
Handoko mengarahkan pandangan matanya ke bawah sedikit untuk melihat tautan tangannya Ares di tangan Hana Prakas. Dan sekali lagi, Handoko melihat sesuatu yang tidak biasa di diri Ares sejak Hana Prakas masuk ke dalam kehidupannya Ares Laco.
Ares belum pernah menggandeng tangan, menautkan tangan, ataupun memberitahukan ke publik, wanita yang dipilih Ares untuk menjadi submissivenya.
Tautan tangan itu berasa hambar di hati dan raga Ares, namun memberikan sensasi aliran listrik di raga Hana dan membuat jantung Hana berdetak kencang. Hana belum pernah merasakan aliran listrik dan detak jantung yang kencang selama hidupnya. Itu adalah pertama kalinya.
Semoga Nyonya Hana Prakas bisa membawa perubahan positif bagi Tuan Ares Laco dan bisa menghangatkan hati Tuan Ares Laco yang sudah lama membeku. Batin Handoko sambil tersenyum, ia terus berjalan tegap di belakangnya Ares Laco dan Hana Prakas.
Hana tiba-tiba mengeluarkan suara lirih, "Kelas saya masih jauh" tanpa menoleh ke Ares karena ia merasa ridak sanggup menatap Ares dengan sensasi rasa yang luar biasa yang ia rasakan di raga dan jantungnya.
Ares melirik Hana dan berkata, "Aku sudah terbiasa dengan aktivitas fisik yang berat"
Hana bertanya dengan lirih karena keingintahuannya, "Aktifitas fisik yang berat itu yang seperti apa, Tuan?"
"Kau akan melihat salah satu dari aktivitas fisik beratku besok" Ada maksud tersirat di nada suaranya Ares yang tidak dan lebih tepatnya belum Hana bisa Hana telaah dengan baik dan tepat.
"Lalu, kapan saya bisa menengok Nenek saya?"
"Nanti sore. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, nanti sore" Sahut Ares.
Ares dan Hana saling pandang dan Hana membiarkan Ares mencium keningnya. Ares kemudian mundur selangkah untuk memandangi wajah Hana dan tanpa kata, ia lalu memutar badan dan pergi meninggalkan Hana.
Hana mematung menatap punggung Ares Laco, konglomerat muda yang telah menjadi suaminya sambil memegang keningnya. Wajah Hana merah saat ia memikirkan ciuman Ares di bibirnya, di podium, di depan banyak orang. Hana menepuk keras kedua pipinya sembari bergumam, "Aish! Apa yang kupikirkan?!" Hana berbalik ke samping dan masuk ke dalam gedung tempat di mana salah satu dari mata kuliah yang ia ambil akan segera dimulai beberapa menit ke depan.
Hana masuk ke dalam kelas dan kelasnya menjadi sangat berbeda. Tidak seperti di pagi hari sebelum sang motivator Ares Laco mengumumkan ke publik kalau dia adalah istrinya Ares Laco dan lebih parahnya lagi, Ares Laco mencium bibirnya di sana.
Hana duduk di bangku paling depan karena, memang hanya bangku itu yang tersisa. Hana beberapa kali menghela napas panjang untuk mengumpulkan akal sehat dan kesabarannya.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi di sana ada yang memiliki pemikiran buruk atas Hana dan itu tidak sedikit. Mereka menganggap Hana wanita gila harta, wanita munafik yang sok naif dengan wajah polosnya dan wanita murahan.
Namun, ada juga mahasiswa dan mahasiswi yang bersikap netral dan masih menganggap Hana sebagai teman mereka. Salah satunya adalah Sandra. Walaupun pada awalnya Sandra mengagumi Ares Laco dan ingin menarik perhatiannya Ares Laco, namun dia tidak lantas membenci Hana setelah ia mengetahui siapa Hana yang sebenarnya.
Sandra yang duduk persis di belakang bangkunya Hana, menepuk pundaknya Hana sambil berbisik, "Jangan hiraukan mereka yang tidak menyukaimu. Lebih baik punya satu teman yang tulus sama kamu kayak aku daripada punya banyak teman yang tidak tulus"
Hana tersentak kaget dan seketika itu pula ia serasa mendapatkan air segar di tengah Padang gurun. Hana lalu menoleh ke belakang dan dengan senyum tulus Hana berucap ke Sandra, "Terima kasih banyak, Sandra"
"Sama-sama. Tapi, nanti di jam istirahat, kau harus ceritakan ke aku pertemuan pertama kamu dengan Ares Laco dan seperti apa Ares Laco itu" bisik Sandra.
Hana hanya bisa tersenyum menanggapi permintaannya Sandra karena, dia tidak memiliki cerita apapun tentang Ares Laco dan perjumpaan pertamanya dengan Ares Laco tidak pantas untuk diceritakan kepada siapapun lalu, di saat jam makan siang, Mirna pasti akan membawanya makan di luar kampus dan tidak akan mengijinkan Sandra ikut masuk ke dalam mobilnya Ares Laco.
