A Dominant

A Dominant
Hati yang Gembira



Hana langsung mendorong Ares dengan keras dan Ares mendelik, "Ada apa? Apa salahku? Kenapa kamu mendorongku sekeras ini?"


"Sial! Kenapa aku selalu lemot kalau bangun tidur. Dan kenapa Mas makin ke sini makin terbiasa mencium aku tanpa ijin dariku?"


Ares meringis lalu berucap, "Itu salah kamu kenapa kamu begitu cantik, menggemaskan dan begitu menggoda"


"Dasar gila! Dan ke......kenapa aku bisa berada di sini? Perasaan kemarin malam aku, kan......."


"Aku yang memindahkan kamu ke sini. Kamu ringan banget sekarang, seringan kapas. Apa kau makan dengan benar selama tinggal di Jepang?"


"Jangan bahas soal Jepang!" Hana memekik kesal sembari melompat turun dari atas ranjang dan melangkah mundur menjauhi Ares.


"Hana! Jangan kau biasakan melompat turun dengan serampangan kayak gitu! Kamu habis pingsan kemarin, kalau kamu sampai terjatuh kan bahaya" Ares langsung bangkit dan di saat Ares hendak melangkah mendekati Hana, Hana langsung berputar badan lalu berlari meninggalkan Ares menuju ke dapur untuk memasak.


Ares meraup wajah tampannya dengan kasar lalu ia bergumam, "Oke Hana, aku akan pelan-pelan mendekatimu. Aku akan buat kamu memercayaiku lagi. Cinta itu memang butuh kesabaran tingkat dewa, Res, jadi bersabarlah, Res!" Kemudian Ares melangkah keluar dari dalam kamar menuju ke dapur menyusul Hana.


"Ada yang bisa aku bantu?" Ares bertanya sembari melihat jam di dinding dapur. Masih sangat pagi, jarum jam yang panjang masih menunjuk ke angka dua belas dan jarum jam yang pendek masih menunjuk ke angka lima.


Hana menoleh ke belakang sambil menumis bumbu nasi goreng lalu ia berkata, "Mas duduk aja. Atau mandi aja. Ada baju ganti dan itu kaos sponsor lagi, hehehe. Ada banyak kaos sponsor yang gede ukurannya. Ambil aja di lemari pakaianku"


"Kamar mandi cuma ada satu di dekat dapur, kan, bagaimana kalau untuk menghemat waktu, kita mandi bareng"


Hana langsung berkata tanpa menoleh ke belakang, "Ada kamar mandi di dalam kamarku dan kalaupun hanya ada satu kamar mandinya dan kita dikejar waktu, aku lebih memilih tidak mandi daripada harus mandi bareng denganmu. Dasar otak mesum!"


Ares tertawa riang lalu berputar badan untuk mengambil baju ganti dan mandi di dalam kamarnya Hana.


Ares mengenryit saat ia melihat pakaian dalam yang ada di dalam lemari pakaiannya Hana lalu ia bergumam, "Dia udah jadi submissiveku cukup lama dan sudah aku belikan beragam pakaian dalam yang modis dan seksi, tapi kenapa dia membeli pakaian dalam model kuno dan polos kayak gini? Hmm, kalau dia jadi istriku nanti, aku akan memiliki banyak PR,nih" Ares lalu menutup lemari pakaiannya Hana dan sambil menenteng kaos dan celana dengan merk obat untuk hewan, ia tertawa lirih dan melangkah ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Ares telah duduk di depannya Hana yang telah rapi dan wangi. Hana memakai blus kasual berwarna putih polos dipadukan celana hijau tosca slim-fit. Rambut panjangnya Hana yang sedikit kemerahan dan sedikit bergelombang, ia kucir bergaya ekor kuda di pagi hari itu


Ares memandangi Hana dengan kagum dan berkata, "Kau cantik sekali memakai setelan itu" Lalu Ares bangkit berdiri, memutari meja makan dan kedua bola matanya Hana mengikuti pergerakan Ares dan Ares berhenti di belakangnya Hana. Dia menarik ikat rambutnya Hana lalu menunduk dan berbisik di telinganya Hana, "Kamu udah cukup menggoda dengan setelan kamu maka jangan kau goda lagi laki-laki di luaran sana dengan kucir kudamu ini!" Ares lalu memasukkan kucir rambutnya Hana ke dalam saku celana pendeknya dan dengan santai ia melangkah kembali dan duduk di kursinya.


Hana mendelik ke Ares, "Kenapa Mas masih suka mengaturku? Kenapa Mas ......."


"Itu demi kebaikanmu. Kau mau digoda laki-laki di luaran sana dengan kucir kudamu yang sangat memikat tadi?"


"Aku akan tetap mengucirnya dan ......."


"Kita lakukan permainan saja. Kalau kau kalah, kau harus tetap gerai rambut kamu seperti itu seharian dan kalau aku yang kalah, aku akan ijinkan kamu mengucir rambutmu dengan gaya ekor kuda kayak tadi"


"Setuju. Dan aku yang akan memilih permainannya" Ucap Hana sembari mengunyah nasi goreng.


Ares menganggukkan kepalanya dengan senyum cerianya sembari mengunyah nasi goreng.


"Kita main tebak-tebakan aja, oke?"


Ares menganggukkan kepalanya sembari menyendok nasi goreng dan memasukan sendok itu ke dalam mulutnya.


"Aku mulai, ya?" Hanya bertanya sembari mengunyah nasi goreng.


