
Ares Laco terus mengunci rapat bibirnya di pertemuan perdananya dengan pria yang dikenalkan Nora kepadanya sebagai kekasihnya Nora. Ares menikmati makan siangnya sambil terus menancapkan tatapan tajamnya ke pria ganteng, berkulit sawo matang dan berkepala plontos yang duduk di depannya dengan kikuk.
Hana hanya bisa melirik suaminya dan menghela napas panjang kemudian bersikap ramah untuk mengusir suasana canggung yang ada di acara makan siang bersama dengan kekasihnya Nora Laco.
Nora pun beberapa kali menghela napas panjang melihat papanya yang sama sekali tidak mau berbasa-basi dengan Wintang Devoss.
Ares menutup makan siangnya dengan meletakkan kedua sikunya di atas meja, menautkan tangannya di depan dagu dan berucap, "Aku memang tidak berbasa-basi. Aku akan menyelidiki latar belakang kamu terlebih dahulu sebelum aku menyetujui hubungan kalian berdua"
Wintang Devoss menganggukkan kepalanya Ares Laco dan sambil berkata, "Silakan, Om! Tidak ada yang saya sembunyikan"
Ares mendelik ke Wintang, "Aku pamit" Ares langsung bangkit berdiri. Hana langsung mengikuti langkah suaminya. Ares berhenti di depannya Nora untuk mencium keningnya Nora, lalu berkata, "Papa akan menyelidikinya dan kamu harus berhati-hati sebelum kita tahu siapa dia yang sebenarnya"
Hana langsung menarik lengannya Ares sambil berkata ke Wintang, "Maafkan Papanya Nora. Kami pamit"
Wintang tersenyum ramah ke Hana lalu berkata, "Hati-hati di jalan, Om, Tante"
Nora dan Wintang kembali duduk di kursi mereka dan Nora yang sudah sangat tergila-gila dengan Wintang, menoleh ke Wintang, menggelungkan lengannya di lengan atasnya Wintang, menyandarkan kepalanya di bahu Wintang dan berkata, "Begitulah Papaku. Maafkan, ya?!"
Wintang mengelus rambutnya Nora dan berkata, "Wajar jika Papa kamu bersikap seperti itu. Itu tandanya, Papa kamu, sangat mencintai dan menyayangi kamu"
"Iya itu benar. Papa sangat mencintai dan menyayangiku sejak aku masih bayi. Terkadang lebay dan malah membuatku merasa sesak karena, nggak bisa bebas bergerak. Tapi, makin ke sini aku menyadari kalau Papa sangat mencintai dan menyayangiku"
"Dan kamu beruntung memiliki kedua orangtua yang sangat mencintai dan menyayangimu" Wintang berucap dengan masih mengelus mesra rambut indahnya Nora Laco.
Wintang menunduk dan dia berinisiatif mencium rambutnya Nora Laco. Wintang kemudian memejamkan kedua matanya saat hidungnya dimanjakan dengan wangi rambutnya Nora Laco yang beraroma murumuru butter (berasal dari Amazon) dan bulgarian rose, membuat Wintang mengumpat kesal karena, gairahnya timbul karena wangi segar nan seksi yang merebak indah di rambutnya Nora Laco.
Nora bisa merasakan tangan Wintang sedikit bergetar di bahunya dan Nora langsung mendongak untuk bertanya, "Ada apa?"
Wajah Nora dan Wintang berjarak sangat dekat. Wintang yang sudah tidak bisa menahan gairahnya lagi, mencium bibirnya Nora dengan penuh perasaan dan sedikit menuntut.
Nora mengikuti permainan ciumannya Wintang dengan agresif dan berinisiatif menyusupkan lidah di antara bibirnya Wintang. Wintang mengerang frustasi dan langsung menarik bibirnya untuk menempelkan keningnya di keningnya Nora sambil berucap dengan napas terengah-engah, "Kita hentikan sampai di sini saja! Jika kita lanjutkan, aku takut aku akan kebablasan dan........"
Nora mengerjapkan kedua kelopak matanya sebanyak dua kali saat ia mendengar ucapannya Wintang. Lalu ia berkata dengan posisi kening masih menempel di keningnya Wintang, "Kau tidak keberatan jika kita ingin menunjukkan a Dominant yang ada di diri kita"
Wintang mendekap erat tubuh rampingnya Nora dan membenamkan hidungnya di wangi segar rambutnya Nora, lalu berkata di sana, "Apa kau yakin kalau a Dominant kamu bisa menang dari a Dominant yang ada di dalam diriku?"
