A Dominant

A Dominant
Berdesir



Hana mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya dan ia langsung bangun saat kedua kelopak matanya terbuka lebar dan ia berada di dalam kamar yang belum pernah ia jumpai. Hana secara refleks menunduk untuk mengecek bajunya dan ia menghela napas lega, dress berwarna hitam bermotif bunga sakura m dengan panjang selutut masih dibalut blazer putih dan semua kancingnya masih utuh.


Hana memegang kepalanya yang terasa sedikit pening sembari turun dari tas ranjang yang sangat besar, Kokoh terbuat dari besi berkualitas tinggi, dan bergaya klasik itu.


Hana berdiri di atas lantai marmer yang sangat dingin dan langsung celingukkan mencari sepasang sepatu sneakers berwarna putih dan akhirnya ia menemukan sepasang sepatu kesayangannya itu di ujung tempat tidur. Hana segera memakai sepatunya karena, kakinya sudah tidak bisa mentolerir lagi dinginnya lantai marmer di kamar mewah itu.


Hana berdiri sambil melepas blazer putih panjangnya dan meletakan blazer itu di atas kasur, ia mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling kamar itu dan bergumam, "Pemilik kamar ini memiliki selera yang sangat bagus" sembari melangkah pelan menuju ke pintu. Hana membuka pintu berukiran naga dan bermodel geser itu dengan pelan. Lalu mengambil jalan ke kiri karena, jalan ke kanan adalah jalan buntu dan hanya ada sebuah wastafel di sana.


Hana melangkah pelan dan bertanya-tanya di dalam hatinya, rumah siapa ini?


Deg! Dada Hana langsung berdetak kencang saat ia bersitatap dengan Ares yang tengah duduk di depan meja makan besar berbentuk bundar dan terbuat dari kayu jati berlapis marmer.


Ares tersenyum, "Sudah bangun? Kemarilah!"


Hana mematung dan dadanya semakin kencang berdetak, deg, deg, deg, deg! Ia bergumam lirih, "Kenapa ada Mas Ares di sini?"


Ares berdiri dan berkata, "Apa kau ingin aku menghampirimu dan membawamu ke sini dengan rangkulanku dan....."


Hana langsung menggelengkan kepalanya kemudian berlari kecil dan bergegas duduk di depannya Ares dengan wajah tegang.


Ares duduk kembali di kursinya dan menatap Hana dengan penuh tanda tanya, "Kau kenapa? Apa yang kau rasakan? Kenapa kau pucat?"


Hana menggelengkan kepalanya dan langsung berkata dengan nada gugup, "A...aku tidak apa-apa, Mas"


"Kamu takut sama aku? Aku nggak akan apa-apain kamu dan......."


"Kenapa Mas membawaku ke sini? Rumah siapa ini?"


"Ini rumah kita, Hana. Aku membelinya untuk kita. Aku pikir kamu tidak menyukai tinggal di kondominium, jadi aku putuskan untuk membeli rumah ini ........"


"Untuk kita? Apa maksud Mas dengan kita?"


"Kita itu, aku dan kamu, Hana. Kita" Sahut Ares dengan wajah semringah. Dia sangat senang akhirnya bisa duduk berdua saja dengan Hana dan memiliki banyak waktu untuk mengobrol berdua saja dengan Hana.


"Kenapa, jadi ada kita di antara kita, mas? Dan kenapa Mas membawaku ke sini?" Hana mulai bersedekap dengan wajah kesal.


"Karena bagiku, kita tetaplah kita selamanya dan aku membawamu ke sini karena, aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Banyak yang harus aku bicarakan denganmu, Hana. Dan aku sangat merindukanmu" Sahut Ares dengan wajah serius penuh dengan cinta berbalut kerinduan dan kedua bola mata birunya tidak berhenti memotret kecantikannya Hana.


Hana menjadi kelu melihat Ares terus menatapnya dengan pandangan mata yang tidak biasa dan seketika itu juga ia menjadi canggung. "Ehem!" Hana berdeham di tengah kecanggungannya dan memilih untuk bertanya, "Siapa yang memasak makanan sebanyak ini?" alih-alih merespons ucapannya Ares yang telah membuat hatinya kalang kabut tidak karuan.


"Aku yang memasak semuanya. Makanan ini semuanya adalah makanan kesukaan kamu, kan, dan kamu belum makan siang, tadi. Cicipilah, keburu dingin makanannya!" Ares berkata dengan wajah semringah dan penuh dengan cinta.


"Sejak kapan, Mas bisa memasak?"


