
"Aku akan goreng telur dan........"
"Duduk!" Ares berucap dengan nada tegas dan sorot mata tajam.
Hana langsung terduduk di atas bangku yang ada di sampingnya.
Ares mengisi panci kecil dengan air, menaruh panci kecil itu di atas kompor dan menyalakan kompor elektriknya.
"Mas tahu cara memasaknya?" tanya Hana.
Ares hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke Hana.
"Mas marah, ya?"
Ares menggelengkan kepalanya.
"Kok diam aja dan nggak noleh ke aku, Mas?"
Ares masih belum menoleh ke Hana dan berucap, "Aku selalu fokus di dalam mengerjakan apapun dan harus sempurna. Aku sedang menunggu airnya mendidih, lalu akan aku masukkan mie keringnya ke dalam panci tepat waktu"
Hana tersenyum geli melihat tingkah seriusnya Ares yang justru tampak lucu baginya. Hana lalu berucap di dalam hatinya, dia orang yang penuh misteri. TerKadang lucu, polos, lembut, tapi lebih sering terlihat garang dan sangat menakutkan. Dan aku rasa orang seperti Ares Laco sangat langka keberadaannya di muka bumi ini karena, selama delapan belas tahun aku terlahir di dunia, aku baru menemukan satu orang yang seperti Ares Laco yaitu, Ares Laco itu sendiri, hihihihi. Hana menutup mulutnya yang terkikik geli dengan telapak tangannya.
Ares melihat jam tangannya terus dan Hana tergelitik melemparkan tanya, "Mas ada janji?"
Ares menggelengkan kepalanya.
"Kenapa menatap jam tangan terus? dan kenapa di dalam rumah masih memakai jam tangan, kan udah ada jam di dinding?"
Ares berucap, "Karena aku ingin segala sesuatunya berjalan tepat waktu" tanpa menoleh ke Hana. Tatapannya Ares masih terarah ke jam tangan merk terkenal dengan harga fantastis yang melingkar apik di pergelangan tangan kirinya itu.
"Kenapa memasak mie harus liatin jam tangan terus?"
"Tertulis di kemasannya cara memasaknya harus menunggu tiga menit setelah air mendidih dan mie dimasukkan beserta dengan semua bumbunya. Setelah tiga menit baru boleh matikan kompor dan angkat mienya dan aku tidak mau kurang sedikit aja waktunya atau lebih sedikit aja waktunya. Harus tepat semuanya" sahut Ares tanpa menoleh ke Hana.
Tuh kan, dia lucu dan aneh. Masak mie aja harus sempurna, hmm. Padahal kalau misalnya kurang mateng dikit aja, atau terlalu mateng dikit aja, nggak akan ada bedanya. Rasanya tetap sama. Batin Hana.
Ares mematikan kompor, meletakkan panci di atas meja dapur dan berbalik badan hendak mengambil mangkok, tapi Hana langsung berteriak, "Jangan pakai mangkok, Mas!"
Ares menahan langkahnya,lalu berputar badan untuk menatap Hana dengan tanda tanya besar di wajahnya.
Hana melompat dari tempat duduknya dan langsung mengambil dua garpu. Dia memberikan satu garpu ke Ares.
Ares mengernyit, "Untuk apa ini?"
"Untuk makan dong. Kita akan makan langsung dari pancinya.
"Tapi........."
"Coba dulu, Mas. Dulu aku sama Nenek sering makan berdua dalam satu wadah dan itu asyik sekaligus akan terasa hangat di kita" Hana menunduk dan mengambil mie dari dalam panci dengan memakai garpunya dan menatap Ares dan berucap, "Ayok Mas, makan! Keburu dingin mie-nya"
Ares ikutan menunduk ragu dan mengambil mie dengan memakai garpu yang ada di tangannya.
"Enak kan? Lebih enak makan berdua kayak gini kan?"
Ares menatap Hana dalam diam sambil mengunyah mie yang telah mendarat sempurna di dalam mulutnya. Dan beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Pasangan pengantin baru itu pun makan mie instant berdua, langsung dari pancinya dengan penuh canda ria dan sesekali berebut.
