
"Apakah Nora akan baik-baik saja, Mas?" Hana bertanya di dalam pelukannya Ares.
Ares mengelus punggungnya Hana dan berkata, "Nora anak yang cerdas dan kuat. Dia putriku. Aku yakin, dia akan baik-baik saja"
Hana menepuk kesal dada bidangnya Ares sambil berkat, "Dia juga Putriku! Kalau cerdas aja, dia putri kamu, kalau konyol aja, dia putriku"
Ares tergelak geli dan sambil memeluk erat tubuhnya Hana dia berucap, "Dia putri kita yang cantik seperti kamu dan cerdas seperti aku, puas sekarang?"
Hana terkekeh geli di dalam dekapan erat suaminya
Nora akhirnya berkata, "Halo"
"Aku sangat senang akhirnya aku bisa mendengar suara kamu" Sahut Wintang dari seberang sana.
"Ada apa meneleponku?"
"Lho, Sayang, kamu yang meneleponku, kok malah nanya ada apa? Ada apa dengan kamu? Kamu sepertinya ada masalah, ada masalah apa?" Wintang menyahut ucapannya Nora dengan nada penuh tanda tanya.
"Kenapa kau kirim pesan text aneh barusan?" tanya Nora.
"Aku kira kamu marah sama aku dan nggak mau angkat teleponku karena, kamu nggak mau bicara lagi denganku. Makanya aku kirim pesan text ke kamu, tadi. Aku ingin. ajak kamu ketemuan besok siang di restoran favoritku. Nanti aku share lokasinya. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan ke kamu"
"Oke. Aku tunggu sharelok-nya. Aku mau tidur, lelah"
"Oke, selamat bobok Sayang.........."
Klik! Nora memutuskan begitu saja sambungan teleponnya di saat Wintang belum menyelesaikan kalimatnya.
Dan di seberang sana, Wintang menatap layar ponselnya dengan kerutan di keningnya dan bergumam, "Ada apa dengan Nora?"
Keesokan harinya, Wintang kembali menelepon Nora dan Nora tidak mengangkat panggilan teleponnya. Wintang kemudian mengirimkan pesan text, Selamat pagi, Sayang. Selamat bekerja., I Love You.
Wintang menatap layar ponselnya selama lima belas menit dan dia hanya bisa menghela napas panjang di menit berikutnya, saat balasan pesan text dari Nora, tidak kunjung muncul di layar ponselnya.
Wintang kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas kerjanya dan pergi bekerja.
Di kampus, dia berpapasan dengan koleganya yang mengampu mata kuliah Matematika Bisnis dan koleganya Wintang yang bernama Rony itu langsung menyodorkan pertanyaan, "Aku lihat kemarin, kamu tidak berganti baju dan bau baju kamu bau parfum wanita. Kamu udah punya pacar dan bermalam di rumah pacar kamu, ya?"
Wintang terus melangkah dan mengabaikan pertanyaannya Rony.
Rony menyusul langkahnya Wintang dan kembali bertanya, "Aku nggak akan bilang siapa-siapa kalau memang benar seperti itu"
Wintang masuk ke dalam ruang kelasnya dan menoleh ke Rony, "Kau mau jadi Muridku dan ikut kelasku?"
"Wah, nggak dong. Aku harus ngajar pagi ini" Sahut Rony.
"Lalu kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Wintang dengan sorot mata kesal.
Rony meringis dan berkata, "Oke, kalau kamu nggak mau berbagi cerita sama aku. Aku akan pergi" Rony kemudian berputar badan dan pergi meninggalkan Wintang.
Wintang menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas kerjanya.
Wintang membagikan lokasi keberadaannya tepat di jam makan siang ke ponselnya Nora.
Setengah jam kemudian, Nora muncul di depannya Wintang dan menahan tubuhnya Wintang saat Wintang ingin memeluknya.
Wintang bertanya ke Nora sembari melangkah mundur dan duduk kembali di atas kursinya semula, "Kenapa? Kenapa tidak kau ijinkan aku memeluk kamu? Apa kau tahu kalau aku sangat merindukanmu?"
Wintang yang terlahir cerdas langsung bertanya, "Apa kau sudah tahu tentang aku dan..........."
"Dan aku juga tahu alasan kamu mendekati aku" Sahut Nora.sembari menyandarkan diri ke kursi lalu bersedekap di depannya Wintang dengan menghunus tatapan tajam.
"Sejauh mana kau tahu soal aku?" Tanya Wintang kemudian.
"Semua " Sahut Nora dengan sikap acuh tak acuh.
"Jadi, kau juga tahu kalau aku sudah menikah?" Tanya Wintang dengan hati-jati.
