
Saat Ares menutup pintu private room-nya, tangan dari seorang wanita langsung menariknya masuk ke private room yang lainnya dan saat pintu menutup, Ares tersentak kaget. Bibirnya Ares dipagut oleh seseorang dan Ares didorong ke belakang sampai punggungnya membentur tembok.
"Hhhmmmppttt!" Ares mencoba bersuara saat ia melihat Macarena yang melakukan semua itu, namun bibirnya Macarena membungkam bibirnya Ares dengan sangat kuat.
Ares langsung mendorong tubuhnya Macarena dengan sekuat tenaga. Dan setelah bibirnya terbebas dari pagutannya Macarena, Ares berteriak, "Kau gila! Kenapa kau menciumku? Hubungan kita sudah berakhir, kan? Kau sudah bukan Dominanku lagi dan aku bukan Submissivemu lagi"
Macarena tersenyum sinis lalu wanita berwajah sadis itu mengusap bibirnya dengan jari jempolnya sendiri, lalu berucap, "Kau tahu kalau aku ini memang gila. Dan aku belum menyetujui perpisahan kita, kan?"
Ares mendengus kesal lalu berbalik badan hendak membuka pintu dan Macarena langsung menahan pintu dengan kaki kanannya, "Aku nggak akan membiarkanmu pergi dengan mudah sebelum kamu memuaskan aku saat ini juga dan setelah itu kau harus berjanji meninggalkan wanita culun itu"
Ares menoleh dan langsung mengernyit, "Wanita culun? Maksud kamu, Hana Istriku?"
"Iya!" pekik Macarena dengan wajah memerah karena, emosi.
Ares menurunkan kaki kananya Macarena dengan paksa sambil berucap, "Cih! Mimpilah kau!"
Ares membuka pintu private room-nya Macarena dan Macarena langsung berteriak, "Kalau kau mengabaikan aku saat ini, kau akan menyesal, Res!!!!!!"
Ares tetap mengabaikan Macarena dan melanjutkan langkahnya keluar dari private room-nya Macarena.
"Jadi, Hana Prakas adalah putri kandung saya, Bu?" Elizabeth Laco menatap lembut wajah renta neneknya Hana yang masih terbaring lemah di rumah sakit miliknya Christian Laco.
"Iya. Hana putri kandung kamu yang dibawa pergi oleh Doni karena, kamu dibawa ke luar negeri oleh orang tua kamu dan akhirnya kalian diceraikan secara paksa oleh kedua orangtua kamu. Orangtua kamu, kan, tidak pernah menyetujui pernikahan Doni dan kamu. Kamu dibawa pergi ke luar negeri setelah kamu melahirkan dan anak kamu diberikan ke Doni. Doni lalu menikah lagi dan untungnya Istri Doni menyayangi Hana seperti putri kandungnya sendiri dan kamu juga akhirnya menikah lagi. Bahkan karena trauma akan pernikahannya dengan kamu, Doni berganti nama. Jadi, Hana tidak tahu nama asli Papanya dan Hana juga tidak tahu nama Mama kandungnya"
Elizabeth Laco terhenyak lemas di kursinya. Lalu ia segera menelepon Handoko, "Han, kau bersama Ares dan Hana saat ini?"
"Tidak, Nyonya besar. Tuan Ares dan Non Hana menginap di hotel Grand Laco saat ini karena, Kondominiumnya Tuan Ares tengah direnovasi" sahut Handoko.
"Oke, terima kasih, Han" Sahut Elizabeth Laco
Dokter yang cantik, lembut dan memiliki hati yang sangat baik itu, kemudian menatap neneknya Hana, "Apakah saya boleh menemui Hana untuk menceritakan semuanya?"
Neneknya Hana tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Boleh. Tentu saja boleh. Justru Ibu senang, kamu mau menemui Hana dan menceritakan semuanya. Jadi, kalau Ibu tiba-tiba dipanggil oleh Tuhan, Hana ada yang menjaganya"
Elizabeth Laco langsung memeluk neneknya Hana dan berucap, "Ibu jangan berkata seperti itu. Saya akan menjaga Ibu dengan baik dan saya akan pastikan Ibu selalu sehat dan panjang umur"
Ares langsung menarik pergelangan tangannya Hana, "Kita harus pulang sekarang!"
Hana bangkit sambil memandangi meja makan besar di depannya yang masih menyisakan banyak makanan enak dan mahal, "Makanan ini masih banyak, Mas. Sayang kalau........"
Ares menarik Hana keluar dari dalam private room dengan berucap, "Aku akan suruh anak buahku meminta ke pemilik restoran untuk membungkusnya dan mengirimnya ke kondominiumku. Biar makanan itu dimakan kedua asisten rumah tanggaku yang ada di kondominiumku"
"Tapi, kenapa kita harus buru-buru pulang, Mas?" Hana bertanya sambil memakai sabuk pengamannya.
