
Selesai makan, Vivi dan Flora memutuskan untuk langsung pulang saja. Saat hendak menunggu lift terbuka disana sudah ada pria yang berdiri di depan list yang Flora sangat yakini kalau itu adalah Liam. Vivi sendiri tidak sadar karena dia lupa dengan wajah pemuda itu. Liam diam saja tidak menyapa karena tidak ingin ketahuan. Tapi Flora malah memperhatikannya lekat.
Liam tentu menyadari kalau Flora tengah memperhatikannya. Liam menoleh ke arah Flora.
“Angel? Kamu disini juga?” tanya Liam pura-pura terkejut.
Vivi yang ada di sebelah Flora menatap heran pada pemuda misterius yang saat ini mengenakan topi serta masker. Apalagi orang itu memanggil Flora dengan sebutan Angel.
“Kamu ngikutin aku kan?” tuduh Flora tepat sasaran.
Liam tidak tersinggung. Dia malah tertawa renyah.
Vivi semakin penasaran saja. Dia tidak ingat sama sekali dengan pemuda yang mengucapkan hati-hati di jalan pada Flora saat dirinya menjemput di rumah Stefan.
“Tidak, aku memang ada urusan disini” jawab Liam.
Flora melengos. Dia tidak mau dekat dengan Liam yang berakhir dengan sakit hati lagi. Apalagi jelas-jelas dirinya bukan Anya melainkan Flora.
“Kita pulang bersama saja ya? Mobilku masih di rumahmu” ucap Liam pantang menyerah.
“Ohhh jadi ini pemuda yang tadi” gumam Vivi dalam hati.
“Kelihatan sekali kalau dia menyukai Anya” lanjutnya dalam hati tentu saja.
“Kamu siapa ya?” Vivi bertanya.
“Aku Alvaro” ucap Liam memperkenalkan diri. Dia tidak mengulurkan tangannya seperti tadi saat berkenalan dengan Flora.
“Temannya Stefan?” tanya Vivi pula.
“Iya” jawab Liam.
Tring.
Pintu lift akhirnya terbuka. Mereka bertiga pun masuk ke dalam.
“Kamu mau ya ikut bersama aku?” Liam rupanya tidak menyerah mengajak Flora untuk ikut bersamanya.
“Tidak mau” jawab Flora tegas.
“Kalau begitu aku saja yang ikut pulang bersama kalian ya? Boleh kan?” Liam benar-benar bebal.
“Terima kasih ya, siapa namamu?” ucap Liam senang sekali. Ternyata Vivi mendukung tindakannya.
Flora sendiri memelototkan mata kepada sahabatnya itu yang dibalas cengiran oleh Vivi.
“Aku Vivi. Kenapa aku tidak pernah ketemu sama kamu ya?” sebagai orang yang pernah mengagumi Stefan tentu dia tau siapa-siapa saja teman yang sering bersama kakak Flora itu.
“Kamu satu club futsal” jawab Liam.
Vivi pun menganggukkan kepalanya. Mereka lalu berjalan menuju dimana mobil Vivi terparkir.
Sepanjang perjalanan Flora tidak berucap sepatah katapun. Dia bungkam. Vivi tentu merasa canggung dengan situasi ini. Tapi dia terlalu penasaran dan ingin tau ada apa sebenarnya kenapa Flora bisa bersikap seperti ini pada pemuda tampan itu.
“Ohh… jadi kamu kuliah di XX University. Semester berapa? Sepertinya lebih muda dari Stefan” Vivi dan Liam mulai berbincang-bincang walau Flora tidak ikut sama sekali. Dia memilih menatap jalanan di luar sana.
“Semester 5, aku juga teman Marvel dan Zayn. Kamu pasti mengenal mereka” jawab Liam.
“Wow… dunia sempit sekali, kamu tau tidak kalau Zayn itu adalah pemuda yang Anya kagumi?”.
“Benarkah? Aku tidak yakin” ucap Liam terdengar tidak percaya.
“Iya dulu sebelum kecelakaan” jawab Vivi dengan terkekeh.
“Angel…kamu benar menyukai Zayn?” Liam mendongakkan wajahnya dari kursi penumpang ingin melihat expresi Flora seperti apa.
“Nama ku bukan Angel!” protes Flora sebal.
Liam terkekeh.
“Tapi kamu bidadariku. Makanya aku memanggilmu Angel” Liam suka sekali menggoda Flora.
“Huft….” Vivi tidak bisa menahan tawanya.
“Ya Tuhan… Pertama kali aku melihat laki-laki seperti ini” ucap Vivi dalam hati.
“Semoga saja dia memang serius pada Anya”.
Bersambung...