
Flashback On
Sehari setelah Hana menghilang, Ares memberikan surat perceraiannya ke Elizabeth Laco di depan Christian Laco, "Hana pergi. Dia tidak nyaman dengan Ares Laco yang lama. Untuk itu aku menceriakan Hana dengan Ares Laco yang lama"
Elizabeth Laco tersentak kaget lalu berusaha untuk menenangkan hatinya yang terbakar emosi karena, Ares menceraikan putrinya. Elizabeth kemudian berusaha untuk mengulas senyum wajar di wajah lembutnya, "Apa alasannya kamu menceraikan gadis sesempurna Hana?"
Ares diam membisu. Dia hanya ingin mengatakan alasannya menceraikan Hana saat ia bertemu kembali dengan Hana.
"Res! Jawab Mama!" Elizabeth Laco mulai meninggikan suaranya dan Christian langsung merangkul bahu istri tercintanya dan berkata, "Ares mungkin ingin mengatakan alasannya secara langsung ke Hana. Benar begitu kan, Res?"
Ares menganggukkan kepalanya dengan wajah lesu karena, sudah seminggu, dia tidak bertemu dengan Hana. Dia lemas tak berdaya dan malas melakukan pekerjaan apapun.
"Lalu kenapa kau kasihkan surat cerai ini ke Mama kalau Mama dan Papa tidak boleh tahu alasan kamu menceraikan Hana?"
"Karena, aku tidak bisa menemukan Hana di mana pun. Nenek juga menghilang bersama dengan Hana. Mungkin saja Hana menghubungi Mama, Mama bisa katakan ucapanku tadi ke Hana kalau suatu hari nanti, Hana menghubungi Mama dan Mama tolong beritahukan ke Hana, kalau aku menceraikan Hana, tapi aku menunggu Hana kembali lagi. Dan jika Hana menghubungi Mama, tolong Mama kasih tahu aku, ya?!" Ares berucap sembari bangkit lalu pamit pulang dan sejak hari itu, ia tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah megah keluarga Laco Karena, sejak hari itu, Ares memilih untuk membunuh dirinya di dalam pekerjaan daripada mati karena merindu. Karena, Ares masih belum ingin mati, ia masih ingin bertemu dengan Hana"
Hana menangis menerima Faksimile dari Elizabeth Laco dan Nancy segera memeluk Kakaknya, "Yang sabar ya Kak. Kak Ares menceraikan Kakak pasti ada alasannya bukankah Kak Ares bilang ke Mama kalau Kak Ares menunggu Kakak kembali"
"Kakak masih belum ingin kembali Kakak akan kembali kalau Kakak udah berhasil lulus menjadi dokter dan Kakak bisa menunjukkan ke Ares Laco kalau Kakak bukan wanita biasa yang bisa ia permainkan dengan seenaknya" Hana berucap sembari meremas kesal surat cerai itu.
Flashback Off
"Ah! Gadis nasi uduk! Wah! Kenapa kita selalu dipertemukan dengan cara dramatis seperti ini? Tapi, bukankah ini takdir?" Setelah menutup pintu mobilnya, Leonard mengoceh tanpa henti sambil melangkah mendekati Hana. Lalu Leonard Buana berjongkok di depannya Hana untuk membetulkan tali sepatunya Hana sambil memeriksa lututnya Hana, "Ah! Lutut kamu berdarah. Aku akan obati kamu sebagai tanda maafku karena telah mengagetkan kamu dan aku hampir menabrak kamu"
"Pinggirkan dulu mobil kamu! Emangnya kamu nggak dengar suara bising klakson dan umpatan dari para pengguna jalan karena mobil kamu telah menghalangi jalan mereka?"
"Oh! hahahaha. kau benar. Duniaku teralihkan karena aku melihat bidadari yang jatuh dari kahyangan. Oke aku pinggirkan dulu mobilku" sahut Leon sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali ke para pengguna jalan yang membunyikan klakson dan melotot tajam kepadanya.
Hana masih memeluk kucing liar yang ia selamatkan lalu dengan berjalan sedikit pincang, ia melangkah kembali ke kliniknya. Hana memberikan kucing liar itu ke asistennya dengan kata, "Bersihkan kucing ini dan kasih makan!"
"Baik, Dok" Sahut asistennya Hana.
Hana kemudian mencuci tangannya sampai bersih di wastafel yang ada di belakang kursi kerjanya dan di saat ia berbalik badan untuk duduk di kursi kerjanya, pintu kliniknya terbuka dan wajah tampannya Leonard Buana tersenyum cerah ke arahnya.
Leonard menenteng kotak P3K-nya yang mewah, berbentuk koper mini berwarna putih dan kemasan P3K yang seperti itu, di seluruh pelosok negeri, hanya Leon yang punya.
