A Dominant

A Dominant
Kejutan



Aku udah putus dengan Macarena, Hana. Aku juga udah berubah. Batin Ares.


Angan Ares langsung melayang ke beberapa bulan yang lalu setelah Hana meninggalkan dirinya.


Flashback On


Elizabet Laco mengajak Macarena dan Area bertemu di sebuah restoran mewah favoritnya Elizabeth Laco, "Aku sungguh tidak menyangka kalau ternyata kau wanita yang sangat menjijikkan"


"Aku hanya berusaha jujur pada diriku sendiri. Aku memang memiliki karakter unik dan menyimpang. Kalau tidak aku lampiaskan, aku bisa gila" Sahut Macarena dengan ekspresi polos tanpa dosa.


"Tapi, kenapa Ares? Dan waktu itu, Ares masih berumur lima belas tahun, kau sadar itu? Dasar wanita brengsek!" Elizabeth Laco melotot ke Macarena dengan wajah merah padam dan napas menderu penuh dengan amarah


Ares menghela napas panjang dan langsung menggenggam tangan mama asuhnya dengan kata, "Tenang, Ma! Mama nggak boleh emosi! Ingat kesehatan Mama"


"Tinggalkan Ares! Kalau kamu masih berhubungan dengan Ares dan mengejar Ares, aku tidak akan tinggal diam!" Elizabeth Laco langsung berdiri dan mengajak Ares beridri, "Kita pergi, Res!"


"Maaf, Ma! Ada beberapa hal yang ingin Ares selesaikan dengannya biar Ares tidak terbelenggu lagi dengan wanita busuk ini"


Elizabeth Laco tampak ragu untuk melangkah meninggalkan Ares.


"Ma, percaya sama Ares. Tunggu Ares di dalam mobil, oke? Ares hanya butuh waktu lima belas menit, ah, tidak. Sepuluh menit saja, cukup"


Elizabeth Laco kemudian menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Ares.


Ares berdiri di depan Macarena yang masih duduk dan menatap Ares.


"Aku nggak akan pernah menemui kamu lagi untuk melakukan permainan dominan dan submissive. Aku akan menyokong bisnis baru kamu di bidang fashion, tapi kau harus berhenti menggodaku! Hubungan kita ke depan hanyalah hubungan bisnis. Aku lakukan ini semua demi masa lalu kita"


Macarena yang kala itu memang sedang membutuhkan dana yang sangat besar untuk bisnis barunya itu, maka dengan sangat terpaksa, ia menyetujui tawarannya Ares.


Lalu Ares bergegas meninggalkan Macarena dan masuk ke dalam mobilnya dan tersenyum ke mama asuhnya, "Makasih, Ma. Mama selalu ada buat Ares"


Elizabeth Laco mengusap kepalanya Ares sambil berkata, "Tentu saja Mama selaku ada untukmu. Kamu kan, Putra Mama"


Flashback Off


Sudah setengah jam lebih, Ares duduk di dalam mobilnya dan terus melihat Hana. "Dia kurus sekarang ini, Han. Apa dia makan dengan baik selama ini?"


"Tentu saja Non Hana makan dengan baik, Tuan. Non Hana, kan, sangat pandai memasak" Sahut Handoko.


Ares memukul bahunya Handoko, "Kenapa kau tidak menghiburku? Harusnya kau bilang, iya Tuan, Non Hana kurus sekali laku apa yang harus kita lakukan, gitu, Han!"


Handoko menghela napas panjang lalu berucap, "Iya Tuan. Maaf, saya salah"


"Emm, Han, kamu minta beberapa pengusaha truck makanan yang menjual nasi goreng, jus mangga dan salad buah, pokoknya semua makanan kesukaannya Hana untuk ke sini"


Handoko langsung menoleh ke tuan besarnya karena, kaget, "Hah! Untuk apa, Tuan?"


"Kamu sekarang ini bodoh banget sih Han?! Iya tentu saja untuk jualan di sini di dekat kliniknya Hana biar Hana kalau nyari makan siang tidak perlu berjalan jauh. Di sini belum ada yang jual makanan kesukaannya Hana. Aku lihat hanya ada warung pecel dan soto"


"Tapi Tuan, lihatlah! Ada tulisan kalau pedagang kaki lima dilarang berjualan di sini. Ini kan jalan menuju tol kalau ada truck makanan di pinggir jalan, kan, bisa kacau"


"Truck makanan itu kakinya empat, Han. Tzk! Kamu memang bodoh banget akhir-akhir ini. Jadi, aku rasa akan aman, nggak papa"


Nggak papa gundulmu! Handoko mengumpat kesal di dalam hatinya.


Lalu asisten pribadinya Ares yang memiliki wajah tampan khas pria lokal itu berucap, "Kaki truck makanan itu empat kali dua atau ada yang delapan kali delapan, Tuan"


"Kamu bapaknya Truck makanan, ya?"


"Bukan, Tuan"


"Kok tahu kakinya truck makanan ada berapa?" Ares tersenyum geli dengan sendirinya.


Ish! tersenyum geli dia. Huuffttt! Sabar Han, sabarrrrr!" Handoko berkata di dalam hatinya dengan kejengkelan tingkat dewa.


"Urus ijinnya susah, ya? Kau benar, Han"


N**ah! Sadar juga akhirnya. Batin Handoko.


