A Dominant

A Dominant
Hangat



Area menuruni anak tangga dengan menggenggam erat tangannya Hana. Baru pertama kalinya bagi Ares Laco, hatinya berdebar-debar, jantungnya berdegup kencang, dan darahnya berdesir hangat di sekujur tubuhnya, hanya dengan menggenggam tangan seorang wanita.Semua yang ia rasakan saat ia bersama dengan Hana merupakan pengalaman pertama bagi Ares Laco.


Elizabeth Laco tersenyum bahagia saat kedua bola matanya menangkap putra kesayangannya menggandeng tangan istrinya.


"Mama baru aja mau naik untuk membangunkan kalian" Elizabeth terus mengulas senyum bahagia di wajah cantiknya.


Dan saat Elizabeth melihat ada tanda merah yang mulai menuju ke kebiruan di leher kanannya Hana, Elizabeth semakin melebarkan senyumannya dan berbisik ke Hana, "Mama senang, kamu sebentar lagi akan memberikan Mama seorang cucu"


Hana semakin menundukkan wajahnya dan semakin merona wajahnya.


Ares menatap mamanya dengan penuh tanya, "Ma? Apa yang Mama bisikkan ke Hana?"


"Rahasia, iya kan, Hana"


Hana menganggukkan kepalanya tanpa mengangkat wajahnya dan Ares hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah mamanya.


"Kita langsung aja ke meja makan. Nancy dan Papa kamu udah menunggu kita" Elizabeth memimpin langkahnya Area dan Hana dengan langkah ringan dan terus mengulas senyum bahagia.


Nancy langsung menarik Hana untuk duduk di sampingnya dan Ares mengikuti langkah Hana dan duduk di sampingnya Hana.


Nancy langsung mengomentari langkah kakaknya, "Baru kali ini, Kak Ares duduk di deretan bangku ini. Biasanya, Kak Ares duduk di kursi yang berhadapan dengan Papa. Ini pasti karena semalam, Kakak ipar udah memberikan seluruh jiwa.dan raganya untuk Kak Ares dan Kak Ares pun begitu. Ah! So sweet ya, Ma, Pa! Benar begitu kan, Kak Hana?"


Hana menoleh ke Nancy dan hanya bis mengulas senyum ke Nancy dengan rona malu di wajahnya dan langsung merasa canggung di depan semuanya.


Ares langsung berdeham, lalu berucap, "kakak akan tambahin uang saku harian kamu. Jadi, jangan jahil sama Kakak ipar kamu, oke?"


"Deal!" Pekik Nancy diiringi gema tawanya Elizabeth dan Christian Laco.


"Ma, hari ini mumpung hari Minggu, Ares ajak Hana menengok Neneknya"


"Mama ikut. Sekalian Mama mau memindahkan Neneknya Hana ke rumah sakitnya Papa kamu. Boleh kan, Pa?"


Christian menoleh ke istrinya dan dengan tatapan penuh cinta, ia tersenyum mengelus mesra rambut istrinya, lalu menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Ma, Pa" Sahut Hana.


"Terima kasih apa? Ini yang seharusnya kita lakukan dari awal" Sahut Christian Laco.


Elizabeth Laco terkejut saat ia memandang wajah renta neneknya Hana. Neneknya Hana pun terkejut kala ia bersitatap dengan dua bola mata cantiknya Elizabeth Laco. Namun, mereka memilih untuk membisu.


Ares menoleh ke Mamanya dengan tanya, "Mama kenal dengan Neneknya Hana?"


"Ah! Nggak! Mama......."


"Mungkin Mama kamu pernah melihat wajah yang mirip dengan Nenek jadi, Mama kamu terkejut"


"Ah! Iya benar" Sahut Elizabeth Laco dengan mengulas senyum di wajah cantiknya.


Elizabeth Laco duduk di bangku yang tersedia di samping bed dan Ares memilih berdiri di tengah-tengahnya Hana dan Elizabeth Laco.


Neneknya Hana tersenyum ke semuanya dan berucap, "Terima kasih sudah menemani Hana ke sini. Terima kasih sudah sangat baik sama Hana dan terima kasih sudah menjaga dan menyayangi Hana saat neneknya yang sakit-sakitan ini masih harus berbaring di sini"


Elizabeth Laco berkata, "Hana pantas untuk disayangi. Bahkan sekarang ini, Hana sudah makin mesra aja sama Ares" Elizabeth menoleh ke Ares dan Ares merona wajahnya karena, malu.


