A Dominant

A Dominant
Asyik



Alhasil, Macarena harus gigit jari karena usahanya untuk mencelakai Hana Prakas Laco, gagal total.


Keesokan harinya, Hana memasangkan dasi di kerah bajunya Ares sambil berkata, "Mas,.nanti malam ada acara reuni SMA. Aku boleh dateng?"


Ares menggelengkan kepalanya, "Nggak boleh"


"Tapi, Mas, aku pengen dateng"


Ares memegangi kedua bahunya Hana dan berkata, "Sayang, situasinya sedang genting saat ini. Bahaya tengah mengancam kamu. Jangan keluar ke keramaian dulu dan jangan pergi ke mana-mana selain ke klinik, oke?"


Hana langsung bersedekap dan merengut lalu berjalan meninggalkan Ares dengan kata, "Baiklah"


Ares mengerutkan dahi melihat punggungnya Hana. Lalu, konglomerat muda itu berlari menyusul Hana, merangkul bahunya Hana lalu berkata, "Baiklah, boleh"


Hana langsung menoleh dan melompat memeluk Ares dengan senyum bahagianya lalu memekik, "Terima kasih, Mas"


Ares tersenyum, menghela napas lalu berkata, "Tapi, aku ikut"


Hana melepas pelukannya lalu menatap Ares dengan senyum yang semakin cerah mendengar suaminya bersedia menemaninya di acara reuni, "Aku senang banget Mas mau ikut. Tapi, Mas nggak boleh rewel ya"


"Iya. Aku nggak akan rewel"


Hana langsung berjinjit dan mengajak Ares untuk berciuman sebentar sebelum melangkah menuju ke meja makan.


Di jam makan siang, Ares mulai gelisah karena rapat bisnis yang mengharuskan ia datang, belum selesai juga di jam satu lebih. Ares beberapa kali melihat layar ponselnya dan bertambah gelisah, karena pesan text-nya belum mendapatkan balasan dari Hana.


Dan karena kesal bercampur gelisah, Ares mendelik ke kliennya yang masih mengoceh mengenai anggaran proyek besar yang tengah ditangani oleh Graha Laco.


Kliennya Ares bergidik ngeri dan bertanya ke Ares dengan wajah ketakutan, "A....apa saya melakukan kesalahan, Tuan Ares?"


"Kenapa harus nyerocos panjang banget kayak gerbong kereta api. Kasih pilihan ke aku biaya A berapa dan biaya B berapa, aku akan memilihnya"


Kliennya Ares langsung menyebutkan biaya A dan bIaya B dan di saat ia hendak melanjutkan ucapannya, Ares langsung berdiri dan berkata, "Aku pilih A dan serahkan ke Handoko rinciannya!" Lalu Ares berlari keluar dari dalam ruang rapatnya.


Semua peserta rapat di siang hari itu melihat Ares dengan sorot mata heran.


Handoko langsung berkata ke semua peserta rapat di siang hari itu, "Harap maklum, pengantin baru, hehehehehe"


Ares langsung tancap gas dan akhirnya dalam waktu lebih cepat dari biasanya, ia sampai di kliniknya Hana dan dia terkejut saat ia tidak melihat Hana ada di sana. Ares mendelik ke Susan, "Di mana Istriku?"


Susan tersentak kaget melihat Ares berdiri di depan pintu dengan wajah garang. Susan langsung berdiri dan berkata, "Dokter Hana terpaksa pinggir kota untuk membantu persalinan seekor sapi yang cukup rumit"


Ares langsung meraup kasar wajahnya dan berkata ke Susan. Ares langsung keluar dari kliniknya Hana dan berlari masuk ke mobilnya. Ares langsung menyalakan alat pelacak karena ia memasang alat pelacak di tas kerja di ponsel, dan di dalam mobil canggihnya. Ares langsung tancap gas menuju ke titik lokasi keberadaannya Hana.


Sesampainya di tempat tersebut, Ares langsung melepas sabuk pengaman dan melompat turun dari dalam mobilnya. Ares tersentak kaget saat ia melihat, ada seorang wanita dengan memegang pisau, memeluk pinggangnya Hana dari belakang dan mengarahkan ujung pisau yang sangat tajam di lehernya Hana.


