan ke arah Hana.


Wulan berlari menyusul wanita asing itu dan berusaha menarik keluar wanita asing itu, tapi ia kalah kuat.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Hana Prakas" sahut wanita asing itu.


"Keluar atau aku akan berlaku kasar padamu!" Teriak Mirna dengan sikap waspada dan siap menyerang jika situasi mendesak.


"Apa yang di belakangmu itu namanya Hana Prakas?" tanya wanita asing itu.


Wulan segera berlari ke meja kerjanya Ares untuk memencet intern phone yang ada di atas mejanya Ares untuk memanggil satpam.


Hana keluar dari balik badannya Mirna dan berdiri di sampingnya Mirna, "Siapa Anda?"


Alih-alih menjawab pertanyannya Hana, wanita asing itu tersenyum tipis lalu berucap, "Masih muda, ayu alami tanpa make-up, rambut panjang bergelombang. Selera Ares sudah banyak berubah. Dia memilih wanita murahan untuk ia jadikan submissivenya kali ini? Cih! Sungguh menggelikan"


"Jaga bicara kamu! Jangan hina Nyonya saya!" pekik Mirna.


Wulan semakin panik, lalu ia menelepon Ares.


"Aku harus membunuhmu, Hana! Karena, Ares memperlakukan aku dengan tidak adil. Ares tidak pernah menikahiku, Ares hanya membutuhkan aku di hari Sabtu malam dan Minggu pagi aja, Ares bahkan mengajakmu ke sini, Ares bahkan mengajakmu tidur di kamarnya. Ares tidak pernah melakukan semua itu padaku! Dasar wanita brengsek!" Wanita itu maju sambil mengarahkan sebilah pisau tajam ke Hana.


Hana tersentak kaget lebih ke semua yang diucapkan oleh wanita asing itu bukan terkejut karena kilatan pisau tajam yang mengarah padanya. Hana mematung dan membisu menerima kenyataan tentang Ares Laco yang belum ia ketahui dan itu sungguh mengejutkan, dada Hana bagaikan terhantam gada saat ia mendengar semua ucapan wanita asing itu.


Mirna langsung melangkah maju dan menahan tangan wanita asing itu yang membawa pisau tajam, sambil berteriak ke Wulan, "Kau bawa Nyonya pergi ke tempat yang aman! Aku akan tangani wanita ini"


Wulan langsung menarik tangannya Hana untuk ia ajak berlari menuju ke tempat yang aman.