A Dominant

A Dominant
Sorot Mata Ambigu



"Mbak, kok ke sini? Ini ruangannya siapa?"


"Nyonya, ini ruangan terdekat dari ruangannya Tuan Ares. Ini ruangannya Pak Han. Kita akan aman di sini. Saya udah kunci pintunya" sahut Wulan.


Wulan langsung membuka lemari pendingin kecil yang ada di samping sofa. Dia mengambil dua kaleng minuman cola dingin dan mengambil satu snack yang terbuat dari kentang dengan rasa keju berukuran besar.


Wulan duduk dan meletakkan dua kaleng minuman cola dingin dan Snack tersebut di atas meja, "Maaf, Nyonya. Saya kalau tegang jadinya laper, hehehehe. Saya makan Snack dulu. Emm, Nyonya mau?"


"Nggak Mbak, terima kasih atas tawarannya. Tapi, itu kan miliknya Pak Han? Emang nggak papa diambil dan dimakan tanpa seijin Pak Han?" Tanya Hana.


Wulan mengunyah snack kentang sambil berucap, "Pak Han dan Tuan Ares itu aneh orangnya, tapi mereka nggak pelit"


Hana tersenyum lalu bertanya, "Apa Mbak tahu siapa wanita yang menyerang saya tadi? Apa wanita itu pernah ke sini?"


Wulan mengunyah snack kentang sambi berucap, "Tuan Ares tidak pernah membawa satu orang wanita pun ke sini. Makanya saya tadi kaget pas tahu kok tiba-tiba Tuan Ares punya Istri dan Istrinya masih sangat muda. Berapa usia Anda Nyonya? Emm, kalau saya kepo, hehehehe"


"Saya masih delapan belas tahun, Mbak"


Wulan langsung menyemburkan cola yang ada di dalam mulutnya dan sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan kanannya, ia berucap, "Maaf Nyonya! Kena baju Anda, tidak?"


Hana terkekeh geli lalu berkata sambil mengibaskan tangannya, "Nggak Mbak, nggak kena kok"


"Ah! Syukurlah. kalau sampai kena di baju Nyonya semburan saya tadi, saya bisa kena potongan gaji. Maaf saya kaget waktu dengar umur Anda. Anda masih sangat muda ternyata. Saya aja udah dua puluh lima tahun, nggak laku, masih jomblo, dan belum nikah, hihihihi"


Hana kembali terkekeh geli melihat tingkah lucunya Wulan.


"Anda sama menikah dengan Om-om, dong. Tuan Ares kan umurnya dua puluh delapan tahun. Jadi, jarak usia Anda dan Tuan Ares, sepuluh tahun. Wah! Selamat! Anda dapat Om-om"


Hana kembali terkekeh geli.


Ares menekan peda gas mobilnya dalam-dalam dan Leon langsung berpegangan pada handle yang ada di atas kepalanya, menoleh tajam ke Area dan menyemburkan protes, "Res! Jangan ngebut! Mual nih aku"


"Diam atau kau aku turunkan di jalan. Aku harus ngebut. Istriku dalam bahaya"


"Ah sial! Kenapa Dewi penolongku bisa berada di dalam bahaya?"


"Stop manggil Hana dengan sebutan itu!"


"Suka-suka aku dong. Ini mulutku. Kenapa Hana bisa ada di dalam bahaya, Res?!"


"Entahlah! Sekretarisku nggak bilang secara detail. Makanya aku ngebut nih!" Ares meninggikan nada.suaranya karena kesal.


Mirna berhasil mengalahkan wanita asing itu dan Mirna mengikat kedua pergelangan tangan wanita asing itu dengan ikat pinggangnya. Empat orang satpam kemudian datang ke ruangannya Ares dan menjaga wanita asing itu agar tidak kabur.


Mirna lalu berkata, "Jaga benar-benar wanita ini jangan sampai kabur! Aku akan mencari Nyonya!"


Keempat satpam itu menganggukkan kepada mereka secara bersamaan di depannya Mirna.


Mirna berteriak, "Nyonya Hana! Anda ada di mana?!"


Wulan langsung membuka pintu ruang kerjanya Handoko dan Hana melangkah keluar dari sana .


Wulan tersenyum lega melihat Nyonya besarnya, baik-baik saja.


Tap,tap, tap, Ares berlari mendekati Hana dan langsung memeluk Hana, lalu Ares memeriksa seluruh tubuhnya Hana, "Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?"


