
Amara mengabaikan pertanyaannya Wintang dan dia lebih memilih berteriak ke Stevan, "Dimana Nora Laco? Kau sudah bunuh belum anaknya si brengsek Ares Laco?!"
"Ma! Apa maksud Mama? Bunuh? Dan, Ma! Kenapa Mama nggak jawab pertanyaanku?!"
Stevan terkekeh geli dan berkata, "Dia bukan mama kandung kamu, tapi mama kandungku" Sahut Stevan dengan santainya.
Amara mendelik ke Stevan dan berteriak, "Jangan bicara sembarangan kau?!"
"Itu benar, kan, Mamaku sayang" Stevan menyeringai ke Amara.
Amara langsung menoleh ke Wintang dan ia mendapati Wintang tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Amara bergeming di depannya Wintang dan Stevan kembali berkata, "Dia memungut kamu dari panti asuhan untuk menjadi alat balas dendamnya. Ish, ish, ish! malang bener nasib kamu"
Wintang berteriak, "Benar begitu, Ma?!"
Teriakannya Wintang yang sangat keras menggelegar bak petir di siang bolong, berhasil membangunkan Nora. Nora membuka kedua kelopak matanya sambil bergumam, "Wintang? Itu suara Wintang. Dimana Wintang?" Nora mencoba untuk bangun dan duduk sebentar di atas kasur untuk meredakan pening di kepalanya.
Nora kemudian berdiri di saat pening di kepalanya mulai sedikit berkurang. Nora melangkah keluar dari dalam kamar dan menuju ke arah keributan.
Nora segera berlari saat ia melihat Stevan mengambil sesuatu di balik punggungnya. Nora langsung menendang Stevan dari belakang dan menodongkan pistol yang berhasil ia rebut dari Stevan dengan berteriak, "Jangan bergerak!"
Wintang dan Amara tersentak kaget dan menoleh ke Nora secara bersamaan.
Stevan meringis dan berkata, "Kau tidak akan pernah berani memuntahkan peluru dari pistol kecilku itu" Stevan melangkah maju dan Nora tanpa ragu menembak bahunya Stevan bertepatan dengan masuknya petugas kepolisian yang disusul dengan derap kakinya Ares Laco.
Amara, Stevan dan kelima anak buahnya Stevan yang masih pingsan, langsung dibekuk oleh petugas kepolisian.
Nora menyerahkan pistol yang dia pegang ke komandan kepolisian kenalannya Ares dan ia langsung berlari untuk menangkap tubuhnya Wintang yang limbung ke depan.
Nora terus menunggui Wintang di rumah sakit yang pingsan selama tiga hari penuh di kamar VVIP salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota itu.
Ares Laco menemui Amara di penjara. Ares geram bukan kepalang saat ia mengetahui bahwa Amara tidak pernah mengandung anaknya. Amara mengalami depresi saat Ares memutuskan hubungan Dominant dan Submissive mereka dan berhalusinasi kalau dia mengandung anaknya Ares Laco.
"Kau penipu ulung ternyata. Nggak. Kamu gila" Ares menatap tajam Amara dari balik kaca transparan yang memisahkannya dengan wanita yang menjadi gila karena terobsesi padanya.
Amara menyeringai di atas kursinya.
"Tapi, kau lupa akan satu hal. Kau berhadapan dengan Ares Laco yang lebih gila dan kejam daripada kamu" Ares melotot ke Amara, lalu ia bangkit berdiri dan meninggalkan Amara yang berteriak histeris di balik kaca transparan.
Ares duduk di dalam mobilnya, memakai sabuk pengamannya dan berkata, "Han, aku lega rencana kita berhasil tanpa melukai Nora. Kalau sampai Nora kenapa-kenapa, aku bisa dicincang sama Hana"
"Anda memang terlalu gegabah saat Anda bikin rencana menjadikan Non Nora sebagai umpan" Sahut Handoko sambil menekan pedal gas mobil sportnya Ares.
"Tapi, kamu setuju. Jadi, kalau Nora kenapa-kenapa, kamu ikutan diomelin sama Hana, enak aja kau" Sahut Ares.
"Fiuuhhhh! Untung semuanya berjalan dengan lancar dan Non Nora selamat tanpa luka apapun. Karena, Nyonya kalau marah lebih menakutkan daripada Anda, Tuan"
"Nah, bener, kan. Setuju aku soal itu. Hana kalau marah memang sangat mengerikan"
Handoko dan Ares kemudian melepas tawa mereka secara bersamaan.
"Han, ternyata permainan dominan dan submissive itu hanya bisa diaplikasikan di kehidupan pernikahan. Jika kita aplikasikan di masa berpacaran, resikonya sangat besar bahkan bisa mematikan"
"Anda benar, Tuan" Sahut Handoko.
Wintang membuka kedua kelopak matanya secara perlahan dan langsung tersenyum saat ia memiringkan kepalanya ke kanan, dia melihat senyumannya Nora.
Wintang mengangkat tangan kirinya yang tidak terpasang selang infus untuk mengelus pipinya Nora.
Nora memegang tangan Wintang lalu ia mencium telapak tangannya Wintang dengan menitikkan air mata.
Wintang bertanya dengan lemas sembari mengusap air mata di pipinya Nora, "Kenapa menangis?"
"Aku kira, aku tidak akan melihatmu lagi"
Wintang tersenyum dan berkata, "Aku cuma tergores peluru, nggak parah. Aku baik-baik saja sekrang" Wintang mengelus pipinya Nora dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan.
