A Dominant

A Dominant
# Season 2 # Nora Laco



Setelah tinggal di rumah sakit selama tiga hari, kondisi putri kecilnya Ares dan Hana dinyatakan sehat bugar. Hana pun dinyatakan sehat bugar dan sudah mahir memberikan ASI untuk bayinya dan sudah lihai memandikan Nora, lewat pelatihan singkat yang diberikan oleh para suster di BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) yang ada di rumah sakit miliknya Christian Laco itu. Maka, akhirnya Hana dan Nora diijinkan pulang kembali ke rumah megah mereka.


Ares pulang bersama dengan Handoko dan ia membawa Nora bersamanya. Ia terus menggendong putrinya dan menciumi wajah cantik putrinya dengan gemas sampai-sampai membuat Handoko terpaksa menoleh dan berkata dengan nada lirih, "Tuan, kalau nyium jangan keras-keras. Kalau Non Nora bangun dan minta minum, kita akan repot"


"Kenap repot?" Ares menautkan alisnya ke Handoko.


Handoko menoleh sekilas ke Ares sambil berkata, "Iya repot. Kan, Nyonya Hana tidak semobil dengan kita. Lagian kenapa Tuan malah membawa putri Tuan masuk ke sini tanpa Mamanya?"


"Aku nggak mau pisah dengan Nora sedetik pun. Dan itu salahmu kalau Hana nggak semobil dengan kita"


Handoko menoleh ke Ares, "Lho, kok jadi saya yang salah?"


"Lha iya! Kenapa kamu langsung ngegas mobil ini saat aku masuk tadi? Padahal Hana masih belum kelihatan" Ares mendelik ke Handoko.


Handoko menghela napas panjang dan berkata, "Sepertinya Non Nora calon politikus handal"


"Kok bisa kamu bilang begitu?" tanya Ares dengan wajah semringah.


"Non Nora mendengar kita berisik dan berdebat, tapi tidak terganggu dan tetap tidur dengan nyenyak" Sahut Handoko dengan senyum lebar di wajah tampan lokalnya.


Ares mencium wajah cantik putri kecilnya dan berkata, "Aku sangat menyayanginya, Han"


Hana pulang bersama dengan Papa, Mama, dan adik perempuannya.


"Nanti kalau Nora bangun dan cari kamu, gimana?" tanya Elizabeth Laco.


"Nora sudah cukup puas minumnya, Ma. Pasti aman sampai kita tiba di rumah" Sahut Hana.


Ares segera berlari masuk ke kamarnya dan merebahkan Nora di atas kasur, Ia mengelus pipi Nora dengan wajah semringah lalu berkata, "Ah, Papa sangat beruntung memilikimu, Nora!" Saking bahagianya, Ares tidak sadar meninggikan nada suaranya dan suara tingginya Ares yang tidak enak didengar oleh siapa pun itu, membuat kedua kelopak mata lentiknya Nora terbuka lebar.


"Ba! Ah, akhirnya Papa bisa melihat bola mata birunya Papa di dalam kelopak mata kamu, cantikku?" Masih belum menyadari nada tinggi suaranya membuat Nora terganggu, Ares justru semakin meninggikan suaranya dan Nora memasang wajah mewek lalu tidak menunggu lama, terdengarlah suara jerit tangis Nora yang memekakkan telinga. Ares langsung panik dan kembali merengkuh Nora ke dalam dekapannya dan langsung ia timang-timang, tapi Nora masih belum menghentikan jerit tangisnya.


Hana berlari masuk ke dalam kamar dan langsung merengkuh Nora untuk ia dekap, tapi Ares menahannya.


Hana mendelik, "Mas, kenapa ditahan?"


"Aku masih ingin menimang dan memanjakannya, Hana" Ares mendelik ke Hana.


"Mas, Nora haus. Emangnya, Mas bisa kasih minum susu ke Nora?"


Ares merengut dan dengan wajah terpaksa, ia melepaskan Nora untuk berpindah ke dekapannya Hana. Lalu ia duduk di sebelahnya Hana.


Hana menoleh ke Ares, "Kenapa masih di sini?"


"Aku masih ingin melihat wajah cantik putriku. Ah, Hana, kita sangat pandai bikin anak, ya? Andaikan kita bisa gas pol rem blong tanpa nunggu masa nifas, aku mau langsung bikin lagi"


Hana menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dan begitulah Ares Laco. Sang Dominant yang selalu arogan dan tegas pada siapa pun, tapi takluk pada Hana dan putrinya. Ares bahkan lebih takluk kepada Nora daripada Hana Ares selalu memanjakan Nora dan tidak bisa berkata tidak jika itu untuk Nora Laco, putri tunggalnya yang sangat cantik.


Dan lima tahun berikutnya, di saat Ares dan Hana ingin program hamil dan memiliki anak lagi, dokter memvonis Hana menderita mioma dan karena mioma tersebut, Hana harus dioperasi untuk diangkat kandungannya dan Hana tidak bisa memiliki anak lagi.


Alhasil, Ares Laco semakin memanjakan Nora Laco hingga Nora beranjak remaja. Tepat di usia Nora yang ketujuh belas, Ares Laco menyelenggarakan pesta sweet seventeen dengan sangat meriah dan membuat kecantikan Nora yang semakin bersinar di usianya yang ke tujuh belas tahun semakin tersebar luas dan membuat Hana kewalahan menanggapi beberapa rekan bisnis dan pasiennya yang ingin menjodohkan putra mereka dengan Nora Laco.


Namun, mereka semua harus berhadapan terlebih dahulu dengan Ares Laco karena, Ares Laco tidak mengijinkan seorang laki-laki pun mendekati Nora Laco.


