
Hana berjalan bersama dengan Mirna masuk ke lantai bawah gedung pencakar langit yang memliki tulisan besar nan megah 'Graha Laco'
Handoko langsung berlari menghampiri Istri dari tuan besarnya itu, lalu segera mengajak Hana dan Mirna masuk ke lift khusus CEO dan langsung membawa Hana dan Mirna naik ke lantai paling atas gedung Graha Laco.
Di dalam lift, Handoko langsung memberi beberapa wejangan ke Hana, "Non, nanti kalau Tuan Ares menanyakan hal yang Anda tidak pahami, Anda senyum dan mengangguk saja, agar aman"
Hana menganggukkan kepalanya ke Handoko, lalu bertanya, "Apa saya melakukan suatu kesalahan, Pak Han?"
"Tidak. Tentu saja tidak. Emm, Tuan Ares hanya ingin mengenal Anda lebih dekat jadi, Tuan Ares ingin makan siang dengan Anda hari ini, Non" Sahut Handoko.
Mirna hanya diam saja dan hanya menyimak obrolannya Handoko dengan Hana.
Ting! Pintu lift terbuka dan Handoko terkejut saat ia melihat Ares Laco berdiri di depan pintu ruang kerja dan tersenyum lebar dengan wajah penuh antusias melihat Hana melangkah keluar dari dalam lift.
Hana bertanya lirih ke Handoko yang berjalan mengekornya, "Kenapa Tuan Ares menunggu saya di depan pintu? Apa benar-benar tidak ada masalah, Pak Han?"
"Nggak ada Non. Saran saya, melangkahlah lebih cepat dan hampiri Tuan Ares Laco, Non! Itu demi kebaikan kita semua yang masih hidup di muka bumi ini, Non"
Hana menuruti sarannya Handoko. Ia mempercepat langkahnya dan Ares yang melihat Hana melangkah lebar menuju ke arahnya, semakin semringah wajahnya. Ares mengira, Hana tidak sabar ingin segera bertemu dengannya.
Wulan yang ikutan berdiri di balik meja kerjanya, menatap Hana dengan sorot mata penuh tanda tanya. Wulan bertanya di dalam hatinya, Siapa gadis muda yang imut dan cantik itu? Apa dia keponakannya Tuan Ares atau sepupunya Tuan Ares?
Hana berdiri tepat di depannya Ares dan Ares langsung menggamit pinggangnya Hana dengan lengannya sambil berkata, "Apa kamu melakukan ini semua karena ingin memberikan kejutan untukku?"
Hana tidak memahami ucapannya Ares. Hana menoleh ke Handoko dan Handoko langsung memberikan kode ke Hana dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Hana mengikuti kode dari Handoko. Dia tersenyum dan mengangukkan kepalanya ke Ares.
Senyum Ares semakin lebar dan ia langsung mengajak Hana masuk ke dalam ruang kerjanya.
Handoko dan Mirna menunggu di luar.
Wulan langsung melempar tanya ke Handoko, "Pak Han, Nona muda dan cantik tadi, keponakannya Tuan Ares ya? Atau sepupunya Tuan Ares?"
"Hush! Ngawur kamu. Nona tadi adalah Istrinya Tuan Ares Laco"
Wulan terkekeh geli dan sambil mengibaskan telapak tangannya di depan Handoko, ia berucap, "Anda bercanda kan Tuan Ares tidak pernah berkencan dengan wanita manapun. Bagaimana bisa tiba-tiba menikah. Dan Nona tadi masih sangat muda"
Handoko mendelik ke Wulan dan Wulan langsung menutup mulutnya yang ternganga dan berucap, "Wow! Jadi, benar ya? Anda tidak bercanda?"
"Untuk apa aku bercanda dengan kamu? Nona tadi, namanya Nona Hana. Lain kali jika Nona Hana datang, langsung beritahukan ke Tuan Ares"
"Hana? Oh! Jadi, Nona yang barusan masuk namanya Hana?" Wulan menatap Handoko
"Panggil Nyonya!" Sahut Mirna dengan wajah kesal.
"Ah! Iya. Nyonya. Maafkan saya, Bu" Sahut Wulan.
"Dan semua hal terkait dengan Nona Hana, Nyonya besar kita. Kau tidak boleh sembrono. Tuan Ares sangat menyayangi Isttrinya" sahut Handoko.
