Way Back Into Love

Way Back Into Love
Sampai Kapan?



Liam tidak mengejar Flora sama sekali, bukan dia tidak ingin tapi dia tidak mau Flora semakin merasa risih padanya.


Flora sendiri sekarang berjalan dengan cepat sambil berusaha menghapus air matanya yang lancang turun membasahi pipi.


“Sampai kapan aku harus menghindar dari Liam?” ucap Flora dalam hati.


“Tapi seberapa pun aku coba untuk menerima ini, semakin sakit pula hati ini yang ku rasakan”.


“Berdamailah Flora… Berdamai dengan keadaan… Liam bukanlah takdirmu. Anyalah jodoh Liam”.


Dengan menguatkan diri Flora berusaha untuk menerima keadaan. Tidak bisa dia terus-terusan menghindari Liam seperti ini. Liam akan kebingungan dan merasa sikap Flora sangat aneh.


Dari tempatnya berdiri , Liam terus memperhatikan bayangan tubuh Flora yang sudah semakin menghilang dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


….


Marvel melihat kedatangan Liam dengan menggelengkan kepalanya.


“Bisa-bisanya kamu pindah ke kampus ini padahal sudah semester lima” omel Marvel terheran.


Liam hanya terkekeh lalu duduk di sebelah sahabat baiknya itu.


“Yang lain dimana?” tanya Liam karena tidak biasanya Marvel duduk seorang diri. Saat itu juga Mario dan Stefan datang.


“Kamu pindah kesini?” tanya Mario terkejut.


“Zayn pasti akan terkejut juga sama seperti ku. Tapi anak itu sekarang tidak ke kampus” ucap Mario pula.


Berbeda dengan Marvel dan Mario yang terkejut, Stefan menanggapinya santai saja.


“Kamu pindah hanya karena adikku? Atau ada tujuan lain?” tanya Zayn.


Mario yang tidak tau apa-apa menjadi bertanya-tanya.


“Adik?” tanyanya dalam hati.


Mario melihat ke arah Marvel. Bertanya melalui kode mata tapi sepertinya Marvel enggan bercerita. Marvel memilih bungkam saja. Marvel sangat tau kalau Mario begitu dekat dengan Zayn. Dia tidak ingin Zayn berpikiran buruk. Bagaimanapun juga baik Zayn maupun Liam adalah temannya.


“Aku pindah bukan karena siapa-siapa. Memang aku ingin pindah ke kampus ini” jawab Liam.


Tak jauh dari ke empat pemuda itu, Flora berjalan sambil membaca bukunya dengan begitu serius.


Liam yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan terus memperhatikan pujaan hatinya itu tanpa berkedip. Mario melihat jelas ke arah mana mata Liam memandang. Dia meyakini kalau Liam menaruh hati pada Flora.


Puk.


Stefan memukul pundak Liam cukup keras.


“Aku tau adikku cantik, tapi jangan terlalu berlebihan seperti itu” tegur Stefan karena Liam benar-benar tidak bisa menutupi rasa kagumnya.


“Dia akan risih karena kamu terlalu terang-terangan seperti itu” lanjutnya.


“Tunggu dulu, Jadi Alvaro suka dengan Anya?” tanya Mario yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


Liam hanya tersenyum dan tidak menjawab, yang dia lakukan hanya terus menatap ke arah Flora yang berjalan sambil membaca buku.


“Hati-hati, jangan sampai kesandung” gumamnya. Liam seolah berbicara dengan Flora padahal tidak mungkin Flora mendengar gumaman nya dengan jarak mereka yang lumayan jauh.


Mario begitu terkejut.


“Bagaimana bisa Al dan Zayn menyukai gadis yang sama?” gumamnya dalam hati.


“Kalau Zayn tau Alvaro juga menyukai Anya bagaimana ya?” lanjutnya.


Mario memperhatikan wajah Liam yang terus tersenyum.


“Binar matanya tidak bisa bohong kalau dia memang menaruh hati dengan Anya”.


Mario begitu hanyut dengan pemikirannya sendiri.


“Kalau dulu aku yakin kalau Zayn pasti menjadi pemenangnya karena Anya begitu menyukainya, tapi sekarang aku ragu mengingat Anya berubah drastis. Tidak seperti Anya yang dulu. Tapi siapapun nanti yang bisa mendapatkan Anya, Aku harap Zayn dan Alvaro masih bisa berteman”.


Marvel sendiri hanya menundukkan kepala. Melihat Mario yang sibuk dengan pikirannya membuat dia yakin kalau sebentar lagi Zayn akan tau kalau Liam pun menyukai Flora. Siap-siap adegan saling memperebutkan itu pasti akan terjadi.


Bersambung....