Ares lalu mengedarkan pandangannya dan berakhir di wajahnya Handoko, "Kalau gitu, kau beli ruko yang masih kosong lalu kau ambil salah satu chef terbaik di hotel kita dan suruh dia memasak di ruko di dekat kliniknya Hana"


Ares meletakkan tangannya di atas pundaknya Handoko lalu menepuk-nepuk pundaknya Handoko dengan kata, "Kau memang bisa aku andalkan. Pintar kau, Han"


Cih! Lalu Handoko yang bodoh ke mana, ya? Batin Handoko kesal.


"Kalau gitu, kita kembali aja ke kantor"


"Kita nggak makan siang dulu, Tuan?" tanya Handoko.


"Aku nggak laper" Sahut Ares dengan entengnya.


Anda nggak laper. Tapi, saya laper banget, Tuan. Batin Handoko.


Handoko kemudian mencoba untuk membujuk Ares agar Ares bersedia makan siang terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke kantor, "Tuan, Anda, kan, ingin mengejar kembali Non Hana. Nah! Anda butuh energi ekstra. Anda butuh makan tepat waktu agar tidak jatuh sakit. Kalau Anda jatuh sakit, Anda akan kehilangan banyak kesempatan mengejar Non Hana karena, orang sakit, kan, nggak bisa ke mana-mana"


"Wah! Jangan dong. Oke! Kalau gitu kita makan siang dulu"


"Assiiiaaapppp Tuan!" Handoko langaung melajukan mobil menuju ke restoran terdekat dengan wajah cerah ceria.


Cacing di perutku tidak jadi kelaperan, nih. Batin Handoko.


Hana kembali bekerja dan dia mengangkat wajahnya dengan senyum lebar saat ia melihat Nancy adiknya melangkah masuk.


"Kak! Temani aku makan malam di resto Sendok dan Garpu, yuk!"


"Kenapa harus sama Kakak?" tanya Hana sambil meletakkan pulpennya.


"Karena, ada cowok yang mengajakku makan malam dan aku belum begitu mengenalnya. Aku baru bertemu dia beberapa kali, kan, aku dan Kakak baru tiba di tanah air seminggu yang lalu" sahut Nancy.


"Lalu kenapa ajak Kakak? Kakak, jadi obat nyamuk dong, nanti" Hana tersenyum lebar ke Nancy sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dan bersedekap.


"Iya untuk menjaga adik cantikmu ini dari cowok itu. Aku kan belum begitu banyak mengenal cowok"


Hana terkekeh geli, "Dan kau pikir Kakak kamu telah banyak mengenal cowok?"


"Kakak kan pernah menikah dan Kakak cukup populer waktu Kakak kuliah di Jepang. Ada cukup banyak cowok yang mendekati Kakak" sahut Nancy dengan mengerucutkan bibirnya.


Hana kembali terkekeh geli laku berucap, "Oke! Baiklah, Kakak akan menemani kamu dan Kakak akan memberikan penilaian Kakak ke cowok yang sudah berani mengajak adik tersayangku ini berkencan"


Nancy langsung melompat, lalu memutari mejanya Hana dan menarik pergelangan tangannya Hana, "Kalau gitu, ayok kita beli baju!"


"Lho, lho! Kok jadi beli baju? Klinik Kakak gimana nih?" Hana terpaksa melangkah mengikuti Nancy karena Nancy terus menarik pergelangan tangannya.


"Mbak Susi eh Mbak Susan! Tolong jaga klinik sebentar, ya? Aku akan ajak Bos kamu beli baju. Entar Mbak Susan aku belikan juga, deh"


"Hahahahaha. Oke!" Sahut Susan sambil mengacungkan ibu jarinya ke Nancy.


"Kenapa harus beli baju segala, sih Nan? Baju kita kan masih banyak"


Nancy mengemudikan mobil sedan pink-nya dengan berucap, "Kita harus mengikuti trend yang ada di sini, Kak. Kalau nggak, kita bisa ditertawakan dunia"


Hana hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kekonyolannya Nancy.


Hana mengenakan dress hitam panjang selutut berkerah V, dengan dibalut jaket denim sedangkan Nancy memilih kaos berwarna kuning pucat dipadukan dengan celana panjang kain berwarna cokelat tua dengan kerut di bagian pinggang dan bertali pita.


Mereka duduk di sebuah meja dan Hana langsung berdiri karena kaget saat ia melihat Leonard Buana berdiri di depan mejanya bersama dengan seorang cowok.


Nancy ikutan berdiri dan berkata, "Kak, ini Elijah Buana dan Elijah, ini Kakakku Hana Prakas"


Hana menyalami Elijah dan mengabaikan tatapannya Leonard yang terus melekat padanya.


"Senang berkenalan dengan Kak Hana. Dan ini kakak laki-lakiku, Kak Leonard Buana"


Hana menoleh ke Leonard dan ia tidak membalas ukuran tangannya Leonard. Hana langsung duduk sambil berkata, "Kami sudah saling kenal"


Leonard tersenyum lebar dan sambil duduk, ia menarik kembali ukuran tangannya.


Hana ikut berbincang hanya untuk sekadar bersopan santun dan ia sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling resto karena, ia mulai merasa bosan. Dan Hana tersentak kaget saat ia melihat di sudut ruangan resto, ia melihat Ares duduk berhadapan dengan Macarena. Hana tidak menyukai kejutan itu.