
Dan pembaca yang Budiman, A Dominant yang memiliki karakter egois, kejam, dingin, suka menguasai permainan, suka hal-hal yang ekstrem dan unik, namun sudah bertobat itu, akhirnya menikah lagi dengan mantan Istrinya. Wanita muda dengan jarak umur yang cukup jauh dengannya, yakni sepuluh tahun itu telah mampu merubahnya menjadi pria yang lembut dan penurut.
Mereka belum menyadari akan sesuatu yang hakiki setelah pernikahan mereke. Mereka membutuhkan stamina yang lebih untuk menikmati manisnya percintaan mereka di masa indahnya bulan madu. Luapan kerinduan dan cinta dari tokoh kita ini, diawali dengan permainan cinta yang lembut di dalam mobilnya Ares saat mobil itu telah sampai di basement Kondominiumnya Ares Laco.
Begitu turun dari mobil, Ares langsung menarik Hana dan menggendong Hana. Ia melangkah masuk ke dalam lift sambil terus mengajak Hana berciuman. Ciuman itu terasa berbeda bagi Hana. Ciumannya Ares, Hana rasakan lebih dalam, lebih panas, lebih menuntut dan liar. Hana pun berusaha untuk mengimbanginya dengan semakin erat membelitkan kedua kakinya di pinggang kekarnya Ares.
Debaran jantung dari keduanya membahana mengalahkan suara lift di saat pintu lift itu terbuka. Hana menahan pintu lift dengan tangannya saat pintu lift itu kembali menutup dengan perlahan karena, keduanya asyik terus berciuman dan tidak menyadari pintu lift telah terbuka.
Hana langsung melompat turun dari gendongannya Ares lalu melompat keluar dari dalam lift. Ares melangkah lebar keluar dari dalam lift dan langsung menggaet pinggang rampingnya Hana, "Kau tidak bisa lari lagi dariku, Sayang!"
"Mas! Lepaskan! Di sini, kan, ada Susi dan Evi, asisten rumah tangganya, Mas. Apa kata mereka kalau ........Aw!" Hana memekik kaget saat Ares membopongnya tanpa permisi.
Ares berbisik di telinganya Hana, "Apa itu penting? Ada yang lebih penting yang harus kita pikirkan saat ini" Ares lalu berlari cepat ke kamarnya sambil membopong Hana.
Ares merebahkan Hana di atas kasur dengan ranjang yang bergaya klasik terbuat dari besi unggul kualitas eksport. Lalu dengan cepat.ia menyingkirkan celengan ayamnya Hana dan meletakkannya di atas nakas.
Hana terkekh geli melihat celengan ayamnya, lalu istrinya Ares itu berkata, "Wah! Celengan ayamku telah mengambil alih peranku di ranjang selama ini, ya, Mas?"
Ares melompat di atas ranjang setelah melepas kemeja dan jasnya lalu memeluk Hana lalu melepas tawa renyahnya ke udara.
Hana dan Ares tidur dengan posisi miring. Wajah bahagia mereka saling berhadapan dengan rasa cinta yang membuncah di dalam hati keduanya. Hana lalu mengusap pipinya Ares, "Mas, maafkan aku. Aku dulu terlalu naif dan bodoh. Membayar kamu dengan celengan ayamku"
"Tidak perlu kata maaf di antara kita, Hana. Karena, kita saling mencintai. Bukankah cinta itu selalu memaafkan dan menerima pasangan kita apa adanya"
"Aku nggak nyangka kalau kamu tuh bisa semanis dan selembut ini, Mas" Hana mengecup bibirnya Ares.
Ares tersenyum dan langsung melahap bibrinya Hana dengan rakus. Kedua sejoli itu terus berguling-guling ke kanan lalu ke kiri di atas kasur dengan bibir saling pahit, saling sesap, saling membelitkan lidah, saling menekan, saling mengusap, saling mendaratkan gigitan kecil dan mereka terengah-engah ketika mereka saling melepaskan bibir mereka untuk mengambil napas.
Ares mendaratkan keningnya di atas keningnya Hana dan berucap dengan suara serak, "Kau sangat manis, Hana. Dan dengan bertambahnya usia kamu, kamu tampak lebih matang, dan tampak semakin seksi menggoda. Kau tahu, Sayang, kau memiliki tubuh yang sangat bagus"
Hana terengah-engah dan dengan kedua mata yang masih terpejam, ia berucap, "Jangan banyak bicara lagi, Mas! Selesaikan yang sudah Mas mulai"
"Aku akan memuaskan kamu, Sayang. Aku akan bermain sesuai dengan yang kau inginkan" Suara Ares terdengar kasar, berat dan agresif.
Mulut Ares langsung menekan mulutnya Hana dengan keras dan memaksa, namun justru itulah yang Hana tunggu-tunggu. Dengan liar, lidah Ares memisahkan bibir atas dan bibir bawahnya Hana dan mendorong masuk lebih dalam. Hana menghisapnya seraya mencengkeram kedua pundak kokohnya Ares.
