A Dominant

A Dominant
Mati Lampu



Ares tiba-tiba bangkit berdiri saat ia melihat Hana dan Handoko telah menyelesaikan makan mereka. Ares berdiri untuk mengambil semua piring kotor dan gelas kotor berikut rantang yang telah kosong. Handoko langsung berdiri dan berucap, "Biar saya saja, Tuan"


Hana ikutan berdiri, "Letakan di wastafel aja, Mas! Besok pagi biar aku yang mencucinya"


"Sssttt! Kalian duduk saja dengan tenang" Ares berucap sembari melangkah ke wastafel dan langsung mencuci semua perabot makan yang kotor.


Handoko melihat tingkah Ares dengan heran lalu asisten pribadinya Ares yang sangat setia itu menoleh ke Hana, "Sejak kapan Tuan Ares suka mencuci piring, Non?"


"Sejak tadi di rumahnya Mas Ares" Hana meringis ke Handoko.


"Oooooo" Handoko hanya bisa ber-O dengan wajah heran.


"Itu, kucingnya Mas Ares?" Hana menoleh ke meja kecil yang berada tidak jauh dari meja makan.


"Iya dan ini kunci mobil Anda, Non" Handoko meletakkan kunci mobilnya Hana di atas meja makan, kemudian berucap kembali, "Saya harus balik ke kantor dulu, Non. Wulan menelepon saya, nih" Handoko langsung berputar badan sambil berpura-pura menempelkan ponselnya di telinga lalu berlari kecil keluar dari rumahnya Hana.


Hana menatap arah perginya Handoko dengan wajah kaget. Hana langsung berteriak, "Pak Han, tunggu!" Sambil berlari kecil menusuk Handoko, tapi terlambat sudah. Mobilnya Ares beserta Handoko di dalamnya telah melaju keluar dengan kencang dari halaman rumahnya Hana.


Hana mendengus kesal lalu bergumam, "Kenapa dia tinggalkan Tuan besarnya di sini? Hufffttt! Lalu? Aku harus berduaan dengan Mas Ares lagi? Oh! Apa salah dan dosaku, kenapa seharian ini aku terus berduaan dengan Mas Ares?" Hana langsung meraup wajah cantiknya dengan helaan napas panjang.


Hana berputar badan dengan pelan dan sedikit melengkungkan bahunya, dan, "Oh! Astaga! Mas! Ngagetin aja, sih?" Hana tersentak kaget saat ia melihat Ares telah duduk dengan santainya di sofa ruang tamu.


"Kenapa kaget menatap wajah setampan ini?" Ares tersenyum lebar ke Hana.


"Mas habis kebentur wastafel ya kepalanya, kok jadi narsis nggak jelas"


"Aku rela kejedot berkali-kali asalkan bisa narsis terus di depan kamu" Ares tersenyum jauh ke Hana.


Hana menghela napas panjang lalu melangkah ke ruang makan dan kedua bola matanya Ares langsung berputar mengikuti langkahnya Hana dengan kerutan di keningnya.


Beberapa menit berikutnya, Hana mendekati Ares dari arah ruang makan dan langsung menyerahkan kunci mobilnya ke Ares.


Ares menautkan alisnya, "Untuk apa?"


"Mas bisa pulang memakai mobilku" Hana menyodorkan kunci mobilnya ke Ares.


"Aku nggak ingin pulang. Aku capek seharian ini mengantarkan kamu ke rumah sakit, menyetir bolak balik, lalu memasak, mencuci piring, dan sekarang harus menyetir lagi? Aku nggak mau. Aku capek" Ares menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mengerucutkan bibirnya.


"Mas! Kita ini cewek dan cowok. Kita juga bukan suami istri. Nggak boleh tinggal satu atap. Apa kata tetangga, nanti?" Hana meletakkan kunci mobilnya di atas meja tamu lalu bersedekap dengan wajah kesal.


"Hana, kau tahu, aku udah berhubungan dengan lebih dari sepuluh orang cewek dan tidak pernah lebih dari tiga bulan hubunganku itu. Aku juga tidak pernah menikahi mereka semua, tapi mereka semua nggak ada yang berani mengusirku keluar dari rumah mereka dan tidak ada yang berani memerintah diriku" Ares bangkit berdiri persis di depannya Hana dengan bersedekap pula.