"Misi? Misi apa?" Wintang bertanya sambil menautkan alisnya.
"Mistletoe. Masih ada satu buah berry. Buah itu menunggu kau petik dan........"
Wintang terkekeh sembari mengusap bibirnya Nora dengan ibu jarinya lalu berkata, "Tunggu dulu, kamu sudah nggak marah sama aku?"
Nora menggelengkan kepala dengan senyum manisnya, lalu ia berucap, "Aku sudah tahu semuanya. Aku juga sudah lihat surat pembatalan pernikahan kamu dengan Istri kamu"
"Lalu, Papa kamu? Apa dia sudah menyetujui hubungan kita?"
"Kamu kan bilang, akan memperjuangkan aku di depan Papaku. Jangan-jangan kamu takut menghadapi Papaku dan ingin menyerah sekarang ini" Nora langsung melancipkan bibirnya.
Wintang terkekeh geli dan sambil terus mengusap pipinya Nora, ia berucap, "Aku akan menyelesaikan misi pribadiku sampai tuntas tanpa gentar. Kalau Papa kamu masih menolak aku, aku akan terus berjuang menunjukkan ketulusan. cintaku padamu"
"Sampai kapan?" Tanya Nora.
"Sampai Papa kamu akhirnya mau menerima aku menjadi menantunya" sahut Wintang.
"Dan jika itu memakan waktu sampai ribuan tahun?"
Wintang tergelak geli dan berucap, "Umur manusia itu nggak sampai ribuan tahun, Sayang" Wintang masih mengelus pipinya Nora.
"Misalnya"
"Aku akan tetap berjuang dan terus mencintai kamu. Hanya kamu" Sahut Wintang.
Nora tersenyum dan dia langsung mencium bibirnya Wintang. Kedua sejoli itu berciuman dengan lembut, namun ciuman itu menimbulkan gairah baru yang belum pernah mereka rasakan di ciuman-ciuman mereka yang sebelumnya.
Wintang lalu mendorong wajah Nora dengan lembut agar ciuman mereka terlepas. Wintang menangkup wajahnya Nora dan dengan napas menderu ia berucap "Untung saja kakiku masih sakit, jika tidak, aku sudah memakan kamu, Sayang"
Nora tersipu malu dan langsung menyusupkan wajahnya di dada bidangnya Wintang.
Wintang mengusap punggungnya Nora dan berkata, "Aku akan keluar dari rumah sakit sekarang. Aku ingin memetik buah berry-ku yang terakhir dan mencium kekasihku di bawah tanaman Mistletoe untuk yang terkahir kalinya, lalu menemui calon mertuaku"
Nora menepuk dadanya Wintang, "Pede bener kamu. Tunggu dulu sampai besok, kamu masih lemas saat ini"
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Nora dan Wintang pun tiba. Wintang memasang buah berry di ujung bibirnya dan Nora menggigit buah itu sampai bibir dia menempel di bibirnya Wintang. Wintang terkekeh geli dan langsung melahap bibirnya Nora dengan penuh cinta.
Ciuman mereka yang terkahir itu hampir membuat Nora dan Wintang hilang kendali. Wintang yang berhasil menguasai gairahnya, mendorong tubuh Nora dengan pelan lalu ia menggenggam tangannya Nora untuk berkata, "Kita lanjutkan gairah kita ini, nanti. Sekarang kita minta restu sama Papa kamu dulu. Papa kamu ada kan, di rumah?"
"Ada" Sahut Nora dan Nora langsung mengajak Wintang berlari masuk ke dalam rumahnya.
Wintang akhirnya duduk berhadapan kembali dengan seorang Ares Laco. Setegar apapun, lutut Wintang bergetar juga di bawah meja makan. Apalagi di saat Ares terus menatapnya dengan tajam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Saya sangat mencintai Nora, Om, Tante. Saya bersumpah demi apapun juga di dunia ini kalau saya, akan tulus dan menjaga Nora selama napas dan jantung saya masih berdetak, Om, Tante"
"Kalau Tante sih dari awal udah percaya sama kamu. Tinggal Papanya Nora ja gimana" Sahut Hana.
Ares berdeham, menegakkan badan lalu bertanya, "Apa yang kau rasakan saat ini?"
"Jujur saya deg-degan dan lutut saya lemas, Om"
"Oke. Aku menerima kamu dan memercayakan putriku ke kamu, karena dulu pas aku nikahi Hana, aku nggak pernah ngalamin deg-degan dan lulur lemas kayak kamu"
Hana langsung menepuk bahunya Ares dengan tersenyum geli.
Wintang tersentak kaget dan bertanya, "Jadi, apakah lusa, saya boleh menikah dengan Nora?"
Hana dan Ares menganggukkan kepala mereka secara bersamaan.
Setelah resmi menikah, Wintang dan Nora menghabiskan sisa waktu di hari itu, di kamar spesialnya Nora. Nora mengikat Wintang di sofa single yang menghadap ke ranjang. Kemudian, Nora merebahkan dirinya di atas ranjang dengan keadaan polos tak berbalut sehelai kain pun dan dia bermain sendiri di depannya Wintang. Wintang menggertakkan gerahamnya melihat Nora terus bermain dengan alat khusus di depannya. Wintang langsung menarik kedua tangannya ke atas dan tali yang mengikat tangannya putus dan dia dengan geram langsung melompat ke ranjang, mendekap Nora dan mengambil peran menjadi A Dominant.
...❤️❤️❤️The End❤️❤️❤️...