Dan Ares melihat Mirna tengah membujuk wanita itu untuk meletakkan pisaunya dan melepaskan Hana.


Ares berjalan pelan dan langsung menarik tubuh wanita yang masih mendekap Hana dari arah belakang dan Ares langsung berteriak ke Hana, "Lari lah ke Mirna!" saat ia melihat Hana telah bebas dari dekapan wanita berpisau itu.


Ares langsung menendang pisau di tangan wanita asing itu saat wanita itu berputar untuk menyerang Ares. Mirna langsung melompat maju dan membekuk wanita itu.


Ares berkata ke Mirna, "Bawa langsung ke kondominiumku dulu. Aku ingin menginterogasinya dulu sebelum aku serahkan ke pihak berwajib nantinya"


Wanita asing itu terus meronta dan berteriak, "Kau memang brengsek, Ares Laco! Brengsek!!!!!"


Hana tersenyum bahagia dan langsung melompat memeluk Ares.


Ares menatap Hana dengan sorot mata tajam dan menggeram. Wajahnya memerah karena kesal dan ia langsung mengangkat tubuhnya Hana dan menyampirkannya di atas pundaknya. Ia membawa Hana seperti seorang kuli panggul di pasar tradisional, memanggul sekarung beras.


Hana memekik kaget, tapi ia tidak berani bertanya karena, ia bisa merasakan Ares marah besar dan Hana bisa merasakan, kemarahannya Ares itu terhunus tajam untuk dirinya.


Ares menurunkan Hana di tumpukan jerami dan memutar tubuhnya Hana, membelakanginya, untuk mengepang rambutnya Hana.


Hana memegang rambutnya sambil bertanya, "Kenapa Mas, mengepang rambutku?" Namun, Hana tidak berani menoleh ke belakang.


"Karena kau berani melanggar laranganku!"


"Tapi, aku, kan, harus kerja, Mas. Aku ke sini tuh untuk bekerja"


Alih-alih merespons ucapannya Hana, Ares memutar badannya Hana kembali, sampai Hana menghadap ke arahnya. Ares melepas dasinya dan berkata dengan wajah dingin, "Ulurkan kedua tanganmu!"


Hana mengulurkan kedua tangannya ke Ares dengan tanya, "Apa yang akan Mas lakukan?"


"Setiap pelanggaran ada konsekuensinya dan aku akan mengajarkan ke kamu soal itu" Ucap Ares sembari mengikat kedua pergelangan tangannya Hana dengan dasi favoritnya lalu ia menatap dasi itu dan berkata, "Sepertinya dasi ini memang sangat pantas menjadi dasi favoritku"


Hana tidak berani tertawa di saat ia mendengar selorohannya Ares karena Ares masih tampak menakutkan di depannya.


Ares lalu mendorong tubuhnya Hana sampai terjerembab di atas jerami dan Ares membuka jas dan kemejanya sampai ke enam tonjolan otot di perutnya terpampang nyata di depan Hana sambil berucap, "Naikkan kedua tangannya di atas kepala kamu!"


Hana langsung menaikkan kedua tangannya yang telah diikat dasi, ke atas kepalanya sambil bertanya ke Ares, "Mas, kita akan lakukan. di sini? Bagaimana kalau ada orang datang ke sini?"


"Anak buahku sudah berjaga di tempat yang semestinya dan akan mencegah siapapun masuk ke sini" Ares lalu melepas semua kain yang melekat di tubuhnya Hana dan ia mulai melakukan aksinya. Ia memulai hukumannya dengan menciumi kening, Kedua alis, kedua kelopak matanya Hana, lalu menurunkan bibirnya dengan pelan dari pangkal hidung dan berhenti di bibirnya Hana untuk mengajak Hana berciuman, namun ciuman itu hanya ciuman singkat. Bibir Ares terus bergerak turun dan di saat bibirnya bermain asyik di titik kenyal, Hana memekikkan kenikmatan dan secara refleks menurunkan kedua tangannya untuk mengusap kepalanya Ares, Ares langsung menggeram dan berkata, "Naikkan Kemabli tangan kamu di atas kepala kamu dan jangan kamu turunkan sampai aku selesai menghukum kamu!"