"Lalu?" Hana menatap Ares dengan wajah datar.


"Iya lalu, kamu harus lebih perhatian ke aku dong karena, aku menikahimu dan aku mempertahankan hatiku hanya untukmu selama tiga tahun lebih. Tapi, kenapa kamu malah galak sama aku, suka memerintah aku, mengusirku barusan, dan......."


"Dan apa?" Hana mulai menusukkan jari telunjuknya di dadanya Ares. "Kamu sudah membuatku memiliki trauma, Mas. Kamu sudah menceraikan aku, dan kamu menyebalkan. Dan apa, hah?!"


Ares hendak menggenggam jari telunjuknya Hana, namun dengan cepat Hana menarik jari telunjuknya dan mendelik ke Ares.


Ares lalu menundukkan wajahnya dan berucap lirih, "Maafkan, aku! Paling tidak kamu berterima kasih padaku karena aku telah mengantarkan kamu ke rumah sakit. Berterima kasihlah dengan cara mengijinkan aku tidur di sini, semalam saja. Aku bener-bener capek, Hana"


Hana menatap Ares cukup lama dan akhirnya timbul rasa kasihan di hatinya. Lalu Hana berkata, "Baiklah. Aku ijinkan Mas tidur di sini malam ini. Tapi, hanya ada satu kamar di rumah ini. Mas tidur di sofa ruang tamu, mau?"


Ares langsung mengangkat kepalanya dengan wajah semringah ia berucap, "Mau! Tidur di mana aja, aku mau. Aku akan menjagamu malam ini. Kamu tinggal sendirian, kan, di rumah ini"


Hana menghela napas panjang lalu berputar badan untuk melangkah ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, Hana keluar dari dalam kamarnya dan mendekati Ares, "Ini Mas. Handuk bersih dan baju ganti. Mas Mandi dulu sana"


"Kau tahu Hana, cewek yang berani menyuruhku mandi ya cuma kamu lho" Ares tersenyum lebar ke Hana.


Hana mendelik ke Ares, "Mas, jangan mulai lagi atau aku akan........"


"Iya. Aku akan mandi dan nggak banyak omong lagi" Ares langsung ngacir ke kamar mandi.


Sambil menunggu Ares selesai mandi, Hana bermain dengan kucing spinx-nya Ares di halaman belakang rumahnya yang tidak begitu luas.


"Kaos dan celana siapa ini? Yang pasti bukan kaos kamu, kan? Kaos dan celana ini ukurannya lebih besar dari ukuran kamu"


Hana menoleh ke belakang sembari mengangkat kucing Spinx berwarna abu-abu dan tidak berbulu itu lalu berputar badan untuk melangkah mendekati Ares. "Untung ada kaos dan celana yang cukup besar, jadi bisa Mas pakai"


"Kaos dan celananya siapa ini, Hana?" Wajah Ares mulai berkedut karena cemburu. Ares berpikiran kalau Hana pernah mengijinkan seorang pria menginap di rumahnya Hana.


"Oh. Aku kira ini kaos cowok dan aku kira kau pernah mengijinkan seorang cowok menginap di rumah kamu" Ares menghela napas lega sembari mengikuti langkahnya Hana.


Hana kembali memasukkan kucing itu ke dalam kandangnya. Lalu menoleh ke Ares, "Aku udah ganti nama kucingnya Mas. Bukan lagi Hana tapi Honey karena, dia manis kayak madu"


"Buat kamu aja kalau kamu suka sama kucing itu"


"Bener?" Hana menatap Ares dengan sorot mata berbinar-binar.


"Hmm. Dia bisa menemani kamu, kan" Ares berucap sembari menarik pelan tangannya Hana untuk ia ajak duduk di sofa ruang tamu.


Hana dan Ares duduk di sofa yang sama dan Hana langsung menggeser letak duduknya agak jauh dari Ares lalu bertanya, "Lalu Mas?"


"Aku udah bertemu denganmu. Aku nggak butuh Hana eh Honey lagi" Ares menunjuk ke kandang kucingnya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantiknya Hana.


"Kalau gitu, terima kasih, Mas. Tapi, harga kucing Spinx cukup mahal aku akan ganti......."


