
"Anda bilang akan merelakannya tadi. Tapi, kenapa Anda masih menyuruh orang untuk mengawasi Nona Hana Prakas, Tuan?"
Handoko berkata sembari meletakkan ponselnya Ares di atas meja kerjanya Ares.
"Aku memang ingin merelakannya, tapi aku juga ingin tetap mengetahui kegiatan Hana sehari-hari itu seperti apa" Sahut Ares sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya.
"Lalu apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Tuan?"
"Kau ke rumah sakit. Kau bayar semua biaya rumah sakit Neneknya Hana dan pesankan kamar rawat inap VIP juga untuk Neneknya Hana. Dan aku akan membuat Hana tersudut"
"Tapi, Anda tidak pernah memaksa seorang wanita, Tuan"
"Aku tidak pernah memaksa dan aku juga tidak akan memaksa Hana. Aku hanya akan membuat gadis itu tersudut"
Delapan jam kemudian, seorang dokter keluar dari dalam kamar operasi dan melangkah mendekati Hana. Hana dan Deo bangkit dengan wajah penuh tanda tanya dan hati was-was.
Dokter tersebut membuka masker di wajahnya untuk berkata, "Operasinya berjalan dengan lancar dan saat ini, Nenek Anda akan dipindahkan ke ruang ICU untuk dipantau lebih jauh lagi. Jika Nenek Anda sadar dan tidak ditemukan adanya komplikasi, maka bisa dipindahkan ke kamar biasa"
Hana langsung membungkukkan badannya sembari berucap, "Terima kasih banyak, Dok"
"Sama-sama. Saya permisi"
Deo terkejut saat Hana menegakkan tubuhnya dan memeluk Deo. Deo mematung dengan debaran jantung yang tak beraturan. Hana kemudian melepaskan pelukannya dan berkata, "Nenek selamat. Operasinya berjalan dengan lancar. Terima kasih sudah menemaniku Deo"
Deo tersenyum lalu berkata, "Sama-sama" lalu pemuda tampan itu mengernyit mendengar ucapannya sendiri karena entah kenapa setelah dipeluk oleh Hana, otaknya tiba-tiba beku dan tidak bisa memikirkan kata lain kecuali kata sama-sama.
Hana terkekeh geli melihat wajah polosnya Deo.
Seorang suster mendekati Hana dan berkata, "Anda bisa ikut saya ke ruang adminstrasi?"
Hana menoleh ke Deo dan Deo langsung menjawab pertanyaannya suster itu, "Bisa Sus"
Hana dan Deo berjalan mengikuti suster berwajah manis itu dengan langkah lebar. Hana berbisik ke Deo sambil terus berjalan, "Aku hanya punya uang satu juta sembilan ratus ribu rupiah"
Deo tersenyum ke Hana, "Aku akan pinjami kamu uang. Kamu bisa mencicilnya nanti"
Hana tersenyum dan mengucapkan kata, "Terima kasih. Aku akan cari pekerjaan tambahan biar cepat bisa melunasinya"
"Kamu udah diterima bekerja di kafe yang ada di hotel Prince. Aku sudah daftarkan kamu. Besok, kamu tinggal ke sana membawa CV kamu dan sudah bisa langsung bekerja. Gajinya lumayan jadi, aku sarankan, kamu berhenti saja berjualan nasi uduk biar di siang hari kamu bisa beristirahat dan belajar"
Hana merangkul bahunya Deo sembari memekik girang, "Terima kasih banyak, Deo. Kamu memang sahabat sejatiku"
Deo tersenyum ke Hana dan kembali mengeluarkan kata, "Sama-sama"
Orang suruhannya Ares kembali mengirimkan dua foto ke ponselnya Ares. Yang satu foto Hana memeluk Deo dan yang satunya lagi foto Hana merangkul bahunya Deo.
Ares menatap kedua foto yang masuk ke dalam ponselnya dengan menyipitkan kedua matanya, merengut dan menautkan alisnya. Dia lalu menelepon Handoko, "Han? Gimana? Udah kau urus administrasi Neneknya Hana?"
"Sudah Tuan" sahut Handoko.
"Ubah kontrakku dengan Hana Prakas! Aku ingin tinggal satu atap dengannya selama dua tahun" Nada geram terdengar di kata-katanya Ares.
"Anda yakin, Tuan? Anda selama ini hanya bisa tahan tiga bulan hidup saja di satu atap yang sama dengan wanita?"