Nora tersentak kaget dan langsung mendelik ke Wintang, "Aku tidak menyangka kalau kamu pria yang sangat hina, busuk dan brengsek! Kau sudah menikah dan kau mengajakku tidur bersama. Kau gila!"
"Dan itu benar, Nora. Maafkan aku. Oke. Soal awal pertemuan kita, tidaklah benar kalau itu takdir. Aku sudah mengaturnya. Tapi, penyatuan cinta kita kemarin dan perasaan cintaku semuanya asli dan tulus. Aku akhirnya jatuh cinta padamu, Nora Laco dan itu di luar kehendak-ku" Wintang menatap Nora dengan sorot mata tulus. "Dan aku menikah karena, dijodohkan. Aku menikah selama tiga bulan ini dan aku tidak pernah menyentuh Istriku. Bahkan aku sudah mengurus perceraianku dengannya. Karena, aku pikir tidak adil bagi wanita itu untuk tetap menjadi Istriku padahal aku sama sekali tidak mencintainya dan tidak pernah menyentuhnya"
Nora menyemburkan protes dengan memajukan wajahnya ke depan, "Kau sangat brengsek!"
Wintang langsung berkata, "Iya aku memang brengsek, Nora. Aku bohong hanya di awal perjumpaan kita. Tapi, sejak aku jatuh.cinta padamu, aku rasa aku mulai jujur padamu seperti saat ini. Aku seratus persen jujur sama kamu"
"Mana yang benar dan palsu? Aku bahkan tidak bisa membedakannya. Lalu kenapa Mama kamu ingin membalas dendam?" Nora bertanya dengan suara gemetar menahan tangis.
"Kau yakin ingin mendengarnya?" Tanya Wintang.
Nora memekik, "Katakan saja brengsek!"
Wintang menceritakan semua masa lalu Mamanya dan Nora menatap Wintang dengan nanar dan bergumam, "Itu tidak mungkin. Aku kenal betul seperti apa Papaku"
"Itulah kenapa aku tidak ingin kamu tahu soal masa lalu Mamaku dan Papamu. Bagiku, biarlah itu menjadi urusan mereka. Aku hanya ingin mencintaimu" Sahut Wintang.
Nora mengusap pipinya dengan cepat saat ia merasakan ada setetes air mata jatuh di sana lalu ia berucap, "Kenapa kau katakan semua ini setelah kita menyatu kemarin? Dasar brengsek!"
"Maafkan aku. Aku telat berpikir dsn bertindak karena, ini berkaitan dengan wanita yang telah melahirkan aku dan wanita yang aku cintai yaitu kamu. Aku tidak ingin keduanya tersakiti.Tapi, ternyata aku salah" Wintang memandang Nora dengan wajah sayu.
Nora bergeming di depan Wintang dengan genangan air mata di kedua pelupuk matanya
Wintang kemudian bertanya, "Apa kau akan berikan kesempatan kedua padaku? Jika kita bersama, aku janjikan kau akan bangun di pagi hari di atas lenganku, kita akan berciuman untuk memulai pagi kita, aku akan buatkan sarapan spesial untukmu, kita akan mandi bersama, dan kita akan pergi keluar berjalan-jalan dengan bergandengan tangan" Wintang menatap Nora dengan sorot mata penuh harap dan nada bicara penuh dengan keseriusan.
Nora mengusap pipinya Wintang dengan gamang.
Wintang mencium telapak tangannya Nora dan bertanya, "Apa aku terlalu hina untuk memohon kesempatan kedua darimu? Apa aku menakutkan bagimu?'
"Aku hanya takut kecewa. Aku pernah merasa kecewa dan aku tidak ingin merasakannya lagi" Nora berucap sambil menarik tangannya dari pipinya Wintang.
Wintang menghela napas panjang, "Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu memercayai aku lagi?"
"Entahlah" Nora menghela napas panjang.
"Dan apakah jika kau pergi dari hadapanku sekarang, itu berarti, perpisahan buat kita?" Wintang menatap Nora dengan sorot mata sayu. Ada genangan air mata di kedua pelupuk matanya Wintang.
Nora membuang napas untuk melepaskan sesak di dada, lalu berkata dengan nada berat, "Aku rasa begitu. Kalau kita berjodoh, kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal, Wintang Devoss" Nora bangkit berdiri dan bersitatap dengan Wintang.
Wintang menghela napas panjang, lalu mendongakkan wajahnya ke atas sambil memejamkan kedua kelopak matanya untuk menahan air matanya agar tidak menetes.
Nora tidak tega melihat Wintang dan dengan cepat ia mendorong kursinya ke belakang laku berputar badan dan berlari cepat meninggalkan Wintang sendirian di restoran mewah itu.