
"Kenapa kamu nggak masuk ke kamar kamu? Istri kamu menunggu kamu dari tadi, Wintang!" Mamanya Wintang berteriak kencang karena, Wintang mengabaikannya.
Wintang menggenggam erat handle pintu kamarnya yang berbentuk bulat, lalu menoleh ke mamanya dengan wajah lelah, "Aku tidak pernah meminta untuk dinikahkan dengan wanita itu. Kalau Mama kasihan padanya karena ia selalu tidur sendirian di kamar selama tiga bulan menjadi Istriku, maka Mama saja yang menemaninya tidur" Wintang lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Mamanya Wintang hanya bisa berkacak pinggang dan menghela napas panjang melihat tingkahnya Wintang. Mamanya Wintang lalu melangkah ke pintu kamar yang sejatinya adalah kamar pengantinnya Wintang, namun sepertinya harus berubah fungsi menjadi kamar tamu. Mamanya Wintang berdiri di depan pintu itu lalu mengetuknya.
Seorang wanita cantik, dengan tinggi semampai, rambut lurus hitam yang senada dengan warna kedua bola matanya itu membukakan pintu dan berdiri di depan mamanya Wintang, "Ada apa, Ma?"
"Maafkan Wintang. Wintang masih belum bisa menemani kamu tidur malam ini. Tapi, Mama janji, besok Mama akan membujuk Wintang atau Mama akan cari cara agar Wintang mau tidur di kamar ini bersama denganmu dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami"
Wanita itu tersenyum getir dan berucap, "Saya mengerti Kok, Ma. Saya akan terus bersabar menunggu Mas Wintang karena, saya sangat mencintai Mas Wintang"
Mamanya Wintang mengelus pipi menantunya dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Maafkan Mama! Mama hanya menginginkan keturunan dari Wintang dan Mama ingin anaknya Wintang lahir dari rahim kamu karena, Mama hanya memercayaimu dan Mama hanya menyayangimu"
"Saya juga sangat menyayangi Mama. Saya akan terus bersabar, Ma"
Nora tersenyum lebar ke mama dan papanya yang telah menunggunya di ruang keluarga.
Hana langsung menarik Nora untuk duduk di sampingnya dan sambil mengusap rambut indahnya Nora, Hana berucap, "Kamu sudah berumur dua puluh tahun, kenapa belum bawa seorang cowok pun ke rumah untuk dikenalkan ke Mama sama. Papa?"
Ares langsung mendelik ke Hana, "Apa-apaan ini? Nggak! Aku nggak akan biarkan cowok model apapun masuk ke rumah ini dan........"
"Tuh! Papa aja kayak gitu, Ma. Mana ada cowok yang berani masuk ke rumah ini untuk berkenalan dengan Mama dan Papa" Nora langsung menyusupkan wajah cantiknya ke dada Mamanya sambil merengut.
Hana langsung menepuk bahunya Ares dan mendelik, "Kalau kamu kayak gitu terus, putri cantik kamu ini akan sendirian di dunia ini"
"Kamu lucu banget sih, Istriku sayang. Mana mungkin Nora sendirian di dunia ini, kan, ada aku sama kamu?" Ares mencebikkan bibirnya lalu bersedekap.
"Kita nanti akan pergi, Mas. Semua ada masanya. Pas kita pergi menghadap sang Khalik, siapa yang akan menemani Nora, nanti?" Hana lalu menghela napas panjang.
Ares langsung menepuk keningnya dan memekik kencang, "Astaga! Kenapa aku nggak pernah berpikiran seperti itu, ya? Kamu bener banget, Hana. Kalau gitu, besok kamu kumpulkan beberapa temen cowok kamu dan suruh mereka semua menghadap Papa. Papa akan menilai mereka, memilih satu yang terbaik untuk kamu dan ........"
Plak! Hana kembali memukul bahunya Ares.
"Aduh! Sayang, kenapa suami kamu yang sangat tampan ini kamu pukuli terus?"
Nora menegakkan badan dan langsung tergelak geli melihat ekspresi polos papa tampannya.
Hana mendelik ke Ares, "Memangnya kamu akan adakan kontes apa kok ngumpulin temen cowoknya Nora? Huufffttt, emangnya putriku ini nggak cantik, nggak laku, sampai harus kayak gitu?"
"Lho, bukan gitu. Aku cuma ingin cepet-cepet Carikan temen untuk Nora, Sayang, tapi aku juga harus menilainya secara langsung. Kalau aku nggak oke, maka Nora nggak boleh kencan dengan cowok itu" Ares merengut di depannya Hana.
Hana terkekeh geli lalu mengusap pipi suami tampannya dan berkata, "Kita serahkan saja ke Nora, oke?"