"Hana Prakas adalah pengecualian" sahut Ares.
"Baik Tuan. Akan saya ganti isi kontraknya"
"Bagus" Klik. Ares lalu tersenyum lebar dan bergumam, "Kita lihat beberapa menit lagi, kau pasti akan meneleponku"
Hana mengamati deretan huruf dan angka yang ada di slip bukti pembayaran dan tercengang, "Ares Laco?"
"Iya benar sekali Nona. Semua biaya Nenek Anda sudah dilunasi oleh Tuan Ares Laco. Kami menerima transferan dari Graha Laco"
Tanya sekaligus protes tersirat di wajahnya Hana. Lalu ia bangkit dan permisi. Hana berjalan keluar dari ruang administrasi dengan gamang. Deo mengikuti Hana dan bertanya, "Sekarang bagaimana?"
"Aku akan ke Graha Laco menemui Ares Laco dan membahas ini semua" Hana mengayunkan lembaran kertas putih yang ia genggam.
"Ayo aku antarkan!"
"Bisakah aku meminta tolong lagi padamu?"
"Apa?" tanya Deo dengan penuh semangat.
"Kamu di sini saja menjaga Nenek. Kalau Nenek sadar dan dipindahkan ke kamar rawat inap, minta saja kelas tiga karena Ares Laco dengan lancangnya menyiapkan kamar VIP untuk Nenek"
"Tapi, kamu kan belum pernah ke Graha Laco?"
"Aku sudah delapan belas tahun dan sudah terbiasa sendiri" sahut Hana.
"Baiklah. Hati-hati. Aku akan menjaga Nenek" sahut Deo.
Hana terpaksa mengurangi uang yang ada di dalam dompet usangnya untuk naik taksi menuju ke Graha Laco. Lelah jiwa dan raga mendekap erat atmanya Hana. Hana beberapa kali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
Setengah jam berlalu dan Hana tersentak kaget saat supir taksi mengeluarkan kata, "Sudah sampai Non"
Hana memberikan uang dua puluh lima ribu rupiah, mengucapkan terima kasih lalu turun dari dalam taksi itu.
Hana berdiri di depan pintu lalu mendongakkan wajah cantiknya untuk melihat ke papan nama besar yang memamerkan tulisan berwarna abu-abu dan gagah, GRaha Laco.
Hana semakin mendongakkan wajahnya sampai ke langit. Gedung Graha Laco sangat tinggi dan hampir menyentuh langit. Seketika itu pula, Hana merasa ragu untuk melangkah masuk. Dia memang mengenakan setelan bermerk pemberiannya Ares karena ia memang belum memiliki kesempatan untuk pulang ke rumahnya dan berganti baju. Tapi, sepatu yang ia pakai adalah sepatu butut miliknya sendiri dan tas selempang kain yang tersampir di badannya, telah membuat kepercayaan dirinya Hana menguap hilang. Dia merasa kecil dan sangat miskin di depan gedung pencakar langit miliknya Ares Laco
Seorang satpam menghampiri Hana, "Ada yang bisa saya bantu Nona? Kenapa Anda diam mematung di depan pintu masuk cukup lama?"
"Ah!" Hana tersentak kaget dari lamunannya lalu menatap satpam yang berdiri di depanku,
Satpam itu memandangi Hana dengan wajah penuh tanda tanya dan ia menunggu jawabannya Hana dengan sabar.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Ares Laco"
"Apa Anda sudah ada janji?" tanya satpam tersebut.
Hana menggelengkan kepalanya.
"Maaf Nona, jika belum ada janji, kami tidak bisa..........."
"Nona Hana Prakas?" suara Handoko menggema di udara dan Handoko langsung mengayunkan tangannya menyuruh satpam tersebut untuk meninggalkan dia dan Hana.
Hana menoleh perlahan ke kanan, "Pak Han?"
"Ada apa Anda kemari?" tanya Handoko. "Anda sudah lama menunggu di sini?"
Hana menggelengkan kepalanya, "Saya baru saja sampai dan saya sepertinya tidak jadi masuk saja. Saya minta kartu namanya Tuan Ares saja bisa? Karena kartu nama yang Tuan Ares kasih ke saya kemarin jatuh dan hilang entah di mana"
"Masuk saja Nona. Mari saya antarkan. Tuan Ares menunggu kedatangan Anda" sahut Handoko.
Hana mengikuti langkah Handoko dengan kaki gemetaran.