Dan Hana yang polos dan naif, akhirnya nekat menarik tangan Sandra untuk masuk ke dalam mobilnya Ares Laco tanpa mempedulikan kedua mata Mirna yang melotot ke arahnya. Mirna terpaksa masuk ke dalam jok kemudi, memasang sabuk pengamannya dan meluncur menuju ke restoran yang Ares instruksikan padanya. Ares meminta Mirna membawa Hana makan siang di restoran yang Ares tunjuk di jam makan siang.
Mirna langsung melongok ke rear mirror vision dan memberikan gelengan kepala ke Hana yang juga tengah menatap rear mirror vision dan Hana kembali mengabaikan sinyal dari Mirna. Mirna meraup wajahnya dan berkata di dalam hatinya, Semoga saya bisa selamat dari hukumannya Tuan Ares, Nyonya. Saat Mirna mendengar Hana berkata, "Ares Laco itu arogan, dominan, suka sewenang-wenang dan tidak suka dibantah"
Hana terus saja mengoceh dengan santainya berbicara panjang lebar mengenai Ares Laco karena ia tidak tahu kalau di dalam mobil yang tengah membawanya ke suatu tempat, ada alat penyadapnya dan Ares bisa mendengarkan semua kata, semua kalimat, yang meluncur dari mulutnya Hana tanpa adanya rem.
Sementara itu, Ares yang tengah menikmati makan siang di ruang kerjanya seperti hari-hari biasanya, mengernyit mendengar Hana menggunjingkan dirinya dengan orang lain. "Han, kenapa ada suara wanita lain di dalam mobil yang membawa Istriku?"
"Mirna mengirimkan pesan ke saya kalau Nyonya membawa teman barunya untuk menemaninya makan siang, Tuan" Sahut Handoko.
Ares membanting sendoknya di atas piring yang ada di depannya lalu menyemburkan kekesalannya ke Handoko, "Kenapa Mirna tidak mencegahnya?"
"Karena Nyonya dengan polosnya menarik temannya masuk ke dalam mobil, Tuan. Saya akan meminta Mirna menghentikan mobilnya dan ......."
"Sssttt!" Ares menatap sambil menaruh jari telunjuknya di atas bibirnya ke Handoko saat ia mendengar Hana berkata, "Tapi, dia baik. Dia memiliki hati yang hangat aku yakin itu cuma dia belum terbiasa bersikap hangat pada orang lain termasuk pada diriku. Dia juga wangi, selalu rapi dan cerdas. Aku menyukai pria yang cerdas"
Ares tersenyum lebar mendengar pujiannya Hana lalu ia berkata ke Handoko, "Biarkan dia ajak temannya itu ke mana saja. Bilang ke Mirna, hanya temannya Hana yang itu yang boleh masuk ke mobilnya Hana"
Handoko memasukkan kembali ponselnya ke saku kemejanya sembari berkata, "Baik, Tuan"
"Apa karena Ares itu wangi, rapi, dan cerdas, kamu jatuh cinta padanya? Kamu mau diperistri olehnya?" suara temannya Hana menusuk masuk ke dalam kedua kupingnya Ares dan Ares menegang.
Dia tidak pernah mengharapkan cinta dari semua submissivenya tapi, entah kenapa ia mengharapkan kata cinta meluncur dari mulutnya Hana. Ares menegang menunggu jawabannya Hana. Tapi, dia tidak mendengarkan suaranya Hana setelah itu. Ares memukul alat canggih yang ada di sampingnya sambil menatap Handoko, "Han, apa alat ini rusak?"
"Sepertinya tidak mungkin kalau rusak, Tuan. Alat itu kan baru" Sahut Handoko.
"Tapi kenapa suara Hana tidak terdengar?"
Itu karena memang Nyonya Hana tidak menjawab pertanyaan dari temannya, Tuan. Batin Handoko.
"Han! kok malah bengong? Benerin alat ini, cepat!" Ares mulai memasang wajah kesal.
"Tapi, alatnya tidak rusak, Tuan"
"Kalau aku bilang rusak berarti rusak. Bawa alat ini ke bagian servis dan bawa balik ke sini secepatnya!" Ares mulai meninggikan suaranya.
Handoko segera menuruti perintah tuan besarnya membawa alat itu dan bergegas keluar dari dalam ruang kerja tuan besarnya daripada kena omelan dan dipotong gajinya.
Ares lalu mendorong piringnya dengan kesal dan bergumam, "Sial! Apa jawaban Hana ke temannya ya tadi? Apakah Hana mencintaiku atau tidak? Dasar alat sialan, aku beli mahal-mahal tapi, di saat genting alat itu mengkhianatiku, cih!"