Way Back Into Love

Way Back Into Love
Hanya Tersenyum



Sebelum pulang ke apartemen, Liam mengajak Flora terlebih dahulu makan malam disebuah restoran yang menyajikan menu eat clean. Sudah menjadi kebiasaan bukan hanya Flora tetapi Liam pun juga menerapkan eating clean dalam kehidupannya. Mereka tidak ingin mengulang kesalahan yang sama di masa lampau.


Samuel yang sudah terbiasa makan makanan yang pedas dan mengandung banyak micin merasa begitu terpaksa menyantap makanannya.


"Ini benar-benar penyiksaan" ucap Samuel dalam hati. Dia perhatikan kedua orang di depannya yang begitu lahap menyantap makanannya.


"Bagaimana bisa kedua orang ini begitu lahap memakan makanan hambar seperti ini?" ucapnya pula.


Samuel tak habis pikir karena ada orang yang begitu ketat menjaga pola makan seperti Liam, sejak ikut menjadi asistennya beberapa bulan belakangan ini tak sekalipun Samuel pernah melihat boss nya tersebut memakan makanan aneh. Bahkan saat rekan kerja mereka mengajak bertemu di salah satu club malam, Liam sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Liam hanya meminum air putih saja. Boss nya itu sangat memperhatikan kesehatan. Maka semakin kesini, Samuel tak heran bila Liam dulu begitu marah ketika manajemennya mengadakan mukbang makanan pedas.


"Apa lidah mereka tidak merasa aneh memakan makanan seperti ini?" Samuel bergumam dalam hati.


"Tidak enak ya?" tanya Flora yang menyadari raut wajah kecut Samuel.


Samuel tersenyum canggung.


"Enak kok" jawabnya terpaksa berbohong.


"Enak tidak enak kamu harus terbiasa" Liam menimpali.


Samuel hanya mengangguk saja dan kembali menyantap makanannya.


Selesai makan mereka keluar dari restoran dan tanpa sengaja bertemu dengan CEO shopping center. CEO tersebut mengajak Liam untuk berbincang di cafe yang tepat berada di sebelah restoran tersebut. Karena tidak ingin mengganggu perbincangan, Flora meminta ijin untuk ke toko buku yang letakknya bersebrangan dengan cafe tersebut.


Liam menyetujuinya, tapi dia yang mengantar Flora menyeberang jalan.


"Nanti biar aku yang menjemput kesini ya, jangan menyebrang jalan seorang diri" pesan Liam.


"Iya sayang" balas Flora dengan tersenyum. Liam mengecup puncak kepala Flora sebelum meninggalkan toko buku tersebut.


Setelah kepergian Liam, Flora mulai berkeliling mencari beberapa buku untuk kegiatan belajarnya. Tentu saja dia harus belajar kembali karena sudah lama sekali rasanya dia menjadi murid senior high school. Flora tidak ingin semakin tertinggal bila dia tidak belajar dengan benar.


Selesai memilih buku dan membayarnya, Flora duduk di salah satu kursi yang ada di toko buku tersebut. Tempat yang memang disediakan khusus untuk membaca buku. Flora membaca buku yang dia beli sambil menunggu Liam yang masih membicarakan bisnisnya.


Tak berapa lama, seorang pria duduk tepat di sebelah Flora.


Flora tidak menyangka akan di sapa oleh pria tersebut. Pria yang tidak lain adalah Stefan, kakak kandung dari Anya.


"Ha-Hai" balas Flora sedikit canggung.


Stefan mengulurkan tangannya.


"Aku Stefan, kakak dari Anya" ucap Stefan memperkenalkan diri.


"Aku Flora" sahut Flora.


"Dulu Anya mengatakan kalau kalian kenal di rumah sakit. Apa itu benar?" pertanyaan basa basi yang sengaja Stefan ajukan.


Flora pun terpaksa menganggukkan kepala karena hal itu pun dulu adalah ide spontannya.


"Lalu kamu mengenal Alvaro dimana?" Stefan kembali bertanya.


"Aku pertama bertemu di perusahaan XX" jawab Flora. Perusahaan XX adalah perusahaan yang dulu tempat dia dan Liam bekerja. Perusahaan di kehidupan yang satunya.


"Dimana itu?" tanya Stefan pula. Perusahaan XX memang tidak sepopuler Pierry saat ini, perusahaan XX mulai berkembang sekitar 3 tahub mendatang.


"Ada di wilayah XY" jawab Flora.


"Apa kamu dan dia berhubungan serius?" entah kenapa Stefan begitu penasaran akan hal itu.


Tanpa ragu Flora pun menganggukkan kepalanya.


"Padahal beberapa tahun lalu Alvaro begitu mengejar-ngejar adikku. Tapi kini malah secepat itu berpaling padamu".


Flora hanya tersenyum tidak tahu harus merespon Stefan seperti apa.


Bersambung....