
Siapa sangka 3,5 tahun sudah Liam pergi tanpa kabar, Flora baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Dia tidak mau seperti Stefan yang sampai saat ini masih pengangguran. Bekerja di perusahaan keluarga tidak mau, melanjutkan pendidikan tidak mau apalagi bekerja di tempat lain.
Dimanja sejak kecil membuat Stefan malas dan memilih berfoya-foya. Tentu berbeda dengan Flora yang memang sebelum lahir kembali di tubuh Anya, dia hanyalah gadis yatim piatu yang terbiasa hidup susah.
Saat ini Flora sudah siap dengan pakaian khas interview dengan kemeja putih dan bawahan hitamnya. Flora mendapat panggilan wawancara di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang export perhiasan. Sebenarnya bisa saja Flora bekerja diperusahaan Papanya, sayangnya dia tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis yang digeluti Ayahnya tersebut. Selain tidak tertarik kemampuannya dibidang tersebut juga masih kurang.
Papanya juga tidak pernah memaksa Flora untuk bekerja disana. Dia membebaskan putra dan putrinya untuk menekuni bidang yang diinginkan. Kadang sifat Papanya yang seperti ini juga menjadi bumerang yang membuat Stefan malas dan memilih berfoya-foya.
"Aku berangkat ya Ma, Pa" pamit Flora sambil mencium punggung orang tuanya bergantian. Flora sudah tidak diantar jemput Stefan seperti dulu. Kini dia sudah bisa mengendarai mobilnya sendiri.
"Iya hati-hati, semoga interview nya lancar ya" ucap Rina sambil mengelus lembut kepala putrinya.
Flora mengangguk sambil tersenyum kemudian bergegas menuju Pierry & Co. Salah satu merk perhiasan yang paling terkenal di kotanya. Perusahaan yang sudah mendunia dengan produknya yang digemari oleh kalangan sosialita dan artis.
Sekitar pukul 8 pagi, Flora sudah sampai disana. Sudah ada sekitar 10 orang yang mengantri interview seperti Flora. Sebenarnya kandidat sudah dihubungi dengan jam-jam yang berbeda, tapi kebanyakan ada yang takut terlambat sehingga mereka datang lebih awal.
...
Flora bernafas lega, dari kurang lebih 50 orang yang mengikuti seleksi tahap akhir dirinya menjadi salah satu yang diterima diperusahaan tersebut. Tak henti-hentinya Flora bersyukur akan hal itu. Setidaknya dia bisa meringankan beban pikiran kedua orang tuanya. Bukan beban materi tapi beban pikiran mengingat Stefan yang tidak jelas kegiatannya dan hanya foya-foya, setidaknya Flora masih bisa membanggakan orang tuanya dengan diterima di Pierry & Co.
Walau Papa dan Mamanya terlihat diam tapi Flora yakin mereka pasti kecewa dan merasa gagal karena sudah tidak becus mendidik anak hingga Stefan menjadi seperti sekarang.
Kadang Flora berpikir bagaimana kalau sampai orang tuanya bangkrut, bagaimana dengan Stefan yang sudah terbiasa hidup serba berlibihan? Apakah dia bisa menyesuaikan diri? Flora berdoa semoga Papa dan Mamanya selalu dilimpahkan rejeki dan juga kesehatan karena pada dasarnya kedua orang tuanya adalah orang tua yang baik dan terlalu menyayangi anak-anaknya hingga membuat mereka menjadi memanjakan dan menuruti semua keinginannya.
Sebenarnya Flora sudah beberapa kali membujuk Stefan untuk mau bergabung diperusahaan, setidaknya dia bisa belajar disana. Tapi Stefan sama sekali tidak peduli, dia lebih suka bersenang-senang bersama pacar dan juga teman-temannya. Semoga saja Stefan tidak terjebak dengan pergaulan bebas dan narkoba.
Bersambung...