Ares lalu menurunkan bibirnya sampai di pusar dan bermain di sana, sampai Hana kelimpungan karena ia tidak diijinkan menurunkan tangannya, Hana memekik frustasi, ia merasakan siksaan kenikmatan yang Ares berikan, tapi dia tidak boleh menggerakkan tangannya.


Ares menurunkan bibirnya sampai ke titik paling penting dan dia memberikan siksaan terberat bagi Hana di sana di saat ia bermain asyik di sana dan Hana tidak ia ijinkan menurunkan tangan untuk menyentuhnya.


Setelah puas menyiksa Hana dengan kenikmatan yang sangat luar biasa, Ares melakukan penyatuan raga sambil menahan kedua tangannya Hana tetap berada di atas kepalanya Hana. Ares lalu mengeluarkan ratusan kecebongnya di luar karena ia masih belum ingin memiliki anak. Lalu ia memakai kembali semua bajunya, kemudian ia membantu Hana memakai dress sambil bertanya, "Kenapa kau melawanku, Hana?"


"Aku rasa aku akan sering melawan kamu, Mas. Karena aku suka sama hukumannya"


Ares membuka ikatan dasi di kedua pergelangan tangannya Hana dengan senyum lalu ia mengecup keningnya Hana sambil berkata, "Coba saja kalau kau berani"


Ares lalu membopong Hana dan melangkah lebar menuju ke mobilnya. Semua anak buahnya langsung mengikut langkahnya Ares.


Ares langsung membawa Hana pulang ke Kondominiumnya dan berkata ke Hana saat pintu lift terbuka, "Masuk ke kamar dan jangan naik ke lantai tiga! Kali ini jangan ngeyel lagi!"


"Iya mas" Hana langsung berlari masuk ke dalam kamar dan Ares langsung naik ke lantai atas. Handoko, Mirna dan detektif kenalannya, sudah menunggu Ares di sebuah ruangan yang cukup besar dan cukup mewah untuk sebuah sesi interogasi.


Wanita yang tampak asing bagi Ares langsung mendelik ke Ares,


"Dia wanita yang mendorong Nona Mellisa Lordess, Tuan. Ada giwang yang sama dengan yang kita temukan kemarin di dalam tasnya"


Ucap Handoko.


"Kenapa kau lakukan itu?"


"Karena, kau melakukan aku dengan beda. Kau campakkan aku setelah aku memberikan kepuasan, keasyikan, dan kenikmatan di Daan permainan dominan dan submissive kita, tapi kau menikahi Hana Prakas"


"Lalu kenapa kau mendorong Mellisa?"


"Karena ia berani menemui kamu dan mengatakan ke aku kalau ia mencintaimu dan dia juga mengatakan sesuatu yang membuatku kesal, dia mengatakan kalau aku hanyalah wanita tidak penting bagi kamu karena wanita yang paling penting bagi kamu adalah Mamanya. Mamanya Mellisa bahkan kau tiduri di saat kita masih terikat kontrak dominan dan submissive. Kau berani berselingkuh dariku saat itu, dasar brengsek! Maka aku pikir, gadis itu pantas aku dorong sampai mati, lalu Mama gadis itu juga akan aku bunuh, tapi aku pikir, aku harus membunuh Istrimu dulu. Pokoknya semua wanitamu pantas mati!" wanita itu memekik kesal ke Ares dengan mata melotot.


"Dasar gila" Ares mendelik ke wanita di depannya.


"Kamu yang gila!!!!" Wanita itu mendelik dan berteriak lantang ke Ares.


"Bawa dia ke kantor polisi dengan rekaman pernyataannya dan ini" Ares memakai sarung tangan lalu ia merogoh saku celana kainnya, "Bawa giwangnya sebagai tanda bukti. Pasti ada sidik jari dia di giwang ini" Ares menyerahkan semuanya ke detektif kenalannya.


Handoko dan detektif kenalannya Ares membawa semua barang bukti dan langsung pergi dengan membawa wanita asing yang telah berani mengusik ketenangan seorang Ares Laco.


Ares Laco menghela napas panjang, satu permasalahannya sudah selesai. Dan untuk masalah yang berikutnya, dia memiliki Ida yang cukup cerdas dan besok, ia akan mengeksekusi idenya itu.