A Dominant

A Dominant
Ares Tampak Menakutkan



Setelah Hana memasang sabuk pengamannya Ares melajukan mobilnya dan berkata, "Masih ada lagi alasan lain yang membuat aku membenci pantai. Kau tidak ingin mendengarnya?"


"Sekarang Mas masih benci sama pantai?" Hana menoleh ke Ares.


Ares hanya melirik Hana sekilas karena, ia masih diharuskan untuk fokus menyetir untuk bisa keluar dari kawasan pantai dengan sukses. Arus balik macet total di sore hari itu.


Lalu Ares menggelengkan kepalanya dan berucap, "Aku sudah tidak benci sama pantai. Berkat kamu, aku sudah memiliki kenangan yang indah akan pantai dan aku juga sudah tidak merasa sesak napas lagi saat aku mendengar deburan ombak"


"Kalau begitu, aku tidak ingin dengar alasan Mas yang satunya lagi karena, Mas sudah tidak benci sama pantai. Kalau Mas cerita tentang kenangan buruk di masa lalu, itu hanya akan membuka luka lama di hati Mas. Jadi, lupakan saja dan nggak usah cerita sama aku!" Hana tersenyum ke Ares dan Ares langsung mengusap rambutnya Hana sambil berucap, "Terima kasih banyak untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk aku"


"Sama-sama, Mas. Mas juga sudah melakukan banyak hal untuk aku. Terima kasih ya, Mas" Hana masih menatap Ares dari arah samping dan tersenyum bahagia.


Ares lalu merebahkan kepalanya Hana di atas bahunya sambil berkata, "Tidurlah jika kau capek. Jalanan macet total. Sampai rumah pasti malam banget"


Hana menganggukkan kepalanya dan berucap, "Baiklah. Aku tidur ya, Mas"


Ares mengusap kepalanya Hana sambil berucap, "Hmm"


Ares menunggu Hana benar-benar tertidur pulas, lalu ia segera menelepon Handoko setelah melihat Hana telah pulas tidurnya.


Ares memencet headset nirkabel yang dia pasang di telinganya dan berucap, "Han, carikan jalan lain! Macet total nih. Atau buka kemacetan ini biar aku bisa lewat! Kasihan Istriku kalau kelamaan tidur di mobil" Ares berbicara dengan nada geram.


"Baik Tuan"


Dan hanya di dalam hitungan menit, Handoko berhasil membawa tuannya keluar dari kemacetan dengan sukses.


Ares sampai di basement Kondominiumnya tepat jam tujuh malam dan ia membopong Hana dengan pelan, lalu ia rebahkan Hana di kamarnya.


Dengan penuh kasih sayang, Ares melepas sepatunya Hana dan mengganti bajunya Hana lalu menyelimuti Hana.


Ares mengecup keningnya Hana sebelum ia berlari kecil menuju ke kamar mandi pribadinya yang sangat besar dan mewah. Ares berendam air hangat di dalam bathtub untuk melepas penat di kakinya karena mengendarai mobil sport di tengah kemacetan telah sukses mendaratkan pegal dan penat di kedua kakinya.


Ares memencet remote yang ada di samping bathtub dan memilih musik klasik romantis kesukaannya dan saat ia mendengarkan musik itu bayangan wajah Hana yang terlintas di benaknya. Ares tersenyum senang karena di saat ia mendengarkan musik itu, benaknya tidak kosong lagi, ada wajah cantik istrinya di sana.


Saat Ares keluar dari dalam kamar mandi untuk masuk ke kamar ganti, ia melihat Hana belum bangun. Begitu pula saat Ares keluar dari kamar ganti. Ares terkekeh geli, "Dia ternyata doyan tidur. Tapi, aku senang, dia sudah nyaman berada di sampingku. Tidurlah sampai besok pagi putri tidurku yang cantik" Ares lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya.


Susi salah satu dari asisten rumah tangganya Ares, menghadap tuan besarnya dan bertanya, "Apa kita perlu menyiapkan makan malam, Tuan?"


"Nggak usah! Aku akan ajak Istriku makan di luar kalau dia sudah bangun. Sekarang kamu dan Evi tinggalkan kondominium ini! Aku ingin berduaan saja dengan Istriku"


"Baik Tuan" Sahut Susi.


"Han, bawa Susi dan Evi ke rumah yang baru saja aku beli. Aku ingin berduaan saja dengan Istriku malam ini"


"Baik Tuan"


Ares lalu duduk di depan pianonya. Dia memainkan pianonya dengan bersenandung. Dan baru pertama kalinya, Handoko melihat dan mendengar tuan besarnya memainkan piano sambil bersenandung.