Ares berkata tanpa ia sadari, "Ini mie instant paling enak yang pernah aku makan"
Hana tersenyum lebar lalu bertanya, "Emangnya kapan Mas terakhir kali makan mie instant?"
"Umur berapa Mas diadopsi sama Mama Elizabeth Laco?"
"Umur lima tahun lebih"
"Berarti, Mas, udah lama banget dong nggak makan mie instan"
"Hmm. Dan ini perdana bagiku. Aku makan mie instant lagi dan itu karena, kamu"
"Maafkan aku, Mas"
"Nggak papa aku suka kok. Asal bersama denganmu, aku suka" Ares tersenyum penuh arti ke Hana dan Hana langsung menundukkan. wajahnya ke dalam panci untuk mengambil mie lagi. Ares juga melakukan hal yang sama.
Dan tanpa mereka duga, mereka menyeruput lajur mie yang sama. Mata mereka bersitatap, wajah mereka memanas dengan debaran jantung dan desir menggelitik di sekujur tubuh mereka. Mereka terus menyeruput mie instant itu dengan bibir mereka. Sampai akhirnya, lajur mie itu berakhir di ujung bibir mereka dan bibir mereka akhirnya menempel satu sama lain.
Ares menggigit mie instant yang telah masuk ke dalam mulutnya dan ia langsung memagut bibirnya Hana.
Hana langsung menelan lajur mie yang telah masuk ke dalam mulutnya tanpa ia kunyah terlebih dahulu untuk membalas ciumannya Ares.
Ares terus memagut bibir Hana dan mengajak Hana beradu lidah. Gairah mulai menguasai mereka di dalam hitungan detik dan Ares berbisik, "Siap beralih ke kamar ungu?"
Hana menganggukkan kepalanya sambil terus mencium bibir Ares.
Ares langsung memagut bibir Hana, membopong Hana dan melangkah ke lantai atas tanpa berhenti mengajak Hana berciuman.
Ares membuka pintu kamar ungu lalu menurunkan Hana di lantai kamar ungu dan memutar badan Hana untuk membelakanginya. Ares mengepang rambutnya Hana dan berkata, "Kalau kau masuk ke kamar ungu lain kali, kepanglah rambutmu!"
"Kenapa harus dikepang, Mas?"
"Karena wanita yang dikepang rambutnya, tampak lugu, polos, dan lemah tak berdaya. Aku menyukainya"
Hana hendak berputar badan namun Ares langsung memberikan perintah, "Maju dan berdirilah di antara tiang besi itu!"
Hana bergerak maju dengan langkah pelan. Ada rasa sesal di dalam hatinya karena, ia menawarkan diri untuk bermain di kamar ungu. Semua alat yang ada di kamar ungu tampak dingin dan menakutkan.
Hana laku berdiri di antara dua tiang besi yang berwarna merah kental seperti darah. Ares berdiri di depan Hana tanpa sehelai kain pun.
Kapan Mas Ares melepas semua bajunya? Tanya Hana di dalam hatinya.
Dan tanpa sadar Hana berucap, "Kau terlihat sempurna, Mas"
Tubuh Ares memang sangat tegap, atletis dengan enam otot perut menonjol indah.
Ares berucap, "Kau masih terlalu muda untuk bisa mengerti apa itu arti sempurna" Ares lalu melepas dressnya Hana dan melucuti semua kain yang membalut tubuh indah istrinya, lalu ia bertanya, "Kau percaya padaku?"
Walaupun Hana tidak memahami apa maksud dari pertanyannya Ares, ia menganggukkan kepalanya.
Ares lalu mengangkat kedua tangan Hana ke atas hingga melampaui kepalanya lalu mengikat kedua pergelangan tangan Hana dengan dasi, lalu mengaitkannya di lingkaran yang ada di atas kepalanya Hana. Ares bertanya, "Apa terlalu ketat ikatannya?"
Hana menggelengkan kepalanya dan Ares kembali bertanya, "Terasa sakit?"
Hana kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku akan memulai permainannya. Jika kau merasa nggak kuat bilang stop kalau kamu tidak bilang stop, aku akan teruskan sampai aku puas. Mengerti?"
Hana menganggukkan kepalanya.
Dan permainan pun dimulai........