Degup jantung keduanya berpacu dengan sangat cepat.
Ares melepaskan ciumannya dan ia melihat ciuman liarnya yang penuh dengan cinta dan hasrat, membuat bibir Hana memerah, tampak basah dan sedikit bengkak. Lalu Ares mengalihkan ciumannya ke dada Hana. Ciuman-ciuman yang Ares daratkan di dada Hana, kasar karena diperkuat oleh keinginan Ares untuk memberikan Hana kenikmatan sebanyak yang ia terima dan mencoba memenuhi semua fantasinya Hana.
Ares lalu mengentikan aktivitasnya dan menatap Hana, "Buka mata kamu, Hana!"
"Selama kita berpisah, apa kau pernah berfantasi tentang aku?"
Hana menganggukkan kepalanya secara perlahan dengan wajah malu.
"Apakah kau pernah melakukannya sendirian dengan memikirkan aku?"
Hana menjawab, "Iya" dengan suara.serak dan senyum malu.
Ares lalu menggenggam tangan Hana dan ia gerakkan. tangan itu teru ke bawah dan berhenti di titik sensitifnya Hana, "Apa kamu menyentuh dirimu sendiri seperti ini, Hana?" Ares menggerakkan jari dia dan jarinya Hana secara bersamaan di titik sensitifnya Hana sambil menegakkan badannya agak menjauhi Hana untuk melihat ekspresi wajahnya Hana.
Hana melenguh dan memejamkan matanya lalu membuka kembali matanya sambil berkata, "Mas, Mendekatlah!"
Ares tersenyum penuh arti lalu ia menundukkan wajahnya secara perlahan, Hana langsung mengangkat kepalanya dan memagut bibirnya Ares. Dia mengajak Ares kembali berciuman.
Ares lalu melepaskan Hana dan Hana langsung menyemburkan protes, "Mas, mau ke mana?"
"Ambil alat pengaman" Dan dengan cepat Ares memasang alat pengaman lalu memeluk Hana dengan erat dan menyatukan raganya dengan Hana. Ares terus bergerak dengan mengangkat kedua kakinya Hana dan ia berbisik di atas lehernya Hana di sela aktivitasnya mendaratkan tanda cintanya di sana, "Aku rasa aku tidak akan bisa berhenti setelah ini, Hana. Ternyata bermain lembut denganmu, memberikan kenikmatan yang luar biasa dan aku ingin lebih dan lebih, aaaahhhh! Hana! Aaaahhhh! Aku sangat mencintaimu"
Hana terus melenguh dengan napas yang menderu. Kenikmatan yang Ares berikan kepadanya, membuat Hana tidak mampu mengeluarkan kata-kata kecuali hembusan napas penuh hasrat dan lenguhan-lenguhan seksinya.
Beberapa menit kemudian, kedua sejoli yang tengah dikuasai oleh cinta dan hasrat yang membara itu, membahanakan pekik kepuasan mereka secara bersamaan ke udara bebas.
Ares lalu duduk dan menarik Hana duduk di atas pangkuannya dan ia menundukkan wajahnya di dada Hana, lalu ia bermain cukup lama di sana sambil terus menggerakkan pinggulnya dengan pelan.
Hana melenguh dan menengadahkan wajahnya ke atas sambil meremas kepalanya Ares dengan kedua telapak tangannya.
Jantung keduanya semakin kencang berdegup di atas pacuan cinta berbalut kerinduan yang panas dan liar.
Beberapa detik kemudian, Hana memekik puas dan beberapa detik berikutnya giliran Ares yang meneriakkan nama Hana di dalam pekik kepuasannya.
Keduanya lalu terkulai di atas ranjang. Ares melepas alat pengamannya lalu mengikat dan membuangnya di tempat sampah mungil yang terbuat dari plastik. Kemudian Ares merebahkan diri di sampingnya Hana yang tengah menatapnya dengan wajah lelah berbalut bahagia.
Ares mencium keningnya Hana, "Aku melepaskanmu sebentar karena, kalau aku teruskan, aku takut kamu akan pingsan"
Hana tersenyum dan setelah menepuk pelan dada bidangnya Ares yang masih polos, Hana memejamkan kedua kelopak matanya lalu tertidur di dalam pelukannya Ares. Ares menarik selimut untuk menyelimuti tubuh dia dan Hana yang masih polos.
Ares menciumi keningnya Hana sambil terus mengelus punggung polosnya Hana dengan kebahagiaan yang sempurna. Ares tidak mau memejamkan kedua kelopak matanya, dia terus memandangi Hana dengan senyum penuh cinta lalu ia bergumam, "Tidur kayak gini aja, kamu udah cantik banget, Hana. Bagaimana bisa, aku tidak tergila-gila padamu?" Ares lalu memeprerat pelukannya saking gemasnya melihat wajah imutnya Hana saat Hana tertidur pulas dengan bergumam, "Aku sangat mencintaimu dan hanya akan mencintaimu di sisa umurku ini. Aku harap kau pun sama"