Way Back Into Love

Way Back Into Love
Bukti



"Bagaimana?" tanya Marvel pada Nando yang saat ini masih bergelut dengan laptopnya. Saat ini mereka berdua sedang berada di bilik kerja Marvel. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi keduanya belum puas bila belum berhasil memecahkan misteri ini.


"Benar bukan Anya yang melakukannya. Tapi aku tidak bisa melacak pelaku sebenarnya. Sepertinya pelakunya adalah orang yang paham tentang IT" jawab Nando.


Marvel bernafas lega. Setidaknya ada bukti yang bisa meringankan beban Flora.


"Lalu siapa yang menghack emailku? Kamu tidak bisa melacaknya? Anya bilang aku sudah membalas emailnya" tanya Marvel pula.


"Aku tidak bisa melacaknya. Tapi memang benar ada pesan yang di hide dengan IP address Anya ke emailmu" jawab Nando.


"Siapa yang kira-kira sampai berbuat seperti ini? Bukan hanya Anya yang dirugikan tapi perusahaan hampir kehilangan kerjasama" ucap Marvel gusar.


"Aku punya kandidat. Tapi aku juga tidak bisa menuduh sembarangan. Mengingat aku tidak mempunyai bukti dan hanya berupa asumsi semata" jelaa Nando.


"Siapa?" tanya Marvel penasaran.


"Wanda dan Valeria. Kedua orang itu tidak menyukai Anya. Beberapa kali mereka menyindir-nyindir Anya karena kedekatan kalian" jawab Nando sejujurnya.


"Apa? Kenapa mereka bisa seperti itu? Anya juga tidak pernah mengatakan apapun" pekik Marvel saking terkejutnya.


"Di dunia kerja memang seperti itu, bila ada yang merasa di spesialkan maka akan dijadikan buah bibir. Itu hal yang lumrah. Makanya kamu jangan terlalu menampakkan diri kalau menyukai Anya" Nando sedikit menggoda.


Marvel hanya geleng-geleng kepala.


"Aku murni menganggapnya adik. Dia adik sahabat baikku. Dan aku juga tahu siapa pria yang dia sukai. Aku sama sekali tidak ada niatan lain. Murni sebagai kakak dan adik" jelas Marvel apa adanya.


"Ya walaupun kakak adik tapi kan tetap saja terlihat menspesialkan. Belajarlah untuk membedakan urusan pribadi dan pekerjaan. Hanya saran agar Anya juga nyaman" terang Nando pula.


Marvel mengangguk paham. Tapi dia juga sepertinya tidak menspesialkan Anya, hanya makan siang bersama setiap hari sedangkan dalam tugas dan tanggung jawab tetap saja seperti yang lain.


Nando dengan cepat menganggukkan kepala.


"Kelihatan jelas seperti itu. Apalagi dikit-dikit kamu memanggil Anya" jawab Nando berdasarkan penglihatannya.


"Padahal itu karena Anya memang pintar dan paham tentang apa yang aku tanyakan. Tapi kalau memang membuat salah paham akan aku perbaiki ke depannya" ucap Marvel. Nando menganggukkan kepala.


"Tolong kamu lacak lagi siapa kira-kira pelakunya. Agar aku bisa serahkan ke direktur yang sekarang" titah Marvel.


"Direktur yang sekarang? Memang akan ada direktur baru?" tanya Nando.


"Iya, keponakan Pak Emmron yang akan menggantikan. Besok rencananya beliau datang sekalian perkenalan" jawab Marvel.


"Sejak kapan Pak Emmron punya ponakan?" tanya Nando terheran.


Seingatnya Pak Emmron tidak memiliki sanak keluarga semenjak ditinggal istrinya meninggal dan tidak ada anak dalam pernikahan mereka.


"Ya pasti ada cuma kita tidak tahu saja" jelas Marvel.


"Kenapa harus diganti? Beliau bukannya masih empat puluh tahunan? Masih muda" tanya Nando.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Semoga saja setelah direktur diganti Pierry bisa semakin maju" ucap Marvel menimpali.


"Jadi bagaimana? Kamu belum bisa menemukan pelakunya?" tanya Marvel pula.


"Sebentar akan aku usahakan" Nando kembali bermain dengan laptopnya. Berharap pelaku segera ditemukan.


Bersambung...