
Nora membawa satu cup jumbo popcorn rasa asin mentega dan Wintang membawakan dua buah paper cup jumbo berisi kopi less sugar, karena ia telah mengetahui, kalau Nora tidak suka makanan dan minuman manis.
Nora tersenyum saat ia duduk di bangku tengah yang juga berada di deretan tengah. Wintang memilih tempat duduk di deretan tengah itu, dengan maksud agar penglihatan mereka tidak terlalu dekat dengan layar, namun juga tidak terlalu jauh dari layar. Pas, kata Nora dan Wintang tersenyum.
Wintang kembali menyewa semua bangku di studio itu agar dia bisa nyaman menonton dan mengobrol dengan Nora.
Nora meletakkan paper cup berukuran jumbo di tengah dan Wintang memberikan paper cup berisi kopi less sugar ke Nora sambil menyesap kopi kepunyaannya.
"Terima kasih" Sahut Nora. Nora menangkup paper cup berisi kopi hangat less sugar dengan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di atas pangkuannya.
Wintang menoleh ke Nora, "Kenapa kau mau aku ajak lagi ke sini?"
"Karena yang mengajak kamu" Nora tersenyum ke Wintang.
Wintang terkekeh sebentar, lalu berkata, "Jadi, kamu tidak menyukai Milky Way?"
"Suka" Sahut Nora.
"Kenapa?" Tanya Wintang.
"Karena, langit cerah itu hanya untuk tipe orang yang membosankan Karena, aku orang yang dinamis, maka aku lebih suka langit malam yang penuh dengan bintang" Nora tersenyum lebar ke Wintang dan Wintang tertawa lirih mendengar ucapannya Nora dan Wintang berucap, "Kamu wanita yang sangat cerdas. Tapi, kamu belum memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi"
Nora semakin melebarkan senyumnya, lalu berkata, "Aku suka melihat bentuk bintang dan suka melihat langit malam, karena keduanya perpaduan yang sempurna, memiliki kesan misterius, asyik, dan indah"
"Kita punya pandangan yang sama"Wintang berucap dengan terus menatap Nora.
Wintang mengumpat di dalam hatinya, Dia bisa dengan mudah membuat setiap pria jatuh hati padanya, tapi sialnya, aku tidak boleh jatuh hati padanya.
"Kenapa menatapku terus?" tanya Nora dengan merona malu.
"Karena kamu mirip Milky Way, misterius, asyik, dan indah"
"Kamu juga sama" Sahut Nora.
Dan keduanya lalu tertawa secara bersamaan.
Nora kemudian berucap, "Sudah mulai, filmnya"
Wintang tersenyum dan menoleh ke depan untuk menatap layar besar yang berada di jarak yang pas dari tempat duduknya.
Tangan Nora bergerak ke tengah untuk mengambil popcorn dengan pandangan mata terus mengarah ke layar yang masih menayangkan keindahan Milky Way.
Tangan Wintang melakukan gerakan yang sama dan pandangannya Wintang pun masih fokus ke layar.
Tangan Wintang menyentuh tangannya Nora tanpa sengaja. Wintang merasakan percikan yang aneh dan hatinya bergetar saat itu juga. Wintang tersentak kaget dan langsung menarik kembali tangannya.
Sedangkan tangan Nora membeku di atas tumpukan popcorn. Nora berkata di dalam hatinya, Kenapa bersentuhan tangan sebentar saja, hatiku bisa berdebar sekencang ini?
Sial! Apakah ini yang dinamakan senjata makan Tuan? Aku ingin menjebak Nora Laco, tapi kenapa justru hatiku yang kembang kempis nggak karuan kayak gini? Sial! Wintang terus mengumpat di dalam hatinya.
Nora berdeham untuk mengusir suasana canggung yang tiba-tiba ia rasakan di tengah mereka. Nora kemudian menjumput popcorn dan memakannya dengan pelan.
Dan sampai filmnya selesai diputar, Wintang tidak berani menjumput popcorn. Namun, dia memberanikan diri menoleh ke Nora untuk bertanya, "Kita mau jadi teman bahagia atau lebih dari sekadar teman dan lebih bahagia?" Wintang menatap Nora dengan sangat dalam dan penuh arti.
Nora tersedak popcorn yang ada di dalam mulutnya dan langsung menyesap kopinya, lalu bertanya, "Ke.....kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Karena, aku merasakan dadaku sesak sekali saat ini dan itu karena pesona yang ada di diri kamu. Aku tidak bisa menahan diriku lagi untuk lebih serius sama kamu. Tapi, kalau kamu hanya ingin kita berteman, aku akan terus berjuang untuk membuat kita lebih dari sekadar teman"
Nora tersenyum lebar. Kemudian, sorot mata Nora melesak masuk ke kedalaman hitamnya kedua bola mata Wintang. Nora mencoba mencari rongga ketidakseriusan di sana, namun sialnya, Nora tidak menemukan hal itu.
"Gimana?" Wintang memajukan sedikit wajahnya dengan ekspresi wajah tidak sabar menunggu jawabannya Nora.
Yes! Aku sudah berhasil membuatnya masuk lebih dalam lagi ke dalam jebakanku. Batin Wintang.