"Nggak usah. Uang transferan kamu untuk mengganti biaya kuliah kamu dulu dan biaya rawat inapnya Nenek nggak pernah aku sentuh dan aku masukkan ke rekening khusus atas nama kamu. Buku tabungan dan kartu ATM-nya akan aku kirim ke sini besok"


"Aku nggak mau menerima kembali uang itu, Mas"


"Aku juga nggak mau menerima uang itu. Aku menguliahkan kamu dan membiayai pengobatannya Nenek tuh dengan tulus. Tolong kamu terima kembali ya, uang kamu?!"


Hana menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau terima kembali uang itu. Kalau Mas juga nggak mau menerimanya, kita donasikan saja ke panti asuhan tempat Mas dulu pernah diasuh"


Ares tertegun mendengar ucapannya Hana.


"Maaf, Mas kalau aku udah membuka kembali masa lalunya Mas dan........."


"Nggak papa. Aku justru kagum dengan pemikiran kamu. Kamu bukan hanya cantik, tapi juga memiliki hati yang mulia. Aku mau memberikan uang itu ke panti asuhan, tempat aku pernah diasuh dulu, tapi kamu harus menemaniku ke sana"


"Baiklah. Aku mau karena aku belum pernah ke panti asuhan. Aku akan menemani Mas, ke sana"


"Ah! Benarkah!?"Ares memekik senang. "Kalau gitu kapan kita ke sana?"


"Lusa, kan, hari Minggu. Kita ke sana lusa aja"


"Oke siap!" Ares melonjak girang dan hendak memeluk Hana, namun Hana langsung menahan dadanya Ares, "Kita belum jadian. Jangan main peluk sembarangan, Mas!"


"Kita sudah berciuman dan kamu mengatakan kalau kita belum jadian?" Ares menatap Hana dengan heran.


"Aku kan udah bilang kalau ciuman kita itu sebuah kesalahan. Kecelakaan yang tidak disengaja, jadi kita belum jadian. Aku baru setuju Mas melakukan pembuktian cintanya Mas ke aku dan belum menerima cintanya Mas"


"Okelah. Terserah kamu" Ares lalu bersedekap.


Mereka kemudian saling pandang dalam diam.


Hana makin lama semakin merasa tidak kuat melhat Ares terus menatapnya dengan kedua bola mata biru yang sendu. Hana akhirnya memutuskan untuk bangkit berdiri, berputar badan sambil berucap, "Selamat beristirahat, Mas. Aku udah siapkan bantal dan selimut. Aku akan masuk ke kamar"


"Kok ke kamar? Aku masih ingin berduaan denganmu. Aku masih ingin mengobrol denganmu!"


Hana berucap, "Aku udah ngantuk" Sambil melangkah lebar menuju ke kamarnya.


"Baiklah! Tidurlah Cintaku! Aku akan menjagamu malam ini!" Ares berteriak dengan wajah semringah sambil merebahkan tubuh atletisnya di atas sofa ruang tamu Hana


Namun, Hana tidak bisa memejamkan kedua matanya barang sedetik pun. Hana terus merasakan dadanya berdebar saat ia menyadari ada Ares di ruang tamunya.


Ares pun sama, ia terus menatap langit-langit ruang tamunya Hana. Laki-laki tampan itu tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun saking gembiranya bisa tidur di rumahnya Hana.


Pet! Tanpa diduga oleh keduanya, listrik tiba-tiba padam dan Ares langsung berteriak kencang sekali, "Hana!!!!!! Aku takut gelap!!!!!! Hana!!!!!!!!"


Hana langsung melompat turun dari ranjangnya dan bergegas keluar dari dalam kamarnya sambil membawa senter kecil yang ia ambil dari laci nakasnya lalu melangkah pelan mendekati Ares.


"Mas, aku di sini" Hana memeluk Ares yang tengah meringkuk ketakutan dan terisak lirih. Hana memeluk Ares dari belakang karena, merasa kasihan dan ingin menenangkan Ares.


Ares terisak lirih dan terus bergumam, "Tidak......tidak ......tidak"


Hana mengelus bahunya Ares dan berkata, "Sssttt! Tenang, Mas. Ada aku di sini" Hana terus memeluk Ares dari belakang sambil terus mengelus bahunya Ares dan terus berbisik, "Ada aku, Mas. Ada aku. Jangan takut!" Di saat Ares masih saja gemetar ketakutan dengan isak tangis lirih dan terus menggumamkan kata, "Tidak.......tidak......tidak"