Handoko lalu mengajak Susi dan Evi masuk ke dalam lift. Evi berkomentar, "Sepertinya Tuan Ares Laco sudah banyak berubah. Tuan Ares bahkan bersenandung saat bermain piano tadi. Kau dengar kan, Pak Han?"


"Hmm" Sahut Handoko.


"Iya. Kita nggak pernah melihat Tuan Ares tersenyum sebelum Nyonya Hana datang kemari"


"Udah selesai ngegosipnya? Kalau udah, masuk ke mobil!" Handoko membuka pintu mobil jok belakang dan kedua asisten rumah tangganya Ares Laco itu meringis lalu bergegas masuk ke jok belakang.


Hana terbangun karena perutnya terasa lapar. Dia duduk di atas ranjang sambil mengucek-ucek matanya lalu melihat jam di dinding, "Pantas aja aku laper. Ternyata udah jam sembilan malam" Hana lalu melompat dari atas tempat tidur dan berjalan keluar.


Dia menemukan Ares tengah bermain piano dan bersenandung. Hana melangkah mendekati Ares dengan senyum manisnya.


Ares menatap Hana sambil terus memainkan piano dan terus bersenandung. Hana lalu duduk di sebelahnya Ares.


Ares menghentikan senandungnya, namun jari jemarinya masih menari indah di hitam putihnya tuts piano, lalu ia bertanya ke Hana, "Kau sudah laper?"


Hana menganggukkan kepalanya tanpa malu-malu lagi.


Ares tersenyum lebar lalu ia menghentikan permainan pianonya, "Ayok kita makan di luar!"


"Mas, kita makan di rumah aja, ya?! Aku capek kalau harus keluar rumah lagi. Lagian kan, aku udah janji sama Mas kalau aku akan menemani Mas bermain di kamar ungu"


"Tidak harus malam ini. Kalau kamu capek, besok juga nggak papa" sahut Ares sambil berdiri dan mengecup pucuk kepalanya Hana.


Hana ikutan bangkit dan mengikuti langkahnya Ares, "Tapi, Mas janji adalah janji dan aku udah siap hari ini. Harus hari ini, Mas sebelum aku kehilangan lagi keberanianku"


"Baiklah. Tapi, kau kita harus mengisi perut kita dulu. Hufftt! Aku tadi menyuruh Evi dan Susi pergi tanpa memasak terlebih dahulu. Lalu kita akan makan apa nih?"


Hana membuka lemari es, ada telur, daging ayam fillet, dan ia melihat ada dua bungkus mie instant di laci paling bawah lemari es, di bawah tumpukan sayur mayur"


Hana mengambil dua bungkus mie instant rebus itu dan menunjukkannya ke Ares, "Mas, aku capek kalau harus masak, aku mikirnya kita goreng telur aja, tapi kebetulan ada ini, aku pengen makan ini. Mas mau ini atau telur aja?"


Ares langsung merebut dua bungkus mie instant yang Hana pegang lalu melemparnya begitu saja ke atas lantai dapur sambil bertanya ke Hana dengan sorot mata tajam, "Di mana kau temukan dua makanan sampah itu?"


"Di...di laci paling bawah. Di....di bawah sayuran, Mas" Hana bersuara dengan suara gemetar saat ia melihat wajah Ares yang menakutkan tengah menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Aku sudah bilang jangan ada makanan sampah seperti itu di rumah ini. Aku akan pecat siapa pun yang membawa makanan sampah itu masuk ke rumah ini. Dasar brengsek!" Ares memukul pintu lemari es sangat keras dengan kepakan tangannya dan Hana tersentak kaget dan langsung menunduk ketakutan.


Ares lalu menoleh ke Hana dan ia melihat tubuh Hana bergetar ketakutan. Ares langsung memeluk Hana dan mengucapkan. kata maaf berulangkali. Hana langsung menangis di dalam dekapannya Ares dan Ares terus meminta maaf.


Hana lalu menarik diri dari pelukannya Ares sambil mengusap air matanya ia bertanya dengan ragu-ragu, "Kenapa Mas membenci mie instant?"


"Karena sejak aku berumur tiga tahun, hampir setiap hari aku makan makanan sampah kayak gitu. Sampai aku terkena penyakit radang usus dan sejak itu, aku benci makanan sampah itu"


Hana lalu menatap Ares dengan sorot mata penuh haru, "Maafkan aku, Mas. Aku tidak tahu kalau mie instant membuat Mas teringat kembali akan kenangan buruk. Aku akan masak untuk Mas kalau gitu"


Ares lalu memungut kembali dua bungkus mie instant rebus yang sudah ia buang.


Hana menatap Ares dengan penuh tanda tanya.


"Aku akan masak ini untuk kita berdua" Ares berucap serius di depannya Hana.