Leon berjalan santai memutari meja kerjanya Hana dan langsung memutar kursi kerjanya Hana yang beroda hingga menghadap ke arahnya, lalu ia berjongkok, membuka kotak P3K-nya untuk mulai mengobati lututnya Hana.
Hana terperanjat dan langsung berkata, "Hentikan! Apa yang kau lakukan?"
Leon menempelkan plester luka di lututnya Hana, menutup kembali kotak P3K-nya lalu bangkit dan tersenyum, kemudian berkata, "Selesai sudah aku bertanggung jawab atas perbuatanku" Leon kemudian berbalik badan, memutari kembali meja kerjanya Hana lalu duduk di depan meja kerjanya Hana dengan senyum cerah ceria tanpa henti.
"Hentikan senyuman aneh kamu itu! Dan kenapa kau tidak pergi? Aku mau kerja nih!" Hana mendelik ke Leon dengan sorot mata kesal.
"Apakah kau marah padaku karena, aku melamun pas mengemudi tadi dan hampir menabrak kucing dan hampir menabrak kamu"
"Kau masih saja sama. Cantik dan unik. Kamu single kan, sekarang? Apakah boleh aku mengajakmu berkencan nanti sore?" Tanya Leon dengan nada santai ala playboy tengik.
Hana langsung bangkit berdiri dengan wajah kesal, "Aku repot. Aku nggak ada waktu untuk berkencan. Dan aku harus bekerja sekarang ini Jadi, silakan Anda pergi, Tuan Leonard Buana yang terhormat"
Leonard Buana bangkit lalu mengedarkan pandangannya, "Oh! Baru sadar aku sekarang ini. kamu ternyata seorang dokter hewan dan ini klinik dokter hewan? Wah! Kau hebat Gadisku!"
"Gadisku? Siapa yang kau panggil ........."
"Aku punya anjing di rumah. Aku akan bawa ke sini nanti sore. Oke selamat bekerja, cantikku. Bye, bye!" Leonard berputar badan lalu dengan langkah santai ia berjalan keluar dari dalam kliniknya Hana.
Hana memijit pelipisnya sambil kembali duduk di atas kursi kerjanya dan bergumam, "Kenapa aku harus bertemu lagi dengan si gila itu"
Leonard lalu meluncurkan mobilnya ke Graha Laco. Beberapa jam kemudian, Leonard telah berdiri di depan meja kerjanya Ares dengan senyum lebar.
Ares mengangkat wajahnya untuk menatap Leonard Buana lalu ia bertanya, "Kau habis makan apa sih? Kok senyum terus di depanku?"
"Tebak siapa yang baru saja aku temui?" Leonard berucap masih dengan senyum cerah cerianya.
"Aku nggak mau tahu. Aku sibuk jangan ganggu aku, pergilah kau!" Ares melotot ke Leonard Buana.
"Hana Prakas. Si gadis nasi uduk. Malaikat penolongku. Aku baru saja bertemu dengannya"
Ares langsung bangkit berdiri dan berteriak kesal, "Jangan membuatku bertambah emosi dengan bualan kamu di pagi hari ini. Keluar!"
"Aku serius. Kau bertemu dengan Hana Prakas Hari ini. Aku punya fotonya. Nih!" Leonard menunjukkan foto Hana yang di ambil diam-diam saat Hana tengah berdiri di balik meja kerja.
Ares meraih telepon genggamnya Leon dan ia mengusap layar ponselnya Leon dengan tangan gemetar. Ares kemudian bergumam, "Ini beneran Hana"
Leon menarik paksa telepon genggamnya dari dalam genggaman tangannya Ares lalu berucap, "Hana adalah seorang dokter hewan sekarang ini. Dokter hewan yang baik hati, lembut dan cantik. Dia buka klinik di jalan Sadewa nomer 10, pinggir jalan besar. Kalau dari arah jalan tol, kliniknya ada di sebelah kiri"
"Terima kasih untuk informasinya. ini sangat......."
Aku kasih tahu soal Hana bukan untuk kamu, tapi untukku sendiri. Aku pikir tidak lah seru jika aku harus bersaing memperebutkan seorang cewek tanpa adanya saingan. Hehehehe"
"Dasar brengsek! Jangan ganggu Hana!" Ares langsung mencekal Kerah kemejanya Leon dan menariknya.
Leon menarik keras dirinya ke belakang dan berhasil melepaskan kerah bajunya dari cengkeramannya Ares lalu dengan santainya ia berjalan pergi meninggalkan Ares yang tengah terpaku dengan wajah geram dan kepalan tangan.
"Han! Cepat masuk!" Ares memencet tombol ruangannya Handoko dari intern phone-nya.
Handoko tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangannya Ares dengan wajah panik, "Ada apa, Tuan?"
"Kita pergi sekarang ke jalan Sadewa nomer 10!" Ares berucap sembari berlari mendahului Handoko. Handoko langsung berbalik badan dan langsung mengikuti laju larinya Ares dengan wajah bingung.