A Dominant

A Dominant
Merindu



Lift terbuka dan Handoko menyambut tuan dan Nyonyanya di depan pintu lift. Handoko melihat sesuatu yang tidak biasa. Wajah tuan besarnya cerah ceria.


Tuan habis dapat apa ya? Kenapa wajahnya cerah sekali dan terus tersenyum. Walaupun Tuan Ares tampak lebih tampan seribu kali lipat dengan senyuman itu, tapi kok tampak aneh bagiku, ya? Batin Handoko.


"Han, aku akan anter Hana kuliah. Kamu undur semua jadwalku ke jam sebelas" Ares berucap tanpa melepaskan tangannya Hana yang ia genggam dengan penuh perasaan.


Handoko menurunkan pandangannya dan melihat genggaman tangan itu dan ia kembali berkata dengan heran di dalam hatinya, Dan apalagi ini? genggaman tangan? Tuan Ares Laco, menggenggam tangan wanitanya di pagi hari? Wow! ini benar-benar aneh. Apakah yang berdiri di depanku ini Tuan Ares Laco yang asli?


Ares menjentikkan jari tangan kirinya di depan Handoko dengan tanya, "Han! Kok malah melamun?"


Handoko tersentak kaget dan langsung berucap, "Maafkan saya, Tuan. Emm, tapi ada rapat penting jam sepuluh Tuan. Anda harus hadir dan......"


Hana langsung menarik tangannya dari dalam genggaman tangan Ares dan berkata, "Mas ke kantor aja! Aku akan berangkat ke kampus dengan Mbak Mirna aja" Dan Ares gagal meraih kembali tangannya Hana karena, Hana langsung berlari kencang meninggalkan Ares.


Untuk beberapa menit Ares tertegun dan hanya bisa mematung melihat Mirna membawa Hana pergi darinya. Ares langsung menoleh ke Handoko dengan sorot mata tajam dan menggertakkan gerahamnya


Handoko langsung menundukkan kepalanya dan bertanya lirih, "Apa salah saya, Tuan?"


"Kau sudah membuat Istriku lari dariku"


Handoko mengangkat wajahnya karena kaget dan bertanya, "Lari? Kapan Non Hana lari dari Anda?"


"Barusan. Kau lihat, kan?"


"Oh! Itu. Saya kira lari dalam arti yang lain, Tuan" Handoko kemudian tersenyum lega.


"Dan kau tersenyum? Berani benar kau tersenyum saat aku nggak bisa lagi menggenggam tangan Istriku, hah?!"


Handoko kembali menundukkan wajahnya dan berkata, "Maafkan saya. Saya hanya merasa senang karena, Nona Hana tidak lari dari Anda dalam maksud yang lain Tuan"


Ares lalu melangkah menuju ke mobilnya dan Handoko langsung mengekor.


Ares berjalan sambil mengoceh, "Mulai besok, kalau aku bilang ingin anter Hana ke kampus jangan halangi aku! Aku nggak peduli dengan rapat penting, ngerti?! Aku lebih baik kehilangan uang daripada kehilangan waktu kebersamaanku dengan Hana" Ares masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengamannya, lalu bersedekap dengan wajah masam.


Handoko mengucapkan kata, "Baik Tuan" sambil melajukan mobil yang ia kemudikan di pagi hari itu.


Sesampainya di kantor, Ares terus uring-uringan.


"Kenapa kopi ini nggak seenak bikinannya Hana? Ganti!" Ares mendelik ke sekretarisnya dan Handoko yang berdiri di sebelah kanan mejanya Ares hanya bisa berdiri mematung dan menghela napas pelan melihat sekretarisnya Ares menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Wanita berumur dua puluh lima tahun yang sudah bekerja menjadi sekretarisnya Ares selama dua tahun dan bertahan paling lama dibandingkan dengan sekretaris yang sebelumnya, berjalan ke pantry dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dengan terus bergumam, "Apa yang salah dengan kopi ini? Takarannya sama dan tidak berubah sama sekali. Satu sendok teh kopi hitam, satu pucuk sendok teh gula, tanpa krim kok bisa beda rasanya? Dan siapa Hana?"


Beberapa menit kemudian, sekretarisnya Ares kembali masuk ke dalam ruang kerjanya Ares dan membawa secangkir kopi dengan takaran yang sama seperti biasanya dan dengan takaran yang sama dengan kopi yang ia buat beberapa menit sebelumnya.


Sekretaris yang bernama Wulan itu meletakkan cangkir berisi kopi yang sesuai dengan takaran seleranya Ares di atas mejanya Ares. "Ini kopinya, Tuan"


Ares mengabaikannya. Wulan menatap Handoko dan Handoko langsung mengibaskan tangannya menyuruh sekretaris itu untuk pergi meninggalkan ruangannya tuan besar mereka.


