A Dominant

A Dominant
Aku Akan Mengejarnya



"Uwong kok aneh. Durung kenal, durung akrab, durung PDKT (pendekatan), durung pacaran, kok terus ngajak tinggal bareng sak atap" (Orang kok aneh. Belum kenal, belum akrab, belum PDKT, pacaran, kok terus ngajak tinggal bersama satu atap" Hana berucap di depannya Ares dengan wajah kesal..Hana sengaja memakai bahasa Jawa karena ia yakin, Ares nggak akan paham dengan apa yang ia ucapkan


"Kamu ngomong apa barusan? Aku nggak paham" Ares menggelengkan kepalanya di depan Hana sembari menautkan alisnya. Ares lalu menoleh ke Handoko, "Han, kau orang Jawa, kan? Terjemahkan!"


Hana tersentak kaget lalu secara spontan ia mengalihkan kedua matanya ke Hana.


Hana menoleh ke Handoko lalu menatap Handoko dengan sorot mata memelas dan wajah memohon.


Handoko menatap Hana dan bisa memahami arti dari tatapan matanya Hana. Handoko menoleh perlahan ke tuan besarnya yang masih menatapnya tajam dan menunggu kalimat terjemahan darinya. Handoko menghela napas panjang lalu berkata, "Saya tidak dengar, Tuan. Maafkan saya"


Ares mendengus kesal lalu menoleh cepat ke Hana, ""Ulangi ucapanmu dengan lebih keras! Atau terjemahkan langsung!"


"Tidak ada siaran ulang, Tuan. Terjemahannya ada di bawah Anda, Tuan" Sahut Hana dengan kesal.


Guyonannya yang diucapkan Hana dengan asal-asalan, membuat sense of humornya Ares tergelitik dan mampu membuat konglomerat muda yang selalu tampak dingin sedingin salju di kutub Utara itu, menarik bibir secara spontan dan melukis senyum lebar di wajah tampannya dan Handoko terpana melihat senyumannya Ares yang tampak alami dan sangat lebar itu karena, memang baru pertama kali bagi Handoko menemukan wajah Ares tersenyum lebar secara alami.


Hana menatap Ares masih dengan wajah kesal, lalu ia bertanya, "Apa yang saya kerjakan jika saya tinggal di apartemen Anda?" Hana menatap tajam kedua bola mata indahnya Ares dengan berlagak sok kuat dan memperlihatkan kalau ia sama sekali tidak takut dengan pria asing yang berbahaya seperti ular kobra yang sewaktu-waktu bisa menggigit dan menyemburkan racunnya. Padahal sesungguhnya seluruh tubuhnya Hana bergetar hebat.


"Menunggu" sahut Ares.


"Menunggu apa, Tuan?"


"Menunggu kamu menyetujui kontrak untuk menjadi wanitaku selama satu tahun"


"Tanpa berpacaran dan tanpa menikah?" tanya Hana.


"Hmm" Ares masih menatap Hana penuh arti karena dia sangat mengharapkan Hana menjawab iya dan bersedia tinggal di apartemennya hari itu juga.


"Lebih baik saya menjadi asisten rumah tangga Anda. Saya bisa menyapu, mengepel, memasak dan mencuci baju. Kalau itu saya mau"


"Ngawur aja! Aku sudah punya asisten rumah tangga. Aku menginginkanmu menjadi wanitaku dan..........."


Hana langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat untuk memotong kalimatnya Ares lalu berputar badan, meninggalkan Ares begitu saja, melangkah lebar menuju ke ruang tunggu di depan kamar operasi. Hana duduk di salah satu bangku kayu yang berjejer rapi di depan kamar operasi.


Tanpa Hana harapkan, Ares menyusulnya dan duduk di sebelahnya Hana, "Kenapa kau menolak permintaanku?"


Beberapa detik menunggu, Ares tidak mendengar jawabannya Hana. Kebisuannya Hana membuat Ares menoleh ke Hana dan Ares melihat Hana kembali mengatupkqn kedua tangannya dan memejamkan kedua kelopak matanya.


Ares menarik napas dalam-dalam karena kesal. Konglomerat muda nan gagah dan tampan itu kemudian bangkit dan meletakkan tas selempangnya Hana di atas kursi lalu pergi meninggalkan Hana dengan perasaan kecewa.


Handoko menghampiri Ares, "Kita pulang, Tuan?"


"Kita ke kantor saja" sahut Ares.


Handoko menatap tuan besarnya dengan perasaan sedih. Dia hapal betul tabiat tuan besarnya itu, jika kecewa maka Ares Laco akan menenggelamkan diri pada pekerjaan dan lembur di kantor bahkan bisa sampai ketiduran di kantor.


