
Handoko membereskan semua masalah di ruang rapat dan mengatakan kalau keputusan Ares menyusul dan akan diutarakan besok di jam dan tempat yang sama.
Handoko langsung menelepon Mirna saat ia mendapati ruangan rapat telah kosong dan hening.
"Mir, Nyonya masih belum keluar dari kelas?"
"Belum Pak Han" sahut Mirna.
"Emm, kalau Nyonya keluar dari kelas, langsung ajak Nyonya kemari aja kalau gitu. Nggak usah pakai telpon-telponan lagi!"
"Baik Pak Han"
"Dan jangan lupa beli makan siang di restoran kesukaannya Tuan Ares Laco. Beli makan siang couple!"
"Baik Pak Han"
Klik! Handoko memutuskan sambungan teleponnya dengan Mirna dan sambil memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku celana kainnya, ia masuk lift khusus CEO dan langsung meluncur naik ke lantai teratas gedung Graha Laco untuk menuju ke ruang kerja bos besarnya. Handoko bergumam, "Kalau Non Hana belum menampakkan batang hidungnya di depan Tuan Ares, semua kerjaan di hari ini bisa kacau balau"
Handoko mengetuk tiga kali pintu ruang kerjanya Ares Laco sebanyak tiga kali dan tidak ada sahutan, maka ia memutuskan untuk membuka pintu tersebut dan ia melihat Ares tengah membentur-benturkan keningnya ke meja kerjanya. Handoko tersentak kaget dan langsung berlari dan meletakkan telapak tangannya di bawah keningnya Ares sambil bertanya dengan nada panik, "Kenapa Anda membenturkan kepala Anda ke meja, Tuan?"
"Papa kalau kenapa-kenapa Mama pasti bisa merasakannya dan Mama langsung menelepon Papa" Ares menegakkan wajahnya untuk menoleh ke Handoko.
Handoko menarik telapak tangannya dan dengan tautan alis, ia bertanya, "Apa hubungan Papa dan Mama Tuan, dengan benturan kepala Tuan tadi?"
"Kamu bodoh banget sih sekarang ini? Biasanya kamu langsung paham apa maksudku"
"Iya Tuan, saya akui saya belakangan ini memang menjadi sangat bodoh" Handoko lalu menyambung ucapannya di dalam hatinya, dan itu karena tingkah dan perkataan Anda juga yang semakin ke sini semakin membingungkan, Tuan.
"Huuffttt!" Ares menghembuskan napas beratnya karena kesal, lalu ia berucap, "Kalau aku kenapa-kenapa, Hana akan bisa merasakannya. Aku dan Hana kan, suami Istri, sama seperti Papa dan Mama jadi, Hana pasti akan langsung meneleponku"
"Oh! Jadi, Anda membenturkan-benturkan kepala Anda ke meja itu karena, Anda ingin Non Hana segera menelepon Anda?"
Ares menganggukkan kepalanya dengan wajah polos dan wajah itu tampak menggemaskan sekaligus menjengkelkan bagi Handoko.
Handoko lalu menghela napas panjang untuk mengumpulkan segala rasa sabar dari segala penjuru dunia. Asisten pribadinya Ares yang sudah bekerja dengan Ares sejak Ares merintis bisnisnya itu, kemudian bertanya, "Kenapa Anda tidak mendahului menelepon Non Hana, Tuan?"
"Aku malu" Sahut Area.
"Malu?!" Handoko tanpa sadar memekik kencang dan Ares langsung menoleh ke Handoko dengan tanda tanya besar.
"Ah! Maafkan saya telah membuat Anda kaget, Tuan. Tapi, kenapa Anda malu?"
"Entahlah. Hatiku melarang aku mendahului menelepon Hana karena, malu. Aku juga nggak ngerti mau ngomong apa ke Hana kalau aku duluan yang nelpon dia" Sahut Ares dengan wajah lesu.
Handoko kembali menghela napas panjang.
Di saat Ares hendak membenturkan kembali keningnya di atas meja, Handoko langsung menarik pundaknya Ares dan berucap, "Non Hana dalam perjalanan kemari. Non Hana tidak menelepon Anda karena akan memberikan kejutan bagi Anda dengan datang langsung ke sini. Non Hana akan makan siang dengan Anda, di sini, Tuan"
Ares langsung menoleh ke Handoko, "Benarkah?"