Ares menyesap cangkir kopinya dan langsung mengernyit, "Kenapa nggak seperti bikinannya Hana? Kopi apa ini? Panggil yang bikin ini, Han!"


Handoko menghela napas panjang dan memanggil Wulan.


Wulan masuk dengan langkah gemetar dan berdiri di depannya Ares dengan menundukkan kepalanya.


"Bawa kopi ini pergi dari depanku! Kamu bikin kopi aja kenapa nggak becus?!"


"Ta.....tapi kopi itu sesuai dengan takaran yang biasa saya buat, Tuan" Sahut Wulan.


"Baik Tuan" Wulan menarik nampan dan membawanya kembali ke pantry sambil terus bergumam, "Apa yang salah sih? Dan siapa sih Hana?"


Ares lalu menoleh ke Handoko, "Apa sudah siap rapatnya?"


"Sudah Tuan. Mari kita ke ruang rapat sekarang"


Ares mendahului Handoko keluar dari dalam ruangannya dengan langkah lebar dan wajah masam.


Sesampainya di ruang rapat, Ares langsung duduk di singgasananya masih dengan wajah masam.


Ares memimpin rapat dengan terus menatap layar ponselnya dan Ares tiba-tiba berteriak kesal, "Kenapa dia belum menelepon dan bahkan tidak mengirim pesan text satu pun padaku?!"


Seluruh peserta rapat langsung menundukkan kepala mereka dan klien Ares yang tengah mempresentasikan produknya pun langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Ares dengan penuh tanda tanya.


Ares lalu mengangkat wajahnya dan langsung menautkan alisnya melihat semua peserta rapa menundukkan kepala dan kliennya mengentikan presentasi. "Ada apa?" Ares bertanya tanpa dosa dengan wajah polos.


Semuanya diam membisu dan tidak berani menjawab pertanyaannya Ares.


"Teruskan! Kenapa berhenti?" Ares menatap kliennya.


Kliennya Ares menganggukkan kepalanya dan meneruskan presentasinya.


Ares kembali menunduk menatap layar ponselnya dengan wajah masam, bibir mengerucut ,dan beberapa kali menghela napas berat karena, kesal Hana belum meneleponnya atau mengirim pesan text untuknya.


Handoko melihat tingkah tuannya dengan gelengan kepala. Handoko lalu melangkah keluar dari ruang rapat secara diam-diam untuk menelepon Mirna.


"Mir? Nyonya masih kuliah?"


"Masih Pak Han. Ada apa?" Tanya Mirna.


"Huffttt! Kalau Nyonya keluar dari kelasnya, tolong minta Nyonya langsung menghubungi Tuan Ares, ya?"


"Baik Pak Han" Sahut Mirna.


"Aku akan larang kamu kuliah besok!" Ares kembali berteriak kesal ke ponselnya.


Semua peserta rapat kembali menundukkan kepala mereka dan kliennya Ares langsung bertanya, "Saya sudah lama lulus kuliah, Tuan. Saya udah S1, Tuan. Jurusan ekonomi manajemen"


Ares mengangkat wajahnya dan menatap kliennya, "Siapa yang nanya?"


Handoko masuk kembali ke dalam ruangan dan langsung tertegun melihat wajah kesal tuan besarnya.


"Lha Anda bilang tadi kalau Anda akan melarang saya kuliah, besok"


Handoko mendelik ke kliennya Ares dan Kemabli menoleh ke Ares saat Ares bangkit dan berteriak, "Han! Pecat dia!"


"Anda tidak bisa memecatnya, Tuan. Dia bukan karyawan Anda, tapi dia, karyawan dari klien Anda"


"Kalau gitu bilang ke Bosnya untuk memecat dia" sahut Ares sambil memutar badan untuk keluar dari ruang rapat.


Laki-laki yang berani melempar protes ke Ares langsung memohon ke Handoko, "Jangan bilang ke Bos saya untuk memecat saya, Pak Han! Tolong saya, ya, Pak Han!"


Handoko mematung dengan wajah celingukkan kebingungan. Dan Handoko semakin kebingungan saat semua kliennya Ares berdiri dan meminta keterangan ke Handoko, siapa yang dipilih Ares untuk bekerjasama dengan Graha Laco. Dan Handoko hanya bisa meraup wajah tampannya dengan kasar dan menghela napas panjang.


Ares melangkah ke ruang kerjanya dengan rasa kesal yang asing di hatinya. Ares tidak menyadari kalau dirinya tengah merindu.