
Sesampainya di rumah sakit, tanpa Hana duga, Ares mengikuti Hana masuk ke dalam kamar rawat inap VVIP, tempat di mana neneknya Hana terbaring lemah dengan selang infus dan beberapa selang dari alat medis lainnya.
Neneknya Hana menoleh ke pintu masuk dengan senyum lebar dan tangan terentang seluas-luasnya untuk memeluk tubuh cucu kesayangannya. Hana langsung berlari masuk ke dalam pelukan hangat neneknya dan dia masih terlalu gengsi untuk mengeluarkan air mata.
Ares melihat Hana dan berkata di dalam hatinya, Apa dia mirip denganku? berhati es dan tidak punya perasaan? Aku lihat di beberapa momen seperti ini di mana biasanya seorang wanita seharusnya menangi, tapi dia tidak.
Neneknya Hana lalu mendorong tubuh Hana dengan pelan dan pandangannya melintasi pundaknya Hana, "Siapa dia?"
Hana langsung menoleh ke belakang dan menatap Ares. Gadis manis berumur delapan belas tahun itu tampak kebingungan menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh neneknya.
Ares melangkah maju, berdiri di sampingnya Hana lalu ia merangkul bahunya Hana dan berucap, "Saya yang membiayai semua biaya pengobatannya Nenek"
"Ah! Terima kasih banyak, Nak! Siapa nama kamu dan kenapa kamu merangkul cucu saya?"
Ares bersitatap dengan Hana. Hana menggelengkan kepalanya untuk mencegah Ares mengatakan yang sebenarnya karena pernikahan dia dan Ares hanya bersifat sementara saja. Dia tidak ingin neneknya tahu dan kaget lalu jantungnya bermasalah kembali dan alasan yang lainnya lagi adalah, ia tidak ingin neneknya tahu dan menjadi kecewa di kemudian hari saat tiba waktunya dia dan Ares harus mengakhiri kontrak pernikahan mereka.
Namun, Ares tersenyum di depannya Hana dan mengabaikan kode gelengan kepalanya Hana. Konglomerat muda yang memiliki wajah tampan, tapi dingin itu, akhirnya mengeluarkan kata, "Karena saya suaminya Hana" tanpa melepaskan tatapannya dari kedua bola matanya Hana.
Hana langsung menoleh ke neneknya untuk melihat reaksi neneknya dengan wajah was-was dan bersiap memencet bel untuk memanggil perawat jika neneknya mengeluarkan reaksi berlebihan yang membahayakan kesehatan.
Namun, neneknya Hana justru tersenyum lebar dan bertepuk tangan dengan penuh semangat, "Benarkah! kamu tidak berbohong kan, anak muda? Emm, Nenek belum tahu siapa nama kamu, apa pekerjaan kamu dan berapa umurmu?"
"Nenek jangan banyak bicara dulu! Nenek harus istirahat dan..........."
"Saya Ares Laco" Ares menjawab pertanyaan dari neneknya Hana sambil mempererat pelukannya di bahu Hana sebagai kode agar Hana diam dan tidak banyak bicara. "Saya berumur dua puluh delapan tahun dan bekerja sebagai.........."
"Dosen Nek. Suami Hana adalah seorang dosen" Hana berucap tanpa menoleh ke Ares karena ia bisa merasakan kalau Ares tengah menatapnya dengan tajam.
"Oh! Syukurlah kalau dosen. Nenek lega, hehehehehe. Terima kasih sudah menjaga Hana selama Nenek tiduran di sini"
Ares hanya menatap neneknya Hana dalam diam dan seperti biasanya tanpa adanya senyum di wajah tampannya.
"Kalian duduk saja! Capek kalau berdiri terus. Dan Hana, tadi Bu Sri dan tetangga kita yang lain menengok Nenek dan membawa satu keranjang besar buah-buahan. Kupaskan buah kesukaan suami kamu. Apa buah kesukaan suami kamu" Neneknya Hana yang memiliki kepribadian hangat selalu bersikap ramah kepada siapapun membuat hati Ares terasa hangat. Dia seketika itu merasa ikut menyayangi neneknya Hana.
"Jeruk" jawab Hana dan "Anggur" jawab Ares.
"Lho jawabnya bisa kompak tapi kok jawabannya beda?" Neneknya Hana mengerutkan alisnya.
Hana langsung mengulas senyum lebar ke neneknya lalu berkata, "Emm, anu Nek, Mas Ares, menyukai semua buah dan saat ini Mas Ares ingin makan anggur. Iya kan, Mas?" Hana menoleh ke Ares.
"Uhuk-uhuk!" Ares tersedak air liurnya sendiri saat ia mendengar Hana memanggilnya Mas. Dan entah kenapa, panggilan itu membuat hatinya melambung bahagia dan jantungnya berdesir aneh. Kedua rasa asing yang menggelitik dirinya itu membuat Ares menatap Hana dengan tertegun kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan-pelan.
"Nak Ares, kalau Hana keras kepalanya timbul, jewer aja nggak papa! Hana ini keras kepalanya udah tingkat dewa. Nenek tidak sanggup melawannya, hehehehe"
Ares menatap Hana dan menganggukkan kepalanya kembali dengan pelan-pelan.
"Kamu sepertinya pendiam ya? Kamu jarang tersenyum dan jarang berbicara. Kamu mengajar apa?" Neneknya Hana menatap Ares dengan sorot mata penuh keseriusan.