"Iya deh. Tapi, tetap aja cowok itu harus kamu bawa ke Papa dulu. Papa ingin menilainya"
"Iya Papaku sayang" Nora bangkit, memeluk papanya, mencium kedua pipi papanya, lalu berbalik badan dan berlari riang menuju ke kamarnya.
"Eh! Mama kok nggak dicium?!" Hana menyemburkan protes dan Ares langsung bangkit dan membopong Hana dan dengan berlari kencang menuju ke kamarnya ia berbisik di telinganya Hana, "Urusan mencium Mamanya, sudah Nora serahkan ke Papanya"
Ares kembali berbisik di telinganya Hana, "Aku senang kamu masih bisa merona malu karena, aku"
Hana semakin menyusupkan wajahnya di dada Ares. Ares semakin mempercepat laju larinya untuk segera sampai di kamarnya.
Keesokan harinya, Wintang sarapan dengan dilayani oleh istrinya. Mamanya Wintang pergi keluar kota untuk mengurus pembukaan cabang baru klub malamnya. Istri yang tidak pernah Wintang harapkan kedatangannya, namun tidak bisa ia tolak itu, terpaksa Wintang hormati kehadirannya. Karena, di saat ia menolak permintaan mamanya untuk memperistri wanita pilihan mamanya, mamanya menyayat nadi dan hampir mati kehabisan darah. Maka dengan sangat berat hati, Wintang akhirnya menyetujui permintaan mamanya.
Jenar Ayu, nama istrinya Wintang, adalah putri dari sahabat baiknya mamanya Wintang. Di saat sahabat baiknya itu meninggal dunia, mamanya Wintang langsung menjalankan pesan terakhir dari sahabatnya itu, yakni, menikahkan Jenar Ayu dengan Wintang.
Jenar Ayu adalah wanita lugu, pendiam, kaku, dan walupun cantik, tapi Wintang sama sekali tidak tertarik.
Seperti biasanya, Wintang sarapan dengan istrinya dalam diam. Setelah selesai, Wintang bangkit dan berkata singkat, "Aku berangkat"
Jenar Ayu mencium punggung tangannya Wintang dan menganggukkan kepala dengan senyum cantiknya.
Wintang bekerja sebagai dosen di pagi sampai sore hari dan jam lima sore, dia membantu mamanya mengurus klub malam milik mamanya. Dan Jenar Ayu yang hanya lulusan SMK, tidak diijinkan oleh mamanya Wintang untuk bekerja. Mamanya Wintang meminta Jenar Ayu menjadi ibu rumah tangga, memasak dan membersihkan rumah.
Nora pergi ke salah satu Universitas swasta untuk rapat dengan para investor karena, Graha Laco juga menanam saham di bidang pendidikan.
Nora melangkah tergesa-gesa dengan sesekali berlari kecil dengan high heelsnya karena, rapat akan dimulai sepuluh menit lagi padahal ia masih berada di parkiran mobil.
Tiba-tiba ada suara klakson motor, bim, bim! dari arah belakang. Nora langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
Wintang yang memakai helm open face, langsung bisa memamerkan deretan gigi putihnya ke Nora dan berkata, "Hai! Nggak nyangka takdir sangat baik padaku. Kita bisa bertemu lagi secepat ini"
Nora merona malu dan berdiri dengan canggung di depan Wintang.
Wintang tersenyum lebar lalu berkata, "Sepertinya kamu sedang tergesa-gesa saat ini Naiklah ke motorku! Aku akan antarkan kamu ke........"
"Ke gedung F" Nora berucap sembari tersenyum lebar dan berlari kecil untuk naik ke motornya Wintang
Wintang langsung menarik gas motornya dan sampai di depan gedung F hanya dalam waktu kurang dari lima menit saja.
Nora berdiri sejenak di depan motornya Wintang dan Wintang secara spontan merapikan rambutnya Nora yang kusut karena terpaan angin. Nora tertegun dan Wintang langsung menarik tangannya dari rambutnya Nora sambil berkata "Maaf"
"Oh" Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya Nora.
Wintang mengulum bibir menahan geli lalu berucap, "Sepertinya kau harus segera masuk ke dalam. Aku akan menunggumu di sini untuk mendapatkan traktiran makan siang darimu karena, aku udah mengantarkanmu ke sini dengan cepat dan aman"
Nora langsung tertawa senang dan dengan canggung sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinganya, Nora berucap, "Oke. Aku akan keluar satu jam lagi. Tunggu, aku, ya?"
Wintang tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya, lalu berkata, "Masuklah! Aku akan setia menunggumu"
Nora melangkah masuk ke dalam gedung F dengan langkah mundur sambil terus melambaikan tangannya ke Wintang.
Wintang membalas lambaian tangannya Nora dengan senyum lebar dan rona malu di wajahnya.