Way Back Into Love

Way Back Into Love
Part 6



"Kakak". "Fina". ucap mereka bebarengan.


############


Pertemuan yang berulang-ulang kali tanpa disengaja bukanlah kebetulan melainkan takdir.


##############


Fina pov


"Maafkan aku kak" ucapku dengan sedikit menyesal karena telah menabrak lelaki didepanku ini walau tanpa disengaja.


"Kenapa kau minta maaf mulu fin. Aku tidak apa-apa. Tak ada yang luka juga" katanya dengan begitu lembut.


Tak lupa dia menampilkan pula senyumannya. Sungguh menghangat perasaan ku saat melihat senyumannya.


"Sungguh aku begitu teledor kak" ungkap ku jujur padanya.


"Apa kau sering pergi sendirian fin?" Tanya nya padaku.


Aku menatap matanya sebentar.


"Iya aku memang suka berpergian sendiri kak Izi" jawab ku jujur pada lelaki didepan ku yang tak lain merupakan kak Faizi. Dialah orang yang ku tabrak saat di minimarket tadi.


"Kukira jika orang yang sudah memiliki pasangan, akan lebih suka berjalan bersama pasangannya". Ucap dia dengan sedikit mendekatkan wajahnya lalu menopang wajah tampannya itu dengan kedua tangannya.


Oh tuhan... kenapa dia begitu manis jika bergaya seperti itu. Gumam ku dalam hati.


Aku berusaha menetralkan diri untuk bersikap seperti biasanya.


"Siapa bilang? Tidak semua seperti itu kak. Kadang berjalan sendirian itu merupakan suatu kenikmatan. Dimana kita bisa menikmati udara dan lingkungan sekitar dengan baik. Bahkan dengan kita berpergian sendirian bisa dijadikan sebagai media intropeksi diri ." Jawabku memberikan penjelasan padanya.


Mendengar penjelasanku dia hanya menganggukan kepalanya bahkan mata dia tak berhenti menatap lurus kearah ku.


"Kakak sendiri kenapa keluar sendirian?" Tanyaku penasaran.


"Aku butuh udara segar, dan butuh minuman dingin". Jawab nya dengan singkat dan santai sambil menunjukkan bungkusan yang berisi belanjaan dia.


Mendengar itu aku hanya ber oh ria saja. Cukup lama kita diam dan menikmati suasana angin malam yang berhembusan.


"Kau ada waktu luang kak?" Tanyaku tiba tiba padanya.


Aku berfikir mungkin aku ingin mencoba mengajak dia berjalan-jalan malam. Itu pun jika dia menyetujuinya.


"Ada, kenapa Fin?" Tanyanya kembali padaku


"Aku ingin berpergian dengan kakak, itu pun jika kakak mau" kata ku dengan menatap mata nya dan sesekali ku mengerjapkan mata ku berkali-kali, berharap dia menyetujui kemauanku.


"Sekarang? Apa tidak terlalu malam untukmu?" Tanya nya lagi


"Tidak pulang larut malam kok, lagian pergi di malam hari seperti ini lebih menyenangkan kak" seru ku meyakinkannya.


"Baiklah kalo begitu, aku juga butuh angin segar. Akan lebih baik untukku juga jika ada yang menemani" ucapnya menyetujui permintaanku.


Aku merasa senang ketika dia menyetujui permintaan ku. Sungguh perasaan seperti ini tidak pernah aku rasakan. Bahkan saat pergi dengan kak Aiden atau kakakku yang lain pun tidak seperti ini. Tapi dengannya aku merasa sangat begitu senang.


” Sekarang kita mau kemana?” Tanyanya padaku yang sekarang sedang berjalan berdampingan.


Orang lain yang melihat ini pasti mereka mengira kita sedang berkencan. Nyatanya tidak seperti itu. Malam ini kita sedang berada di salah satu mall besar di kota ini.


” Enggg… kira-kira kemana ya? Bagaimana kalo kita ke game centre saja?” Ajakku padanya. Aku harap dia juga menyukai ajakan ku ini. Cukup lama dia diam tanpa memberikan jawaban.


” Ayolah, kak. Hanya sebentar saja. Ini asyik kok kak. Sungguh". Ucap ku sambil menggoyang-goyangkan tangannya dan memasang wajah sedikit imut mungkin. Berharap dengan ini dia mau.


” Baiklah kalo begitu." Ucap nya akhirnya menyetujui ajakan ku.


Dan untuk kesekian kalinya aku merasa sangat senang. Tak ayal aku selalu mengembangkan senyum dibibirku untuknya.


"Hemm bagaimana jika kita tanding permainan kak?. Jika kalah, kau harus mentraktirku makan!” Kataku sambil menunjuknya.


”Jadi kau ingin menantangku? Baiklah aku menyetujuinya.” Kata Kak Izi menyetujui.