"Sejak dua jam yang lalu, hehehehe" Sahut Ares


"Dan Mas, belum mencicipinya?" Hana bertanya dengan kerutan di keningnya.


Hana mengambil piring dan sendok. Lalu ia mengambil satu centong nasi goreng, secuil omelet, satu sendok capcay, dan dua potong semur daging sapi, di atas piringnya lalu menatap Ares, "Aku akan mulai mencicipinya"


"Iya, cicipilah!"


Hana memasukan satu sendok nasi goreng dan langsung melotot.


"A....ada apa?"


Hana langsung mengambil tissue dan memuntahkan nasi goreng di dalam mulutnya ke dalam tissue lalu berkata, "Nasinya keras banget, Mas. Belum tanak nasinya"


"Hah!? Padahal aku pikir udah benar memasaknya" Ares menyendok nasi goreng dan langsung mengambil tissue dan melepehnya ke dalam tissue lalu berucap, "Kau benar. Nasinya belum tanak. Maafkan aku"


"Dan capcay-nya hambar, omeletnya terlalu asin, daging sapinya masih keras. Mas kurang lama merebus daging sapinya"


Ares mencicipi semua masakannya dan langsung mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Maafkan aku"


Hana terkekeh geli dan seketika itu juga rasa canggung dan ketegangan di hatinya mencair.


Hana lalu berucap, "Nggak papa, Mas. Masih bisa diperbaiki kok, masakannya. Dan aku akan perbaiki semua makanan kacau balau ini, sekarang" Hana segera bangkit sembari membawa nasi goreng lalu memasukkan semua nasi goreng ke rice cooker bercampur dengan nasi putih yang terlihat masih belum matang sempurna.


Hana lalu mencepol asal-asalan rambut panjang bergelombangnya dan menonaktifkan rice cooker. Ia bergegas mengiris bawang putih, bawang merah, dan cabai lalu ia tumis sebentar, kemudian ia masukkan tumisan bumbu itu ke dalam rice cooker, ia aduk rata, ia tambahkan air sesuai takaran lalu ia nyalakan kembali rice cooker dan menekan tombol cooking.


Kemudian Hana mengambil capcay dan omelet, mengiris omelet dan mencampurkannya ke capcay dengan tumisan bawang putih dan ia tambahkan sedikit garam dan gula. Dia mainkan spatulanya sebentar dan meletakkan campuran capcay dan omelet ala Hana di atas piring saji. Dan terakhir ia mengambil panci berisi semur daging sapi, dia tambahkan air, bumbu dasar yang sudah ia blender, dan ia masukkan semua sisa santan yang ada laku memasak semur daging sapi itu.


Hana tersenyum dan berucap, "Beres semuanya. Kita tinggal nunggu nasi bumbu dan semur sapinya matang"


Grab! Tangan Ares memeluk pinggangnya Hana dari belakang. Hana tersentak kaget dan mematung saat Ares langsung memutar badannya dan ia berhadapan dengan Ares.


Keduanya saling pandang dengan hati berdesir.


Ares menarik pinggangnya Hana hingga tubuh mereka menempel dan berucap, "Kau sempurna, Hana. Kau tahu, kau paling seksi saat kau memasak dan kau sangat menggoda dengan rambut cepol asal-asalan kayak gini" Ares mengelus pipinya Hana dengan punggung tangan kanannya dengan napas menderu.


Hana tidak kuasa melepaskan diri dari jerat a dominan yang masih sangat kental terasa di dirinya Ares. Sikap a dominan yang selalu menguasai membuat pertahanan Hana luluh lantak saat itu.


Ares memberikan senyuman yang lembut dan tulus untuk membuat situasi menjadi lebih menyenangkan dan Hana merasa nyaman.


Ares mengerang lalu menarik tengkuknya Hana dan ia sapu bibir Hana secara perlahan, menangkup pipi Hana dengan tangan kanannya, memiringkan sedikit kepalanya ke kiri, membuka mulut Hana dengan pelan, lalu memejamkan mata. 


Hana memejamkan mata dan menikmati ciumannya Ares yang berasa sangat romantis itu.


A dominant yang masih menyimpan naluri 'menguasai' permainan itu, mencoba untuk membelai pipinya Hana dengan telapak tangan kanannya menarik dressnya Hana dengan lembut agar tubuhnya Hana semakin mendekat. Kemudian, Ares memeluk erat Hana seraya mengelus punggungnya Hana sambil terus mencium pujaan hatinya itu.


Hati keduanya terus berdesir dan debaran jantung mereka berdua menguasai kesunyian di dapur bersihnya Ares. Indah terasa indah bagi kedua sejoli itu.