"Aku akan ceritakan semuanya di hotel.Kita menuju ke hotel saat ini karena, kondominiumku belum steril" sahut Ares sambil menggenggam erat kemudinya sampai buku-buku jarinya kelihatan memutih karena, ia masih kesal dengan tingkahnya Macarena.
Sesampainya di hotel, Ares segera mengajak Hana duduk dan ia mulai membuka cerita di masa lalunya, "Aku memiliki masa lalu yang sangat kelam. Itulah kenapa, aku tumbuh menjadi orang yang tidak baik. Bahkan saat aku masih remaja, aku sudah dijadikan obyek pemuas gairah wanita yang sudah berkeluarga. Aku menjadi Submissive wanita itu selama bertahun-tahun. Namun, aku sudah memutuskan hubungan terkutuk itu sejak aku menyatukan ragaku denganmu"
"Macarena" Sahut Ares.
Dan secara refleks, Hana bangkit dan mengeluarkan kata tanya, "Mas, serius?"
"Aku serius. Tapi, aku sudah memutuskan hubunganku dengannya. Aku hanya ingin belajar mengenal cinta denganmu karena, aku sangat menyukaimu"
Hana tertegun dan terus memandangi wajah tampannya Ares dan tanpa sadar, Hana terus berjalan mundur sambil berucap, "Malang benar nasibku. Biasanya pelakor itu adalah seorang wanita yang umurnya lebih muda dari Istri sah, tapi ini kenapa bisa terbalik seperti ini?" Kedua kelopak matanya Hana mulai berkaca-kaca.
Ares langsung bangkit dan berucap, "Aku mohon Hana, Jangan menangis! Aku tidak sanggup melihatmu menangis, Sayang"
Hana menghentikan langkah mundurnya. Lalu istri cantiknya Ares Laco itu mengepang rambutnya dan Ares langsung menautkan alisnya dengan mengeluarkan tanya, "Kenapa kau kepang rambutmu?"
"Hotel ini namanya Hotel Grand Laco, kan, Mas?" Tanya Hana sambil terus mengepang rambut panjang bergelombangnya yang berwarna kecokelatan karena, kurang dirawat.
Ares berdiri di depannya Hana dan konglomerat muda itu menganggukkan kepalanya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Berarti ini hotelnya Mas?"
Ares kembali menganggukkan kepalanya.
"Apakah di sini juga ada alat untuk seorang Dominan? Seperti cambuk, borgol, tali, atau yang lainnya?"
Ares mematung dan tubuhnya semakin menegang karena gairah saat ia melihat Hana berdiri di depannya dengan kepangan rambut. Lalu ia kembali menganggukkan kepalanya.
"Tunjukkan padaku saat ini juga, Mas! Tunjukkan permainannya Macarena padaku! Aku ingin lihat seperti apa permainannya Macarena sampai Mas, tidak bisa lepas dari Macarena selama bertahun-tahun"
"Tapi, sejak penyatuan raga kita, aku udah putuskan hubunganku dengan Macarena dan......"
"Tunjukkan!" Hana meninggikan suaranya dengan wajah memerah karena emosi.
"Kau yakin? Macarena bermain sangat kasar padaku karena, aku ini laki-laki. Aku bermain lembut padamu karena kamu wanita dan aku sangat menyukaimu. Aku nggak mau kamu mengalami apa yang aku alami selama aku menjadi submissive-nya Macarena, aku nggak mau.........."
"Tunjukkan padaku!" Hana mulai menggertakkan gerahamnya.
Ares lalu melangkah ke patung singa kecil yang ada di rak buku. Ia memutar patung singa itu dan rak buku itu bergerak pelan, terbuka lebar dengan pelan dan nampaklah kamar ungu yang persis sama penataan ruangannya seperti yang ada di Kondominiumnya Ares, terpampang nyata di depannya Hana.
Hana untuk sesaat tertegun karena, kaget. Kemudian, ia melangkah lebar dan bergegas masuk ke dalam kamar rahasianya Ares yang berwarna ungu. Ares lalu melangkah masuk menyusul Hana dan ia memencet tombol yang ada di tembok dan rak tersebut kembali seperti semula.
Hana berdiri di depannya Ares sambil menggigit bibir bawahnya.
Ares menggeram menahan gairahnya dan ia berucap, "Kau kepang rambut kamu dan kamu menggigit bibir kamu. Kamu tahu kan, akibatnya ke aku!"
"Lakukan saja!" Hana berteriak kesal dan Ares langsung melangkah maju, membopong Hana dan melempar Hana ke ranjangnya ............