Hap! Hana memasukkan satu buah anggur ke dalam mulutnya Ares saat Ares membuka mulut hendak menjawab pertahanan dari neneknya Jana dan Hana yang kembali menjawab pertanyaan dari neneknya, "Mengajar hukum, Nek"
Ares mendelik ke Hana dan Hana tersenyum lebar ke Ares dengan sorot mata memohon belas kasihannya Ares.
Ares menghela napas sambil mengunyah suapan kedua buah anggur dari Hana.
Tiba-tiba ponselnya Ares berbunyi dan Ares bangkit. Tanpa pamit pada Hana dan neneknya dia bergegas keluar dari kamar VVIP itu.
Neneknya Hana menoleh ke Hana dan bertanya, "Kapan kalian menikah?"
"Baru kemarin, Nek"
"Nggak, Nek. Tentu saja nggak"
"Lalu kenapa tiba-tiba menikah?" Neneknya Hana mengerutkan dahinya yang memang sudah mulai berkerut-kerut di sana.
Hana menghela napas panjang karena ia terpaksa harus membohongi neneknya lagi. Hana menatap lekat kedua bola mata neneknya dan berkata, "Karena Mas Ares dituntut oleh keluarga dan pekerjaannya untuk segera menikah.Oleh karena itu, Mas Ares meminta Hana bersedia menikahinya. Di saat kami hendak memberitahukan ke Nenek, Nenek tidak sadarkan diri dan masuk rumah sakit"
"Oh! Syukurlah kalau begitu. Apa mertua kamu baik sama kamu?"
Hana yang belum pernah bertemu dengan orang tuanya Ares hanya bisa menganggukkan kepalanya di depan neneknya sambil berusaha mengulas senyum yang alami.
"Lalu suami kamu, dia baik padamu?"
Hana masih tersenyum lebar dan kembali menganggukkan kepalanya.
"Ah! Syukurlah. Nenek tenang sekarang kalau sewaktu-waktu, Tuhan memanggil Nenek"
"Nek! Jangan berkata seperti itu!" Hana merengut ke neneknya lalu memeluk tubuh renta neneknya dengan sangat erat.
Neneknya Hana tertawa senang dan sambil mengelus rambutnya Hana ia berucap, "Nenek doakan, kamu dan suami kamu selalu harmonis dan cepat punya momongan"
Hana menganggukkan kepalanya di dalam pelukan neneknya.
Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang. Neneknya Hana dan Hana kaget saat mereka melihat siapa yang datang. "Deo?!" Pekik Hana dengan wajah panik.
Neneknya Hana langsung berkata dengan kepolosannya, "Duduklah Nak Deo! Ke mana aja kok nggak pernah nengok Nenek?"
Deo tersenyum lebar ke neneknya Hana dan berkata, "Saya sibuk belajar, Nek. Syukurlah Nenek sudah membaik"
"Terima kasih sudah menjaga Nenek kemarin" neneknya Hana tersenyum ke Deo.
Deo berkata, "Sama-sama Nek. Emm, Deo boleh pinjam Hana sebentar?"
"Tentu saja boleh" Neneknya Hana kembali tersenyum ke Deo.
Deo langsung menarik Hana dan mengajak Hana keluar dari dalam kamar VVIP itu dan mengajak Hana berbicara di tempat yang dia pikir aman dari siapapun. Deo langsung berucap, "Kamu beneran sudah menikah?"
Hana terpaksa menganggukkan kepalanya dengan kata, "Maaf"
"Anak buah Ares Laco mengusirku dari kamar Nenek di hari pernikahanmu dengan Ares Laco dan sejak itu, aku tidak bisa menjenguk Nenek kamu lagi. Aku hampir frustasi karena aku juga tidak bisa lagi bertemu denganmu dan......."
Hana merasakan buku kuduknya merinding dan tiba-tiba ia merasakan bahunya dirangkul oleh seseorang. Hana mendongakkan wajahnya dan ia melihat wajah tampan Ares Laco tengah memberikan tatapan siap membunuhnya ke Deo.
Ares berbisik di telinga Hana, "Kau sepertinya penasaran dengan hukuman kamu ya, Nyonya Ares Laco?" Dan Ares langsung berkata ke Handoko, "Beri anak itu pelajaran dan ia langsung membopong Hana dan berbalik badan meninggalkan Deo dan Handoko.
"Tidak! Jangan sakiti Deo! Kami hanya berbicara dan kami tidak melakukan apapun"
"Aku bahkan melarangmu untuk hanya sekadar berbicara dengan lawan jenis kan, Nyonya Ares Laco?" Ares melangkah lebar dan melewati pintu kamar neneknya Hana.
Hana memekik, "Sebentar! Aku belum berpamitan dengan Nenek"
Ares mengabaikan pekikkannya Hana dan setelah sampai di depan mobilnya, dia memasukkan Hana ke dalam mobil dengan kesal dan dengan cepat ia pun masuk ke dalam mobilnya dan langsung memeluk erat bahunya Hana. "Pulang ke rumah secepatnya!" perintah Ares ke supirnya.
Hana mematung dan bergidik ngeri melihat ekspresi mengerikan dari wajahnya Ares.
Ares berucap dingin, "Aku akan mememberikan hukuman untukmu hari ini dengan sangat pantas, Nyonya Ares Laco!"
Hana merasa langit runtuh dan hidupnya akan hancur sebentar lagi.