Wintang menciumi pucuk kepalanya Nora untuk mereguk sebanyak-banyaknya wangi segar nan seksi di rambutnya Nora, kemudian berkata, "Kau yakin? Kita belum menikah dan ........"
"Kita sudah dewasa. Aku udah dua puluh tahun dan kamu dia puluh lima tahun. Sudah punya SIM, singkatan dari Surat Ijin Menyatu, jadi aku rasa nggak masalah"
Wintang terkekeh geli mendengar singkatan SIM ala Nora Laco. Lalu ia tersentak kaget saat Nora bangkit berdiri laku menarik tangannya, "Kita butuh privasi untuk menunjukkan a Dominant kita"
Beberapa jam kemudian, Nora mengajak Wintang masuk ke dalam sebuah kamar hotel berjenis president suite dan hotel itu adalah hotel milik Graha Laco.
Wintang melongo melihat kamar hotel itu. Kamar hotel yang ia masuki itu memiliki tiga ruang tidur, ruang tamu, ruang makan, area kerja yang besar, hingga kolam renang pribadi. Nora tersenyum ke Wintang yang melongo dan berkata, "Jendela kamar ini, anti peluru dan di hotel ini, hanya ada dua kamar president suite yaitu kamarku dan kamar Papaku kalau Papa dan Mama inginkan privasi"
Wintang berdecak kagum lalu berkata, "Bahkan kamar ini memiliki ruang olahraga?"
"Hmm. Kalau pas Papa dan aku tidak menggunakan kamar president suite yang ada di hotel kami ini, maka kamar ini akan disewakan ke tamu. Per malamnya, enam puluh lima juta rupiah"
"Wow! Fantastis!" Wintang kembali melongo.
"Aku akan tunjukkan sesuatu!" Nora menyentuh patung singa kecil yang ada di rak buku dan tak buku tersebut bergerak terbuka lebar dan tampaklah kamar berwarna oranye, warna dominan kesukaannya Nora Laco dan di dalam kamar tersebut terdapat ranjang yang terbuat dari besi yang sangat besar dan mewah, lalu di depan ranjang terdapat meja yang terbuat dari besi dan di atas meja panjang tersebut terdapat sebuah cambuk, sebuah borgol, dan sebuah tali yang terbuat dari plastik yang lunak dan aman jika digunakan untuk mengikat pergelangan tangan.
Nora menoleh ke Wintang, "Apa kamu juga mengoleksi barang yang sama denganku"
Wintang terkekeh geli, lalu berkata, "Koleksiku lebih variatif dan lebih ekstrem" Sahut Wintang. "Ranjangnya pun lebih unik dan aku rasa ranjang di sini kurang pas dengan ruangan ini"
"Benarkah? Aku jadi ingin melihatnya" Nora tersenyum penuh arti ke Wintang.
"Aku akan memperlihatkannya ke kamu suatu saat nanti, tapi aku rasa aku tidak akan tega menggunakan semua alat koleksiku ke kamu. Cukup alat-alat seperti ini saja yang nanti akan aku pergunakan ke kamu
Nora menggelungkan kedua lengannya di leher kokohnya Wintang dengan kata, "Aku setuju"
Wintang mengelus kedua lengannya Nora sambil bertanya, "Berapa banyak pria yang sudah melihat dan mencicipi kenikmatan di kamar oranye kamu ini?"
Nora tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya dengan kata, " Belum ada. Kamu yang pertama melihat kamar oranye aku ini"
Wintang lalu membopong Nora dan merebahkan Nora di atas ranjang mewah, lalu berkata sambil mengungkung tubuhnya Nora, "Aku sebenarnya menyukai wanita yang penurut karena wanita penurut itu tampak lemah, tampak selalu membutuhkan bantuan dan itu tampak seksi bagiku. Namun, sejak aku mengenalmu, aku lebih menyukai wanita yang dominan karena, ternyata wanita dominan itu jauh lebih seksi daripada wanita penurut dan jauh lebih menantang" Ucap Wintang sambil menyerahkan kedua pergelangan tangannya ke Nora dengan kata, "Aku submissive kamu saat ini. Borgol aku atau tali aku! Aku akan menurut kali ini"