A Dominant

A Dominant
Kejutan



Ares berubah total dari Ares yang lembut saat ia bersama.dengan Hana menjadi a dominant yang kejam, dingin, egois, saat ia berhadapan dengan masalah-masalah berat yang ada di sekitarnya.


"Aku benci keteledoran, Han. Pecat orang kita yang bertugas berjaga di penjara!" Sambil menggertakkan gerahamnya. "Dan selidiki masalah ini sampai tuntas! Aku ingin Papa kandungku segera ditemukan dan kali ini, aku tidak akan mengirimnya kembali ke penjara, aku akan membuatnya mengakhiri hidupnya sendiri di depanku"


"Baik, Tuan" Handoko berputar badan dan bergegas pergi meninggalkan Ares untuk melaksanakan perintahnya Ares.


"Cowok! Godain aku, dong!" Wulan memanggil Handoko yang keluar dari dalam ruang kerjanya Ares dan berjalan melintasi mejanya Wulan tanpa menoleh ke Wulan.


Handoko akhirnya menoleh ke Wulan sambil terus berjalan dan berkata, "Ini bukan waktunya untuk bercanda!" Lalu Handoko mengalihkan pandangannya lagi ke depan dan berlari untuk mengejar waktu.


Wulan menatap punggungnya Handoko yang semakin menjauh sambil melancipkan bibirnya.


Dan Wulan langsung bangkit berdiri untuk menarik lengan seorang wanita muda yang nekat membuka pintu ruang kerjanya Ares tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, "Stop! Anda siapa?"


Gadis muda itu mendelik ke Wulan dan menarik lengannya dengan kasar dan nekat masuk ke ruang kerjanya Ares sambil berteriak, "Ares Laco, kau sungguh brengsek!"


Wulan mengikuti langkah gadis muda itu dan langsung membungkukkan badannya ke Ares sambil berkata, "Maafkan saya, Tuan. Saya gagal menghalanginya masuk ke sini"


"Nggak papa. Pergilah!" Sahut Ares.


Wulan langsung menegakkan kembali badannya dan bergegas keluar dari ruang kerjanya Ares.


Ares menatap kembali layar laptopnya dan bertanya, "Kenapa kau kemari?"


"Kau selalu menolak cintaku. Kau selalu menolak untuk pergi berkencan denganku atau untuk menemaniku sekadar minum teh, tapi kau tidur dengan Mamaku selama.ini! Dasar brengsek! Dasar menjijikkan!"


Ares malas menatap putrinya Macarena, tapi ia bersedia menanggapi ucapannya Mellisa Lordess dengan kata, "Itu hanyalah masa lalu. Aku sudah lama tidak berhubungan lagi dengan Mama kamu"


Mellisa berlari kecil memutari meja kerjanya dan membuat Ares terkejut saat ia menemukan Mellisa nekat duduk di atas pangkuannya dan langsung menggelungkan Keuda lengannya di lehernya Ares.


"Kau! Kau gila, ya?! Lepaskan aku sebelum aku bertindak kasar padamu! Kau tahu benar, kan, aku mampu dan tega bertindak kasar pada wanita" Ares lalu mendelik dan menggeram ke Mellisa.


"Iya. Aku memang gila. Aku gila karena kamu!" Mellisa memekik kesal di atas pangkuannya Ares.


"Lepaskan!"


"Kenapa kau tercipta setampan dan semenarik ini. Dan kenapa kau tidur dengan Mamaku?"


"Itu kebodohanku dan aku sangat menyesalinya. Aku masih remaja saat itu dan Mama kamu yang mengajariku semua hal menjijikkan itu" Ares berkata dengan wajah dingin dan kedua tangannya terkulai di samping tubuhnya karena ia merasa jijik menyentuh Mellisa.


"Bohong! Nggak mungkin seorang wanita mengajari seorang pria. Kau bohong!"


"Terserah kalau kau tidak percaya. Itu urusan kamu dengan Mama kamu, bukan denganku. Sekarang lepaskan pelukanmu ini!" Ares mulai menggertakkan gerahamnya.


"Aku akan percaya padamu kalau kamu mau tidur denganku saat ini juga. Aku juga ingin menikmati hal yang sama yang Mama nikmati saat Mama bersama denganmu" Mellisa lalu mencium bibirnya Ares, mengunci, memagut dan terus menekan.


Ares langsung menggigit bibirnya Mellisa sampai Mellisa mengaduh dan secara spontan melepaskan gelungan kedua lengannya di leher Area dan di saat itulah, Ares segera memundurkan kursinya yang beroda ke belakang.


Mellisa terjatuh di atas lantai sambil memegangi bibirnya yang berdarah ia langsung bangkit berdiri dan mendelik ke Ares yang sudah melangkah menjauh darinya, "Kenapa kau menggigitku?! Dasar brengsek! Kenapa kau selalu menolakku? Aku lebih muda dari Mamaku dan aku lebih cantik. Kenapa kau selalu menolak aku?" Mellisa berteriak dan air mata mulai meluncur deras di kedua pipi putihnya.


"Karena aku benci wanita agresif dan tidak tahu malu seperti kamu"


"Lalu apa bedanya aku dengan Mamaku?" Mellisa berucap di sela derai air matanya.


