A Dominant

A Dominant
Aku Mencintainya, Ma



"Anda harus memberikan keterangan ke pers besok pagi, Tuan. Jam sepuluh dan di jam dua, Anda harus ke kantor polisi memberikan keterangan. Sebelumnya, di jam satu, Anda harus menghadiri pemakannya Nona Mellisa Lordess"


"Baiklah" Sahut Ares sambil terus mengamati giwang asing yang masih ada di dalam genggamannya.


"Dan ada lagi kejutan, Tuan" Handoko menautkan alisnya di depan Ares


"Kejutan apa?" Tanya Ares sembari memasukkan giwang pemberiannya Handoko ke dalam saku celana kainnya.


"Papa kandung Anda.Erick Allesio, sebelum kabur, ia menemui seorang tamu. Tamu itu adalah Nyonya Macarena"


"Macarena? Untuk apa Macarena menemui Erick sialan itu. Padahal sebelumnya, Macarena nggak pernah menemui Erick"


"Makanya aneh, kan, Tuan?"


"Iya. Sangat aneh. Kita harus mulai mengawasi Macarena dengan ketat"


"Siap, Tuan" Sahut Handoko.


"Baiklah. Kita pulang aja dulu. Aku kangen banget sama Hana"


"Kan, baru saja bertemu" Tanya Handoko.


"Kalau kau punya Istri, nanti, kau akan bisa merasakan nikmatnya kerinduan ini, Han. Berpisah sepuluh menit aja kau tidak akan kuat" Ares berucap sambil meletakkan tangannya di atas pundaknya Handoko.


Handoko hanya bisa tersenyum dan menghela napas panjang karena ia sudah sangat kelelahan mondar-mandir mengurus masalah yang cukup pelik di hari itu. Namun, Handoko tidak sama dengan Ares. Handoko lebih merindukan ranjang empuk dan nyamannya daripada Wulan, kekasihnya.


Setelah memasang sabuk pengamannya dan setelah Handoko melajukan mobilnya, Ares langsung menelepon Hana.


"Halo, ada apa Mas?"


"Kamu udah tidur, ya? Maaf membuatmu bangun"


"Aku belum tidur kok. Aku nggak bisa tidur sebelum Mas pulang" Sahut Hana. "Ada apa Mas nelpon aku?"


"Aku udah kangen berat sama kamu. Aku pengen denger suara kamu"


"Ya ampun, Mas. Aku kira ada apa. Mas di mana sekarang? Mas nggak papa, kan?"


"Di mobil dalam perjalanan pulang. Aku baik-baik saja kok"


"Mas pengen disiapkan apa? Teh, kopi, atau camilan?"


"Aku nggak pengen apa-apa. Aku cuma pengen meluk kamu"


Handoko menghela napas panjang mendengar tuan besarnya mulai bermanja ria.


Dan di sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah, Ares tidak mematikan sambungan teleponnya dengan Hana. Dia terus mengobrol dengan Hana dan berhenti di depan pintu kamarnya.


"Kamu coba buka pintu kamar"


"Ada apa?" Hana bangkit dan menuju ke pintu kamar lalu membukanya. Hana langsung memekik girang dan secara spontan melompat ke dalam pelukannya Ares


Ares tertawa senang dan langsung menggendong Hana lalu mengajak Hana berciuman sambil melangkah menuju ke ranjangnya.


Kemudian ia menurunkan Hana dengan pelan di atas ranjang dan langsung melakukan aktivitas liar dan panasnya, namun hanya satu ronde karena Ares merasa sangat lelah di hari itu.


Hana menyentuh alisnya Ares, lalu menyentuh buku matanya Ares yang tebal, lalu jari telunjuknya terus turun sampai di ujung hidungnya Ares dan jari telunjuknya berhenti di atas bibirnya Ares. Hana tersenyum dan bergumam, "Kenapa kau tercipta setampan dan sesempurna ini,Mas" Hana berucap sembari membetulkan letak selimutnya yang membungkus tubuhnya yang masih polos, "Kamu tahu tidak, sebenarnya aku sudah terpesona padamu sejak pertemuan pertama kita di kafe. Waktu kamu bermain piano. Tapi, sayangnya, waktu itu kamu masih Ares yang kejam dan dingin. Kamu juga ........"


"Kalau nggak berhenti mengoceh, aku akan melahapmu lagi" Ares membuka kedua kelopak matanya dan Hana langsung menarik jari telunjuknya dari atas bibirnya Ares karena terkejut.


Ares terkekeh geli, lalu bertanya, "Benarkah kau sudah terpesona padaku saat aku bermain piano di kafe?"


"Apa? Siapa yang ngomong kayak gitu?" Hana berkata dengan wajah merona malu.


"Kamu yang bilang, kan, barusan" Ares menautkan alisnya sambil mengusap punggungnya Hana yang masih polos.


"Nggak. Aku nggak bilang gitu, kok" Hana langsung menurunkan wajahnya hingga menghilang di dalam selimut.