Ares tersenyum dan sambil terus menikmati nasi goreng kreasinya Hana, ia berucap, "Oke"


"Kalimat matematikanya mengantre itu apa?" Hana tersenyum lebar menatap Ares karena ia sangat yakin, Ares tidak akan bisa menjawabnya. Tebak-tebakan itu adalah tebak-tebakan anak sekolahan yang ia dapatkan di jaman dia masih duduk di bangku SMA. Hana kemudian berkata kembali, "Pasti Mas tidak tahu. Iya, kan?"


"Lho kok tahu jawabannya, sih?" Hana langsung bersedekap dan merengut.


Ares menaik-naikkan alisnya sambil mengulas senyum bangga di wajah tampannya.


"Oke satu lagi, kalau gitu. Dan aku yakin banget, kali ini Mas nggak akan tahu jawabannya. Angka apa yang romantis?" Hana tersenyum lebar ke Ares sembari menaik-naikkan alisnya dan masih bersedekap.


"Angka dua, satu dan tujuh karena angka itu bisa menjadi berdua satu tujuan" Ares kembali menjawab dengan cepat dan dengan wajah santai.


Hana langsung menautkan kedua alisnya dan melancipkan bibir lalu berucap, "Aku nggak nyangka. Mas udah tua, jarak umur kita, kan, sepuluh tahun, tapi Mas kok bisa tahu tentang tebak-tebakan di jamanku, sih?"


Ares langsung mendelik, "Kau katakan aku sudah tua? Aku baru berumur tiga puluh satu tahun, Hana dan itu belum tua"


"Hahahahaha. Maaf, maaf. Tapi, Mas kok bisa tahu semua tebakanku padahal, kan, Mas nggak gaul, kan, dulu?"


"Aku memang nggak punya teman, nggak gaul dan suka menyendiri sejak kecil, tapi aku nggak bodoh" Ares mendelik kembali ke Hana,


Hana meringis dan sambil meminum air putihnya, ia mendorong kursinya ke belakang dan bangkit berdiri dan dengan sikap waspada ia terus menatap Ares.


"Sepertinya kau perlu aku kasih sedikit gelitikan karena kau sudah berani mengatakan aku tua dan meragukan kepandaianku. Sini kau!" Ares berucap sembari melangkah lebar, memutari meja makan untuk mendekati Hana dan Hana langsung berputar badan dan berlari kencang menuju ke teras depan rumah sambil membahanakan tawa riangnya.


Ares tertawa melihat keceriaannya Hana lalu ia menghentikan langkahnya untuk mengambil tas kerjanya Hana yang ada di atas meja makan. Ia memeriksa kelengkapan di dalamnya dan tersenyum saat ia melihat gantungan tas yang mirip dengan gantungan tasnya tergantung cantik di tas kerjanya Hana.


Ares menggelengkan-gelengkan kepalanya sembari menenteng tas kerjanya Hana ia bergumam, "Bisa-bisanya ia berlari begitu saja dan meninggalkan tas kerjanya. Ia juga melupakan ponselnya" Ares meraih ponselnya Hana yang tergeletak di meja ruang tamu lalu memasukkan ponsel itu ke dalam tas kerjanya Hana kemudian dia melangkah keluar dari dalam rumahnya Hana.


Hana langsung masuk ke dalam mobilnya dan sambil memasang sabuk pengamannya, ia melihat dari dalam mobil, Ares mengunci pintu rumahnya sembari menenteng tas kerjanya.


Ares kemudian melangkah pelan ke mobil lalu masuk ke jok kemudi dan sambil memasang sabuk pengamannya, Ares menoleh ke Hana, "Ini tas kerja kamu" Ares meletakan tas kerjanya Hana di atas pangkuannya Hana.


"Terima kasih, Mas. Ah! Ponselnya juga udah Mas masukan ke dalam tas, makasih" Hana tersenyum lebar ke Ares.


Ares masih menatap Hana dan Hana langsung bertanya, "Kenapa Masih menatapku? Ada yang aneh di wajahku?"


"Kamu nggak berubah. Dari dulu sampai sekarang, masih cantik dan Kamu masih berhutang padaku karena udah berani mengatakan aku tua dan meragukan kepandaianku. Aku akan menagihnya di waktu yang tepat, nanti" Ares mendelik ke Hana.


"Apa kata maaf aja nggak cukup, Mas?"


Ares menggelengkan kepalanya sembari mulai melajukan mobilnya.


"Oke. Aku akui kalau Mas itu memang sangat cerdas. Mas juga masih sangat tampan di umur tiga puluh satu tahun. Sekarang aku mengaku kalah. Tolong kasih tahu ke aku sekarang, Mas akan melakukan apa ke aku?"


Ares menoleh sekilas ke Hana lalu berucap, "Aku akan menagihnya, nanti. Di waktu yang tepat. Dan tidak akan memberitahukannya ke ke kamu terlebih dahulu"


"Ah! Itu curang namanya. Mana boleh begitu"


Ares terkekeh geli dan berucap sambil melirik Hana, "Kamu udah semau Gue, kan, tadi. Jadi sekarang giliranku yang semau Gue, dong. Adil, kan? Kok malah dikatain curang"


"Yeeeeaahhh! Percuma berdebat dengan kamu, Mas. Aku pasti kalah. Terserah kamu sajalah" Hana bersedekap dan menatap ke kaca jendela mobil yang ada di sebelah kirinya.


Ares kembali melirik Hana dan terkekeh geli lalu berucap, "Karena kau udah kalah, kau harus gerai rambut kamu sepanjang hari ini. Nggak boleh kamu kucir ekor kuda, lagi!"


"Iya, baiklah juragan" Hana menoleh sekilas ke Area dengan wajah kesal dan Ares melirik Hana lalu ia tertawa riang dengan hati yang gembira.