
Flora sudah berdandan cantik karena saat ini dia akan jalan-jalan di sekitaran hotel bersama Liam. Flora ikut menemani Liam untuk menjadi narasumber seminar kewirausahaan yang diadakan besok di salah satu hotel yang letaknya sekitar 3 jam dari kota mereka. Mereka sengaja datang sehari lebih awal agar tidak terlalu terburu-buru. Liam mengajak Flora agar bisa sekalian liburan.Tentu saja Liam sudah memesan dua kamar berbeda, walau dulu mereka sudah pernah menikah tapi dikehidupan yang baru ini mereka bukanlah suami dan istri.
Liam masih tahu batasan diri. Dia tidak akan melakukan hal diluar batas walau dia sangat ingin untuk melakukannya.
Liam mengetuk pintu kamar kekasihnya, tak lama Flora keluar dengan penampilan yang terlihat cantik dan fresh. Liam sampai tidak bisa berkedip melihat penampilan Flora.
"Kenapa kamu cantik sekali?" Liam tidak bisa menutupi rasa kagum dan terpesonanya.
Flora menjadi tersipu malu mendengar pujian Liam yang begitu berlebihan menurutnya.
"Terima kasih" sahut Flora malu-malu.
Liam mencium kening Flora cukup lama lalu menggenggam tangannya. Dia cium tangan Flora lalu menggandengnya keluar dari hotel.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan mereka akan berjalan-jalan menyusuri jalanan sepanjang hotel.
Seperti layaknya pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta seperti itulah yang terlihat pada Flora dan Liam. Mereka bergandengan tangan sambil berbincang dan kadang-kadang tertawa bila apa yang mereka bicarakan terasa lucu.
Udara malam yang lumayan dingin pun tidak menyurutkan kebahagiaan keduanya. Kurang lebih 10 menit berjalan kaki, akhirnya mereka tiba disebuah restoran yang bernuansa romantis dengan lampu-lampu yang memenuhi seisi ruangan.
"Aku sengaja minta Ray untuk mencarikan restoran ini untuk kita. Kamu suka?" tanya Liam.
Flora pun menganggukkan kepala. Suasana di restoran ini memang begitu romantis.
Ray memang pintar menemukan restoran yang bagus. Kurang lebih 6 bulan yang lalu Samuel mengundurkan diri sebagai asisten Liam karena harus pindah ke luar negeri menemani orang tuanya yang menetap disana. Ray lah yang menggantikan Samuel. Liam pun tidak keberatan karena selain Ray adalah rekomendasi Papanya, Liam sudah pernah bekerja dengan Ray sebelumnya walau bukan dikehidupan ini. Dia sangat tahu bagaimana kinerja seorang Ray.
"Sayang...bukankah itu Anya?" tanya Flora sambil menunjuk dengan dagunya.
Liam tidak tertarik sama sekali, dia tidak menoleh dan memilih melanjutkan makannya.
"Tapi kenapa rasanya berbeda? Anya yang disini lebih tinggi. Apa dia masih bisa bertambah tinggi?" Flora bergumam.
"Kamu lupa kalau dia mempunyai kembaran?" sahut Liam masih fokus dengan makanannya.
Flora baru teringat kalau dia pernah mempunyai niatan untuk mempertemukan Anya dan kembarannya. Karena banyaknya masalah dan sibuknya dia selama dua tahun ini membuat Flora tidak sempat untuk memikirkan tentang itu.
Flora sedang berpikir bagaimana caranya untuk mempertemukan mereka.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mempertemukan mereka?" tanya Flora pada Liam. Entah kenapa otaknya seketika buntu padahal bisa saja dia mengirimkan foto kembaran Anya pada Marvel.
"Kamu foto dan kirim pada Marvel. Biar Marvel yang membereskan semuanya" saran Liam.
Flora tersenyum, merasa bodoh karena dia tidak kepikiran kesana. Sebenarnya Liam dari dulu bisa saja mempertemukan mereka karena dia tahu dimana tempat praktek kembaran Anya selama ini. Tapi kesibukannya membuat Liam tidak sempat berpikir ke arah sana. Flora juga melupakan itu semua karena masalah dan kesibukan yang dia hadapi.
Flora bangkit dari duduknya dan mencari spot yang paling tepat untuk mengambil gambar kembaran Anya. Dia harus berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan, setelahnya dia langsung mengirimkan pada Marvel.
"Semoga saja setelah ini mereka bisa berkumpul kembali" gumam Flora sambil tersenyum.
Bersambung....