
Ares Laco langsung memerintahkan anak buahnya untuk melacak keberadaannya Nora Laco. Ares selalu menempelkan alat pelacak mini di setiap baju yang Nora kenakan. Dan di saat anak buahnya sudah menemukan lokasi keberadaannya Nora, Ares langsung mencium keningnya Hana dan berkata, "Tunggu aku dan Nora di rumah!" Lalu Ares berputar badan dan langsung mengajak anak buahnya ke lokasi tersebut.
"Tapi, aku tidak akan membunuhmu Nora Laco. Aku jatuh hati padamu sejak pertama aku bertemu denganmu. Kesempurnaan fisik, sikap dingin kamu, dan kecerdasan kamu, membuatku tergila-gila padamu" Stevan Jovetic berucap sembari mengelus rahangnya Nora dan Nora langsung mendelik ke Stevan dan berkata, "Kalau kau mencintaiku kenapa kau mengikat kedua tanganku?"
"Karena aku tahu kamu pandai beladiri. Aku tidak mau dihajar oleh calon istriku. Aku akan lepaskan kamu besok setelah kita resmi menjadi sepasang suami istri" Stevan mencubit dagunya Nora laku mengecup bibirnya Nora dengan sangat lembut.
Nora memundurkan langkahnya ke belakang dan dengan sorot mata tajam ia berteriak "Berani benar kau mengecup bibirku!"
"Hahahahaha. Kenapa? Kau suka?" Stevan melangkah mendekati Nora dan Nora mundur kembali ke belakang sambil berteriak, "Stop! Berhenti di sana dan jangan dekati aku! Tanganku terikat, tapi aku masih punya kaki yang bebas. Aku bisa mencelakai kamu dengan kakiku"
Stevan langsung menghentikan langkahnya dan tersenyum lebar, lalu berkata, "Kau juga tangguh dan pemberani, Sayang. Aku suka itu"
Nora mendengus kesal lalu bertanya, "Kenapa untuk menikah denganku, kamu harus menculik aku? Bukankah kedua orangtua kita sudah menyetujui pernikahan kita?"
"Karena, mama kandungku ingin aku membunuh kamu malam ini. Tapi, aku tidak mau. Aku ingin kamu hidup dan aku ingin hidup bersama denganmu karena, aku mencintaimu"
"Mama kandung?" Nora menautkan alisnya dan kembali bertanya, "Jadi pasangan Jovetic, bukan orangtua kandung kamu?"
"Nyonya Jovetic, istri Tuan Jovetic yang terhormat adalah kakak kandung dari mama kandungku dan aku dititpkan ke Tuan Jovetic saat aku masih bayi. Mama kandungku lalu mengadopsi seorang anak bayi yang sama umurnya denganku dari panti asuhan tanpa sepengetahuan dari suaminya yang selalu berjudi dan jarang pulang itu. Papa kandungku memang brengsek. Mama kandungku ingin membalas dendam kepada Papa kamu, tapi ia tidak ingin anak kandungnya yang membalaskan dendamnya untuk itulah ia mengadopsi anak dari panti asuhan untuk ia jadikan alat balas dendamnya. Tapi, sepertinya anak itu sama seperti diriku. Mengkhianati Mama dan lebih memilih kamu, Nora Laco"
"Sama seperti kamu? Lebih memilih aku? Siapa anak yang kau maksud itu?" Nora mulai panik dia takut dugaannya benar.
"Wintang Devoss"
"Sial!" Nora langsung mengumpat kesal.
"Namaku seharusnya Stevan Devoss dan karena anak brengsek itu, aku tidak menyandang nama Devoss di belakang namaku dan gara-gara anak brengsek itu, aku tidak diasuh sendiri oleh mama kandungku. Mamaku ingat akan diriku saat si brengsek itu mengkhianatinya. Jika si brengsek Wintang tidak mengkhianati mamaku, aku tidak akan pernah tahu akan kenyataan pahit ini"
"Kenapa kau menyalahkan Wintang atas keegoisan dan kegilaannya Mama kamu? Wintang tidak bersalah, dia juga korban di sini. Kalau ingin menyalahkan atas semua rasa pahit yang harus kamu telan, harusnya kamu menyalahkan Mama kamu" Nora menatap Stevan masih dengan sorot mata tajam khasnya.