Hana membuka kedua kelopak matanya dan menghela napas lega sosok Ares sudah menghilang dari hadapannya dan tas selempangnya ada di sampingnya.


"Han, kenapa dia menolak aku? Baru kali ini ada cewek menolak permintaanku untuk tinggal bareng denganku"


"Mungkin karena waktunya terlalu lama, Tuan. Anda bilang kalau ingin tinggal dengan Non Hana selama satu tahun. Kenapa nggak tiga bulan saja Tuan, sama seperti wanita-wanita Tuan yang sebelumnya?" tanya Handoko sembari mengemudikan mobil mewahnya Ares Laco.


"Karena dia unik Han. Rambutnya yang dikepang asal-asalan, tampak sangat menarik bagiku Dia juga tampak lemah tapi, berani melawanku di awal perjumpaanku dengannya dan berani menolak pemberianku" Ares memangku kardus ponsel yang ditinggalkan Hana di jok belakang mobil mewahnya Ares.


"Lalu apa yang akan Anda lakukan, Tuan?"


"Aku akan merelakannya karena, aku tidak suka memaksa dan aku kamu tahu kan, aku tidak pernah memaksa wanita selama ini" sahut Ares.


"Anda tidak berniat untuk mencari yang lainnya?"


"Aku tidak menginginkan wanita yang lain, Han. Aku hanya menginginkan Hana Prakas" sahut Ares sambil merebahkan kepalanya ke sandaran jok mobil mewahnya.


Handoko melirik rear-mirror vision untuk melihat tuan besarnya dan Handoko hanya bisa menghela napas panjang.


Operasi yang dijalani oleh neneknya Hana berlangsung sangat lama. Hana duduk sendirian di bangku di depan kamar operasi karena, ia memang tidak memiliki teman selain Deo.


Hana terus memanjatkan doa untuk neneknya karena, ia masih yakin bahwa Allah sanggup melakukan segala perkara, dulu, sekarang dan selamanya. Kekuasaan dan kekayaan ia tidak milikki, ia hanya bisa bersandar penuh pada Kasih setia Tuhan karena, memang hanya doa yang ia miliki. Di tengah doanya, Hana menyelipkan harapan, Deo bisa merasakan kesepiannya dan Deo bisa tiba-tiba datang ke rumah sakit untuk menemui dan menemaninya.


Apa yang tak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan yang tak pernah timbul di hatinya, ia serahkan semuanya kepada Allah yang maha kuasa. Gadis yang masih berumur delapan belas tahun dengan beban hidup yang begitu berat, benar-benar tidak berdaya diabaikan oleh sang takdir.


Harapan Hana dikabulkan, Deo muncul di depannya Hana. Pemuda tampan yang sangat menyayangi Hana itu kemudian duduk dengan napas terengah-engah karena ia habis berlari kencang dari parkiran motor ke lantai satu ruang informasi lalu lanjut berlari ke lantai lima rumah sakit tersebut.


Hana menoleh terkejut kemudian mengulas senyum lega karena, masih ada seseorang yang peduli padanya dan ia lega itu adalah Deo sahabatnya.


Deo menyerahkan tas kresek yang berisi air mineral, makanan ringan dan roti ke Hana sambil berucap, "Kenapa kau tidak mengabariku kalau Nenek dibawa ke rumah sakit dan kondisinya memburuk"


"Kamu tahu dari siapa?" Hana bertanya ke Deo sambil memangku tas kresek yang Deo berikan.


"Dari tetangga kamu. Dan kamu baik-baik saja, kan?"


"Iya aku baik-baik saja. Terima kasih udah mau ke sini untuk menemaniku"


Suruhannya Ares yang Ares suruh untuk terus mengawasi Hana, memotret kebersamannya Hana dengan Deo. Lalu mengirimkannya langsung ke Ares.


Ares menatap foto Hana dengan seorang pemuda di layar ponselnya. "Han, apa pemuda ini yang ada di rumahnya Hana semalam?" Ares menyodorkan ponselnya ke Handoko


Handoko menganggukkan kepalanya.


"Apa dia pacarnya Hana?"


"Bukan Tuan. Pemuda ini sahabatnya Hana" sahut Handoko.


"Sahabat? Aku baru tahu kalau pria dan wanita bisa bersahabat? Kalau gitu, aku akan terus mengejar Hana sampai dapat. Aku tidak jadi merelakannya karena, aku nggak ingin dia dimiliki oleh pria lain" Ares menatap Handoko dengan penuh keseriusan.