Ares yang selalu memanjakan Nora, membuat Nora tumbuh menjadi wanita yang arogan. Sifat dan sikapnya sebelas dua belas dengan papanya. Hana hanya bisa mengelus dada dan menggelengkan kepalanya setiap hari melihat Nora tumbuh menjadi wanita yang arogan, namun Hana tidak bisa menyemburkan protes karena, Nora selalu berprestasi di bidang studinya dan lulus dengan nilai gemilang dari salah satu universitas nomer wahid di Amerika.


Hana membiarkan Nora menjadi karakter yang ia pilih sesuai dengan didikan papanya karena, Nora pun berhasil menjadi Presdir muda wanita pertama dan membuat bisnis papanya di Graha Laco yang bergerak di banyak bidang dan investasi itu, berkembang sangat pesat.


Nora duduk di sebuah bar di dalam sebuah klab malam untuk kalangan atas. Nora terus bersitatap dengan bartender muda yang memiliki wajah dan tubuh yang oke di mata Nora.


Di sekitar kehidupannya Nora Laco ada rumor yang cukup terkenal di kalangan kaum Adam. Nora Laco yang memiliki kesempurnaan wajah dan fisik dengan keangkuhannya, Nora Laco selalu memutuskan pria yang ia pilih untuk ia kencani dalam hitungan waktu tiga bulan saja. Setelah tiga bulan berpacaran, ia akan memutuskan laki-laki itu dengan wajah dingin dan dengan mudahnya.


Bartender tersebut mengetahui sepak terjangnya Nora dan ia juga mendengar rumor tentang Nora Laco tersebut. Untuk itulah di sela-sela kesibukannya membuat minuman untuk beberapa tamunya di petang itu, bartender tampan itu tidak pernah melepaskan tatapannya dari Nora Laco.


Nora tersenyum dan merasa tertarik pada bartender itu. Nora berkata di dalam hatinya, "Dia sangat menarik. Kebetulan aku lagi kosong. Udah beberapa Minggu aku nggak berkencan. Apa aku ajak dia berkencan? Atau aku tunggu dia dulu yang mengajakku berkencan?


Bartender itu kemudian mencondongkan wajahnya ke Nora Laco dan dengan senyum tampannya ia berkata, "Nona Nora Laco, bagaimana minuman racikan saya?"


"Kau tahu namaku?" Nora menautkan alisnya.


"Siapa yang tidak mengenal wanita secantik Anda, Nona" Bartender itu lalu meletakkan kedua sikunya di atas bar dan terus menatap Nora Laco.


"Kau dari tadi menatapku hanya karena penasaran akan rasa minuman yang kamu racik?" Nora berkata sembari memainkan jari telunjuknya di pinggir gelas koktailnya.


Bartender itu tersenyum, menggelengkan kepalanya dan berkata, "Soal minuman hanyalah modus yang saya pakai untuk mengajak Anda mengobrol, Nona manis"


Nora tersenyum lalu berkata, "Siapa nama kamu? Nggak adil, kan, kamu tahu namaku, tapi aku nggak tahu nama kamu"


Bartender itu menegakkan badan dan langsung mengulurkan tangannya sambil berkata, "Nama saya Wintang yang berarti bintang karena Mama saya orang Jawa dan Devoss yang berarti kuning kemerahan. Saya dapatkan nama Devoss karena Papa saya orang Belanda asli"


"Wah, nama kamu unik dan menarik. Sama seperti si pemilik nama itu" Nora tersenyum sambil menarik tangannya dari genggaman tangan bartender tampan itu.


Wintang mengelus kepala botaknya sambil berkata, "Yeeaah, kalau Anda suka dengan pria botak, maka saya termasuk unik dan menarik"


Nora tertawa kemudian berkata, "Aku suka selera humor kamu"


"Apa itu berarti, Anda ingin mengenal saya lebih jauh lagi?"


Nora terkekeh geli lalu menyatukan alisnya dan bertanya, "Maksudnya apa nih?"


"Apakah Anda bersedia berkencan dengan saya setelah saya meletakkan celemek bartender saya ini?"


Nora tertawa kembali dan bertanya, "Jam kerja kamu udah selesai?" Nora menutup ucapannya itu dengan senyum cantiknya


"Hmm. Saya masuk siang dan jam delapan saya sudah boleh pulang. Lalu, maukah wanita secantik Anda, berkencan dengan saya?"


Nora melebarkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya.


"Yes!" Lalu bartender itu berkata, "Temui saya di pintu depan, saya akan ganti baju dulu"


Nora bangkit dari tempat duduknya dan menganggukkan kepalanya.


Di sebuah ruangan, seorang wanita seumuran Ares Laco, tersenyum ke Wintang, "Bagus, Nak. Ajak dia berkencan dan rusak dia dan jangan jatuh cinta padanya! Dengan begini, Mama bisa membalaskan dendam Mama pada Ares Laco"


Wintang Devoss mengacungkan ibu jarinya ke mamanya


Nora berdiri di depan pintu masuk klub malam super mahal itu dengan senyum malunya. Dia tidak menyangka bartender itu yang mengajaknya berkencan. Hati Nora berdebar untuk yang pertama kalinya saat ia hendak berkencan dengan laki-laki. Dia tidak pernah merasakan debaran jantung yang seperti itu di kencan-kencannya dengan banyak pria sebelumnya.


Nora kemudian mematung dan bergumam, "Apakah kali ini, aku akan serahkan kesucianku?" Nora bergumam seperti itu karena, dia memang masih menjaga dengan baik kesuciannya walaupun dia sering berkencan dengan berganti-ganti pria.


Apakah Nora akan menyerah pada pesonanya Wintang Devoss?


Nora Laco



Wintang Devoss