Wintang tersenyum lebar dan berkata, "Aku bahagia banget saat ini dan sialnya, kalau aku bahagia banget, aku justru nggak tahu mesti ngapain lagi, nih. Sumpah aku gugup banget, saat ini"
Nora terkekeh geli, lalu bertanya, "Tapi, kamu ingin lebih dari sekadar teman yang bagaimana?" Tanya Nora.
Wintang menjawab, "Aku ingin menjadi pacar kamu lalu menikahimu, secepatnya"
"Tapi, kita baru berkencan sebanyak tiga kali dan........"
"Dan aku menemukan banyak kesamaan di antara kita. Aku merasakan alur kita sama, jadi aku ingin lebih mengenal dirimu dengan cara menikahimu" Wintang menatap Nora dengan penuh keseriusan.
"Kamu serius?" tanya Nora.
"Astaga, Nona! Jantungku udah berdegup tidak karuan dan aku yakin kamu bisa mendengarnya. Kok, masih nanya aku serius atau nggak. Tentu saja, aku serius" Sahut Wintang sambil menyentuh dadanya.
Nora terkekeh geli lalu berkata, "Kalau kamu beneran serius sama aku, apakah kamu bersedia aku kenalkan ke Mama dan Papaku, besok?"
"Seperti apa Papa dan Mama kamu?" Wintang menatap Nora dengan wajah sedikit panik
Nora tersenyum lebar melihat ekspresi wajahnya Wintang yang tampak konyol, lalu ia menjawab, "Mamaku orang yang sangat ramah, terbuka, dan hangat. Kalau Papaku, kaku, dingin, dan tidak gampang percaya sama orang"
"Apa kamu pernah mengenalkan seorang cowok sebelumnya, ke Papa kamu?" Wintang memasang wajah sedikit ketakutan
Nora kembali terkekeh geli, lalu berkata, "Pernah. Dia seorang dokter spesialis jantung yang masih muda dan sangat tampan. Tapi, Papa memukulinya"
"Sial! Dokter yang muda dan tampan aja, dipukuli sama Papa kamu? Astaga! Lalu bagaimana dengan nasib seorang dosen biasa yang nyambi bekerja di klub malam kayak aku ini?" Wintang langsung menangkup kedua pipinya dan melancipkan bibirnya di depan Nora.
Nora langsung tergelak geli melihat kekonyolannya Wintang itu, lalu ia berucap, "Papa memukulinya, karena ia ketahuan selingkuh padahal udah bertunangan denganku"
"Ah, aku aman berarti. Karena, aku nggak akan berselingkuh, aku janji" Sahut Wintang.
Nora tersenyum bahagia dan secara spontan dia mengecup bibirnya Wintang.
Wintang tersentak kaget. Dia dan Nora kemudian bersitatap dalam diam.
Hana membiarkan suaminya memilih sekretaris pribadi sementara. Untuk mengisi kekosongannya Handoko dan Wulan. Karena, Ares tidak mengijinkan Hana menemaninya menemui klien di kemudian hari.
Hana menautkan alisnya saat ia melihat seorang wanita muda, menyapa Ares dengan santai, "Mas Ares, apa kabar?"
Ares pun menautkan alisnya dan bertanya ke wanita muda yang duduk di depan meja kerjanya itu, "Kamu siapa?"
Wanita muda itu meraih tangannya Ares yang ada di atas meja, menggenggamnya dan berkata, "Aku Juwita. Sepupu jauh kamu. Kita pernah bertemu dua kali di acara arisan keluarga besar kita dan ......."
Ares langsung semringah, "Oh, iya aku ingat. Apa kabarmu?" Dan Ares lupa menarik tangannya yang ada di dalam genggaman tangan wanita muda itu.
Hana yang berdiri di samping kursi kerjanya Ares, mulai merengut dan terbakar cemburu. Karena, baru kali itu, dia melihat suaminya semringah melihat seorang wanita. Hana lalu berdeham kencang dan Ares langsung menarik tangannya dari genggaman tangan wanita yang bernama Juwita itu, lalu menoleh ke Hana, "Kenalkan, ini Istrinya Mas. Cantik, kan?"
Wanita muda itu menatap Hana dengan senyum ramah, tapi Hana bisa merasakan kalau senyum itu palsu. Hana lalu bersedekap dan meninggalkan Ares begitu saja dan mengabaikan wanita muda yang bernama Juwita.
"Lho, hei, Sayang, Hana, kamu mau ke mana?" Ares langsung bangkit berdiri dan mengejar Hana tanpa pamit ke Juwita.
Juwita ikutan berdiri dan badannya berputar pelan mengikuti arah perginya Ares, lalu mendengus kesal, "Sepertinya aku tidak punya kesempatan untuk mengejar Mas Ares. Dia sangat setia dan sangat mencintai Istrinya. Sial" Lalu, wanita bernama Juwita itu melangkah pergi meninggalkan kantornya Ares.
Ares berhasil mencekal lengannya Hana dan mengajak Hana masuk ke dalam ruang kerjanya Handoko, "Kenapa keluar?"
"Kamu boleh semringah sama cewek dan aku nggak boleh semringah sama cowok? Dan sepertinya genggaman tangan wanita tadi, nyaman banget, ya, Mas?"
"Oh, kamu cemburu" Ares menatap Hana penuh arti.