Way Back Into Love

Way Back Into Love
Harapan



Stefan melihat kesana kemari lalu bertanya pada Flora.


"Kamu sendiri?" tanyanya memastikan. Dia tidak melihat mobil Liam di halaman toko buku tersebut.


"Aku bersama Liam, dia sedang meeting di cafe seberang" jawab Flora.


Stefan menganggukkan kepala.


"Maunya aku yang antar kamu pulang, tapi berhubung kamu sudah bersama Alvaro, aku duluan kalau begitu" ucap Stefan lalu beranjak dari duduknya.


"Kak..." ucap Flora menahan Stefan.


Mendengar panggilan Flora, Stefan pun membalik tubuhnya.


"Anya dulu sering membanggakan kakaknya. Dia mengatakan kalau kakaknya adalah orang yang hebat dan cerdas. Dia juga mengatakan kalau kakak adalah panutannya. Dia juga berharap kelak kakak bisa menjalankan perusahaan keluarga dengan baik" ucap Flora panjang lebar.


Stefan terdiam. Jujur dia tidak tahu harus berkomentar apa karena sejujurnya dia sangat jauh dari apa yang disebutkan tadi. Dia sama sekali tidak bisa menjadi kebanggan keluarga. Dia bukan kakak yang baik. Jangankan mengurus perusahaan keluarga, untuk melanjutkan kuliah saja dia malas.


"Sayangnya apa yang Anya katakan tidak benar, Aku bukanlah seperti itu" sahut Stefan dengan tersenyum masam.


"Aku yakin penilaian Anya tidak salah, Kakak pasti bisa seperti apa yang Anya katakan" balas Flora dengan tersenyum.


Melihat senyum indah bagai bidadari milik Flora membuat dada Stefan bergetar hebat, dia berjanji pada diri sendiri untuk bisa berubah. Walau awalnya dia berubah demi membuktikan pada Flora kalau dia memang mampu, Stefan janji dia akan berubah suatu saat nanti memang untuk dirinya sendiri.


Stefan balas senyuman Flora lalu dia pergi dari toko buku tersebut. Flora berdoa dalam hati semoga Stefan mau berubah karena Flora yakin sekali kalau Stefan memang mampu untuk itu.


Flora menghela nafas berat, dia berdoa semoga suatu saat nanti Stefan mau berubah.


Beberapa menit kemudian, mobil Liam pun memasuki halaman toko buku. Flora menutup bukunya kemudian memasukkannya ke dalam tas. Setelah semua rapi dia berdiri dan keluar dari toko buku. Liam sudah keluar dari mobil hendak menghampiri Flora tapi Flora sudah lebih dulu menghampiri.


"Tidak lama kok, tadi aku juga sempat mengobrol dengan Kak Stefan" ucap Flora.


Liam mengerutkan kening.


"Dia tidak aneh-aneh lagi kan?" tanya Liam.


Flora menggelengkan kepala.


"Tidak, Kak Stefan orangnya sebenarnya baik kok. Jangan khawatir" jawab Flora sambil mencubit gemas pipi Liam.


"Dia memang bukan orang jahat, tapi dia berpotensi merebut kamu dari aku" balas Liam.


Flora malah tertawa.


"Setelah apa yang sudah lita lewati apakah kamu masih berpikir kalau aku akan pindah ke lain hati?" tanya Flora sambil geleng-geleng kepala.


Liam membawa Flora ke dalam pelukannya.


"Aku hanya takut. Takut kehilangan lagi. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi" jawab Liam.


"Kita akan selalu bersama-sama" ucap Flora yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Liam.


Samuel sudah menjalankan mobil dengan pelan. Dia dengan setia menjadi penonton dan pendengar yang baik atas apa yang Liam dan Flora ucapkan serta lakukan. Untung saja mereka hanya sebatas ciuman pipi dan kening. Belum sampai tindakan-tindakan romantis lain. Kalau itu sampai terjadi entah bagaimana spot jantung Samuel ketika melihatnya. Bisa-bisa dia langsung pingsan.


Bersambung...