A Dominant

A Dominant
Merajuk



Esok paginya, Hana terbangun dengan tubuh yang remuk redam. Dia terpaksa memakai kaos berkerah tinggi sehabis mandi untuk menutupi tanda cintanya Ares yang banyak menempel di leher putihnya. Hana lalu keluar dari dalam kamar dan langsung bertanya ke Susi saat ia tidak menemukan suaminya di mana pun.


"Tuan Ares ada di ruang kerjanya, Nyonya" Sahut Susi.


"Ah! Baiklah terima kasih, Mbak. Saya akan ke sana"


Hana membuka pintu ruang kerjanya Ares saat ketukannya mendapat sahutan dari dalam.


Ares melambaikan tangannya sebagai kode agar Hana duduk di sampingnya.


Hana duduk di sampingnya Ares dan Ares langsung merangkul Hana dan mendaratkan tiga kecupan di bibirnya Hana. Hana menepuk dadanya Ares dan berbisik, "Mas! Kok main cium sih? Ada Mbak Mirna dan Pak Han di sini"


"Lalu kenapa? Kamu Istriku. Han, Mir, apa salah kalau aku mencium Istriku?"


"Tidak Tuan" Handoko dan Mirna menjawab pertanyannya Ares secara bersamaan dengan wajah canggung dan kikuk.


Hana hanya bisa tersenyum lebar ke Handoko dan Mirna lalu menghela napas panjang.


Ares mengelus bahunya Hana, "Sayang, mulai hari ini, Mirna akan menjadi bodyguard kamu lagi"


"Tapi, Mas, aku nggak suka ke mana-mana dikawal bodyguard. Aku nggak enak aja sama Mbak Mirna, ke mana-mana Mbak Mirna harus mengikutiku, kasihan, kan?"


"Kamu keberatan, Mir, kalau ke mana-mana harus mengikuti Istriku?" Ares bertanya ke Mirna tapi pandangannya terus tertuju ke Hana.


"Tidak Tuan" Sahut Mirna masih dengan sikap berdiri sempurna di depannya Ares.


"Dia nggak keberatan lho" Ares berucap lalu mencium keningnya Hana dan berkata di sana, "Nurut ya sama aku. Kamu harus selalu berada di dekatnya Mirna mulai hari ini"


"Tapi kenapa, Mas?"


Ares menarik bibirnya dari keningnya Hana lalu ia menatap Hana, "Karena kamu Istrinya Ares Laco. Kamu tahu, kan, aku punya banyak musuh dalam selimut dan aku tidak mau kamu menjadi korban dari salah satu musuhku. Dan asal kau tahu, Papa kandungku yang udah lama aku penjarakan, kemarin malam berhasil melarikan diri. Dia orang yang sangat kejam dan berbahaya dan saat ini dia berkeliaran di luar. Dia pasti ingin balas dendam padaku karena aku sudah membuat hidupnya hancur dan jika dia membalaskan dendamnya langsung ke aku, aku siap menghadapinya. Tapi, jika ia mengincar kamu, aku tidak siap menghadapinya. Aku tidak mau kamu terluka sedikit pun" Ares mengelus pipi kanannya Hana dengan ibu jari tangan kirinya.


Hana masih menatap Ares dengan keraguan.


"Aku mohon kamu nurut, ya? Demi aku?"


Hana akhirnya menghela napas panjang dan mengangukkan kepalanya.


Ares terus menatap Hana dan mengelus pipinya Hana dengan ibu jarinya sambil berucap ke Mirna, "Mir, Hana udah setuju. Kamu bersiap lah di bawah. Mulai hari ini jangan lengah menjaga Istriku karena, nyawa Istriku seribu kali lebih berharga dari nyawaku sendiri. Jaga jangan sampai goresan sedikit pun menyentuh Istriku!"


"Baik, Tuan" Mirna lalu berbalik badan dan bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya Ares.


"Han! Kamu juga bersiaplah!" Ares berucap ke Handoko masih dengan tatapan terarah ke wajah ayu Istrinya.


Handoko berucap, "Baik, Tuan" Dan bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya Ares.


Ares lalu menyandarkan kepalanya di dadanya Hana dan berucap di sana, "Aku kesal pagi ini"


Hana mengelus kepalanya Ares dan berkata, "Kenapa, Mas?"


"Karena kerjaan dan masalah Papa kandungku, membuatku gagal melihatmu bangun di pagi hari. Padahal aku ingin sekali melihat wajah cantik kamu terbangun di pagi hari"


Hana terkekeh geli dan berucap, "Besok kan masih bisa, Mas"


Ares lalu menarik kepalanya dan merogoh saku kemejanya. Dia lalu menyodorkan kotak beludru berwarna merah ke Hana.


