
Nando masih membelalakkan matanya melihat pemandangan di depan sana. Mulutnya bahkan sampai terbuka lebar saking terkejutnya. Marvel yang melihat itu langsung menyikut perut Nando untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Nando terkesiap, dia menunduk malu lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Tidak lagi menghiraukan bossnya yang sedang berpelukan dengan wanita baru.
“Kita keruangan ku saja ya” ajak Liam pada Flora.
“Jangan…!!!!” Marvel tanpa sengaja berseru.
Liam mendelik pada Marvel. Dia tidak suka mendengar seruannya.
Marvel terkekeh lalu bangkit dari duduknya.
“Apa kamu mau dicap playboy dengan mengajak wanita baru? Kasihan Flora kalau sampai ada yang berpikiran buruk tentangnya” jelas Marvel yang ada benarnya juga.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Liam tidak mengerti dan membuat Marvel sampai menepuk jidatnya sendiri.
“Apa kamu lupa dengan drama yang kamu buat beberapa waktu lalu? Kalian berpelukan sambil menangis hingga Flora pingsan. Kalian lupa itu?” Marvel mencak-mencak saking kesalnya melihat ke santaian Liam.
Nando yang ada disana malah menjadi bingung dengan ucapan Marvel karena setahunya yang pingsan adalah Anya bukan gadis cantik di depannya ini.
“Semua karyawan yang melihat kejadian itu sudah mengira kalau kamu memiliki hubungan dengan Anya, dan sekarang kamu bermesraan dengan Flora. Apa tanggapan mereka tentang Flora nanti?” lanjut Marvel panjang lebar.
Flora tersenyum pada Marvel karena dia sudah memikirkan hingga kesana. Dia sendiri tidak pernah berpikir seperti itu.
“Jangan tersenyum seperti itu pada dia” tegur Liam sambil mengeratkan pelukannya.
Marvel hanya bisa menggerutu karena Liam begitu kekanakan.
“Terserah kalian saja” Marvel sudah tidak mau ambil pusing lagi karena Liam sendiri terlihat santai.
“Terima kasih karena kamu sudah memikirkan sampai kesana, tapi hidupku bukan lagi memikirkan tentang perkataan orang. Buatku adalah aku bisa terus bersama dia” balas Liam sambil mengelus puncak kepala Flora dengan penuh cinta.
Nando merasakan kepalanya tiba-tiba berputar, inginnya dia tidak memikirkan serta tidak ikut campur tapi rasa penasaran membuat dia tidak bisa seperti itu. Sudah seperti magnet yang menariknya untuk ingin tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi.
"Terima kasih ya kak sudah memikirkan tentang kami" ucap Flora dengan tersenyum manis.
"Iya, aku hanya tidak ingin orang-orang menilai buruk tentang mu" balas Marvel.
"Aku jadi iri karena waktumu selama ini lebih banyak dengan dia" ucap Liam sedikit merajuk.
Marvel memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya orang yang jiwanya sudah tua cemburu untuk hal tidak jelas.
"Ayo kita keruanganku saja.Marvel sepertinya juga banyak kerjaan" ajak Liam sambil menarik lembut tangan kekasih hatinya tersebut.
Selepas kepergian Liam, Nando mulai bertanya pada Marvel.
"Kamu mengenal gadis itu sudah lama?" tanya Nando.
"Ada mungkin empat tahunan" jawab Marvel yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Kenal dimana?" tanya Nando semakin penasaran.
"Kenapa kamu banyak tanya? Jangan naksir dia. Sudah lihat bagaimana posesifnya Alvaro" jawab Marvel tegas.
"Aku tidak naksir orang secepat itu. Aku hanya penasaran saja. Karena setahuku Pak Al menyukai Anya" jawab Nando.
"Al tidak pernah menyukai Anya. Dia hanya mencintai Flora dari dulu hingga sekarang" balas Marvel.
"Tapi waktu itu kami lihat sendiri kok kalau Pak Al mengatakan pada Anya kalau Anya itu adalah istrinya" ucap Nando tak terima.
Tapi kemudian....
Deg
Nando ingat kata-kata yang Liam ucapkan.
"Iya kamu adalah Flo, istriku".
Nando membelalakkan matanya.
"Apa saat itu Pak Al mengira kalau Anya adalah Flora yang tadi?" tanya Nando pula.
"Ya sepertinya begitu, dia rabun" jawab Marvel santai. Marvel menahan tawanya melihat expresi terkejut Nando.
"Maaf Do, tidak mungkin juga aku menceritakan yang sebenarnya. Kamu bisa menganggap kami gila" gumam Marvel dalam hati.
Bersambung...