"Oh, tidak! Aku akan tetap menyalahkan Wintang dan setelah aku berhasil melenyapkan Wintang maka aku akan menyalahkan Ares Laco. Semua kekacauan ini terjadi karena, keegoisannya Ares Laco. Aku akan melenyapkan Papa mertuaku setelah kita menikah besok, karena Wintang akan aku bunuh malam ini juga. Harusnya kabar kematiannya Wintang sudah aku terima sekarang. Kenapa belum ada yang datang memberitahukannya ke aku?"
"Tidak! Kau harus mati di tanganku saat ini juga jika kau ingin membunuh Papaku dan Wintang!" Nora berlari maju dan langsung mendararkan tendangan mautnya tepat di dadanya Stevan. Tubuh Stevan terhempas beberapa langkah ke belakang, namun ia masih bisa berdiri tegak. Stevan kemudian menyeringai dan sambil mengelus dadanya, ia berucap, "Cuma segini tendangan maut kamu?"
Stevan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya lalu berputar badan meninggalkan Nora Laco begitu saja. Anak buahnya Stevan langsung menyuntik leher Nora dan saat Nora jatuh pingsan, anak buahnya Nora langsung menyeret Nora ke kamar pribadinya Stevan Jovetic.
Stevan lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengecek keberadaannya Wintang karena, ia belum juga mendengar kabar kematiannya Wintang.
Setelah anak buahnya berlalu dari hadapannya, Stevan duduk di tepi ranjang dan dengan nekat, ia membuka kancing blusnya Nora yang paling atas sambil mengusap pipinya Nora dan dengan penuh gairah, ia lalu menyusupkan wajahnya ke lehernya Nora dan mencium leher wanginya Nora dengan penuh rasa mendamba. Stevan ingin memiliki Nora seutuhnya malam itu sebelum ia menikah dengan Nora, besok pagi. Dia ingin menandai Nora supaya Nora tidak melarikan diri darinya karena, dia sudah sangat tergila-gila pada Nora Laco.
Dooooorrrr!!!!!!
Suara tembakan itu, membuat Stevan menegakkan wajahnya dan bergegas melangkah keluar dari dalam kamar pribadinya dan ia langsung dikejutkan dengan keributan yang terjadi di halaman depan vila mewahnya.
Stevan berlari ke arah depan dengan cepat dan ia menggeram kesal saat ia melihat Wintang Devoss berhasil melumpuhkan kelima anak buahnya yang ia tugaskan berjaga di halaman depan vila pribadinya.
Stevan melihat paha di kaki kanannya Wintang berdarah. Stevan menyeringai saat ia melangkah mendekati Wintang dan berkata, "Menyerahlah! kau sudah terluka cukup parah"
"Ini hanya terkena serempetan peluru. Hanya luka kecil. Untuk melumpuhkan kamu, aku masih bisa!" Wintang berteriak kencang karena amarahnya masih mendidih.
"Hahahahaha. Kau itu memang bodoh. Selalu saja lemah dan dengan mudahnya dimanfaatkan oleh orang. Nora mencintaiku dan kami akan menikah besok. Jadi, pulanglah dan ........"
"Bohong! Dimana Nora?! Katakan dimana Nora!" Wintang berteriak kencang sembari menyeret kakinya yang terluka untuk maju mendekati Stevan.
"Kau akan mati kalau nekat melawanku" Stevan menyeringai di depan Wintang.
Wintang terus menyeret kakinya ke depan dan berkata, "Kau yang akan mati karena sudah berani mengusik wanitanya Wintang Devoss!"
Amara Devoss tiba-tiba hadir di antara Wintang dan Stevan. Dia menggeram kesal di di depan Wintang dan Stevan, kemudian ia berteriak, "Dasar kalian nggak berguna! Semuanya bodoh! Percuma saja aku membesarkan kalian selama ini! Kalian semua nggak ada yang bisa aku andalkan! Dasar brengsek!"
Wintang menatap mananya dengan penuh tanda tanya, lalu ia melontarkan pertanyaan, "Apa maksud Mama dengan membesarkan kalian berdua?"
Amara langsung mematung di depan sorot matanya Wintang dan Stevan langsung menggemakan tawanya.