
"Maaf Nona Mirna, Anda sudah kenal dengan Tuan Ares Laco?" tanya Hana.
"Saya tidak diijinkan untuk mengobrol dengan Anda, Nyonya" Sahut Mirna sambil terus fokus mengemudikan mobil jenis Roll Royce Ghost berwarna merah darah, warna kesukaannya Hana Prakas. Mobil berjenis itu hanya sepuluh peringkat atas sedunia yang memilikinya dan Ares berhasil mendapatkannya dari lelang online hanya dalam semalam saja.
Ares semalam menceritakan ke Elizabeth Laco, mama angkatnya kalau dia sudah menikah secara hukum tapi, dia bingung bagaimana membuat istrinya percaya, nyaman dan tidak takut padanya.
Elizabeth Laco terkekeh geli lalu ia berucap, "Sebelumnya selamat kamu sudah menikah dan Mama doakan pernikahan kamu ini untuk selamanya karena, Mama tidak pernah melihatmu seantusias ini pada seorang wanita"
Tapi pernikahanku ini hanya untuk dua tahun saja, Ma. Batin Ares Laco sembari tersenyum tipis ke mama angkatnya.
"Kalau ingin membuat wanita nyaman di samping kamu, percaya sama kamu, rebutlah hatinya!"
"Bagaimana caranya, Ma?" tanya Ares.
"Belikan barang yang ia suka, misalnya mobil dengan warna favoritnya, atau belikan perhiasan, ajak dia berkencan dan sering-seringlah mengajak dia ngobrol" sahut Elizabeth Laco.
"Aku tidak pernah melakukan semua itu" Sahut Ares Laco dengan tatapan datar.
Elizabeth Laco mengelus pipi Ares dan berkata, "Mama tahu, kamu nggak pernah berkencan dengan wanita maka mulailah dengan istrimu ini. Dia sudah kau pilih menjadi istrimu berarti dia spesial bagi kamu, kan? Maka perlakukan dia dengan spesial pula, hmm?"
Ares menganggukkan kepalanya dengan ragu dan masih dengan tatapan datar khasnya
Saat Elizabeth Laco meninggalkan kamarnya, Ares langsung berburu mobil mewah berwarna merah darah karena ia tahu Hana Prakas menyukai warna merah dan di garasinya tidak ada mobil berwarna merah. Semua koleksi mobilnya berwarna silver, abu-abu dan hitam. Ares membenci warna terang karena, baginya warna terang memberikan harapan palsu dan hanya akan menyilaukan mata.
Dan dia berhasil memenangkan lelang mobil jenis Roll Royce Ghost berwarna merah darah dan dia belikan khusus untuk Hana Prakas.
Hana menghela napas panjang menerima sahutan dari Mirna. Lalu ia bertanya, "Kenapa mobil ini ada di hari ini. Kemarin aku tidak melihat mobil ini"
"Mobil ini baru dibeli oleh Tuan Ares Laco semalam untuk Anda, Nona" Sahut Mirna.
"Hah?! untukku?" tanya Hana.
"Iya. Warnanya merah. Sesuai dengan warna favorit Anda, kan?" sahut Mirna.
"Bagaiman dia bisa tahu kalau aku suka warna merah, aku kan belum pernah ngomong ke dia kalau aku suka warna merah" Sahut Hana.
Mirna langsung berucap, "Karena, dia Tuan Ares Laco. Dia bisa mendapatkan informasi apa saja kalau dia mau" sahut Mirna. "Dan saya heran sama saya saat ini, saya tanpa sadar telah mengobrol panjang lebar dengan Anda, Nyonya"
Hana terkekeh geli dan Mirna pun ikutan terkekeh geli.
"Maukah kamu menjadi temanku?" tanya Hana dengan nada serius.
"Saya tidak berani, Nyonya" sahut Mirna karena dia tahu mobil itu ada penyadapnya dan tuan besarnya pasti tengah mendengarkan percakapannya dengan Nyonya Ares Laco.
"Santai saja, aku nggak akan kasih tahu ke Tuan Ares kalau kita berteman, hehehehe"
Mirna langsung kelu lidahnya dan berucap dalam hatinya, Tuan Ares sudah tahu, Nyonya karena mobil ini disadap.