Kami pun berjalan memasuki Game Centre. Lalu menuju sebuah permainan yaitu permainan melempar bola ke ring (bola basket). Aku dengannya berlomba siapa yang paling banyak memasukan bola ke dalam ring. Walaupun aku jarang melakukan permainan seperti ini, setidaknya aku juga pernah masuk tim basket saat di bangku sekolah menengah atas. Dan lawanku sendiri juga seorang pemain basket. Huh, aku seperti masuk kedalam jebakan ku sendiri. Tapi, aku tetep yakin. Bahwa aku pasti akan menang.


” Mulai?” Tanya Kak Faizi padaku. Aku pun mengangguk.


” Okey, satu dua tiga!” Kataku mulai memberi aba-aba.


Aku berusaha memasukkan bola sebanyak-banyaknya kedalam ring. Aku tahu gerakannya sangat cepat.Tapi, aku akan menunjukkan bahwa aku akan mengalahkanmu Kak Izi!


Waktu pun tersisa 10 detik lagi. Aku masih berusaha memasukkan bola ke dalam ring. Waktu pun berlalu dan hanya tersisa 5 detik lagi. Dan…


” Yeay! menang.. aku menang!” teriaku dengan begitu senangnya. Akhirnya aku menang, Yes! kubilang juga apa. Sekarang Kak Izi harus mentraktirku!


” Yak.. fina. Kau curang mulai duluan. Bahkan aku tadi belum siap". Protes Kak Izi berusaha mencari alasan.


"Haih. Aku tidak peduli. Bukankah tadi kakak sendiri yang bilang mulai? Selepas dari sini kau harus mentraktirku ya kak!" Kataku mengingatkanya dan aku pun mendahuluinya jalan.


"Iya.. iya.. aku akan mentraktirmu. Kau bebas mau makan apa saja" kak Izi langsung menyusulku dan dia merangkulkan tangan satunya pada pundakku.


Aku refleks melihat ke arahnya. Dan saat itu aku merasa jantungku berdetak sedikit lebih cepat.


"Apa aku menyukainya" gumam ku dalam hati. Aku pun menepis segala hal yang belum mungkin terjadi ini.


Kami pun bermain kembali, mencoba berbagai macam permainan. Sesekali di saat kami sedang bermain pun kadang kami juga bersenda gurau satu sama lain.


"Ternyata menyenangkan berpergian dengan nya" pikirku saat kami sedang duduk di sebuah kursi sekedar untuk beristirahat.


"Aku mulai lapar kak." Ucapku padanya tiba-tiba saat perutku mulai berbunyi.


Sungguh permainan ini membuat ku benar-benar lapar.


"Aku ingin makan sushi kak"


"Kau yakin akan makan sushi di jam segini" tanyanya sedikit ragu. Mengingat sekarang sudah menunjukkan jam 9 malam. Dan kami sudah bermain game center selama dua jam.


"Tentu, aku benar-benar sangat lapar kak" ucapku lagi dengan wajah memelas.


"Ayo kita pergi" ajaknya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Cukup kaget untuk sesaat, dan aku pun menerima uluran tangannya. Kita sekarang bergandengan tangan.


"Tangan ku yang bergandengan tangan dengan nya, kenapa jantungku jadi ikut berantakan berdetaknya. Apa aku benar menyukainya?" Ucapku dalam hati. Ini benar-benar deh gegara obrolan ku dengan Tiara siang tadi aku jadi berfikir yang aneh aneh.


Setelah lama berjalan, kami pun sampai di restoran jepang. Kami langsung memasuki restoran itu dan langsung memesan makanan dan menunggu pesanannya.


#################


Author pov


"Terimakasih untuk malam ini kak. Aku sangat senang dan perut ku kenyang" ucap Fina seraya menunjukkan perutnya yang sedikit gemuk sehabis makan.


"Aku yang harus berterimakasih karena kau mau mengajak ku jalan-jalan" kata Faizi pada Fina. Mereka sekarang sudah sampai didepan rumah Fina.


"Kau bisa memberitahuku jika butuh teman main kak" tawar Fina pada Faizi


"Tentu, aku pasti akan menghubungimu. Sudah malam. Masuklah."


"Baiklah kak, kau hati-hati dijalan" ucap Fina sambil melambaikan tangannya. Faizi pun berlalu dari rumah Fina. Sesaat setelah kepergian Faizi, Fina memasuki rumahnya.


############


"Aku pulang" seru Fina saat memasuki rumahnya dan berharap Tiara mendengarnya.


"Fiiiinnnnnnaaaaaa" teriak Tiara dengan begitu berisiknya. mendengar itu Fina cukup kaget dan refleks menutup kedua telinganya.