"Iya, Tuan"
"Berapa lama lagi Hana sampai? Ah! Han, bagaimana penampilanku? Ambilkan cermin, Han!" Ares langsung menegakkan wajah dan badannya, lalu bangkit.
"Sisir Han! Hah! kenapa rambutku berantakan sih, Han?"
"Iya karena Anda kan, membenturkan kening Anda di meja tadi" sahut Handoko dengan nada penuh dengan kesabaran tingkat dewa.
"Mana sisir?!" Ares menengadahkan telapak tangan kanannya di depan Handoko.
Handoko menautkan alisnya, "Anda kan nggak pernah punya sisir di kantor, Tuan"
Ares melotot ke Handoko, "Kenapa aku sampai nggak punya sisir di sini? Minta wanita yang berjaga di depan pintu kerjaku untuk membelikan sisir secepatnya. Dan dalam waktu sepuluh menit harus sudah sampai sini kalau nggak, dia akan aku pecat"
Handoko menghela napas panjang dan bergegas keluar dari ruang kerjanya Ares untuk menemui sekretarisnya Ares, "Kamu punya sisir rambut yang masih baru?"
"Ada, Pak. Kebetulan saya baru beli tadi di kantin bawah sekalian beli es teh dan......"
"Aish! Kenapa kamu malah pidato sih?! Mana sisirnya? Kasih ke aku sekarang!"
Wulan langsung mengambil sisir yang baru ia beli ke Handoko dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Nih! untuk ganti sisir kamu" Handoko meletakkan satu lembar uang kertas berwarna biru, lalu bergegas membawa sisir yang baru ia beli dari Wulan ke dalam ruang kerjanya Ares.
Wulan menatap satu lembar uang berwarna biru di atas mejanya dengan kerutan di keningnya, lalu bergumam, "Nggak Bos, nggak asistennya, sama-sama aneh dan gila. Sisir itu tadi kan, harganya cuma sepuluh ribu rupiah. Ah! Bodo amat, anggap aja ini rejeki nomplok" Wulan tersenyum lebar sembari memasukkan selembar uang kertas berwarna biru itu ke dalam saku blus bermotif bunga kecil-kecil yang dia pakai di hari itu.
Ares menyisir rambutnya di depan layar ponselnya Handoko sambil berucap, "Lain kali pasang cermin di ruangan ini"
"Baik Tuan" Sahut Handoko sembari memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku kemejanya setelah Ares selesai menyisir rambut.
Ares menyelipkan sisir rambut pipih itu ke saku kemejanya Handoko sambil berkata, "Jaga baik-baik sisir itu!"
"Baik Tuan" Handoko berkata sembari menganggukkan kepalanya.
Konglomerat muda yang memiliki karakter unik itu, memutari meja kerjanya dan duduk kembali di singgasananya. "Kenapa belum datang, Han?"
"Saya akan ke bawah untuk mengecek kedatangannya Non Hana, Tuan"
"Hmm" Ares menganggukkan kepala dengan semangat dan ada senyum lebar terlukis di wajah tampannya.
Handoko berbalik badan meninggalkan Ares untuk turun ke bawah menunggu kedatangan Nyonya Ares Laco.
Ares ingin menyalakan alat penyadap untuk mendengarkan percakapan Mirna dan Hana, namun langsung ia urungkan dengan ucapan, "Ada tertulis bahwa di dalam cinta harus ada kepercayaan. Ya! Aku nggak boleh lagi menyalakan alat penyadap ini. Ah! Senangnya, Hana akan datang dan makan siang denganku di sini"
Hana bertanya ke Mirna, "Kenapa Tuan Ares ingin bertemu dengan saya? Tumben banget"
"So sweet itu namanya kan, Nyonya"
"So sweet apa? saya justru takut kalau-kalau aku telah melakukan suatu kesalahan" sahut Hana.
"Saya yakin nggak seperti itu Nyonya. Nada suara Pak Han tadi terdengar aman, kok. Jadi, saya rasa Tuan Ares ingin bertemu dengan Anda bukan karena Anda telah melakukan kesalahan"
"Semoga ya, Mbak" Sahut Hana.
Ares menunggu kedatangan Hana dengan dada berdebar kencang.