Ares mengangkat wajahnya untuk menatap Handoko, "Dia polos sekali ternyata. Dia bahkan tidak tahu kalau mobilnya ada alat penyadap dan dari sana, aku bisa.mendengar semua percakapannya dengan Mirna"
"Besok hari di mana aku harus membuatnya menjadi milikku sepenuhnya tapi, sepertinya dia masih sangat takut padaku. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya nyaman, Han?"
"Beri Nyonya kejutan, Tuan! Seperti ajak berkencan, naik helikopter berkeliling kota, semacam itulah Tuan" Sahut Handoko.
"Kejutan?" Ares lalu tersenyum lebar dan bangkit sambil menyambar jasnya dan berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.
Handoko terkejut melihat reaksi tuan besarnya dan dengan tergopoh-gopoh dia berlari menyusul langkah lebar tuan besarnya. "Anda akan ke mana, Tuan?"
"Memberikan kejutan" sahut Ares.
"Dengan apa dan ke mana" tanya Handoko dengan langkah setengah berlari untuk mengimbangi langkah tuan besarnya.
"Ke kampusnya Hana Prakas. Aku ingin menjadi pembicara di sana" sahut Ares.
"Hah?! Anda kan seorang pebisnis? Anda mana bisa jadi pembicara di fakultas kedokteran?"
"Aku akan menjadi pembicara secara global, sebagai motivator untuk semua mahasiswa dan mahasiswi di semua jurusan. Aku akan membuat Hana Prakas kagum padaku. Itu kan kejutan"
Hadeeehhh kok malah itu yang Anda pikirkan, Tuan? Nyonya Hana justru akan semakin takut pada Anda. Bain Handoko.
Tapi, Handoko tidak berani membantah tuan besarnya saat ia melihat wajah tuan besarnya penuh antusias.
"Aku hebat kan, Han?" Ucap Ares sembari memasang sabuk pengamannya. Dan Handoko hany bisa.mengqnggukkan kepalanya sembari memasang sabuk pengamannya dan mulai memutar kunci mobil untuk menghidupkan mobil dan melajukannya di deru debu jalan raya.
Ares langsung menuju ke ruang rektorat untuk menemui rektor Abdul, teman yang memiliki banyak hutang budi pada Ares Laco dan belum satu pun ia membalas hutang budinya pada Ares Laco.
Ares membuka pintu ruang rektorat tanpa mengetuk pintu itu terlebih dahulu dan rektor Abdul langsung bangkit dari kursi kerjanya dengan wajah panik saat ia melihat sosok Ares berdiri tegak di depannya dengan wajah dingin dan datar.
"Kenapa kemari tanpa telpon dulu, Res?"
"Siapkan panggung untukku sekarang juga dan umumkan ke semua mahasiswa kalau aku, Res Laco pemilik Graha Laco, akan memberikan motivator"
"Tapi, mana bisa dadakan kayak gini?"
"Kau punya banyak hutang budi padaku dan belum satu pun kau bayar. Kalau kau memenuhi permintaanku pada hari ini, aku anggap lunas semua hutan budimu"
Rektor Abdul tersenyum lebar, "Juga hutangku yang sebanyak setengah milyar?"
"Itu belum termasuk tapi, hutang kamu untuk beli mobil bulan kemarin, aku anggap lunas"
"Wah! Iya jadi, dong kalau gitu" Rektor Abdul langsung bergerak untuk memenuhi permintaannya Ares Laco.
Handoko menoleh ke tuan besarnya, "Tuan, Anda belum pernah muncul di khalayak ramai dan menjadi pembicara di kalangan mahasiswa, Anda yakin akan tetap melakukannya?"
"Iya dong. Hanya ngomong di depan umum saja apa susahnya. Aku kan sering memimpin rapat bisnis, kan? Aku ingin memberikan kejutan pada istriku dan membuatnya kagum padaku. Aku pikir kalau dia terkagum-kagum padaku, dia akan bertekuk lutut dan tidak takut lagi padaku. Setelah ini, aku akan membawanya menengok Neneknya ke rumah sakit dengan helikopter" Ares tersenyum lebar lalu menoleh ke Handoko, "Aku cerdas, kan?"
Handoko hanya bisa tersenyum lebar dan berkata di dalam hatinya, Anda memang cerdas di dalam segala hal dan memiliki otak yang jenius tapi, Anda kurang cerdas di bidang menaklukkan cewek, Tuan. Semoga langkah Anda ini, tidak membuat Nyonya Hana semakin takut pada Anda.