
Wulan mengetuk pintu ruang kerjanya Ares sebanyak tiga kali dan Ares langsung membukakan pintu itu. Wulan tersentak kaget dan lanagung bertanya, "Maaf, Tuan. Kenapa Anda membuka pintu? Biasanya Anda hanya berteriak masuk dari dalam"
"Istriku tidur. Aku nggak mau teriakanku membangunkan Istriku. Ada apa?" Ares bertanya dengan suara lirih.
Wulan ikutan bersuara lirih, "Saya mau membereskan meja dan.......lho kok sudah bersih?"
"Aku sudah bersihkan. Sekarang keluarlah!"
Wulan mengangukkan kepalanya dengan raut wajah heran, lalu sekretarisnya Ares itu berbalik badan dan Ares langsung menutup kembali pintu ruang kerjanya dengan sangat pelan.
Wulan duduk kembali di kursinya sambil bergumam, "Baru kali ini, Tuan Ares membereskan sendiri mejanya setelah Tuan Ares menyelesaikan makan siangnya? Kok aneh, ya?"
Ares kemudian memencet intern phone di meja kerjanya dan langsung terhubung ke ruang kerjanya Handoko, "Han, bawa kardus kosong ke sini, cepat!" Ares berbicara dengan nada setengah berbisik.
"Kenapa Anda berbisik, Tuan?" Handoko ikutan berkata dengan nada setengah berbisik.
"Hana sedang tidur. Aku nggak ingin mengganggunya tidur. Makanya aku berbisik. Cepat bawa kardus kosong ke sini!"
"Baik, Tuan" Sahut Handoko.
Beberapa menit kemudian, Ares membuka laci di meja kerjanya dan mengambil semua rokok dan cerutu yang ia simpan di sana dan ia masukkan semua rokok mahal dan cerutunya ke dalam kardus yang dibawa oleh Handoko.
"Kenapa Anda masukkan semua rokok dan cerutu Anda ke dalam kardus?"
"Sssttt! Jangan keras-keras ngomongnya! Hana sedang tidur. Kalau Hana terbangun karena suara kamu, aku akan potong gaji kamu" Ares mendelik ke Handoko dan Handoko langsung menganggukkan kepalanya dan berbisik, "Maafkan saya. Kenapa Anda memasukkan semua rokok dan cerutu Anda ke dalam kardus, Tuan?" Handoko berbicara dengan suara lirih.
"Aku mau berhenti merokok mulai dari sekarang" Sahut Ares dengan nada santai dan suara lirih.
"Hah!?" Handoko tersentak kaget, namun ia tidak lupa untuk tetap bersuara lirih.
"Iya. Aku akan berhenti merokok mulai hari ini. Bawa semua rokok dan cerutu ini keluar, Han!"
"Boleh saya bagikan ke karyawan, Tuan?" tanya Handoko dengan suara lirih.
"Hmm. Bagikan saja!" Sahut Ares.
"Tapi, Tuan yakin mau berhenti merokok dan berhenti menghisap cerutu kesukaannya, Tuan? Itu sangat sulit lho, Tuan"
"Kalau aku sudah bertekad, aku yakin aku pasti bisa dan nggak akan sulit. Udah sana bawa pergi semua rokok dan cerutuku!" Dan baru pertama kalinya, Ares memerintah dengan wajah kesal,.namun bersuara lirih.
"Baiklah, Tuan" Handoko lalu membawa kardus berisi rokok dan cerutu keluar dari dalam ruang kerjanya Ares Laco. Handoko berhenti di meja kerjanya Wulan dan meletakkan kardus berisi rokok mahal dan cerutu di sana sembari berucap, "Bagikan semua rokok dan cerutu ini ke semua karyawan pria!"
"Kenapa dibagikan? Bukankah ini rokok mahal dan cerutu kesukaannya Pak Bos? Kalau saya bagikan, saya nggak akan kena omelan, kan?" Tanya Wulan sambil bangkit dengan wajah heran
"Nggak akan diomelin. Pak Bos udah kasih perintah untuk membagikan semua ini ke semua karyawan pria. Prioritaskan dulu ke satpam, tukang parkir, dan OB!" Sahut Handoko
"Baik, Pak Han" Sahut Wulan.
Handoko, lalu kembali ke ruang kerjanya. Dia melihat Mirna ketiduran di sofa dan membiarkannya.
Ares mulai kelimpungan sendiri. "Ternyata benar kata Handoko, habis makan kalau nggak merokok rasanya kok seperti gatal di kepala pas kita pakai helm. Hadeeehhh! menyiksa sekali" Gumam Ares sambil menggigit jari telunjuk tangan kanannya.
"Apa aku sibukkan diri aja dengan bekerja. Ya! Kalau aku sibukkan diri dengan bekerja, aku akan lupa sama rokok" Gumam Ares sembari mulai membuka laptopnya.