Ares lalu mencium bibirnya Hana karena hanya cara itu yang dia ketahui untuk menenangkan hati seorang wanita. Semua langsung menutup mata mereka dan Leon langsung menyemburkan protes, "Hei! Nggak usah pakai cium bisa nggak?!"


Hana langsung menarik bibirnya dari Ares dan memerah wajahnya karena malu.


Wulan membuka pelan kedua matanya sambil berucap, "Saya dan Mbak Mirna, juga baik-baik saja, Tuan" Sahut Wulan. Ares mengabaikan Wulan dan Handoko mendelik ke Wulan sebagai kode untuk Wulan agar tidak berisik.


Ares lalu menoleh ke Mirna, "Di mana wanita yang berani masuk ke ruang kerjaku dan membuat Istriku ketakutan?"


"Masih ada di dalam ruangan Anda, Tuan..Saya sudah mengikatnya dan ia dijaga empat orang satpam"


Ares langsung melangkah lebar ke ruang kerjanya dengan wajah merah padam penuh amarah.


Semua langsung mengekor langkahnya Ares termasuk Hana.


Ares tersentak kaget melihat wajah wanita yang terikat dan berdiri dengan dikelilingi empat orang satpam.


"Dia submissive Anda yang pertama kan, Tuan? Bukankah ia udah menikah dan tinggal di Jepang selama ini?" bisik Handoko.


"Bersimpuhlah di depanku!" Ares berteriak di depan wanita itu dan wanita itu langsung bersimpuh di depannya Ares.


"Kenapa kau kemari dan menakuti Istriku?" Ares mengelus pucuk kepala wanita itu seperti mengelus kepala seekor kucing betina dan Hana melihatnya dengan gamang.


Leon yang beridri di sampingnya Hana bergumam, "Itulah Ares Laco. A dominant yang berhati dingin"


Hana langsung bergidik ngeri mendengar gumamannya Leon.


"Jawab!" Ares kembali berteriak ke wanita yang bersimpuh di depannya.


Wanita itu mendongakkan wajahnya, "Aku merindukanmu. Lalu aku menyuruh seseorang untuk memasang kamera di kamar kamu, di kamar submissive kamu, dan di kamar ungu. Orang yang mengganti pin di pintu masuk kondominium kamu adalah orangku"


Ares langsung berteriak, "Tundukkan wajah kamu! Berani benar kau menatapku?!"


Wanita itu langsung menundukkan wajahnya.


Hana bergidik ngeri melihat pemandangan di depan matanya dan ia langsung bergumam di dalam hatinya, apa aku harus menjadi submissivenya Ares Laco yang seperti itu? Apa aku bisa? Aku rasa aku tidak akan bisa.menjadi seperti wanita itu.


"Kenapa kamu merindukanku? Bukankah kontrak kita udah selesai lima tahun yang lalu dan kau sudah menikah?" Tanya Ares.


Lima tahun yang lalu. Apa itu berarti, wanita itu submissive pertamanya Mas Ares? Batin Hana.


"Aku hanya menjalani pernikahanku selama satu tahun. Suamiku menceraikan aku karena, aku tidak bisa dan tidak pernah bisa mencintainya seperti aku mencintaimu. Aku lalu kembali ke sini dan mulai menguntitmu. Aku menemukan beberapa fakta yang membuatku meradang, aku cemburu dengan dia!" wanita asing yang terus menundukkan wajahnya di depan Ares tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menoleh ke Hana dengan sorot mata tajam.


"Tundukkan wajah kamu dan jangan pernah menatap Istriku!"


Wanita itu langsung menundukkan wajahnya dan berkata, "Hana Prakas. Kau tidak pernah memperlakukan aku seperti kau memperlakukan Hana Prakas. Dan selama empat tahun aku menguntitmu, aku juga menemukan kalau kau tidak pernah memperlakukan semua Submissive kamu seperti kamu memperlakukan Hana Prakas. Apa istimewanya dia? Kenapa kau membuatnya menjadi anak emas?"


"Han! Bawa dia pergi dari sini! Aku tidak mau melihatnya lagi dan kau tahu apa yang harus kau lakukan" Ares mengangkat tangannya dari pucuk kepala wanita itu lalu memunggungi wanita itu.


Handoko lalu memerintahkan keempat satpam untuk menarik keluar wanita itu. Wanita itu berteriak, "Res! Jangan bawa aku ke polisi! Jangan! Aku tidak ingin dipenjara, Res! Aku mencintaimu! Aku selalu mencintaimu, Res!"


Hana melihat wanita itu dengan bergidik ngeri. Saat ia menoleh ke kanan, ia bersitatap dengan Ares dengan sorot mata ambigu.