Ares terkekeh geli dan langsung memeluk Hana dengan erat lalu berkata, "Kalau aku tidak capek banget hari ini, aku akan melahapmu lagi"


Hana berucap di dalam selimut, "Aku juga udah bobok kok ini"


"Udah bobok kok masih bersuara" Ares tertawa terbahak-bahak dan menurunkan wajahnya ke dalam selimut lalu mencium pipinya Hana dan berkata, "Tidurlah! atau mau kita lanjutkan lagi ke ronde kedua?"


dan Ares tersenyum di atas pipinya Hana.


Hana membuka kedua kelopak matanya dan langsung berkata, "Astaga!" karena kaget melihat Ares tengah menatapnya.


"Aku beruntung di setiap pagi, bisa melihat wanita paling cantik sedunia" Ares mengecup bibirnya Hana dan terus menatap Hana.


"Jangan menatapku terus, Mas. Aku malu"


Dan di saat Ares melihat rona merah di wajahnya Hana ia langsung bangun dan membopong Hana.


Hana memekik kaget, "Mas! Aku mau kau bawa ke mana?"


Ares tertawa riang lalu berlari ke kamar mandi, "Aku ingin memandikanmu"


Dan saat keluar dari dalam kamar mandi, Hana terus menundukkan wajah dan wajahnya memerah parah.


Ares tertawa melihat Hana dan ia tergelitik untuk bertanya, "Kenapa kau terus menunduk seperti itu?"


"Aku malu, Mas" Sahut Hana.


"Kenapa malu?" Ares terkekeh geli.


Hana menggelengkan kepalanya dengan cepat saat ia teringat kembali gaya baru yang Ares ajarkan padanya dan Ares langsung memeluk Hana disertai tawa renyahnya.


Hana menepuk dada bidangnya Ares dengan wajah kesal dan berkata, "Aku malu karena ternyata aku nggak ngerti apa-apa, Mas"


Ares mengecup pucuk kepalanya Hana dan berkata, "Aku bersedia mengajarimu terus"


Hana semakin malu dan menyusupkan wajahnya ke dada bidangnya Ares.


Beberapa menit kemudian, kedua pengantin baru yang belum merasa bosan untuk mengeksplorasi permainan cinta mereka itu, keluar dari dalam kamar peraduan mereka sambil bergandengan tangan dan senyum cerah ceria.


"Mas, kenapa memakai dasi itu lagi?"


"Kau masih ingat dasi ini, kan?"


Hana tersenyum, "Aku ingat. Hana lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Ares dan berbisik di sana, "Aku bersedia bermain dengan dasi ini lagi, Mas. Kalau cuma dasi, aku masih bisa menerimanya"


Ares tertegun sejenak laku menoleh ke Hana, "Kau yakin?"


Hana menganggukkan kepalanya dan sambil menatap Ares, ia berucap, "Kamu menyukai hal yang unik dan anti mainstream, maka aku akan berusaha mengimbanginya. Tapi, harus aku yang memilihnya"


Ares tersenyum senang dan ia langsung merangkul Hana sambil berucap, "Aku sangat mencintaimu. Terima kasih, Sayang" Ares lalu mencium pelipisnya Hana dan menyuapi Hana roti sandwich menu sarapan mereka di pagi hari itu.


Ares melepas Hana masuk ke dalam klinik dengan terpaksa dan ia langsung meninggalkan kliniknya Hana karena ada banyak kerjaan yang harus ia selesaikan. Dan Ares menempatkan puluhan pengawal di sekitar kliniknya Hana.


Hana menatap layar televisi saat Ares memberikan keterangan ke pers di ruang meeting Graha Laco.


"Suaminya Dokter, keren dan tampan banget, ya?" ucap Susan.


Hana menoleh ke Susan dan tersenyum lalu berkata, "Iya kamu benar"


Ares memutuskan mengajak Hana mampir terlebih dahulu ke rumah Mamanya sebelum ia meluncur ke rumahnya Macarena. Hana langsung berlari masuk ke dalam pelukan Mamanya dan berkata, "Ma, aku dan Mas Ares udah menikah lagi"


Elizabeth terperanjat kaget dan sambil memeluk Hana ia menatap Ares, "Benarkah?"


Ares tersenyum, "Benar, Ma. Dan kali ini untuk selamanya"


"Tapi, jangan kau sakiti Hana lagi!"


"Siap, Ma"


"Mas Ares udah berubah, Ma" Lalu Hana berbsisik di telinga Mamanya, "Dan aku sangat mencintainya"


Elizabeth tertawa senang dan sambil mengelus punggungnya Hana ia berucap, "Selamat untuk kalian berdua"


Macarena terus menatap Hana di acara pemakaman putrinya. Elizabeth Laco terus menatap Macarena dan ia tidak beranjak dari sisinya Hana sedetik pun begitu juga dengan Ares.


Macarena mengumpat kesal di dalam hatinya, karena rencana dia dengan Erick Allesio untuk menculik Hana di acara pemakaman putrinya terancam gagal total.