Hana menoleh ke Elizabeth Laco, lalu menatap neneknya dengan senyum malu-malu.


"Benarkah begitu Hana?" Neneknya Hana menggoda Hana dengan senyum jahilnya.


"Hana ingin belajar mengasihi dan mencintai Mas Ares dengan benar, Nek"


"Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. Dan kamu baru bisa mengajarkan apa itu kasih dan cinta ke orang lain"" Neneknya Hana mengusap rambutnya Hana dan Ares yeng ikut mendengarkan nasehat dai Neneknya Hana itu, menjadi tersentuh hatinya.


Mamanya asuhnya Ares, Elizabeth Laco tersenyum bahagia melihat Hana memiliki Nenek yang baik hati dan berbudi luhur, kemudian dokter cantik dan selalu tampil elegan itu berucap, "Pantas saja, Hana tumbuh menjadi gadis yang berbudi luhur dan berhati baik karena, Hana dibesarkan oleh wanita yang sangat hebat. Kamu beruntung Hana memiliki Nenek yang hebat, kamu sangat beruntung" Elizabeth Laco memeluk bahunya Hana dan Hana memberikan senyum terbaiknya ke mama mertuanya.


"Aku juga beruntung ditemukan oleh Mama dan dibesarkan oleh Mama" sahut Ares.


Semua terkejut dengan ucapannya Ares dan secara spontan semua pasang mata tertuju ke Ares


Hana, Elizabeth Laco, dan Neneknya Hana, mematung melihat Ares meneteskan air mata.


Elizabeth Laco langsung bangkit, menghampiri putra kesayangannya dan memeluk Ares sambil berkata, "Mama juga beruntung dipertemukan dengan anak sehebat kamu"


"Aku anak produk gagal Ma. Nggak pantas untuk ditemukan oleh siapa pun. Ares sering bertanya, kenapa Area dilahirkan di dunia ini?"" Sahut Ares di tengah isak tangisnya.


Elizabeth mendorong pelan tubuhnya Ares untuk ia tatap putra tampannya itu, "Kamu itu berlian yang unik dan siapa pun yang menemukanmu akan merasa sangat beruntung. Dan kamu dilahirkan di dunia ini untuk membuat ceria hari-harinya Mama dan Papa, kamu dilahirkan di dunia ini untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi ribuan orang karena, kamu sudah berhasil mendirikan perusahaan yang berguna bagi kehidupan manusia. Dan kamu dilahirkan di dunia ini untuk Hana. Mama yakin, kamu tercipta untuk Hana dan Hana tercipta untukmu" Elizabeth mengusap air mata di wajah tampan putranya.


"Nenek setuju" Sahut Neneknya Hana sambil memberi kode ke Hana untuk bangkit dan memeluk Ares.


Hana pun bangkit dan melangkah pelan menghampiri Ares, lalu dengan ragu ia mengulurkan kedua tangannya untuk menawarkan sebuah pelukan. Ares langsung menundukkan kepalanya untuk menyandarkan kepalanya di atas dadanya Hana dan Hana langsung mendekap tubuh suaminya. Ares merasakan kehangatan dan cinta kasih yang tulus dari Hana. Ares lalu menarik diri dari dekapannya Hana untuk memeluk Hana dengan kata, "Aku juga ingin memeluk kamu supaya kamu juga merasakan kehangatan hatiku"


Hana bingung dengan maksud ucapannya Ares, namun ia merasa bahagia dipeluk oleh suaminya.


Elizabeth Laco dan Neneknya Hana bersitatap dengan senyum haru yang berbalut bahagia.


Beberapa menit berikutnya, Ares dan Hana berpisah dengan Elizabeth Laco. Elizabeth Laco memilih tinggal di kamar rawat inap neneknya Hana untuk menunggu kesiapan berkas pemindahan neneknya Hana ke rumah sakit milik suaminya. Sedangkan Hana mengajak Ares ke sebuah tempat.


"Kau mau mengajakku ke mana?"


"Berkencan"


"Hah?! Dengar! Aku tidak pernah berkencan dan aku rasa aku tidak akan menyukainya" sahut Ares sambil terus fokus menyetir.


"Lihat aja, nanti" Hana menoleh ke Ares dengan senyum lebarnya.