Namun, Ares tiba-tiba bersin, "Kenapa aku bisa terkena flu? Aku hampir tidak pernah terkena flu sebelumnya?" gumam Ares.
Ares kemudian batuk dan merasakan tenggorokannya sakit . Dan mulai merasakan sensasi dingin pada bagian terujung tubuh (jari tangan, kaki, dan puncak kepala). Lalu konglomerat muda yang sangat tampan itu mulai merasa lemas dan pusing, sakit kepala dan berkeringat tanpa sebab.
Ares menyangga kepalanya dengan telapak tangannya dan bergumam, "Ada apa dengan diriku, nih?" Lalu Ares memencet kembali intern phone-nya yang terhubung langsung ke ruang kerjanya Handoko dan menyuruh Handoko datang ke ruang kerjanya.
"Ada apa dengan diriku Han? Kenapa rasanya aneh? Aku tiba-tiba terserang flu, batuk, tenggorokan sakit dan pusing" Ares bertanya masih dengan suara lirih
"Itu adalah gejala orang yang berhenti merokok, Tuan. Apa Anda ingin saya ambilkan rokok Anda lagi, Tuan?" Handoko pun bertanya masih dengan suara lirih.
"Nggak! Kalau cuma gejala karena berhenti merokok ya udah nggak papa. Emm, klien tadi, apa aku udah pilih dengan siapa aku akan bekerja sama?"
"Belum, Tuan" Sahut Handoko.
"Berikan semua rekamannya! Aku akan review presentasi mereka" Sahut Ares.
Handoko langsung menancapkan flashdisk yang ia simpan di saku kemejanya, ke laptopnya Ares.
Ares lalu berucap, "Aku pilih yang terakhir presentasi tadi. Dari PT Dunia Terus Sentosa, kan?"
"Yang Anda pecat tadi?" tanya Handoko.
"Ah! masak sih aku pecat dia? Aku kok lupa?"
Tentu saja Anda lupa,,Tuan. Wong Anda mengucapkan kata itu tanpa sadar pas terkena sakit Mala rindu tropi kangen. Batin Handoko.
"Lalu gimana Tuan? Anda yakin memilih dia?"
"Hmm. Hubungi dia dan kita.mulai kerja sama kita, besok!"
"Baik, Tuan" Handoko lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya Ares
Ares lalu bangkit dan memutari tembok untuk merebahkan diri di samping istrinya.
Saat Ares meletakkan lengannya di atas perutnya Hana, Hana terbangun.
Ares langsung kaget dan secara spontan berucap, "Maaf aku membangunkan kamu. Tidurlah lagi!"
"Nggak Mas, aku udah cukup tidur. Lho Mas! Mas kok berkeringat dan pucat? Mas sakit?"
Ares menggelengkan kepalanya, "Aku nggak sakit. Aku cuma mengalami gejala orang yang berhenti merokok"
"Ya ampun, Mas. Kalau gejalanya separah ini, Mas mau merokok nggak papa. Asalkan tidak merokok di dekatku karena, aku alergi asap rokok" Hana langsung mengusap keringat di keningnya Ares dengan telapak tangannya.
"Kamu kan juga nggak suka sama.cowok yang merokok. Jadi, aku mau lanjutkan tekadku untuk tidak merokok lagi"
"Tapi, Mas pucat banget lho ini. Apa nggak ada obatnya?"
"Ada" sahut Ares dengan senyum jahilnya.
"Di mana Mas, obatnya? Biar aku ambilkan"
Ares langsung memeluk Hana dengan tangan kiri dan tangan kanannya ia letakkan di tengkuknya Hana dengan berucap, "Obatnya adalah kamu" Ares langsung memagut bibirnya Hana dan mengajak Hana berciuman. Mereka berguling-guling di atas kasur tanpa melepaskan ciuman mereka..Suara lenguhan dan helaan napas yang syahdu menguasai ruangan itu sehingga membuat Handoko yang masuk kembali ke dalam ruangannya Ares untuk mengambil flashdisknya, segera bergegas keluar kembali lalu bersandar di pintu ruang kerjanya Ares dengan deru napas yang tidak beraturan.
Wulan langsung bertanya, "Kok pucat dan terengah-engah kayak gitu, Pak Han? Emangnya Pak Han habis lihat apa?"
"Bukan lihat, tapi mendengar suara-suara aneh"
Sahut Handoko.
"Suara-suara aneh? Apa tuh?" Wulan semakin penasaran.
Handoko mendelik ke Wulan dan memilih tidak menjawab pertanyannya Wulan. Handoko memutuskan tetap berdiri di depan pintu ruang kerjanya Ares agar tidak ada orang lain yang masuk ke dalam ruang kerjanya Ares, termasuk Wulan. Karena, ia tahu kalau bos besarnya tengah asyik memadu kasih.