"Bukalah!"


Hana mengambil kotak beludru merah itu dari tangannya Ares lalu ia membukanya. Hana langsung melongo saat ia melihat dua cincin couple yang berkilauan dengan design unik dan terlihat sangat mahal. Lalu Hana mengangkat wajahnya untuk melihat wajahnya Ares.


Ares tersenyum dan bertanya, "Kau suka designnya?"


Hana menganggukkan kepalanya dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Aku membelinya sehari sebelum kau pergi meninggalkan aku. Aku harap masih muat di jari aku"


Hana terkekeh geli dan berucap, "Aku rasa masih muat. Mas nggak banyak berubah, kok"


"Aku akan pasangkan cincin di jari kamu dan kamu nanti pasangkan cincin di jariku, ya?"


Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Setelah saling memasangkan cincin di jari manis mereka, Hana dan Ares berciuman. Di saat Ares merebahkan kepalanya Hana di sandaran sofa ruang kerjanya dan menuntut lebih dari sekadar ciuman, Hana langsung mendorong dadanya Ares dengan kedua telapak tangannya lalu berucap, "Aku laper, Mas. Kita harus sarapan sekarang karena aku nggak mau terlambat bekerja"


Ares meraup wajah tampannya dengan kasar untuk meredakan gairahnya laku ia tersenyum dan berkata, "Oke. Aku lepaskan kau kali ini, tapi jangan harap nanti malam kau bisa lepas dariku" Lalu Ares mengajak Hana bergandengan tangan untuk berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya, menuju ke ruang makan.


Setelah makan, Ares kembali mengajak Hana berciuman di dalam lift dan melepaskan ciumannya tepat di saat lift berbunyi, Ting! Dan pintu lift terbuka lebar


Ares mengantarkan Hana sampai ke mobilnya Hana dan ia memeluk Hana cukup lama dan berucap, "Aku nggak ingin berpisah denganmu. Kamu ikut aku ke kantorku aja, ya?"


Hana terkekeh geli, "Nggak bisa, Mas. Aku harus kerja"


"Kalau gitu, aku yang ikut kamu ke kantormu"


Handoko beberapa kali melihat ke rear-mirror vision. Ia melihat bos besarnya masih memeluk nyonya besarnya dan Handoko hanya bisa menghela napas panjang untuk mengulur ususnya agar lebih bisa bersabar lagi melihat bos besarnya yang semakin kekanak-kanakan sejak menikah dan merajuk di pagi hari.


"Mas, kasihan Pak Han. Kalau Mas main lagi ke tempat kerjaku, Mas akan lembur nanti malam. Apa Mas tega membiarkan aku tidur sendirian nanti malam kalau Mas harus lembur malam ini?"


Ares langsung melepaskan pelukannya lalu ia mencium keningnya Hana dan langsung berucap, "Cepatlah masuk ke dalam mobil kalau gitu! Sebelum aku berubah pikiran, membopongmu, membawamu naik ke atas lagi dan melarangmu bekerja hari ini"


Hana tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari masuk ke dalam mobilnya Ares. Ares memerintahkan Mirna membawa mobilnya karena mobilnya Ares dilengkapi peralatan canggih dan sudah dilapisi baja anti peluru. Kacanya pun juga dipasangi kaca anti peluru.


Ares mengetuk kaca jendela dan Hana membuka kaca jendela. Hana terkejut saat Ares menunduk dan mengecup bibirnya Hana dengan cepat lalu Ares menarik kembali kepalanya dan berkata, "Berangkatlah, Mir!"


Hana menutup kembali kaca jendela mobil sambil menunduk malu. Lalu berkata ke Mirna, "Maafkan kelakuan suami saya, ya, Mbak"


Mirna tersenyum ke Hana lalu berucap, "Santai saja, Nyonya"


Ares melangkah lemas masuk ke dalam mobilnya dan berkata ke Handoko, "Kenapa pengen bulan madu aja susah banget sih, Han. Aku masih ingin berduaan dengan Hana"


"Nanti siang, selesai rapat di luar, saya akan antarkan Anda ke kliniknya Non Hana,.Tuan"


"Itu masih lama, Han"


"Hanya tiga jam, Tuan, tidak sampai tiga bulan" Sahut Handoko.


"Tiga jam itu berasa tiga tahun bagiku, Han" Ares berucap dengan menyandarkan pelipisnya di kaca mobil dan menghela napas lemas.


Handoko menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah tuan besarnya.