"Hmm. Siapa lagi. Itulah kenapa aku sarankan ke kamu, jangan bertindak sembrono dengan Nyonya besar kita kalau kamu nggak ingin kehilangan pekerjaan kamu" Sahut Handoko dengan wajah serius.
"Dan jangan lupa! Panggil Nyonya Hana!" Sahut Mirna.
Wulan menganggukkan kepalanya dengan wajah serius.
Handoko lalu meninggalkan Wulan dan mengajak Mirna masuk ke dalam ruang kerjanya yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerjanya Ares Laco.
Hana duduk di sebelahnya Ares dengan terus mengingat saran dari Handoko dan mengucapkan berulang-ulang di dalam hatinya, jika aku tidak paham dengan ucapan suamiku ini, maka aku cukup senyum dan menganggukkan kepala, demi keamanan bersama.
"Kamu ternyata seorang Istri yang perhatian ya, punya inisiatif memberi kejutan ke suami kamu dengan membawa makan siang dan mengajak suami kamu makan siang bareng, di sini" Ares mencubit mesra pipinya Hana.
Hana tidak memahami maksud ucapannya Ares itu dan ia langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ah! Kau bahkan tahu restoran favoritku dan makanan favoritku. Kau bahkan pesannya couple" Ares memekik girang lalu mendaratkan ciuman di pipinya Hana.
Hana masih belum memahami ucapannya Ares dan ia kembali menuruti sarannya Handoko, tersenyum dan menganggukkan kepala sembari membuka semua kemasan makanan dan minuman yang ia bawa.
Hana melihat kening Ares memerah saat ia menoleh ke Ares, "Mas! Kening kamu kok merah seperti ini? Kenapa?"Hana mengelus pelan keningnya Ares dan meniup kening itu pelan-pelan.
Wajah Ares menunduk dan memerah dengan hati yang hampir meledak saking bahagianya menerima perhatian dari Alba. Ares lalu berkata dengan masih menundukkan wajahnya karena, Hana masih mengelus dan meniup pelan keningnya, "Apa kau juga bisa merasakan saat keningku membentur meja?"
Hana menurunkan wajahnya dari keningnya Ares. Hana dan Ares bersitatap. Hana kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya karena, ia belum bisa memahami ucapannya Ares yang kesekian kalinya.
Ares lalu mencium keningnya Hana, "Aku nggak nyangka aku sepenting itu bagi kamu"
Hana tersenyum, lalu berucap sembari merogoh tasnya, "Aku akan oleskan salep anti memar ke keningnya Mas. Aku selalu bawa salep anti memar di tasku"
Ares langsung menautkan alisnya, "Kenapa kamu selalu membawa salep memar di tas kamu? Apa kamu sering mengalami memar?"
"Aku kan dulu, setiap hari hanya tidur selama empat jam saja sehari, Mas. Aku harus sekolah, berjualan nasi uduk, merawat Nenek, dan bekerja di sore hari. Pulang kerja masih harus belajar. Jadi, ya ngantuk dan secara nggak sengaja karena kantuk berat, Kepalaku, kalau nggak kaki atau tangannya, sering membentur sesuatu" ucap Hana sembari mengoleskan salep anti memar ke keningnya Ares dengan lembut.
Ares menatap Hana dengan sorot mata sendu. Lalu ia memeluk Hana, "Aku akan kasih kamu waktu tidur sebanyak-banyaknya"
Hana menarik diri dari pelukannya Ares sambil berkata, "Kita harus makan, Mas. Makanannya keburu dingin dan Mas harus kerja lagi kan, setelah ini"
Ares tersenyum, mengusap kepalanya Hana lalu ia membuka mulutnya di depan Hana.
"Kenapa buka mulut, Mas?"
"Keningku berdenyut nyeri setelah kamu oleskan salep. Jadi, otakku males memberikan perintah ke tanganku untuk makan"
"Oh! Minta disuapi? Bilang aja langsung Mas, kenapa harus pakai puisi segala"
Ares meringis, "Aku ingin ngetes kepintaran kamu. Bisa nggak kamu memahami maksudku"
Hana menyuapi Ares dengan senyum dan gelengan kepala.