"kau pergi ke minimarket mana huh? kenapa lama sekali. kau tahu, aku disini begitu khawatir menunggumu. aku bahkan belum makan malam karena mu. dan Ponsel mu bahkan tidak aktif. kau kemana saja, huh? " omel Tiara pada Fina. Fina sedikit tidak menghiraukan omelan Tiara dan berlalu duduk di sofa ruang tamu.


"Fina, jawab pertanyaanku" tanya Tiara kembali karena merasa Fina sedang menghindari omelannya, dia pun mengikuti Fina duduk di ruang tamu.


"Aishhh Tiara, kenapa kau cerewet sekali." ucap Fina pada Tiara. Karena Fina merasa hari ini sahabat kecilnya itu lebih banyak berbicara.


"karena mu aku begini. jadi kau kemana saja tuan putri? tanya Tiara dengan penuh penekanan di setiap katanya.


"Aku ke minimarket." jawab Fina singkat.


"Lalu?" tanya Tiara kembali karena merasa belum puas akan jawaban yang dilontarkan Fina padanya.


"Lalu aku bertemu seseorang, dan aku pergi ke mall main di game center". jelas Fina sambil merebahkan dirinya di sofa.


"dengan siapa? pantas saja kau menolak ku saat aku menawari untuk menemani mu? jadi kau berkencan" selidik Tiara pada sahabat kecilnya itu.


"apa? berkencan? aku tidak melakukan itu, aku bertemu dengan nya juga tidak disengaja, Ara" kilah Fina seraya bangun dari rebahannya.


"lalu? kau bertemu siapa? apa kau pergi dengan lelaki yang mengantarmu tadi sore? siapa itu namanya aku lupa." ucap Tiara sambil berusaha mengingat-ngingat nama lelaki yang mengantar sahabatnya itu pulang.


"iya, aku pergi dengan kak Izi" jawab Fina mengakui.


" jadi kau benar berkencan dengannya?" tanya Tiara kembali sambil menatap mata Fina dengan penuh selidik dan curiga.


"tidak berkencan Tiara sayang. aku hanya pergi main bersama. hanya itu". jelas Fina pada Tiara.


"Kau menyukainya?" selidik Tiara kembali karena dia merasa Fina sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Mendengar pertanyaan Tiara itu, Fina cukup merasa kaget dan dia sedikit salah tingkah dihadapan sahabat kecilnya itu. Sungguh Fina bukanlah tipe orang yang pandai menyimpan rahasia. Terutama saat berhadapan dengan Sahabat baiknya itu. Namun, untuk masalah ini dia sendiri belum bisa memastikan benar atau tidaknya. Sehingga dia belum cukup yakin untuk menceritakannya.


"Kau menyukainya Fin?"Tanya Tiara kembali karena Fina tidak kunjung memberikan jawaban.


"Tidak Tiara, aku sungguh hanya pergi main dengannya. Hanya itu. tidak lebih." ucap Fina meyakinkan sahabat nya itu agar percaya dengan apa yang dia katakan.


"Koreksi Fina. Bukan Tidak. Tapi belum. Kau saja yang belum yakin akan perasaan mu kan? Aku tau itu. Mata mu menjelaskan semuanya. Matamu tidak bisa berbohong. Saran ku ikuti saja kata hati mu. biarkan dia menuntun mu menemukan jodohmu kedepannya." Ucap Tiara seraya memegang tangan Fina.


Fina cukup kaget dengan apa yang diucapkan sahabat nya itu. Tiara begitu memahami kondisinya walaupun dia tidak menceritakan secara detail mengenai perasaannya saat ini. Tapi,dia sendiri juga masih bingung dengan perasaannya. Dan Fina belum mendapatkan jawaban yang yakin dan pastinya.


"Kau ini, benar-benar seperti seorang konsultan ya." ejek Fina berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku berkata apa adanya, fin. Ah sudahlah.. perut ku sudah demo. ayo kita makan malam". ajak Tiara seraya menarik tangan Fina untuk bangun dari tempat duduknya.


"haih Tiara, aku masih kenyang".


"kau sudah makan malam?"


"iya sudah.." jawab Fina jujur.


"dengan lelaki itu" tanya Tiara kembali sambil melepaskan tarikannya pada tangan Fina. Fina hanya mengangguk mengiyakan.


"Haih sudah ku duga.. tidak mungkin hanya sekedar jalan-jalan dan main bersama. Aku yakin kalian pasti akan berkencan. ahh menyebalkan." seru Tiara seraya berjalan menuju ke meja makan dan berlalu meninggalkan Fina di ruang tamu.


"apa yang di ucapkan Tiara benar adanya." gumam Fina sesaat setelah Tiara pergi meninggalkannya.


##############


Hai readers...


shy shy kembali dengan novel abal-abal ini.


jangan lupa ya untuk like, komen dan vote novel ku ini.


terimakasih Readers ku tersayang.