"Kalian sama. Sama-sama menjijikkan dan membuatku muak Cuma, di antara aku dan Mama kamu, dulu, ada kesepakatan. Dan aku yang masih bodoh, naif, dan polos saat itu menikmati permainan dominan dan submissive yang diajarkan oleh Mama kamu dan rusaknya jiwaku membuatku menyukai permainan itu dan tidak bisa menghentikannya sampai aku bertemu dengan Hana yang sudah menjadi Istriku sekarang ini"


"Is.....istri? Bukankah Hana menghilang dan......."


"Hormati Istriku. Dia lebih tua dari kamu, jadi panggil Hana dengan Kakak"


"Cih! Bodo amat toh dia bukan Kakak kandungku dan aku juga nggak kenal dekat dengannya.


"Tapi, aku tidak suka ada orang yang tidak menghormatinya!" Ares berteriak lantang dengan sorot mata tajam ke Mellisa.


Mellisa tersentak kaget menerima teriakannya Ares dan ia terbakar cemburu saat ia melihat Ares membela Hana dengan penuh perasaan.


"Aku sangat mencintainya"


"Lalu Mamaku? Apa kau pernah mencintai Mamaku?"


Ares menggelengkan kepalanya dan berkata, "Mama kamu hanyalah seorang tutor yang telah mengajari aku permainan yang mengasyikan dan hanyalah teman bermain yang asyik. Tidak lebih dari itu, tapi semua itu sudah nggak ada artinya lagi bagiku. Aku sudah lama tidak berhubungan lagi dengan Mama kamu"


"Dasar brengsek! Kau sudah menikmati Mamaku dan kau buang begitu saja?!" Mellisa berteriak sembari mengusap air mata yang terus mengucur deras di kedua pipinya.


"Dia yang sudah mengambil keperjakaanku secara paksa! Aku tidak membuangnya, tapi aku mengakhiri permainan menjijikkan itu" Teriak Ares.


Mellisa lalu melangkah pergi meninggalkan Ares dengan wajah kesal.


Ares meraup kasar wajah tampannya dan duduk kembali ke kursi kerjanya dengan lemas.


Macarena mengetahui kalau Hana membuka klinik dokter hewan di jalan menuju ke tol. Macarena nekat menemui Hana untuk mencoba memprovokasi Hana agar Hana tidak rujuk lagi dengan Ares karena Macarena belum mengetahui kalau Hana dan Ares telah menikah saat itu.


Kling,kling,kling, pintu terbuka di saat Mirna, Susan dan Hana tengah menikmati makan siang mereka.


Hana tersentak kaget saat ia melihat Macarena melangkah ke arahnya lalu duduk di depannya Hana dengan wajah santai dan senyum anehnya.


Mirna langsung bangkit, "Siapa Anda?"


Hana langsung menyentuh lengannya Mirna, "Nggak papa, Mbak. Duduklah lagi"


Mirna kembali duduk dengan terus menatap Macarena.


"Apa kabar, Hana Prakas? Aku lihat kau semakin modis, cantik dan berkelas"


"Terima kasih" Sahut Hana. "Ada apa Anda kemari?"


"Ingin berbicara soal dominan dan submissive" Macarena tersenyum dan senyuman itu membuat Hana muak. Hana lalu menoleh ke Mirna dan Susan, "Tolong tinggalkan kami!"


"Tapi, Dok"


"Tidak bisa Nyonya. Saya harus tetap di sini"


Hana menegaskan ucapannya dan Susan langsung mengajak Mirna keluar.


"Nyonya?" Macarena menautkan alisnya ke Hana.


Hana menunjukkan cincin di jari manis kanannya dan dengan senyum manisnya, Hana berucap, "Aku dan Mas Ares sudah menikah lagi"


"Sial!" Macarena langsung mengumpat kesal lalu berucap, "Kau paham soal dominan dan submissive?"


"Iya" Sahut Hana.


"Lalu kenapa kau nekat menikah lagi dengan Ares Laco? Permainan dominan dan submissive yang aku ajarkan ke Ares, akan terus membekas di seluruh jiwa dan raganya Ares bahkan sudah mendarah daging di tubuhnya Ares"


"Mas Ares sudah berubah"


"Kau yakin? Kau saat ini hidup satu atap dengan seekor ular Beludak yang tengah mengumpulkan kembali Bisa-nya. Suatu saat nanti, ular itu akan menggitgitmu mati di saat yang tepat dan ........"


Hana bangkit dan Plak! Hana menampar keras pipinya Macarena lalu berucap, "Jangan hina Mas Ares! Ular itu adalah kau sendiri dan aku bersyukur Mas Ares bisa lepas dari dirimu! Sekarang pergilah dan jangan muncul lagi di depanku!" Hana berteriak lantang di depannya Macarena.


Macarena bangkit sambil memegang pipinya dan dengan wajah merah padam penuh amarah, ia berkata ke Hana, "Kau akan menerima akibatnya karena sudah berani menamparku" Macarena lalu pergi meninggalkan Hana


Mirna dan Susan bergegas masuk kembali ke dalam klinik dan bertanya secara bersamaan, "Anda tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja" Sahut Hana sembari duduk kembali dengan tubuh lemas.


Brak! nguing, nguing, nguing, nguing, sebuah mobil terus membunyikan alarmnya dengan sangat nyaring saat sesosok tubuh manusia terjatuh dari atas dan menimpa bagian atas mobil tersebut